Tampilkan postingan dengan label Beppu Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Beppu Story. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Maret 2019

Wisata Neraka Dunia ala Beppu Jepang

Pulau Kyushu yang berada di bagian selatan Jepang terkenal sebagai tempat yang kaya akan aktivitas panas bumi atau yang disebut dengan geothermal, karena letaknya dekat Gunung Aso, salah satu gunung yang masih aktif di Jepang. Hal ini dimanfaatkan oleh masyarakat yang berada di pulau ini banyak sekali terdapat tempat pemandian air panas. 

Salah satu kota yang menjadi tujuan wisata paling terkenal adalah Kota Beppu. Kota ini berada di antara teluk dan dua gunung api. Kota Beppu menjadi kawasan sumber air panas dengan debit air terbesar di Jepang. Debit air panas yang keluar di mata air Beppu menempati peringkat kedua di dunia setelah Taman Nasional Yellowstone di Amerika Serikat. Dari 11 tipe kualitas mata air panas, Beppu memiliki 10 tipe kualitas mata air panas yang tersebar di sumur-sumur air panas di Beppu. 

Beppu disebut sebagai kota dengan kolam air panas terbanyak di dunia, kota kecil ini memiliki lebih dari 2.900 kolam air panas yang berisi 130 ribu ton air yang berasal dari tanah setiap harinya. Uap yang muncul dari kolam air panas ini membuat kota ini selalu terlihat mengeluarkan asap dan menjadi daya Tarik tersendiri. 

Hampir 8 juta lebih pengunjung datang ke Beppu setiap tahunnya untuk menikmati pemandian air panas atau pun menikmati wisata lainnya. Kolam mata air panas termasuk yang paling banyak didatangi wisatawan, mata air panas ini disebut Jigoku, yang artinya neraka. Beppu memiliki delapan Jigoku yang dikenal denga Beppu Hatto, memiliki suhu 50 sampai 99,5 derajat celsius. Jigoku memang tidak digunakan untuk berendam, Tetapi Jigoku banyak menarik perhatian para wisatawan. Beppu memiliki beberapa kolam air panas yang dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk kebutuhan sehari-hari. Beberapa air panas ini dialirkan ke rumah-rumah warga, restoran, penelitian pertanian, terapi dan rekreasi. 
Beppu Neraka Dunia
Trip perjalanan menikmati mata air panas di Beppu dikenal dengan “Hell tours”, perjalanan ke neraka, terdengar menyeramkan ya? tapi ini uniknya Jepang, mereka mengemasnya dengan menarik. Kali ini saya dan keluarga berkesempatan mengunjungi dua dari delapan neraka yang ada, yaitu Umi Jigoku atau Neraka Laut dan Chinoike Jigoku atau Neraka Darah

Perjalanan dimulai dari Stasiun Kereta Beppu dengan menggunakan bus khusus yang didesain unik, bus dicat dengan warna biru kuning serta lengkap dengan tanduk ala setan. Hanya butuh waktu sekitar 20 menit kita sudah mencapai lokasi. Sesampai di lokasi kita akan disambut ramah oleh penjaga loket tiket. Untuk masuk ke lokasi kita membayar tiket masuk sebesar 400yen, sedangkan untuk anak-anak hanya membayar 200yen. Selain tiket kita akan mendapat stiker dengan desain lucu yang bisa dijadikan souvenir. 

Ada beberapa kolam kawah yang didesain menarik di dalamnya, kolam pertama berisi teratai, kolam selanjutnya berupa mata air panas yang disebut dengan Umi Jigoku atau neraka laut karena memiliki warna biru seperti lautan. Meskipun terlihat sejuk, kolam ini memiliki suhu lebih dari 98 derajat. Di kolam selanjutnya terdapat kolam yang disebut Chinoike Jigoku atau Neraka Darah karena memiliki warna yang merah seperti darah yang terlihat menyeramkan
Chinoike Jigoku
Umi Jigoku

Boneka Oni san
























Selain kolam mata air panas obyek wisata ini dilengkapi dengan cafรฉ yang menjual telur rebus dan pudding yang direbus dengan menggunakan tenaga panas bumi, serta toko souvenir yang menjual makanan dan pernak-pernik ala neraka, hanya saja dikemas menarik. Kita bisa menemukan Oni san atau setan yang berwarna biru dan merah yang dijadikan mascot untuk obyek wisata ini. Souvenir setan merah dan biru ini berupa gantungan kunci, boneka, sabun hingga marker wajah. 

Di ujung perjalanan kita akan ditawarkan foto dengan tema setan lengkap dengan properti pendukungnya. Menarik ya?
Foto ala Oni san (Setan) di Umi Jigoku
Wisata neraka ala Beppu ini bisa menjadi pengalaman unik yang harus dicoba kalau liburan ke Jepang.

Sabtu, 09 Februari 2019

Green Legacy Hiroshima, Pesan Damai dari Hiroshima

Negara Jepang adalah salah satu negara maju di Asia, masyarakatnya dikenal sebagai pekerja keras, hidup disiplin, tertib dan selalu memerhatikan kesehatan dan kebersihan, ternyata juga memiliki prinsip hidup damai.
Bagi orang Jepang perdamaian tidak hanya menjadi tugas pemerintah, mereka memulai dari diri dan lingkungannya. Orang Jepang sangat berhati-hati untuk tidak menyakiti dan menjaga perasaan orang lain, mereka selalu menghormati orang lain dengan tradisi Ojigi, membungkukkan badan dan selalu berusaha menggunakan bahasa yang sopan dan halus atau yang dikenal dengan tradisi Aisatsu, mengucapkan permisi dan meminta maaf dalam percakapan.
Peristiwa bom atom yang meledakan Kota Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945 menghancurkan kehidupan orang-orang Jepang pada masa itu. Selama perang dunia kedua, Hiroshima dan Nagasaki yang terletak di sisi selatan Jepang menjadi sasaran utama pengeboman. Peristiwa kelam itu juga yang akhirnya membuat masyarakat Jepang berusaha untuk menjaga perdamaian, mereka sudah merasakan penderitaan yang luar biasa dan tidak ingin terulang lagi. Bagi mereka peperangan dan konflik hanya akan membawa kesengsaraan dan penderitaan bagi kedua belah pihak. 
Selain itu sejak tahun 2011 dua orang yang bernama Profesor Nassrine Azimi dan Profesor Tomoko Watanabe di Hiroshima berinisiatif untuk membuat Program Green Legacy Hiroshima atau Warisan Hijau Hiroshima. Mereka membagikan bibit tanaman Sakura dan tanaman-tanaman lain yang bertahan hidup setelah peristiwa bom Atom 74 tahun yang lalu, ke pihak-pihak yang tertarik. Hingga sekarang telah tersebar di 34 negara, mulai dari Afganistan hingga Amerika Serikat. Bibit-bibit tanaman ini diharapkan menjadi pesan damai, harapan agar dunia bebas dari nuklir.
Bersama Professor Mahichi Faezeh, mahasiswa APU dan Sakura dari Hiroshima
Tanaman Sakura dari Hiroshima, duta perdamaian di APU
Cerita menariknya, kita bisa mengajukan tanaman sakura ini untuk ditanam di negara kita, caranya langsung menghubungi Professor Nassrine Azimi dari Green Legacy Hiroshima.


Jumat, 08 Februari 2019

Mengusir Setan ala Anak-anak Jepang

Kali ini saya berkesempatan ikut merayakan Setsubun, tradisi mengusir setan ala anak-anak di Jepang. Setsubun dalam arti sebenarnya adalah nama perayaan yang digunakan di Jepang untuk hari sebelum hari pertama setiap musim. Dalam satu tahun terdapat 4 kali hari pertama setiap musim: Musim Semi (Risshun), Musim Panas (Rikka), Musim Gugur (Rishu), dan Musim Dingin (Ritto). Tapi istilah Setsubun sekarang hanya digunakan untuk menyebut hari sebelum hari pertama musim semi saja, sekitar tanggal 3 Februari setiap tahunnya.
menghindari kejaran anak-anak yang melempar kacang
Tradisi Setsubun adalah perpaduan upacara mengusir arwah jahat di istana yang berasal dari tradisi Tiongkok dan upacara melempar kacang (Mamemaki). Kacang yang dilempar-lemparkan biasanya adalah kedelai, atau yang sering disebut kacang keberuntungan (Fukumame). Jumlah kacang yang dilempar dan yang dimakan disesuaikan dengan usia orang tersebut.
Kacang akan dilemparkan ke arah orang yang berperan menjadi setan (Oni) sambil mengucapkan mantera "Oni wa soto, fuku wa uchi" yang berarti, setan ke luar, keberuntungan ke dalam! Tradisi melempar kacang ini melambangkan keinginan bebas dari penyakit dan selalu sehat sepanjang tahun. Tradisi ini terlihat seperti ritual melempar jumrah ketika ibadah haji.
Selain tradisi mengusir setan tersebut ada juga tradisi makan Sushi Ehoumaki yang berarti gulungan keberuntungan. Sushi Ehoumaki sendiri adalah sushi yang digulung dengan rumput laut panjang tanpa dipotong-potong menjadi kecil, seperti Leumang di Aceh. Ehoumaki berisi 7 bahan yang mewakili tujuh Dewa Keberuntungan (Shichifukujin).
Isian tersebut dimaksudkan mewakili kesehatan yang baik, kebahagiaan juga kemakmuran. Semua bahan digulung menjadi satu untuk menjadi keberuntungan. Memakannya tidak boleh dipotong kecil-kecil, harus dimakan bulat-bulat, memotongnya berarti ikut memotong keberuntungan. Memakannya juga harus menghadap ke arah mata angin yang sudah ditentukan setiap tahunnya, untuk tahun ini menghadap arah timur-timur laut, dan tidak boleh berbicara hingga satu gulung itu habis dimakan.
Selain itu, acara ini dijadikan kesempatan anak-anak berkumpul dan bermain bersama teman dan orang tuanya, mulai dari bercerita, bermain sulap, membuat topeng, permainan estafet kacang dengan sumpit dan masih banyak lagi permainan seru lainnya.
Karena hanya berlangsung sehari setiap tahun maka Setsubun merupakan salah satu atraksi wisata yang tidak boleh dilewatkan wisatawan yang ingin merasakan sensasi melempari Oni, makhluk astral Jepang.

Sabtu, 26 Januari 2019

Konservasi Kunang-kunang ala Masyarakat Beppu Jepang

Masyarakat Jepang sangat dekat dengan alam dan berusaha untuk menjaganya. Mereka menganggap alam menjadi bagian yang harus dijaga dan sebagai salah satu cara mereka menghormati Sang Pencipta. Ada banyak konsep di Jepang yang mengatur hubungan manusia dengan alam. Salah satunya adalah Satoyama dan Satoumi, hubungan antara desa dengan gunung, hubungan antara desa dengan laut.
Kolaborasi Symbio Club dan Kame-kame Club Beppu

Kali ini saya mendapat kesempatan belajar tentang pelestarian Hotari, atau kunang-kunang. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara mahasiswa, Symbio Club dan masyarakat Beppu yang digagas Komunitas Kame-kame Club. Kami diajak untuk membersihkan Sungai Hiya di daerah Kamegawa, salah satu sungai yang berada di Kota Beppu. Sungai ini dipilih karena merupakan salah satu tempat yang menjadi habitat serangga bersinar ini, sebab selain mempunyai air yang bersih juga memiliki suasana yang tenang. Kami bertugas membersihkan lahan yang berada di sekitar sungai yang nantinya digunakan untuk menanam tanaman yang disukai oleh siput yang menjadi makanan dari kunang-kunang.
Briefing sebelum proses pembersihan area sungai Hiya oleh took dari Kame-kame Club
Selain membersihkan lahan dan mempersiapkannya untuk kunang-kunang, kesempatan ini digunakan untuk makan bersama dan berdiskusi. Salah seorang kakek bercerita tentang pengalaman beliau mempelajari kunang-kunang dari beberapa negara di dunia. Beliau bercerita bahwa Indonesia memiliki banyak jenis kunang-kunang, sedangkan Jepang hanya punya spesies kunang-kunang, karena itulah mereka berusaha untuk terus melestarikannya. 
Ngumpul, belajar, makan :D
Ini mirip Bakso Malang
Kegiatan membersihkan sungai ini pun dilaksanakan tiap tahun untuk menjaga habitat kunang-kunang di tempat tersebut yang nantinya akan bisa dilihat pada bulan Mei mendatang. Dan biasanya mereka membuat festival kunang-kunang atau yang disebut dengan Hotari Gari.

Pernah dimuat di sini.


Senin, 21 Januari 2019

Menikmati Wisata Halal di Beppu Jepang

Jepang terus berkembang menjadi salah satu tujuan popular untuk wisata halal di dunia. Jepang memenangkan kategori “The World’s Best Non OIC Emerging Halal Destination” sebagai negara nonmuslim yang menyediakan pelayanan wisata halal oleh organisasi konferensi Islam di Dubai pada Tahun 2016.
Ada banyak kota di Jepang yang menjadi tujuan turis dari negara muslim, salah satunya adalah Kota Beppu. Kota Beppu merupakan salah satu kota yang berada di Perfectur Oita di Pulau Kyushu, pulau yang berada di bagian paling selatan Jepang.
Kota Beppu
Uniknya kota ini berada di antara pantai dan gunung, jadi wisatawan yang datang ke sini bisa menikmati keduanya bersamaan. Kota ini terkenal dengan onsen atau pemandian air panas yang berasal dari panas bumi. Hampir dua juta wisatawan ke Beppu untuk menikmati onsen dan obyek wisata lainnya di Beppu. Kota ini menjadi salah satu tujuan wisata favorit turis dari Indonesia dan Malaysia, jadi jangan heran kalau tiba-tiba disapa dengan bahasa Indonesia.
Selamat dating di Kota Beppu
Trip perjalanan menikmati hot spring di Beppu dikenal dengan “hell tours”, dengan berbagai macam warna dari kawah dari gunung berapinya. Selain pemandian air panas ada banyak pilihan yang bisa dilakukan wisatawan dengan pemanfaatan tenaga panas bumi ini. Ada rumah makan yang memasak dengan uap panas bumi, kita bisa makan sambil merendam kaki di air hangat dan mandi pasir hangat di tepi pantai. Menariknya pemandian air panas ala Jepang ini juga dikembangkan untuk wisatawan muslim seperti keluarga atau juga yang bisa dinikmati secara pribadi dengan ruangan yang terpisah.

Beppu juga menyediakan makanan halal, ada beberapa restoran yang dibuka oleh muslim yang berasal dari negara muslim seperti Bangladesh, India, dan Indonesia yang menetap di Beppu. Selain rumah makan yang dikelola oleh muslim, ada juga rumah makan Jepang yang menyediakan masakan halal seperti ramen, karaage, dan toriten, jadi kita bisa merasakan lezatnya masakan asli Jepang secara halal.
Halal Kari Jepang dan Kota Beppu dari kampus
Selain rumah makan ada juga swalayan yang menyediakan bahan makanan halal seperti daging ayam, kambing dan olahnnya seperti sosis dan daging burger.
Beppu juga memiliki kampus dengan kafetaria yang juga menyediakan masakan-masakan halal yang lezat dengan harga yang ramah dengan kantong mahasiswa. Kantin ini termasuk kafetaria kampus halal terbesar se-Jepang.
Beppu memiliki sebuah masjid yang berada di pusat kota, merupakan masjid terbesar yang ada di Kyushu. Selain jadi tempat ibadah dan berkumpul pengajian, masjid juga menjual produk-produk halal yang bisa dibeli oleh jemaah ataupun wisatawan yang datang ke sana.
Selain itu pemerintah kota juga menyediakan informasi peta wisata halal atau Muslim-friendly tourism map untuk wisatawan yang datang ke Beppu. Jadi untuk wisatawan yang ingin berwisata ke Jepang dan masih bisa menikmati produk halal, Beppu bisa jadi salah satu tujuan wisata.

Pernah dimuat di sini

Rabu, 16 Januari 2019

Belajar Bersih dari Jepang

Off House, salah satu tempat penjualan barang-barang masih layak pakai di Beppu, Oita
Jepang terkenal sebagai negara maju yang cinta kebersihan, penduduknya tertib dan santun. Negara ini banyak sekali menerapkan peraturan yang terkait dengan lingkungan, salah satunya bagaimana mereka mengelola sampah.

Sebagai negara maju dalam teknologi, Jepang sangat baik untuk dijadikan contoh, tidak hanya di kota-kota besar, praktik kebersihan juga dilakukan di kota-kota kecil. Seperti dipraktekkan di kota yang saya tinggali sekarang. Saya tinggal di Kota Beppu, kota kecil berada di Perfectur Oita Kyushu, kota yang terkenal dengan objek wisata pemandian air panasnya (onsen).

Dalam setiap minggu ada beberapa waktu yang digunakan untuk pengumpulan sampah. Sampah dikelompokan dalam beberapa kategori yang nantinya akan dibungkus ke dalam warna plastik berbeda-beda. Setiap kota biasanya memiliki warna yang sama dengan kota lain atau bisa saja berbeda. Plastik ini bisa dibeli di minimarket atau di swalayan.

Secara prinsip pemerintah Jepang memisahkan empat jenis sampah:

Moerugomi (sampah yang dapat dibakar). Misalnya: kertas, kertas pembungkus makanan, tisu, plastik, sisa makanan, dan sampah dapur. Sampah jenis ini dibungkus dengan plastik berwarna hijau dan dikumpulkan setiap hari Senin dan Kamis pukul 08.00-10.00.

Shigengomi (sampah yang bisa didaur ulang). Misalnya: kaleng bekas, botol bekas, koran bekas. Sampah jenis ini biasanya sudah dibersihkan dan dibungkus dengan plastis berwarna merah muda, diambil setiap hari Rabu pukul 08.00-10.00.

Moenaigomi (sampah yang tidak dapat dibakar). Misalnya: potongan logam; sendok; garpu, kabel, plastik dan kaca. Biasanya dibungkus dalam plastik bening.

Sodaigomi (sampah besar). Misalnya: perabot rumah tangga, barang elektronik rumah tangga, sepeda. Untuk sampah jenis ini biasanya pemiliknya akan berusaha untuk tidak membuangnya, karena ada sanksi biaya yang harus dikenakan untuk pembuangannya tergantung jenis dan besar barang yang dibuang. Denda mulai dari 400 - 10.000 yen, atau setara dengan 500.000 hingga 1 juta rupiah. Pemilik nantinya harus menempelkan stiker kalau barang yang dibuang sudah dibayar dendanya. Ini yang membuat orang-orang di Jepang berpikir untuk menggunakan atau membeli barang secara bijak, membeli barang yang dibutuhkan saja.

Ada juga yang menjualnya lagi ke orang lain atau dijual ke toko barang bekas, “Off House”. Ini menarik, banyak barang yang dijual masih bagus, malah terlihat seperti masih baru. Hal ini membuat orang-orang di Jepang menggunakan barang dan menjaganya dengan baik.

Pengelolaan sampah yang baik ini membuat kota dan negara Jepang menjadi lebih bersih dan tertata. Karena mereka juga memiliki prinsip, dengan mengelola sampah yang baik, akan menjadikan lingkungan lebih baik, tanda mereka bersyukur kepada sang pencipta dan harapannya bisa terus digunakan untuk generasi selanjutnya.

Bagaimana kalau konsep ini diterapkan di Aceh, ya?

Sumber : http://portalsatu.com/read/Citizen-Reporter/belajar-bersih-dari-jepang-47436



Selasa, 01 Januari 2019

Beppu Children Camp

Kali ini saya dapat kesempatan untuk berkumpul dan bermain bersama anak-anak Jepang di acara Beppu Children Camp. Beppu Children Camp sendiri merupakan program yang diadakan oleh Pemerintah Beppu dan Beppu Children Association untuk memberikan kesempatan untuk anak-anak bertemu dan belajar dengan kakak-kakak atau abang-abang volunteer dari seluruh negara yang berbeda. Program ini ditujukan terutama untuk anak-anak yang single parent, harapannya bisa memberikan kesempatan untuk mereka merasakan liburan yang menyenangkan yang kemungkinan tidak bisa dirasakan seperti keluarga yang orang tuanya lengkap, luar biasa ya pemerintahnya.
Sambutan dan permainan Bersama orang dari Dinas Pendidikan Beppu
Ada kurang lebih 80 anak-anak dari sekolah yang berbeda di Kota Beppu, mulai dari kelas 3 hingga kelas 6 SD. Kemudian anak-anak tersebut dibagi ke beberapa kelompok dan nantinya didampingi oleh kakak-kakak volunteer dan ada juga siswa SMA yang menjadi volunteer. Untuk kakak-kakak dan Abang-abang volunteer ada sekitar 12 orang yang berasal dari China, Malaysia, Singapura, Thailand, Korea, dan Cameroon.

Saya mendapat kelompok Bersama 3 orang anak yang pintar-pintar dan aktif, sebut saja Ruka Chan, si anak perempuan pintar dan aktif sekali berbicara, melihat Ruka saya jadi teringat dengan ponakan saya di Aceh, mirip sekali gaya dan berbicaranya. Ada Touki Watanabe Kun, anak laki yang berpostur tubuh kecil tapi selalu jadi contoh teladan anak-anak lain dan dia juga yang menjadi pemimpin rombongan. Ada lagi Youki Kun, anak laki seumuran Touki tapi berpostur tubuh kurus dan lebih tinggi, semangat belajarnya membuat dia aktif bertanya dan memberi jawaban dari pertanyaan instruktur. Selain saya, ada Moris, pemuda dari Cameroon. 
Sesi perkenalan
Beppu Children Camp 2018
Sebelum acara inti di malam hari kami berkenalan terlebih dulu dengan anak-anak, kemudian kami diantar ke kamar yang akan kami gunakan untuk istirahat. Kamar yang kami dapat ala-ala tantara, ya namanya juga camp, jadinya kami tinggal di barak, ada 3 tempat tidur yang bertingkat, jadi inget ketika saya sekolah di SMA Modal Bangsa, hehe. Yang bikin berbeda, tempat tidurnya ternyata ada beberapa lapis, mulai dari futon, selimut dan sprei yang semuanya terlipat rapi. Belum sempat saya menyiapkan tempat tidur, tiba-tiba saja muncul sosok anak laki kecil berbaju merah, ah, Touki Kun! anak laki yang sama di kelompok saya. Saya menyapa,"hai". Touki Kun bertanya kepada saya beberapa pertanyaan dengan sangat cepat, saya bingung, belum sempat saya menjawab, dia dengan sigap berlari ke tempat tidur saya dan menyiapkan tempat tidur saya dengan rapinya, wow! Saya takjub, sepertinya anak ini sudah terlatih untuk menyiapkan semua tempat tidurnya dari sejak kecil, luar biasa ya, ini jadinya siapa yang ngajar siapa? haha.

Sorenya kami berkumpul di dalam kelas untuk perkenalan lebih lanjut dan ternyata anak-anak ini dikumpulkan untuk belajar Bahasa Asing untuk menyambut tamu-tamu yang nantinya akan dating ketika Rugby World Cup di Oita Tahun 2019.
Sesi belajar Bahasa Inggris dan Bahasa yang digunakan kakak-kakak volunteer dipandu oleh Abe San dari City Hall
Malamnya kami ada sesi permainan dan saling bertukar kebudayaan yang dimiliki oleh kakak-kakak volunteer. Sesi pertama dimulai dari kakak-kakak dari China dengan permainan lempar dan kejar sapu tangan, kemudian dilanjutkan dengan tarian kipas kakak-kakak dari Malaysia. Dilanjutkan dengan tarian dari Thailand. 

Sesi permainan dengan kakak-kakak volunteer dari China
Saya sendiri mengajarkan anak-anak untuk mengenal Indonesia, terutama Aceh. Ternyata di Beppu Tarian Aceh menjadi salah satu yang diminati karena gerakan yang rancak dan juga membutuhkan kerjasama antar penari. Salah satu Tarian Tradisional Aceh yang sudah dikenal baik di Beppu adalah Tarian Ratoh Jaroe, ya walaupun di sini mereka menyebutnya dengan nama Tari Saman. Tarian ini sudah menjadi salah satu ikon tarian Indonesia yang sering ditarikan oleh mahasiswa APU, dan sering diundang oleh pemerintah untuk ditampilkan di banyak acara, jadi ikut bangga juga, padahal anak Aceh belum pernah ada di APU.
Sesi pengenalan tarian Ratoh Jaroe, ternyata tidak hanya anak-anak yang tertarik, kakak-kakak volunteer juga ingin ikutan belajar
Walaupun singkat, anak-anak di sini bisa mempraktekkan dengan cepat
Setelah sesi main dan bertukar kesenian, kami lanjutkan dengan Night Trail menuju hutan! Pengalaman menyusuri hutan tengah malam ini mengingatkan saya dengan komik-komik jepang yang dulu saya pernah baca, anak-anak di sini diajarkan untuk berani dan juga terlatih untuk mengadapi masalah yang didapat ketika di dalam gelap bisa diselesaikan Bersama-sama, serunya di pertengahan lintasan kami bisa melihat Kota Beppu bercahaya dari atas, seru!

Moment yang tak terlupakan Bersama anak-anak yang luar biasa
Puncak acara, paginya kami dibagi menjadi 2 group. Group yang pertama akan pergi menuju ke Kijima Kogen, salah satu theme park yang ada di Beppu untuk belajar Bersama main ice skating. Group yang kedua tetap tinggal di camp untuk mengajarkan kerajinan untuk anak-anak. Sudah dapat ditebak kan saya masuk group yang mana?

Senin, 31 Desember 2018

Mochi dari Hati

Salah satu makanan favorit saya di Jepang adalah Mochi, kue kenyal berisi rasa manis beraneka rasa, belum lagi kalua dibalur dengan wijen, beuh….. pecaaaaah, duh jadi laper.
Walaupun di Indonesia ada juga daerah yang membuat Mochi, yang sama enaknya dengan yang ada di Jepang, tapi masak iya harus pulang ke Indonesia buat makan Mochi? Jadi kita focus dengan Mochi yang ada di Jepang, ini apaan sih? #EfekLapar 
Ya walaupun katanya Mochi bukan asli berasal dari Jepang, katanya dari Cina, nanti kita akan cari tahu kebenaran datanya ya.

Proses pencucian beras ketan
Kali ini saya dapat kesempatan untuk belajar membuat mochi ala Jepang, kue kenyal yang terbuat dari beras ketan (sticky rice) ini sejak Jaman Heian (794-1185) sudah menjadi makanan tradisi yang dimakan ketika perayaan tahun baru.

Menurut Orang Jepang, tahun baru dimulai dengan memakan Mochi karena berharap tahun ke depannya akan terus panjang seperti kekenyalan Mochi dan manis seperti isi dalamnya Mochi.

Bagi orang Jepang membuat Mochi atau membeli Mochi yang dibuat oleh tangan mempunyai nilai tersendiri dibandingkan dengan Mochi yang dibuat oleh mesin, tapi tantangan selanjutnya adalah pembuatan Mochi dengan tangan ini ternyata memiliki kerumitan tersendiri dan sudah memiliki system tersendiri, setiap orang dalam proses pembuatan Mochi sudah memiliki peran dan waktunya masing-masing, jadi bila ada satu komponen yang kurang, maka Mochi yang dihasilkan akan berbeda rasanya. Misalnya ketika proses pencucian beras ketan, waktu yang digunakan harus sesuai dengan waktu yang ditentukan, kalau kurang atau lebih akan mengganggu aktivitas yang lain dan berefek juga pada rasanya.

Ada beberapa jenis Mochi yang dibuat ketika menyambut tahun baru, seperti Marumochi, mochi yang berukuran kecil yang nantinya akan dimakan. Kemudian ada lagi Kagami Mochi yang ukurannya lebih besar, biasanya digunakan untuk panjangan di altar, biasanya ditumpuk dengan mochi yang ukuran berbeda dan sebuah jeruk di puncaknya. 

Marumochi
Kagami Mochi
Proses packing 
Yang menariknya dari proses membuat mochi ini para pekerjanya melakukan dengan senang hati, karena katanya kalua bekerja dengan hati maka hasilnya akan dirasakan oleh penikmatnya, itu juga yang saya rasakan ketika ikut bekerja dengan para pembuat mochi ini yang kebanyakan memang sudah nenek-nenek dan kakek-kakek. Karena itulah, mochi yang saya bikin ini, saya bikin dengan hati ๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–