Tampilkan postingan dengan label Beppu Lyfe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Beppu Lyfe. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Februari 2019

Green Legacy Hiroshima, Pesan Damai dari Hiroshima

Negara Jepang adalah salah satu negara maju di Asia, masyarakatnya dikenal sebagai pekerja keras, hidup disiplin, tertib dan selalu memerhatikan kesehatan dan kebersihan, ternyata juga memiliki prinsip hidup damai.
Bagi orang Jepang perdamaian tidak hanya menjadi tugas pemerintah, mereka memulai dari diri dan lingkungannya. Orang Jepang sangat berhati-hati untuk tidak menyakiti dan menjaga perasaan orang lain, mereka selalu menghormati orang lain dengan tradisi Ojigi, membungkukkan badan dan selalu berusaha menggunakan bahasa yang sopan dan halus atau yang dikenal dengan tradisi Aisatsu, mengucapkan permisi dan meminta maaf dalam percakapan.
Peristiwa bom atom yang meledakan Kota Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945 menghancurkan kehidupan orang-orang Jepang pada masa itu. Selama perang dunia kedua, Hiroshima dan Nagasaki yang terletak di sisi selatan Jepang menjadi sasaran utama pengeboman. Peristiwa kelam itu juga yang akhirnya membuat masyarakat Jepang berusaha untuk menjaga perdamaian, mereka sudah merasakan penderitaan yang luar biasa dan tidak ingin terulang lagi. Bagi mereka peperangan dan konflik hanya akan membawa kesengsaraan dan penderitaan bagi kedua belah pihak. 
Selain itu sejak tahun 2011 dua orang yang bernama Profesor Nassrine Azimi dan Profesor Tomoko Watanabe di Hiroshima berinisiatif untuk membuat Program Green Legacy Hiroshima atau Warisan Hijau Hiroshima. Mereka membagikan bibit tanaman Sakura dan tanaman-tanaman lain yang bertahan hidup setelah peristiwa bom Atom 74 tahun yang lalu, ke pihak-pihak yang tertarik. Hingga sekarang telah tersebar di 34 negara, mulai dari Afganistan hingga Amerika Serikat. Bibit-bibit tanaman ini diharapkan menjadi pesan damai, harapan agar dunia bebas dari nuklir.
Bersama Professor Mahichi Faezeh, mahasiswa APU dan Sakura dari Hiroshima
Tanaman Sakura dari Hiroshima, duta perdamaian di APU
Cerita menariknya, kita bisa mengajukan tanaman sakura ini untuk ditanam di negara kita, caranya langsung menghubungi Professor Nassrine Azimi dari Green Legacy Hiroshima.


Jumat, 08 Februari 2019

Mengusir Setan ala Anak-anak Jepang

Kali ini saya berkesempatan ikut merayakan Setsubun, tradisi mengusir setan ala anak-anak di Jepang. Setsubun dalam arti sebenarnya adalah nama perayaan yang digunakan di Jepang untuk hari sebelum hari pertama setiap musim. Dalam satu tahun terdapat 4 kali hari pertama setiap musim: Musim Semi (Risshun), Musim Panas (Rikka), Musim Gugur (Rishu), dan Musim Dingin (Ritto). Tapi istilah Setsubun sekarang hanya digunakan untuk menyebut hari sebelum hari pertama musim semi saja, sekitar tanggal 3 Februari setiap tahunnya.
menghindari kejaran anak-anak yang melempar kacang
Tradisi Setsubun adalah perpaduan upacara mengusir arwah jahat di istana yang berasal dari tradisi Tiongkok dan upacara melempar kacang (Mamemaki). Kacang yang dilempar-lemparkan biasanya adalah kedelai, atau yang sering disebut kacang keberuntungan (Fukumame). Jumlah kacang yang dilempar dan yang dimakan disesuaikan dengan usia orang tersebut.
Kacang akan dilemparkan ke arah orang yang berperan menjadi setan (Oni) sambil mengucapkan mantera "Oni wa soto, fuku wa uchi" yang berarti, setan ke luar, keberuntungan ke dalam! Tradisi melempar kacang ini melambangkan keinginan bebas dari penyakit dan selalu sehat sepanjang tahun. Tradisi ini terlihat seperti ritual melempar jumrah ketika ibadah haji.
Selain tradisi mengusir setan tersebut ada juga tradisi makan Sushi Ehoumaki yang berarti gulungan keberuntungan. Sushi Ehoumaki sendiri adalah sushi yang digulung dengan rumput laut panjang tanpa dipotong-potong menjadi kecil, seperti Leumang di Aceh. Ehoumaki berisi 7 bahan yang mewakili tujuh Dewa Keberuntungan (Shichifukujin).
Isian tersebut dimaksudkan mewakili kesehatan yang baik, kebahagiaan juga kemakmuran. Semua bahan digulung menjadi satu untuk menjadi keberuntungan. Memakannya tidak boleh dipotong kecil-kecil, harus dimakan bulat-bulat, memotongnya berarti ikut memotong keberuntungan. Memakannya juga harus menghadap ke arah mata angin yang sudah ditentukan setiap tahunnya, untuk tahun ini menghadap arah timur-timur laut, dan tidak boleh berbicara hingga satu gulung itu habis dimakan.
Selain itu, acara ini dijadikan kesempatan anak-anak berkumpul dan bermain bersama teman dan orang tuanya, mulai dari bercerita, bermain sulap, membuat topeng, permainan estafet kacang dengan sumpit dan masih banyak lagi permainan seru lainnya.
Karena hanya berlangsung sehari setiap tahun maka Setsubun merupakan salah satu atraksi wisata yang tidak boleh dilewatkan wisatawan yang ingin merasakan sensasi melempari Oni, makhluk astral Jepang.