Senin, 31 Desember 2018

Mochi dari Hati

Salah satu makanan favorit saya di Jepang adalah Mochi, kue kenyal berisi rasa manis beraneka rasa, belum lagi kalua dibalur dengan wijen, beuh….. pecaaaaah, duh jadi laper.
Walaupun di Indonesia ada juga daerah yang membuat Mochi, yang sama enaknya dengan yang ada di Jepang, tapi masak iya harus pulang ke Indonesia buat makan Mochi? Jadi kita focus dengan Mochi yang ada di Jepang, ini apaan sih? #EfekLapar 
Ya walaupun katanya Mochi bukan asli berasal dari Jepang, katanya dari Cina, nanti kita akan cari tahu kebenaran datanya ya.

Proses pencucian beras ketan
Kali ini saya dapat kesempatan untuk belajar membuat mochi ala Jepang, kue kenyal yang terbuat dari beras ketan (sticky rice) ini sejak Jaman Heian (794-1185) sudah menjadi makanan tradisi yang dimakan ketika perayaan tahun baru.

Menurut Orang Jepang, tahun baru dimulai dengan memakan Mochi karena berharap tahun ke depannya akan terus panjang seperti kekenyalan Mochi dan manis seperti isi dalamnya Mochi.

Bagi orang Jepang membuat Mochi atau membeli Mochi yang dibuat oleh tangan mempunyai nilai tersendiri dibandingkan dengan Mochi yang dibuat oleh mesin, tapi tantangan selanjutnya adalah pembuatan Mochi dengan tangan ini ternyata memiliki kerumitan tersendiri dan sudah memiliki system tersendiri, setiap orang dalam proses pembuatan Mochi sudah memiliki peran dan waktunya masing-masing, jadi bila ada satu komponen yang kurang, maka Mochi yang dihasilkan akan berbeda rasanya. Misalnya ketika proses pencucian beras ketan, waktu yang digunakan harus sesuai dengan waktu yang ditentukan, kalau kurang atau lebih akan mengganggu aktivitas yang lain dan berefek juga pada rasanya.

Ada beberapa jenis Mochi yang dibuat ketika menyambut tahun baru, seperti Marumochi, mochi yang berukuran kecil yang nantinya akan dimakan. Kemudian ada lagi Kagami Mochi yang ukurannya lebih besar, biasanya digunakan untuk panjangan di altar, biasanya ditumpuk dengan mochi yang ukuran berbeda dan sebuah jeruk di puncaknya. 

Marumochi
Kagami Mochi
Proses packing 
Yang menariknya dari proses membuat mochi ini para pekerjanya melakukan dengan senang hati, karena katanya kalua bekerja dengan hati maka hasilnya akan dirasakan oleh penikmatnya, itu juga yang saya rasakan ketika ikut bekerja dengan para pembuat mochi ini yang kebanyakan memang sudah nenek-nenek dan kakek-kakek. Karena itulah, mochi yang saya bikin ini, saya bikin dengan hati ๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–

Minggu, 30 Desember 2018

Membuat Origami Rugby World Cup 2019

Seperti yang kita ketahui Jepang terkenal dengan kesenian melipat kertas atau yang dikenal dengan Origami. Origami berasal dari Ori yang artinya melipat dan Kami/Gami yang berarti kertas, jadi Origami adalah melipat kertas. Kesenian ini sudah dimulai sejak jaman Edo (1603-1867) hingga sekarang, masih banyak orang tua mengajarkan ke anak-anaknya, banyak yang menekuninya karena hobi dan senang dengan bentuknya, ada juga yang percaya dengan cerita di balik origami. 

Nah, kali ini saya bergabung dengan salah satu komunitas di Beppu yang disebut dengan Rainbow Community Beppu. Kebanyakan dari komunitasnya adalah kakek-kakek dan nenek-nenek, ada juga guru-guru Bahasa Jepang yang miliki semangat berbagi. Mereka membuat kegiatan Workshop origami untuk menyambut Rugby World Cup 2019, karena di tahun depan Oita menjadi salah satu tuan rumah untuk piala dunia Rugby.
Perkenalan instruktur origami dari komunitas Rainbow Community

Ada beberapa anak sekolah ikut bergabung, eh emang untuk anak-anak sih sebenernya, hehe

Ya, kita mulai melipat! sebenarnya dari kertas origami yang dibagikan sudah ada angka yang jadi tanda untuk langkah-langkah melipatnya. Jadi kertas origami yang dibagikan itu khusus dibuat dengan desain untuk promosi acara Rugby World Cup 2019, lengkap dengan baju jersey team-team yang nanti akan bertanding di acara tersebut, seperti Australia, New Zealand, Uruguay, Wales dan Fiji, keren ya.
Untuk pertama saya pilih kaos jersey team dari Fiji 
Lipat 2 di bagian tengah, sisakan sedikit di bagian atas untuk dilipat
Lipat tengahnya menjadi dua
Bagian bawah dilipat ke luar dan bagian atas dilipat ke arah dalam
kemudian lipat 2 lagi, bentuk seperti baju, jadi
Semua peserta lengkap dengan karyanya siap menyambut Rugby WOrld Cup 2019

Serunya kita tidak hanya belajar membuat origami tetapi juga bisa berkomunikasi dengan teman-teman dari berbagai negara, jadi sekalian membuat origami juga bisa bersilaturahmi.

Rabu, 19 Desember 2018

Mencoba "Hell-steaming" ala Beppu, Jepang

Kota Beppu terkenal dengan pemandian air panasnya atau yang disebut dengan onsen. Termasuk kedua terbesar setelah Yellowstone National Park di Amerika. Hampir 2 juta lebih pengunjung dating ke Beppu untuk menikmati onsen. Ada 8 tempat yang terkenal bisa dikunjungi di Beppu atau yang dikenal dengan "Beppu Hatto", trip perjalanan menikmati hot spring di Beppu dikenal dengan “Hell tours”, perjalanan ke neraka, terdengar menyeramkan ya? tapi ini uniknya Jepang, mereka mengemasnya dengan menarik. Perjalan ke neraka ini kita akan melihat berbagai macam warna mulai dari putih, merah hingga biru dari kawah dari gunung berapinya lengkap dengan setan warna merah dan birunya. 

Yang menariknya air panas yang berasal dari panas bumi ini tidak hanya digunakan untuk mandi saja, tetapi juga digunakan untuk berbagai hal, salah satunya adalah memasak, memasak ala jaman Edo.

Karena penasaran saya dan keluarga mencoba salah satu jigoku yang ada di Kannawa, salah satu tempat yang menjadi tujuan "Hell tour". Ini salah satu jigoku yang banyak direkomendasikan di internet.
Enma Jigoku, Kannawa
Perjalanan kurang lebih sekitar 20 menit dari Stasiun Beppu dengan menggunakan taksi ataupun bus.

Sesampai di sana kita akan memilih makanan mana yang akan kita masak. Kami memilih seafood dan sayur. Nantinya kita akan ditemani oleh pemandu yang akan membantu kita mempersiapkan bahan makanan hingga menyiapkan tungku untuk kita memasak.
Saya dan adek ipar saya bersiap memasak
Siap untuk memasukan ke tungku memasak
Menunggu sekitar 15-20 menit
Kita bias makan sambal menikmati air hangat di kaki
Voila! These is it! Itadakimasu!
Rasa yang diciptakan dengan Hell steam ini sangat unik , warna makanannya juga jadi lebih menarik dan katanya lebih sehat. Jadi kalau kalian ke Beppu jangan lupa nyobain masak ala neraka ini ya, hehe.

Kamis, 29 November 2018

Kuliah di Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) Shape Your World

Selesai sudah satu quarter nyari ilmu di Jepang, ngga kerasa, rasanya baru kemarin datang ke Beppu, ikutan masa orientasi, heboh-hebohan pakai baju adat Aceh, eh sekarang udah libur quarter aja. Kuliah di sini sistemnya satu semester ada dua quarter, tiap quarter ada beda-beda mata kuliahnya.
Selamat dating di acara pernikahan kami, hehe
Saya masuk ke salah satu universitas yang menjadi inceran banyak mahasiswa Indonesia, Ritsumeikan Asia Pacific University atau banyak yang mengenalnya dengan APU. Awalnya saya tahu kampus ini dari calon istri saya, dia mengajak saya untuk melanjutkan pendidikan di Jepang, yang langsung saya iya kan karena saya pengen ke Jepang dan ada jurusan yang berhubungan dengan yang saya kerjakan sekarang. Jadilah sebelum nikah, saya dan calon istri bukannya merawat diri, malah sibuk ngurusin surat untuk kuliah. Oke, sebenarnya yang ini lebih bikin deg-degan dari pada persiapan pernikahan, hehe.

Biar terlihat lagi belajar
Yang menariknya kampus APU tidak seperti universitas lain di Jepang yang mewajibkan mahasiswa asing untuk menguasai Bahasa Jepang, hal ini membuat APU menjadi sasaran mahasiswa asing untuk kuliah di Jepang, bisa dibilang setengah dari mahasiswa APU berasal dari luar Jepang, ada kurang lebih 90 negara di kampus ini, bisa jadi dalam satu kelas kita bertemu dengan teman dari 40 negara, menarik ya.

Dulunya penasaran bagaimana system belajar di kampus Jepang, setelah sampai di sini, seru juga, apalagi ngambil jurusan Tourism and Hospitality yang kebanyakan tugasnya, jalan-jalan, hehe, impian banget kan ya. Untuk jurusan Tourism and Hospitality (TH) jadi jurusan yang bergengsi karena awal tahun 2018, APU mendapat TedQual Certification dari badan organisasi dunia pariwisata (UNWTO) untuk kampus yang mempunyai kualitas pendidikan, penelitian dan program pelatihan pariwisata yang baik. Sertifikasi ini membuat APU menjadi salah satu dari dua institusi di Jepang dan jadi satu-satunya kampus swasta di Jepang yang mendapat sertifikasi TedQual, keren ngga sih? Bangga banget!

Yang tambah bahagia lagi, saya mendapat supervisor dari negara Iran, selain mengajarnya asyik, ternyata beliau banyak sekali program yang membantu pariwisata masyarakat yang berada di Fukuoka dan sekitarnya, jadilah saya bisa ikut mendapatkan kesempatan membantu mereka juga, ya walaupun dengan Bahasa Jepang yang masih “sonomama” alias segitu aja, kemampuan menebak kata sangat diuji di sini, hehe. Beliau juga membuat iCAPt atau International Center of Asia Pacific Tourism yang nantinya akan membantu lebih banyak orang lagi di bidang pariwisata.

Beppu Story
Kampus APU berada di Kota Beppu, salah satu kota yang berada di Perfectur Oita yang ada di Pulau Kyusu, pulau yang berada paling selatan Jepang. Kota ini terkenal dengan Onsen atau pemandian air panas, hampir dua juta orang datang ke Beppu untuk menikmati onsen di Beppu. Ada banyak pilihan untuk mandi rileks di Beppu yang terkenal ada 8 (Beppu Hatto) yaitu Beppu Onsen, Kannawa Onsen, Myoban Onsen, Kankaiji Onsen, Hamawaki Onsen, Kamegawa Onsen, Horita Onsen and Shibaseki Onsen. Trip perjalanan menikmati hot spring di Beppu dikenal dengan “Hell tours”, dengan berbagai macam warna dari kawah dari gunung berapinya. Selain pemandian air panas ada banyak pilihan yang bisa dilakukan wisatawan dengan pemanfaatan tenaga panas bumi ini, ada rumah makan yang memasak dengan uap panas bumi, kita bisa makan sambil merendam kaki di air hangat dan mandi pasir hangat di tepi pantai.

Biaya hidup di Beppu juga tidak terlalu mahal bila dibandingkan dengan kota lain di Jepang, ada banyak tawaran beasiswa yang bisa diajukan atau yang ditawarkan oleh pihak kampus, belum lagi masih banyak kesempatan untuk “Baitou” kerja sambilan di sekitaran kota, ya walalupun ada pembatasan, pihak kampus sangat mengajurkan mahasiswa untuk bekerja sambilan, sambil mencari uang tambahan, mahasiswa bisa mengenal kebudayaan dan berkomunikasi dengan masyarakat di Beppu, sehingga bisa mengasah kemampuan berbahasa Jepang dan mempunyai pengalaman kerja yang bermanfaat ketika lulus nantinya.
Baitou jualan roti khas Oita

Makanan halal di kampus
Ngomongin makanan halal, di Beppu tidak terlalu sulit karena ada beberapa restoran yang dibuka oleh muslim yang berasal dari negara muslim seperti Bangladesh, India dan Indonesia yang menetap di Beppu. Ada juga swalayan yang menyediakan bahan makanan halal seperti daging ayam, kambing dan olahnya. Beppu juga memiliki masjid yang berada di pusat kota, jadi termasuk masjid terbesar di Kyusu, selain jadi tempat ibadah dan berkumpul pengajian, masjid juga menjual produk-produk halal. Kantin di kampus juga menyediakan masakan-masakan halal yang harganya ramah dengan kantong mahasiswa dan termasuk kantin kampus halal terbesar di Jepang, jadi untuk muslim jangan ragu untuk liburan ke sini.

Oh ya Beppu kotanya kecil tapi indah, dia berada di antara gunung dan laut, jadi kita bisa lihat laut, bisa lihat gunung, bisa dapat buah-buahan dan sayuran segar dari gunung, bisa juga dapat ikan segar dari laut. 
Bareng istri tercinta dan teman-teman mahasiswa Indonesia
Dan….balik lagi, Kampus APU berada di salah satu puncak bukit yang ada di Beppu, jadi belajar sambil menikmati pemandangan kota yang luar biasa, betah.

Udah dulu ya cerita singkatnya, nanti dilanjutin dengan cerita-cerita menarik lainnya.

Selasa, 31 Juli 2018

Menilik Situs Megalitikum Poso yang Eksotik

Perjalanan kali ini adalah mengunjungi situs Megalitikum yang ada di Kabupaten Poso. Saya bersama dengan tim Plushindo yang lain, Dissa Syakina, Adi Pratama, dan juga Pak Agus dari pekerja tuli Plushindo, tak lupa juga kami ditemani oleh Fira, Ongga Duta Wisata Kabupaten Poso.

Tujuan kami melihat situs peninggalan bersejarah megalitikum karena katanya termasuk situs sejarah yang unik dan hanya ada 2 di dunia, mirip dengan yang ada di Pulau Paskah di Samudera di Pasifik, dan satu lagi karena situs ini berada di kawasan Taman Nasional Lore Lindu yang merupakan habitat Anoa Sulawesi, jadi berharap sekali bisa melihat langsung Anoa yang merupakan hewan endemik dan langka asli Sulawesi.

Saat ini ada sekitar 432 obyek situs megalit yang ada di Sulawesi Tengah menurut Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah dan 1.451 jumlah batuannya yang tersebar di beberapa kabupaten.

Perjalanan menuju situs Megalitikum Poso ini termasuk cukup ekstreme, karena jalan menuju ke sana belum semuanya beraspal, jadi dibutuhkan kendaraan yang sesuai, belum lagi kalau dalam perjalanan atau sehari sebelumnya hujan. Kami berangkat dari Kota Palu menuju Lembah Besoa yang berada di Lore Tengah. Perjalanan memakan waktu hingga 5 hingga 6 jam. Cukup lama memang, tetapi pemandangan yang ditawarkan Lembah Besoa tidak mengecewakan. Perpaduan padang rumput yang hijau, langit biru dan awan putih menggumpal, sangat memanjakan mata, belum lagi ditambah dengan gugusan batu megalit yang memiliki bentuk yang unik, benar-benar eksotik!

Tujuan pertama kami adalah situs Pokekea, karena berdasarkan rekomendasi dari warga, di sini ada banyak batuan megalit yang tersebar. Sesampai di tujuan, kami terpukau, pemandangan lembah yang indah dan banyak sekali batuan dengan desain yang unik.
Lembah Besoa
Kalamba dan Rombongan Ano
Salah satu batu megalit yang ada di sini adalah Kalamba. Kalamba merupakan artefak berbentuk tempayan besar bertutup berdiameter 1,5-2 meter, serta berbentuk tangki melingkar yang dipahat dari sebuah batu besar yang dahulu sepertinya digunakan untuk tempat penyimpanan. Mengenai apa yang disimpan didalamnya masih merupakan spekulasi. Bisa jadi tempayan ini dipakai untuk menyimpan air, barang-barang berharga, atau malah merupakan peti mati purbakala. Sebagian masih dalam kondisi utuh, dan sebagian lagi sudah rusak.

Kalamba dapat ditemukan di beberapa tempat di Lembah Bada dan memiliki bentuk serta ukuran bervariasi. Beberapa memiliki satu lubang di tengahnya, sementara lainnya memiliki dua lubang. Menurut kepercayaan lokal, Kalamba digunakan sebagai bak berendam untuk para petinggi atau raja. Sementara yang lainnya menduga bahwa benda tersebut dulunya digunakan sebagai peti mati atau tangki air. Tutup terbuat dari batu sering ditemukan di dekat Kalamba, dan muncul dugaan bahwa benda tersebut digunakan untuk menutupi Kalamba sehingga tak mungkin digunakan sebagai bak berendam.
Kalamba dan tutupnya
Batu keluarga yang ada di Pokekea
Puluhan patung purbakala ini kabarnya sudah ada sejak abad ke-14. Batu megalit di Lembah Bada ditemukan pertama kali pada 1908. Walaupun penemuan tersebut sudah berlangsung lebih dari 100 tahun, namun hanya sedikit hal yang diketahui tentang objek itu, salah satunya tentang kapan patung batu itu dibuat. Beberapa orang berspekulasi bahwa batu-batu tersebut dipahat sekitar 5.000 tahun lalu, sedangkan lainnya menduga megalit itu dibuat sekitar 1.000 tahun silam.
Rasanya terlalu sayang pemandangan eksotik ini tidak dimanfaatkan jadi background foto bareng istri, hehe
Setelah puas di Pokekea, kami melanjutkan perjalanan ke situs Tadulako, untuk melihat batu megalit yang lain. Lokasi Tadulako juga tidak jauh dari situs Pokekea, hanya sekitar 10 menit.

Yang menarik dalam perjalanan ke Tadulako, kami melihat ada rumah adat yang mulai hancur. Rumah yang berbentuk segi empat dengan atap piramida ini dilapisi oleh daun rumbia serta beberapa ijuk. Bagian bawah dari rumah ini disangga oleh kayu dan tidak memiliki dinding pelindung. Rumah yang memiliki nama Tambi ini digunakan oleh para bangsawan kerajaan. Mereka tinggal di sini untuk hidup dan berumah tangga. Rumah ini biasanya memiliki tanduk kerbau pada bagian atasnya untuk menandakan status sosial dari yang memiliki hunian. Semakin banyak atau besar tanduk kerbau, status mereka semakin tinggi.
Rumah Tambi
Tim Plushindo dan Patung Tadulako
Patung Tadulako
Di Situs Tadulako tidak banyak batu megalitnya, hanya ada satu patung berjenis kelamin laki-laki setinggi 2 meter dan beberapa kalamba di sekitarnya.

Walaupun sendirian, patung Tadulako ini memiliki pemandangan yang luar biasa.

Jadi kalau ke Kabupaten Poso, jangan lupa untuk mampir ke situs-situs megalit ini ya. Oh ya, yang paling penting, jangan meninggalkan jejak, baik sampah atau coretan di patungnya ya.