Tampilkan postingan dengan label The Light Of Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Light Of Aceh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Januari 2019

Beppu Children Camp

Kali ini saya dapat kesempatan untuk berkumpul dan bermain bersama anak-anak Jepang di acara Beppu Children Camp. Beppu Children Camp sendiri merupakan program yang diadakan oleh Pemerintah Beppu dan Beppu Children Association untuk memberikan kesempatan untuk anak-anak bertemu dan belajar dengan kakak-kakak atau abang-abang volunteer dari seluruh negara yang berbeda. Program ini ditujukan terutama untuk anak-anak yang single parent, harapannya bisa memberikan kesempatan untuk mereka merasakan liburan yang menyenangkan yang kemungkinan tidak bisa dirasakan seperti keluarga yang orang tuanya lengkap, luar biasa ya pemerintahnya.
Sambutan dan permainan Bersama orang dari Dinas Pendidikan Beppu
Ada kurang lebih 80 anak-anak dari sekolah yang berbeda di Kota Beppu, mulai dari kelas 3 hingga kelas 6 SD. Kemudian anak-anak tersebut dibagi ke beberapa kelompok dan nantinya didampingi oleh kakak-kakak volunteer dan ada juga siswa SMA yang menjadi volunteer. Untuk kakak-kakak dan Abang-abang volunteer ada sekitar 12 orang yang berasal dari China, Malaysia, Singapura, Thailand, Korea, dan Cameroon.

Saya mendapat kelompok Bersama 3 orang anak yang pintar-pintar dan aktif, sebut saja Ruka Chan, si anak perempuan pintar dan aktif sekali berbicara, melihat Ruka saya jadi teringat dengan ponakan saya di Aceh, mirip sekali gaya dan berbicaranya. Ada Touki Watanabe Kun, anak laki yang berpostur tubuh kecil tapi selalu jadi contoh teladan anak-anak lain dan dia juga yang menjadi pemimpin rombongan. Ada lagi Youki Kun, anak laki seumuran Touki tapi berpostur tubuh kurus dan lebih tinggi, semangat belajarnya membuat dia aktif bertanya dan memberi jawaban dari pertanyaan instruktur. Selain saya, ada Moris, pemuda dari Cameroon. 
Sesi perkenalan
Beppu Children Camp 2018
Sebelum acara inti di malam hari kami berkenalan terlebih dulu dengan anak-anak, kemudian kami diantar ke kamar yang akan kami gunakan untuk istirahat. Kamar yang kami dapat ala-ala tantara, ya namanya juga camp, jadinya kami tinggal di barak, ada 3 tempat tidur yang bertingkat, jadi inget ketika saya sekolah di SMA Modal Bangsa, hehe. Yang bikin berbeda, tempat tidurnya ternyata ada beberapa lapis, mulai dari futon, selimut dan sprei yang semuanya terlipat rapi. Belum sempat saya menyiapkan tempat tidur, tiba-tiba saja muncul sosok anak laki kecil berbaju merah, ah, Touki Kun! anak laki yang sama di kelompok saya. Saya menyapa,"hai". Touki Kun bertanya kepada saya beberapa pertanyaan dengan sangat cepat, saya bingung, belum sempat saya menjawab, dia dengan sigap berlari ke tempat tidur saya dan menyiapkan tempat tidur saya dengan rapinya, wow! Saya takjub, sepertinya anak ini sudah terlatih untuk menyiapkan semua tempat tidurnya dari sejak kecil, luar biasa ya, ini jadinya siapa yang ngajar siapa? haha.

Sorenya kami berkumpul di dalam kelas untuk perkenalan lebih lanjut dan ternyata anak-anak ini dikumpulkan untuk belajar Bahasa Asing untuk menyambut tamu-tamu yang nantinya akan dating ketika Rugby World Cup di Oita Tahun 2019.
Sesi belajar Bahasa Inggris dan Bahasa yang digunakan kakak-kakak volunteer dipandu oleh Abe San dari City Hall
Malamnya kami ada sesi permainan dan saling bertukar kebudayaan yang dimiliki oleh kakak-kakak volunteer. Sesi pertama dimulai dari kakak-kakak dari China dengan permainan lempar dan kejar sapu tangan, kemudian dilanjutkan dengan tarian kipas kakak-kakak dari Malaysia. Dilanjutkan dengan tarian dari Thailand. 

Sesi permainan dengan kakak-kakak volunteer dari China
Saya sendiri mengajarkan anak-anak untuk mengenal Indonesia, terutama Aceh. Ternyata di Beppu Tarian Aceh menjadi salah satu yang diminati karena gerakan yang rancak dan juga membutuhkan kerjasama antar penari. Salah satu Tarian Tradisional Aceh yang sudah dikenal baik di Beppu adalah Tarian Ratoh Jaroe, ya walaupun di sini mereka menyebutnya dengan nama Tari Saman. Tarian ini sudah menjadi salah satu ikon tarian Indonesia yang sering ditarikan oleh mahasiswa APU, dan sering diundang oleh pemerintah untuk ditampilkan di banyak acara, jadi ikut bangga juga, padahal anak Aceh belum pernah ada di APU.
Sesi pengenalan tarian Ratoh Jaroe, ternyata tidak hanya anak-anak yang tertarik, kakak-kakak volunteer juga ingin ikutan belajar
Walaupun singkat, anak-anak di sini bisa mempraktekkan dengan cepat
Setelah sesi main dan bertukar kesenian, kami lanjutkan dengan Night Trail menuju hutan! Pengalaman menyusuri hutan tengah malam ini mengingatkan saya dengan komik-komik jepang yang dulu saya pernah baca, anak-anak di sini diajarkan untuk berani dan juga terlatih untuk mengadapi masalah yang didapat ketika di dalam gelap bisa diselesaikan Bersama-sama, serunya di pertengahan lintasan kami bisa melihat Kota Beppu bercahaya dari atas, seru!

Moment yang tak terlupakan Bersama anak-anak yang luar biasa
Puncak acara, paginya kami dibagi menjadi 2 group. Group yang pertama akan pergi menuju ke Kijima Kogen, salah satu theme park yang ada di Beppu untuk belajar Bersama main ice skating. Group yang kedua tetap tinggal di camp untuk mengajarkan kerajinan untuk anak-anak. Sudah dapat ditebak kan saya masuk group yang mana?

Minggu, 05 Maret 2017

Hijrah Saputra, Introducing an Empowering Hospitality



Hijrah Saputra and Mister Piyoh

Born and raised in sabang, the city at the western end of indonesia, Hijrah Saputra (32) was intrigued by the untapped tourism potentials in his hometown. the combination of the things he is interested in; graphic designing, marketing, and his academic background in urban planning, encourage him to promote positive change among local youth. Hijrah, or Heiji to his friends, began his mission in 2008 by building piyoh design, his graphic design start-up focusing on creating merchandises to promote tourism in sabang.

Among his products are mugs, key chains, stickers, flannel figurines wearing aceh traditional dresses, and t-shirts. The name “Piyoh” is inspired by a word in Acehnese that means ‘stopping by’, representing the local tradition to honor guests called peumulia jamee. not only a fitting choice of word for tourists coming over, piyoh has also become a
household name. chances are, if one has a t-shirt that says “i love aceh” or “i love sabang”, it might be made by Piyoh Design. for the alumnus of Urban and Regional Planning Department in Brawijaya University, Malang, East Java, the numerous issues in his hometown were his drive to make the most of what he is made of.

“I see that people, with their own abilities, can change their surroundings for better or worse. I call it the power of supercitizen. As the power is combined, we can complete each other and collaborate as a driving force for a better Indonesia,” says Heiji, who believes that every single person has their own purpose in the world, and for him, it is to foster the improvements in his hometown.

as his initial drive to make changes started from tourism, the son of Suradji Junus and Erwani Meutia stays true to the cause. since last october, he is serving at Laskar Nusantara as the coordinator for indonesia tourism ambassadors for western part of the country, which comprises the region from aceh to west java. he also has been contributing and illustrating for travelwan magazine since 2009, and previously designed the promotional tools for visit banda aceh campaign in 2011 by the city of Banda Aceh’s department of tourism and culture.

Furthermore, along with his fellow youth in aceh, in 2012 Heiji co-founded a youth organization called The Leader, to encourage positive changes in local youth. its activities include Dreammaker, to inspire them to make their dreams come true; Kelas Kreatif and Rumah Kreatif to promote creative thinking and actions; Ngobrol Inspiratif to serve as a hub for local youth and inspirational people; Sobat Buku to recommend must-read books for youth; and Aceh Luar Biasa to introduce inspirational young people who had made a difference.

On the other hand, he admits, the fact that plenty of young people in Aceh choose to complain about their surrounding without actually make any moves, made his ideas did not gain that much of support from even his friends. However, he is glad that, one of these days, some of his peers, who used to consider his thoughts to be pretty obscure, now wonder why they are not invited to contribute.

“I consider this as a positive change of mindset, because if they ask that, it shows that they care and are willing to make change. Many of them are also inspired to do social projects and offer their own version of solution for problems in the society,” explains Heiji, who earlier 2015 won the first prize for the Creative Economy sector of Marketeers of the Year by Markplus.

Over the years, Heiji has been leaving his mark as a changemaker in his hometown, and he intends to keep on doing so and not to stop learning new things. In ten years’ time, he hopes to be an entrepreneur who is not only successful in building his business empire, but also to be a man of value to inspire young people across the sea to be their own version of change-makers.

Finally, he highlights, that “It is not the time to make a change on our own, but to do so together.”

Kamis, 20 Oktober 2016

Kareung, Kreativitas dengan Karang Mati

Sabang, kota kecil di barat Indonesia ini memiliki potensi wisata yang sangat besar, terutama di sektor wisata baharinya. Sabang terkenal hingga mancanegara dan dijadikan salah satu tempat yang wajib dikunjungi untuk menyelam sebelum mati.

Sabang sendiri memiliki 2 musim, angin timur dan angin barat, biasanya ketika angin barat berlangsung, banyak pantai yang biasanya hanya berisi pasir putih yang halus, dipenuhi dengan bebatuan yang besar dan banyak karang yang sudah mati terhempas ke pantai.

Banyaknya karang mati, membuat saya dan teman-teman Cut Abang dan Cut Adek Kota Sabang berinisiatif untuk membuat produk kreatif yang berbahan dari karang yang telah mati tadi, kami membuat program Kareung. Kareung sendiri berasal dari Bahasa Aceh yang artinya Karang. Kami berharap dengan adanya program Kareung ini bisa menambah nilai ekonomis dari karang-karang yang telah tidak dipakai lagi dan bisa menjadi kenang-kenangan dari Sabang.
Proses pemilihan Karang yang sudah mati
Karang mati yang kita pilih, kemudian kami bersihkan dan dijemur, ini bertujuan agar mudah untuk pengolahan selanjutnya.
Pengenalan Program Kareung ke anak-anak muda Gampong Cot Bau yang mereka sering sebut Andescot
Proses pembuatan Kareung
Anak Muda ANdescot mulai berkreasi sesuai dengan imajinasi masing-masing
Produk Kareung yang sudah jadi
Kalau ke Sabang, jangan lupa untuk mampir dan membawa pulang produk Kareung ya, Salam Sabang selalu :)