Rabu, 20 Januari 2021

Liputan Buku Jejak Dari Kota Neraka di Oita Godo Shinbun

 【別府】別府市の立命館アジア太平洋大(APU)大学院に通うヒジラ・サプトラさん(35)が、別府観光の魅力や暮らしをPRする本「地獄の街での足跡」を母国インドネシアで出版した。新型コロナウイルスの影響で来日できなかった半年間に執筆。恵まれない子どもたちの支援に収益を充てた。

Hijrah Saputra dan Dissa Syakina 
 

春休みに入った2月中旬に首都ジャカルタに戻ったが、新型コロナで4月になっても来日できなくなった。感染状況が深刻で外出も一切できなくなり、オンライン授業の日々が続く中で「本を作ろう」と思い立ったという。

 2018年秋に入学して以来、たびたび母国のネットメディア向けに日常を発信していた。地獄めぐりなどの主要観光地の様子、年末の鏡餅作りなど、会員制交流サイト(SNS)に投稿した過去の写真も含めて1カ月ほどで一冊の本に仕上げた。
 日本の地名で知られているのは東京や京都などの主要都市が中心。多くの人が別府の地名を知らず、別府の話題は新鮮に感じられたようだ。裸で入る日本式の温泉文化や、地獄めぐり、地獄蒸しのように自然を観光資源に生かす点に反響があったという。
 ヒジラさんは「悪いイメージの『地獄』のタイトルと観光という単語が本を読むことで結びつき、別府の地獄に好印象を持ってくれた。新型コロナが収束したら別府に遊びに来たり、APUに入学する人が増えてほしい」と期待する。
 妻のディサ・アダニサさん(30)=APU大学院生=も同じ時期に「新しい冒険」と題した本を出した。中央アメリカ、ニカラグアで13年に実施した英語教育ボランティアの体験を、当時の日記で振り返った。ディサさんは「母国を担う次世代の役に立ちたい」と話した。
 本はいずれもインドネシア語。ヒジラさんは製本した100冊、ディサさんは200冊を完売。追加販売を検討するという。

<メモ>
 ヒジラさん、ディサさん夫婦は春から約半年間、インドネシアでオンライン授業を受けて過ごした。ジャカルタを8月末に出国、東京都で2週間ほど滞在し、9月11日に別府に到着した。

※この記事は、9月16日 大分合同新聞 12ページに掲載されています。

Link : Di sini

Senin, 18 Januari 2021

Pengalaman Berkebun 7 Tanaman Herbal Tradisi Masyarakat Jepang di Tahun Baru

Orang Jepang selalu punya tradisi yang dilakukan setiap musim, mulai dari musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. 

Begitu pun dengan pergantian tahun atau tahun baru. Masyarakat Jepang melakukan tradisi Makan Osechi, masakan yang diletakkan di atas wadah tradisional Jepang untuk tahun baru, yang dinikmati bersama keluarga.

Perayaan tahun baru bagi orang Jepang dirayakan mulai dari tanggal 1 hingga 6 Januari setiap tahunnya. Nah, di pengujung tanggal tersebut ada masakan khusus yang harus disiapkan sebagai penutup tahun baru yang disebut Nanakusa-gayu, bubur yang dimasak dengan tujuh jenis daun-daun herbal.


Yang menjadi ciri khas dari bubur Nanakusa-gayu adalah dimasak dengan tujuh jenis daun herbal, yakni daun Seru, Nazuna, Hakopela, Suzuna/Kabo, Suzushilo/Daikon, Hotokenoza, dan Gogyou.

7 Herbal Nanakusa
Kota Usa


Sejarahnya Nanakusa-gayu ini sendiri berasal dari daratan China sekitar 1000 tahun di masa Heian.

Di pengujung tahun 2020 saya dapat kesempatan untuk ikut bagian langsung dalam menyiapkan bahan-bahan Nanakusa dari petani hingga proses pengemasan untuk dijual ke pasar.

Kegiatan ini menjadi momen yang tidak terlupakan, karena selain bisa melihat langsung pertanian ketujuh tanaman herbal tersebut dan dilakukan di musim dingin. 


Memilih dan memilah Daun Gogyou
Daun Nazuna

Badai Salju


Setiap paginya saya dan beberapa teman lainnya berangkat dari penginapan yang disediakan oleh pihak pertanian menuju lokasi yang berada di Kunisaki, Oita. Di sana terdapat banyak sekali rumah kaca yang digunakan untuk mengembangkan ketujuh jenis tanaman herbal tersebut. Terlihat juga ada beberapa pekerja yang berasal dari masyarakat sekitar.

Setiap harinya kami bertugas untuk menyeleksi produk yang baik dan bagus untuk dikemas sedangkan yang jelek dan buruk dibuang. Setiap pekerja memiliki tugas masing-masing. Saya sendiri bertugas memilih dan memilah Suzuna atau Kabo dan Suzushilo atau Daikon. 

Di proses ini saya melihat bagaimana ketatnya pengawasan kualitas produk orang jepang. Ada banyak juga produk yang menurut mereka tidak bisa digunakan hanya karena cacat sedikit saja. Ada rasa bersalah ketika melihat banyak produk yang dibuang, tapi pihak pertanian mengatakan kalau produk-produk yang cacat, rusak dan tidak layak jual ini nantinya akan diolah lagi untuk penanaman selanjutnya.

Kegiatan ini berlangsung selama 10 hari hingga semua produk bisa dikemas dan dipasarkan sebelum tanggal 7, sehingga pembeli sudah bisa menyimpannya di rumah. Walaupun sempat dihadang hujan salju yang lebat, aktivitas ini tidak berhenti, karena semua pekerjaan dilakukan di dalam ruangan rumah kaca atau pun gudang, sehingga perkerja bisa terjaga dari badai. Hal ini sudah diperhitungkan oleh pihak pertanian demi mencapai target sesuai yang diinginkan.


Ada rasa senang dan bangga ketika semua produk Nanakusa bisa dikemas dengan baik dan bisa melihatnya terjual di pasaran. Apalagi produk-produk ini dijual untuk keperluan kesehatan.



Bubur Nanakusa sendiri dimakan untuk mengistirahatkan perut yang selama perayaan tahun baru diisi dengan berbagai macam lauk-pauk dari masakan Osechi yang sebagian besar bukan berupa sayuran. Selain itu, bubur nanakusa dipercaya menjauhkan orang dari segala macam penyakit, karena dipercaya memiliki arti untuk harapan akan kedamaian, kesejahteraan, serta kesehatan untuk keluarga.


Selamat Tahun Baru 2021, semoga kita sehat-sehat semua ya...

Kamis, 07 Januari 2021

Selamat Tahun Baru 2021

 Selamat tahun baru 2021!


Tahun 2020 jadi tahun yang paling banyak tantangannya, mulai dari menebarnya Covid 19, menyerang kesehatan, perekonomian, hubungan sosial dan juga berdampak ke beberapa aktivitas penting lainnya. Semoga di tahun 2021 ini semuanya bisa kembali ke kondisi yang aman dan terjauhkan dari segala jenis penyakit, aamiin!

Saya juga berharap bisa berkumpul dengan anak lagi, semoga bisa kembali ke Jepang dan bermain bersama lagi.

Happy Mooyear


Minggu, 20 Desember 2020

Mengunjungi Kastil di Puncak Bukit Beppu

Salah satu tempat yang menarik perhatian selama tinggal di Beppu adalah Kifune Castle. Kastil yang berada di salah satu bukit di Kota Beppu ini, walaupun kecil tapi memiliki bentuk arsitektur yang cantik, layaknya seperti kastil-kastil yang ada di Jepang, hanya saja jika yang lain berada di dataran rendah atau dekat dengan air, lain halnya dengan kastil ini. 

Setelah dua tahun tinggal di Beppu, akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke sana, sekaligus sebagai trip ulang tahun, hehe.

Kifune Castle penampakan dari bawah





Minggu, 17 Mei 2020

Melihat Neraka Penuh Buaya di Jepang


Salah satu neraka yang wajib dikunjungi adalah Oniyama Jigoku yang berarti Neraka Gunung Setan. Dari namanya terdengar seram ya.

Dengan membayar tiket seharga ¥400 perorang kita bisa memasuki arena nerakanya. Dari pintu masuk kita disambut oleh asap yang tebal berasal dari salah satu kawah yang ada di sana, ketika asap mulai menipis, betapa kagetnya saya, ada sesosok merah besar dengan tanduk dan taring menyerigai ke arah saya. Sosok tersebut sedang duduk memegang tongkat hitam besar dilengkapi duri di sekelilingnya. Rupanya dia adalah sosok setan penjaga neraka.




Setelahnya ada sebuah bangunan yang terbuat dari kayu, dari bentuknya tidak asing bagi saya, desain bangunan tersebut ternyata memang menggunakan desain arsitektur melayu yang berfungsi menjadi museum yang memajang barang-barang di sana.



Bentuk desain bangunan sendiri dipilih karena ternyata, museum neraka ini dipenuhi dengan buaya dan segala yang berhubungan dengannya, mulai dari telur, buaya hidup hingga kerangka raksasa buaya yang pernah hidup di sana, dan buaya itu adalah buaya yang dibawa langsung dari Serawak, Malaysia.



  

Belum selesai merinding melihat museum buaya, keluar dari bangunan tersebut kita akan disambut oleh puluhan kandang buaya dengan ratusan koleksi buaya dari berbagai negara! Bikin jantung ga santai! Untungnya saja mereka semua dikurung dengan amat ketat dengan beberapa peringatan yang ditempel oleh pihak neraka agar dipatuhi oleh pengunjung demi keselamatan mereka.



Terlihat para buaya sedang beristirahat sambil menikmati suasana di sana dengan udara yang dingin, air yang hangat, katanya ini yang bikin buaya-buaya tersebut cocok untuk berkembang biak di Beppu.



Setiap harinya pengunjung bisa melihat buaya makan setiap jam 10 pagi dan jam setengah 3 sore. Neraka ini beroperasi setiap harinya dari pukul 8 pagi hingga jam 4 sore. Seru ya! Kapan lagi bisa lihat buaya di tengah kota.