Tampilkan postingan dengan label Beppu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Beppu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 September 2021

Menikmati Kelezatan Roti 100 Tahun

Dilihat sepintas tokonya terlihat sederhana, lokasinya berada tidak di jalan besar. Tapi siapa yang sangka, ketika buka, toko kecil ini selalu dipadati oleh pembeli. Panjang antrian pembeli juga luar biasa.

Tomonaga Pan

Tomonaga Pan namanya atau Toko Roti Tomonaga. Toko ini sudah terkenal tidak hanya di Kota Beppu, terlihat pembelinya beragam, dari yang warga lokal hingga dari luar kota.  
Menurut cerita, toko ini sudah lebih dari 100 tahun, jadi kalau kita cari di google map, akan ketemu dengan mudah. 

Toko ini menjual berbagai jenis roti dengan berbagai macam rasa. Saya pertama kali datang penasaran dengan rasa yang ditawarkan di sana, alhasil saya membeli semua varian roti yang ada di sana. 

Suasana di dalam toko

Cara memesannya juga unik, kita akan diberikan list roti yang tersedia di sana, variannya dan berapa jumlahnya, nanti pelayan di sana akan mencarikan untuk kita. Karena pembeli mereka dari berbagai daerah dan negara, mereka menyediakan list orderan dengan dua bahasa, bahasa jepang dan inggris. Setelah saya mengantri cukup panjang, akhirnya giliran saya, melihat antrian yang cukup panjang, saya memutuskan untuk membeli semua varian roti yang ada di sana, hehe, untungnya penjaga-penjaga toko di sana tidak runcing mulutnya. 

Tak sabar mencoba rotinya, keluar dari toko, saya mencari tempat duduk terdekat, langsung membuka bungkus rotinya dan memakannya, beuh emang benar, rotinya enak! Ada rasa yang bikin rindu walau pertama kali bertemu, candu. Wajar rasanya kalau banyak pembeli yang datang lagi dan lagi.

Salah satu roti andalan Tomonaga, Roti isi kacang merah

Tokonya kecil, hanya seluas 4x3 meter untuk melayani pembeli, hanya diisi oleh beberapa rak kayu dan beberapa foto tempo dulu. Suasana ini yang bikin kesan toko ini seperti toko jaman dulu. Yang menariknya, pemilik toko ini tidak memperbesar dan membuka cabang di tempat lain, seperti pengusaha lainnya. Hanya beroperasi dari hari senin hingga sabtu, dari jam 10 pagi hingga jam 5 sore. Pengusaha berusaha menjaga kualitas roti, rasa, agar tetap bisa menjaga kepercayaan pelanggan. Mungkin ini yang dinamakan konsep cukup. 

Menariknya lagi pemilik toko juga melarang orang yang ingin meliput langsung di tokonya, karena tidak ingin mengganggu kenyamanan pembeli dan penjaga toko. Lah, terus tulisan ini gimana? Ini cukup kita aja yang tahu ya!

Sssstttt, tapi kalau ke Beppu, jangan lewatan untuk mampir ke sini ya!

Senin, 18 Januari 2021

Pengalaman Berkebun 7 Tanaman Herbal Tradisi Masyarakat Jepang di Tahun Baru

Orang Jepang selalu punya tradisi yang dilakukan setiap musim, mulai dari musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. 

Begitu pun dengan pergantian tahun atau tahun baru. Masyarakat Jepang melakukan tradisi Makan Osechi, masakan yang diletakkan di atas wadah tradisional Jepang untuk tahun baru, yang dinikmati bersama keluarga.

Perayaan tahun baru bagi orang Jepang dirayakan mulai dari tanggal 1 hingga 6 Januari setiap tahunnya. Nah, di pengujung tanggal tersebut ada masakan khusus yang harus disiapkan sebagai penutup tahun baru yang disebut Nanakusa-gayu, bubur yang dimasak dengan tujuh jenis daun-daun herbal.


Yang menjadi ciri khas dari bubur Nanakusa-gayu adalah dimasak dengan tujuh jenis daun herbal, yakni daun Seru, Nazuna, Hakopela, Suzuna/Kabo, Suzushilo/Daikon, Hotokenoza, dan Gogyou.

7 Herbal Nanakusa
Kota Usa


Sejarahnya Nanakusa-gayu ini sendiri berasal dari daratan China sekitar 1000 tahun di masa Heian.

Di pengujung tahun 2020 saya dapat kesempatan untuk ikut bagian langsung dalam menyiapkan bahan-bahan Nanakusa dari petani hingga proses pengemasan untuk dijual ke pasar.

Kegiatan ini menjadi momen yang tidak terlupakan, karena selain bisa melihat langsung pertanian ketujuh tanaman herbal tersebut dan dilakukan di musim dingin. 


Memilih dan memilah Daun Gogyou
Daun Nazuna

Badai Salju


Setiap paginya saya dan beberapa teman lainnya berangkat dari penginapan yang disediakan oleh pihak pertanian menuju lokasi yang berada di Kunisaki, Oita. Di sana terdapat banyak sekali rumah kaca yang digunakan untuk mengembangkan ketujuh jenis tanaman herbal tersebut. Terlihat juga ada beberapa pekerja yang berasal dari masyarakat sekitar.

Setiap harinya kami bertugas untuk menyeleksi produk yang baik dan bagus untuk dikemas sedangkan yang jelek dan buruk dibuang. Setiap pekerja memiliki tugas masing-masing. Saya sendiri bertugas memilih dan memilah Suzuna atau Kabo dan Suzushilo atau Daikon. 

Di proses ini saya melihat bagaimana ketatnya pengawasan kualitas produk orang jepang. Ada banyak juga produk yang menurut mereka tidak bisa digunakan hanya karena cacat sedikit saja. Ada rasa bersalah ketika melihat banyak produk yang dibuang, tapi pihak pertanian mengatakan kalau produk-produk yang cacat, rusak dan tidak layak jual ini nantinya akan diolah lagi untuk penanaman selanjutnya.

Kegiatan ini berlangsung selama 10 hari hingga semua produk bisa dikemas dan dipasarkan sebelum tanggal 7, sehingga pembeli sudah bisa menyimpannya di rumah. Walaupun sempat dihadang hujan salju yang lebat, aktivitas ini tidak berhenti, karena semua pekerjaan dilakukan di dalam ruangan rumah kaca atau pun gudang, sehingga perkerja bisa terjaga dari badai. Hal ini sudah diperhitungkan oleh pihak pertanian demi mencapai target sesuai yang diinginkan.


Ada rasa senang dan bangga ketika semua produk Nanakusa bisa dikemas dengan baik dan bisa melihatnya terjual di pasaran. Apalagi produk-produk ini dijual untuk keperluan kesehatan.



Bubur Nanakusa sendiri dimakan untuk mengistirahatkan perut yang selama perayaan tahun baru diisi dengan berbagai macam lauk-pauk dari masakan Osechi yang sebagian besar bukan berupa sayuran. Selain itu, bubur nanakusa dipercaya menjauhkan orang dari segala macam penyakit, karena dipercaya memiliki arti untuk harapan akan kedamaian, kesejahteraan, serta kesehatan untuk keluarga.


Selamat Tahun Baru 2021, semoga kita sehat-sehat semua ya...

Kamis, 07 Januari 2021

Selamat Tahun Baru 2021

 Selamat tahun baru 2021!


Tahun 2020 jadi tahun yang paling banyak tantangannya, mulai dari menebarnya Covid 19, menyerang kesehatan, perekonomian, hubungan sosial dan juga berdampak ke beberapa aktivitas penting lainnya. Semoga di tahun 2021 ini semuanya bisa kembali ke kondisi yang aman dan terjauhkan dari segala jenis penyakit, aamiin!

Saya juga berharap bisa berkumpul dengan anak lagi, semoga bisa kembali ke Jepang dan bermain bersama lagi.

Happy Mooyear


Minggu, 20 Desember 2020

Mengunjungi Kastil di Puncak Bukit Beppu

Salah satu tempat yang menarik perhatian selama tinggal di Beppu adalah Kifune Castle. Kastil yang berada di salah satu bukit di Kota Beppu ini, walaupun kecil tapi memiliki bentuk arsitektur yang cantik, layaknya seperti kastil-kastil yang ada di Jepang, hanya saja jika yang lain berada di dataran rendah atau dekat dengan air, lain halnya dengan kastil ini. 

Setelah dua tahun tinggal di Beppu, akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke sana, sekaligus sebagai trip ulang tahun, hehe.

Kifune Castle penampakan dari bawah





Minggu, 17 Mei 2020

Melihat Neraka Penuh Buaya di Jepang


Salah satu neraka yang wajib dikunjungi adalah Oniyama Jigoku yang berarti Neraka Gunung Setan. Dari namanya terdengar seram ya.

Dengan membayar tiket seharga ¥400 perorang kita bisa memasuki arena nerakanya. Dari pintu masuk kita disambut oleh asap yang tebal berasal dari salah satu kawah yang ada di sana, ketika asap mulai menipis, betapa kagetnya saya, ada sesosok merah besar dengan tanduk dan taring menyerigai ke arah saya. Sosok tersebut sedang duduk memegang tongkat hitam besar dilengkapi duri di sekelilingnya. Rupanya dia adalah sosok setan penjaga neraka.




Setelahnya ada sebuah bangunan yang terbuat dari kayu, dari bentuknya tidak asing bagi saya, desain bangunan tersebut ternyata memang menggunakan desain arsitektur melayu yang berfungsi menjadi museum yang memajang barang-barang di sana.



Bentuk desain bangunan sendiri dipilih karena ternyata, museum neraka ini dipenuhi dengan buaya dan segala yang berhubungan dengannya, mulai dari telur, buaya hidup hingga kerangka raksasa buaya yang pernah hidup di sana, dan buaya itu adalah buaya yang dibawa langsung dari Serawak, Malaysia.



  

Belum selesai merinding melihat museum buaya, keluar dari bangunan tersebut kita akan disambut oleh puluhan kandang buaya dengan ratusan koleksi buaya dari berbagai negara! Bikin jantung ga santai! Untungnya saja mereka semua dikurung dengan amat ketat dengan beberapa peringatan yang ditempel oleh pihak neraka agar dipatuhi oleh pengunjung demi keselamatan mereka.



Terlihat para buaya sedang beristirahat sambil menikmati suasana di sana dengan udara yang dingin, air yang hangat, katanya ini yang bikin buaya-buaya tersebut cocok untuk berkembang biak di Beppu.



Setiap harinya pengunjung bisa melihat buaya makan setiap jam 10 pagi dan jam setengah 3 sore. Neraka ini beroperasi setiap harinya dari pukul 8 pagi hingga jam 4 sore. Seru ya! Kapan lagi bisa lihat buaya di tengah kota.

Selasa, 12 Maret 2019

Menikmati Musim Gugur di Yufuin


Jepang jadi inceran banyak wisatawan dari berbagai negara selain memiliki kebudayaan yang menarik, Jepang juga memiliki keindahan alam yang indah. Negara yang memiliki empat musim ini menawarkan pemandangan yang berbeda-beda di setiap musimnya.


Salah satu yang menjadi tujuan banyak wisatawan internasional di Perfektur Oita adalah Kota Yufuin. Kota kecil yang berada dekat dengan Kota Beppu ini merupakan area mata air panas yang berasal dari Gunung Api Yufu yang sering juga disebut Gunung Fuji-nya Perfectur Oita. Yufuin tidak memiliki gedung tinggi sehingga kita bisa puas hati memandang pegunungan indah di sini. Inilah usaha masyarakat Yufuin untuk terus menjaga pemandangan alamnya.


Untuk menuju Yufuin, wisatawan bisa menggunakan Bus wisata dari Beppu yang disebut dengan Yufurin, berwarna ungu didesain lucu ala kartun jepang. Perjalanan ditempuh kurang lebih satu jam dari Kota Beppu atau bisa menggunakan bus langsung dari Bandara Fukuoka selama dua jam perjalanan.
Bus Yufurin
Kota Yufuin pernah mengalami gempa pada tahun 1975, namun penduduk Yufuin memiliki cara pandang positif terhadap gempa dan dampaknya. Sepertinya itulah kekuatan dari warga Yufuin yang telah melewati bencana serupa di masa lalu. Bencana gempa tersebut dijadikan awal untuk melahirkan ide-ide kreatif seperti wisata kereta kuda yang jadi khas Yufuin, serta Festival Film Yufuin yang punya sejarah tertua di Jepang.

Udang Goreng cangkang lunak, ini wajib dicobain!
Salah satu jalan yang populer di Yufuin adalah Jalan Yunotsubo Kaido. Di sini kita bisa mampir ke kedai untuk jajan atau membeli oleh-oleh seperti jalan Malioboro yang ada di Jogjakarta. Ada sekitar lebih dari 80 toko memenuhi sepanjang jalan area ini. Ada toko kue yang penuh antrian saat akhir pekan, ada juga rumah makan dengan menu sayuran produksi lokal, serta toko kerajinan tangan setempat. Menariknya banyak toko yang memiliki tema-tema menarik seperti Café Snoopy, Café Sanrio, Café Kumamon, Café Kucing, Café Anjing dan masih banyak lagi lainnya. Yang menjadi banyak incaran wisatawan adalah toko Totoro, tokoh terkenal dari Studio Gibli ini menyediakan berbagai pernak-pernik dari film My Neightbor Totoro, mulai dari yang kecil hingga yang besar. 
Toko Totoro
Totoro!!!
Selain itu ada sebuah komplek yang dibuat menjadi sebuah perkampungan bunga yang disebut dengan Floral Village Yufuin, di sana setiap kedai jualannya dibentuk seperti bangunan eropa tempo dulu, juga dilengkapi kebun binatang mini, seperti burung hantu, kelinci, tupai dan kambing yang bisa diberi makan. Perjalanan berakhir di Danau Kinrinko.
Café Snoopy
Toko Kumamon, salah satu mascot dari Kumamoto yang paling terkenal di Jepang
Gantungan lucu terbuat dari kain khas Jepang

Danau Kinrinko merupakan salah satu tempat wisata terkenal di Yufuin. Katanya di bagian bawah danau terdapat sumber air panas dan mata air alami, sehingga membuat temperatur airnya tinggi. Pada musim dingin, perbedaan suhu air danau dengan suhu udara memunculkan kabut di sekitar danau dan menghasilkan pemandangan menakjubkan. Sisik-sisik ikan yang hidup di danau ini akan berkilau bila terkena sinar matahari sore. Kilaunya nampak seperti emas sehingga danau ini diberi nama Kinrinko yang berarti "sisik emas".

Ketika musim gugur danau ini menjadi spot yang paling banyak dikunjungi untuk dijadikan tempat berfoto romantis, karena kita bisa melihat kombinasi warna yang indah dari pohon-pohon yang ada di sekitar danau, hijau, kuning, jingga hingga merah.
Pemandangan Yufuin saat Musim gugur
Menarik ya, kalau kamu berkunjung ke Oita Jepang, jangan lewatkan liburan ke Yufuin!

Minggu, 10 Maret 2019

Wisata Neraka Dunia ala Beppu Jepang

Pulau Kyushu yang berada di bagian selatan Jepang terkenal sebagai tempat yang kaya akan aktivitas panas bumi atau yang disebut dengan geothermal, karena letaknya dekat Gunung Aso, salah satu gunung yang masih aktif di Jepang. Hal ini dimanfaatkan oleh masyarakat yang berada di pulau ini banyak sekali terdapat tempat pemandian air panas. 

Salah satu kota yang menjadi tujuan wisata paling terkenal adalah Kota Beppu. Kota ini berada di antara teluk dan dua gunung api. Kota Beppu menjadi kawasan sumber air panas dengan debit air terbesar di Jepang. Debit air panas yang keluar di mata air Beppu menempati peringkat kedua di dunia setelah Taman Nasional Yellowstone di Amerika Serikat. Dari 11 tipe kualitas mata air panas, Beppu memiliki 10 tipe kualitas mata air panas yang tersebar di sumur-sumur air panas di Beppu. 

Beppu disebut sebagai kota dengan kolam air panas terbanyak di dunia, kota kecil ini memiliki lebih dari 2.900 kolam air panas yang berisi 130 ribu ton air yang berasal dari tanah setiap harinya. Uap yang muncul dari kolam air panas ini membuat kota ini selalu terlihat mengeluarkan asap dan menjadi daya Tarik tersendiri. 

Hampir 8 juta lebih pengunjung datang ke Beppu setiap tahunnya untuk menikmati pemandian air panas atau pun menikmati wisata lainnya. Kolam mata air panas termasuk yang paling banyak didatangi wisatawan, mata air panas ini disebut Jigoku, yang artinya neraka. Beppu memiliki delapan Jigoku yang dikenal denga Beppu Hatto, memiliki suhu 50 sampai 99,5 derajat celsius. Jigoku memang tidak digunakan untuk berendam, Tetapi Jigoku banyak menarik perhatian para wisatawan. Beppu memiliki beberapa kolam air panas yang dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk kebutuhan sehari-hari. Beberapa air panas ini dialirkan ke rumah-rumah warga, restoran, penelitian pertanian, terapi dan rekreasi. 
Beppu Neraka Dunia
Trip perjalanan menikmati mata air panas di Beppu dikenal dengan “Hell tours”, perjalanan ke neraka, terdengar menyeramkan ya? tapi ini uniknya Jepang, mereka mengemasnya dengan menarik. Kali ini saya dan keluarga berkesempatan mengunjungi dua dari delapan neraka yang ada, yaitu Umi Jigoku atau Neraka Laut dan Chinoike Jigoku atau Neraka Darah

Perjalanan dimulai dari Stasiun Kereta Beppu dengan menggunakan bus khusus yang didesain unik, bus dicat dengan warna biru kuning serta lengkap dengan tanduk ala setan. Hanya butuh waktu sekitar 20 menit kita sudah mencapai lokasi. Sesampai di lokasi kita akan disambut ramah oleh penjaga loket tiket. Untuk masuk ke lokasi kita membayar tiket masuk sebesar 400yen, sedangkan untuk anak-anak hanya membayar 200yen. Selain tiket kita akan mendapat stiker dengan desain lucu yang bisa dijadikan souvenir. 

Ada beberapa kolam kawah yang didesain menarik di dalamnya, kolam pertama berisi teratai, kolam selanjutnya berupa mata air panas yang disebut dengan Umi Jigoku atau neraka laut karena memiliki warna biru seperti lautan. Meskipun terlihat sejuk, kolam ini memiliki suhu lebih dari 98 derajat. Di kolam selanjutnya terdapat kolam yang disebut Chinoike Jigoku atau Neraka Darah karena memiliki warna yang merah seperti darah yang terlihat menyeramkan
Chinoike Jigoku
Umi Jigoku

Boneka Oni san
























Selain kolam mata air panas obyek wisata ini dilengkapi dengan café yang menjual telur rebus dan pudding yang direbus dengan menggunakan tenaga panas bumi, serta toko souvenir yang menjual makanan dan pernak-pernik ala neraka, hanya saja dikemas menarik. Kita bisa menemukan Oni san atau setan yang berwarna biru dan merah yang dijadikan mascot untuk obyek wisata ini. Souvenir setan merah dan biru ini berupa gantungan kunci, boneka, sabun hingga marker wajah. 

Di ujung perjalanan kita akan ditawarkan foto dengan tema setan lengkap dengan properti pendukungnya. Menarik ya?
Foto ala Oni san (Setan) di Umi Jigoku
Wisata neraka ala Beppu ini bisa menjadi pengalaman unik yang harus dicoba kalau liburan ke Jepang.

Kamis, 17 Januari 2019

Belajar Damai dari Jepang


Jepang adalah negara yang masyarakatnya dikenal pekerja keras, disiplin, tertib dan selalu memperhatikan kesehatan dan kebersihan, ternyata juga memiliki prinsip hidup damai. 


Bagi orang Jepang perdamaian tidak hanya menjadi tugas pemerintah, mereka memulai dari diri dan lingkungannya. Ada sebuah kanji yang menjadi salah satu prinsip hidup mereka, Heiwa yang berarti damai. Salah satu kanji yang juga menjadi pilihan saya di kelas kaligrafi.
Bersama guru Bahasa Jepang saya, Haji Sensei (Ibu Haji) belajar kanji Heiwa dan filosifinya
Tentunya kita masih ingat peristiwa bom atom yang diledakkan di Kota Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945 yang menghancurkan kehidupan orang-orang Jepang di masa itu. Selama perang dunia kedua, Hiroshima dan Nagasaki yang terletak di sisi selatan Jepang menjadi sasaran utama pengeboman di masa itu. Peristiwa kelam itu juga yang akhirnya membuat masyarakat Jepang berusaha untuk menjaga perdamaian, mereka sudah merasakan penderitaan yang luar biasa dan tidak ingin terulang lagi. Bagi mereka peperangan dan konflik hanya akan membawa kesensaraan dan penderitaan bagi kedua belah pihak. Karena itulah orang Jepang sangat berhati-hati untuk tidak menyakiti dan menjaga perasaan orang lain, mereka selalu menghormati orang lain dengan tradisi Ojigi, membungkukkan badan dan dengan menggunakan bahasa yang sopan dan halus atau yang dikenal dengan tradisi Aisatsu, mengucapkan permisi dan permintaan maaf dalam percakapan.


Saya berharap prinsip hidup damai ini bisa menjadi bagian dari kehidupan kita di Aceh dan Indonesia terutama bagi generasi muda yang nantinya menjadi generasi penerus di masa depan dan #2019TetapDamai.

Kamis, 29 November 2018

Kuliah di Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) Shape Your World

Selesai sudah satu quarter nyari ilmu di Jepang, ngga kerasa, rasanya baru kemarin datang ke Beppu, ikutan masa orientasi, heboh-hebohan pakai baju adat Aceh, eh sekarang udah libur quarter aja. Kuliah di sini sistemnya satu semester ada dua quarter, tiap quarter ada beda-beda mata kuliahnya.
Selamat dating di acara pernikahan kami, hehe
Saya masuk ke salah satu universitas yang menjadi inceran banyak mahasiswa Indonesia, Ritsumeikan Asia Pacific University atau banyak yang mengenalnya dengan APU. Awalnya saya tahu kampus ini dari calon istri saya, dia mengajak saya untuk melanjutkan pendidikan di Jepang, yang langsung saya iya kan karena saya pengen ke Jepang dan ada jurusan yang berhubungan dengan yang saya kerjakan sekarang. Jadilah sebelum nikah, saya dan calon istri bukannya merawat diri, malah sibuk ngurusin surat untuk kuliah. Oke, sebenarnya yang ini lebih bikin deg-degan dari pada persiapan pernikahan, hehe.

Biar terlihat lagi belajar
Yang menariknya kampus APU tidak seperti universitas lain di Jepang yang mewajibkan mahasiswa asing untuk menguasai Bahasa Jepang, hal ini membuat APU menjadi sasaran mahasiswa asing untuk kuliah di Jepang, bisa dibilang setengah dari mahasiswa APU berasal dari luar Jepang, ada kurang lebih 90 negara di kampus ini, bisa jadi dalam satu kelas kita bertemu dengan teman dari 40 negara, menarik ya.

Dulunya penasaran bagaimana system belajar di kampus Jepang, setelah sampai di sini, seru juga, apalagi ngambil jurusan Tourism and Hospitality yang kebanyakan tugasnya, jalan-jalan, hehe, impian banget kan ya. Untuk jurusan Tourism and Hospitality (TH) jadi jurusan yang bergengsi karena awal tahun 2018, APU mendapat TedQual Certification dari badan organisasi dunia pariwisata (UNWTO) untuk kampus yang mempunyai kualitas pendidikan, penelitian dan program pelatihan pariwisata yang baik. Sertifikasi ini membuat APU menjadi salah satu dari dua institusi di Jepang dan jadi satu-satunya kampus swasta di Jepang yang mendapat sertifikasi TedQual, keren ngga sih? Bangga banget!

Yang tambah bahagia lagi, saya mendapat supervisor dari negara Iran, selain mengajarnya asyik, ternyata beliau banyak sekali program yang membantu pariwisata masyarakat yang berada di Fukuoka dan sekitarnya, jadilah saya bisa ikut mendapatkan kesempatan membantu mereka juga, ya walaupun dengan Bahasa Jepang yang masih “sonomama” alias segitu aja, kemampuan menebak kata sangat diuji di sini, hehe. Beliau juga membuat iCAPt atau International Center of Asia Pacific Tourism yang nantinya akan membantu lebih banyak orang lagi di bidang pariwisata.

Beppu Story
Kampus APU berada di Kota Beppu, salah satu kota yang berada di Perfectur Oita yang ada di Pulau Kyusu, pulau yang berada paling selatan Jepang. Kota ini terkenal dengan Onsen atau pemandian air panas, hampir dua juta orang datang ke Beppu untuk menikmati onsen di Beppu. Ada banyak pilihan untuk mandi rileks di Beppu yang terkenal ada 8 (Beppu Hatto) yaitu Beppu Onsen, Kannawa Onsen, Myoban Onsen, Kankaiji Onsen, Hamawaki Onsen, Kamegawa Onsen, Horita Onsen and Shibaseki Onsen. Trip perjalanan menikmati hot spring di Beppu dikenal dengan “Hell tours”, dengan berbagai macam warna dari kawah dari gunung berapinya. Selain pemandian air panas ada banyak pilihan yang bisa dilakukan wisatawan dengan pemanfaatan tenaga panas bumi ini, ada rumah makan yang memasak dengan uap panas bumi, kita bisa makan sambil merendam kaki di air hangat dan mandi pasir hangat di tepi pantai.

Biaya hidup di Beppu juga tidak terlalu mahal bila dibandingkan dengan kota lain di Jepang, ada banyak tawaran beasiswa yang bisa diajukan atau yang ditawarkan oleh pihak kampus, belum lagi masih banyak kesempatan untuk “Baitou” kerja sambilan di sekitaran kota, ya walalupun ada pembatasan, pihak kampus sangat mengajurkan mahasiswa untuk bekerja sambilan, sambil mencari uang tambahan, mahasiswa bisa mengenal kebudayaan dan berkomunikasi dengan masyarakat di Beppu, sehingga bisa mengasah kemampuan berbahasa Jepang dan mempunyai pengalaman kerja yang bermanfaat ketika lulus nantinya.
Baitou jualan roti khas Oita

Makanan halal di kampus
Ngomongin makanan halal, di Beppu tidak terlalu sulit karena ada beberapa restoran yang dibuka oleh muslim yang berasal dari negara muslim seperti Bangladesh, India dan Indonesia yang menetap di Beppu. Ada juga swalayan yang menyediakan bahan makanan halal seperti daging ayam, kambing dan olahnya. Beppu juga memiliki masjid yang berada di pusat kota, jadi termasuk masjid terbesar di Kyusu, selain jadi tempat ibadah dan berkumpul pengajian, masjid juga menjual produk-produk halal. Kantin di kampus juga menyediakan masakan-masakan halal yang harganya ramah dengan kantong mahasiswa dan termasuk kantin kampus halal terbesar di Jepang, jadi untuk muslim jangan ragu untuk liburan ke sini.

Oh ya Beppu kotanya kecil tapi indah, dia berada di antara gunung dan laut, jadi kita bisa lihat laut, bisa lihat gunung, bisa dapat buah-buahan dan sayuran segar dari gunung, bisa juga dapat ikan segar dari laut. 
Bareng istri tercinta dan teman-teman mahasiswa Indonesia
Dan….balik lagi, Kampus APU berada di salah satu puncak bukit yang ada di Beppu, jadi belajar sambil menikmati pemandangan kota yang luar biasa, betah.

Udah dulu ya cerita singkatnya, nanti dilanjutin dengan cerita-cerita menarik lainnya.