Sabtu, 01 Maret 2014

Stop Complaining, Do Something

TINDAKAN adalah aktualisasi dari kata-kata. (W.S Rendra)

Kadang suka sebel dengan orang-orang yang suka kritik, kritik sana, kritik sini tapi ga ngasih saran. Tambah lagi orang yang suka ngeluh dengan kondisi yang tidak mereka inginkan, ngeluh ini, ngeluh itu, tanpa coba nyari solusi. Dengan berharap orang lain untuk melakukan apa yang kita keluhkan belum tentu bisa menghasilkan solusi yang baik, bisa jadi tanpa kita sadari, kitalah solusi itu, bisa jadi....dan bisa jadi semua masalah yang kita keluhkan itu karena kesalahan kita juga, kita yang tidak mau masuk ke dalamnya, so Stop Complaining and Do Something.

Aku salut dengan orang-orang yang melihat masalah kemudian berusaha menjadi solusinya. Contoh saja :

1. Ridwan Kamil (Indonesia Berkebun)
Di saat orang ngeluh tentang Ruang Terbuka Hijau dan mahalnya harga sayur, muncul Pak Ridwan Kamil, sekarang menjadi Walikota Bandung, dengan Gerakan Indonesia Berkebunnya. Beliau dan teman-temannya kumpul membuat sebuah gerakan yang bertujuan untuk menyebarkan semangat positif untuk lebih peduli kepada lingkungan dan perkotaan dengan program urban farming, yaitu memanfaatkan lahan tidur di kawasan perkotaan yang diubah menjadi lahan pertanian/perkebunan produktif yang dilakukan oleh peran masyarakat sekitar. Ternyata dengan semangat ini sekarang Indonesia Berkebun sudah berkembang dan menularkan semangat ini di 30 kota dan 8 kampus di Indonesia dengan visi dan tujuan yang sama. Gerakan positif ini, Indonesia Berkebun dianugrahkan penghargaan oleh Google Asia Pacific untuk kategori Web-Heroes pada tahun 2011, Inspiring Movement for Environment 2013 dari Nutrifood, Finalist Ashoka Changemakers 2013 dan apresiasi-apresiasi lainnya baik dari media nasional hingga internasional juga instansi-instansi lainnya.
Penggerak Indonesia Berkebun di Konferensi Indonesia Berkebun 2013 di Bali

2. Anies Baswedan (Indonesia Mengajar dan Turun Tangan)
Di saat orang-orang ngeluh pendidikan Indonesia jelek, tidak merata, terus menyalahkan Dinas Pendidikan, muncul Pak Anies Baswedan dengan Program Indonesia Mengajarnya yang berhasil merekrut, melatih, dan mengirim generasi muda terbaik bangsa ke berbagai daerah di Indonesia untuk mengabdi sebagai Pengajar Muda (PM) di Sekolah Dasar (SD) dan masyarakat selama satu tahun. Bahkan sekarang banyak anak-anak muda yang tergerak untuk mengajar walaupun harus keluar dari kerjaan nyamannya, luar biasa.
Pak Anies Baswedan, Indonesia Mengajar

3. Hanny dan Nia (Coin A Chance)
Lain lagi dengan Hanny dan Nia membuat sebuah gerakan sosial Coin A Chance! yang diawali di Jakarta pada Desember 2008. Saat ini, gerakan yang sama telah resmi diadopsi di Jogjakarta, Bali, dan Eropa (Jerman dan Belanda).
Melalui gerakan ini, mengajak kawan-kawan, kerabat, keluarga, juga para netters (blogger, plurker, facebooker…) untuk mengumpulkan ‘recehan’ atau uang logam yang bertumpuk dan jarang digunakan. Uang yang terkumpul akan ditukarkan dengan ’sebuah kesempatan’ bagi anak-anak yang kurang mampu agar mereka dapat melanjutkan sekolah lagi.
Coin a Chance

Dan masih banyak lagi lainnya, adakah masalah lain di lingkungan kamu? bisa jadi kamu solusinya, so.. STOP Complaining, Do Something!

Pak Aswan, Pengusaha Gerabah Kreatif asal Langsa

Sebelum mulai presentasi di Seminar Nasional di Langsa beberapa hari lalu, aku dihampiri seorang bapak yang mengenalkan dirinya, sambil menyerahkan sebuah kartu nama dan sebuah leaflet. Nama beliau Pak Aswan, beliau cerita kalau beliau sedang merintis usaha Gerabah di Kota Langsa.
Selesai acara aku diajak beliau untuk melihat tempat workshopnya. Lokasi tempat workshop beliau yang bernama Sanggar Asri berada di BTN Seuriget Blok G No. 133, tidak jauh dari hotel tempatku menginap, kurang lebih 15 menit dengan kendaraan bermotor.

Dalam perjalanan kami ngobrol banyak hal, Pak Aswan ini adalah pensiunan PNS di Kota Langsa, beliau punya mimpi untuk memajukan industri gerabah di Kota Langsa, beliau membangun sebuah workshop, dimana selain beliau bisa berkarya tapi juga beliau berharap bisa membagikan ilmu yang beliau miliki untuk orang-orang yang mau belajar di workshopnya.

Kami memasuki sebuah perkampungan, terlihat sebuah rumah dan ada seperti menara dengan tulisan Galeri Seni Kerajinan Sanggar Asri, di bagian atasnya, menarik!
Pak Aswan dan semua hasil karyanya di Sanggar Asri
Ada banyak sekali produk yang terbuat dari tanah liat, ada Vas bunga, celengan, kendi air, gentong, Guci, Meja, Air Mancur dan masih banyak lagi. Dan ternyata ada satu benda yang selama ini menjadi koleksiku di toko, yang juga banyak dicari orang, ternyata berasal dari sini, Lonceng Cakra Donya. Subhanallah, dulu aku sempat kepikiran suatu saat bakal bertemu dengan pengrajin miniatur Lonceng Cakra Donya tersebut, tapi ternyata kesempatannya datang dengan sendiri, malah bisa melihat hasil karya beliau yang lainnya.
Vas Bunga yang dihiasi pasir laut
Celengan
Ruang Produksi
Tempat Lilin Aromateraphy
Beliau berharap nantinya di Sanggar Asri, pengunjung bisa belajar bagaimana membuat Keramik Gerabah, mulai dari mengolah bahan, membentuk, mendisain bahkan sampai ke proses pembakarannya. Beliau masih menata Sanggar Asri ini juga nantinya bisa jadi tempat ngumpul sambil makan Serabi dan menikmati live musik, menarik ya.
Kendi Air dan Air mancur
Selesai dari tempat workshopnya, aku diajak ke rumah beliau yang tidak jauh dari situ. Ternyata rumah beliau pun ada galeri produk, dan rumah beliau pun sungguh artistik, tembok ruang dalam rumahnya diukir sendiri, luar biasa! Di sini aku melihat kesungguhan beliau dalam mengolah suatu benda yang mungkin menurut kita biasa saja menjadi hal yang luar biasa.
Galeri yang ada di rumah Pak Aswan
Walaupun sudah berusia lanjut, tapi kreativitas Pak Aswan patut diacungi jempol, jadi motivasi juga buat kita yang muda-muda ni. Btw, Kalau ke Langsa, jangan lupa main ke workshopnya beliau, beliau akan menyambut kita dengan senang hati.

Alamatnya BTN Seuriget Blog G, No. 133, Kota Langsa
Hp : 085262277647, 085276902556

Salam Kreatif!

Kamis, 27 Februari 2014

Piyoh, Berbagi dan Belajar Kreativitas di Langsa

Alhamdulillah hari rabu tanggal 26 Februari 2014 kemaren aku dapat kesempatan mengisi acara Seminar Nasional di Kota Langsa. Seminar Nasional Meningkatkan Kreativitas untuk Pembangunan Aceh. Sebenarnya posisiku menggantikan guruku Dr. Iskandarsyah Madjid, SE MM. Karena permintaan beliau dan sebagai anak muda yang (merasa) kreatif, akhirnya aku mengiyakan tawaran tersebut.

Ini jadi pengalaman ke dua buatku untuk jalan ke Kota Langsa. Kota Langsa adalah salah satu kota di Provinsi Aceh, yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Timur. Dulunya Kota Langsa menjadi Ibu Kota Kabupaten Aceh Timur, tapi pada Tahun 2001 terjadi pemekaran hingga menjadi 3 bagian, Aceh Timur, Kota Langsa dan Aceh Tamiang. Informasi detail tentang Kota Langsa bisa dibaca di sini

Menurut informasi, Kota Langsa berjarak sekitar 413 km dari Banda Aceh dan memakan kurang lebih 10 jam perjalanan dengan kendaraan umum, mau bus atau L300, lumayan bikin badan pegel linu-linu, tapi katanya Langsa bisa ditempuh kurang lebih 4 jam dari Kota Medan, wah. Kepikiran ingin naek pesawat ke Medan baru ke Langsa dengan taksi, tapi ternyata pemindahan Bandara Polonia ke Kuala Namu bikin perjalanan ke Langsa makin lama dan yang pasti bikin muter-muter ga jelas, akhirnya aku memutuskan untuk naik bus malam, dari Banda Aceh, kira-kira kalau bunyi bus malam apa ya?

Sudah lama tidak pernah naik bus lagi di Aceh, aku baru sadar, ternyata Bus antar kota antar provinsi di Aceh sudah bagus-bagus, kali ini aku mencoba naik Sempati Star yang katanya terbagus di kelasnya, iyalah perjalanan lumayan jauh kita harus nyari yang nyaman, jangan sampe gara-gara mau hemat, pas acara ga bisa sharing dengan optimal, sayang momennya, lagian dibayarin ini, ambil yang paling bagus sekalian, #ngikik. Daaaan ternyata saudara-saudara...drum roll pliss...., ternyata memang bus Sempati Star-nya keren luar biasa!
Penampakan Bus Sempati Star, foto by Fadhil Putra Perdana
Dari penampilan luarnya aja udah oke, dan ternyata dalamnya lebih oke lagi. Aku ngambil yang kelas VIP 2-2, artinya kursinya berdua-dua. Ada lagi yang Nonstop 2-1 yang kursinya berdua dan satuan, mungkin khusus buat penumpang yang jomblo #eh.

Tempat duduknya nyaman, ada selimut tebal dan harum, bantal yang empuk dan hebatnya lagi bantalan kursinya bisa diturunkan lebih dari 45 derajat, jadi ya bisa jadi tempat tidur berjalan, belum lagi dapat snack kotak, yang isinya Cokelat Bembeng dan Cokelat Superstar, suuooper!! haha.

Untuk semua fasilitas di atas, kita cuma membayar Rp. 170.000, tapi kemarin ntah kenapa, pihak loketnya hanya meminta Rp.160.000 saja, jadi uangku dikembalikan Rp.10.000, alhamdulillah ya.

Aku berangkat dari Terminal Batoh pukul 20.00 WIB. Waktu berangkat aku duduk sendirian, sampai di Bireuen ada seorang pemuda, sebut saja namanya Alfian (nama sebenarnya), beruntungnya dia termasuk asyik, jadilah selama perjalanan kami ngobrol, mulai dari usaha sampai mimpi membangun Aceh, berrrraaat saang! haha.

Tak terasa pukul 03.00 pagi, aku sudah sampai di Langsa, lebih cepat 3 jam dari perkiraan. Atau mungkin si abang supir ga rela melihat aku dan temanku ngobrol terlalu asyik, dia buru-buru menancapkan gasnya, bisa jadi... Aku turun di Simpang Komodor, karena menurut Kernet Bus, di Terminal sepi ga ada aktivitas, apalagi jam-jam segitu. Oh ya nama Simpang Komodor itu unik, karena dulunya ada Plang Rokok Komodor di situ, lucu ya.

Dari Simpang Komodor aku naik becak menuju Hotel Harmoni, tempat acara seminarnya. Pagi itu Langsa dingin banget, aku berulangkali ngerapatin jaket, tapi udara dinginnya menusuk sampai ke kulit, sampai-sampai si abang becak ngomong, "jarang-jarang Langsa sedingin ini, saya aja udah pakai baju 5 lapis", beuh.... jangan-jangan??

Sampai di Hotel Harmoni, ketemu dengan panitia, ambil kunci kamar dan tepar...

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Mulai jam 09.00 WIB, para peserta sudah mulai kumpul di ruangan seminar, ada kurang lebih 100 peserta yang datang. Kukira yang datang hanya pemuda saja, tetapi ternyata ada banyak Keuchik (Pak Lurah) juga yang datang. Karena ternyata pembicaranya memang bagus-bagus, ada Drs. Syafrizal, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kota Langsa, Drs. Mumus Muslim,MM, Dirjen Ekonomi Kreatif Kemenparenkraf dan Bang Muslim, SHI, MM, Anggota DPR RI Komisi 10, wah! jadi satu kebanggaan juga bisa satu acara dengan beliau-beliau ini.

Ngga nyangka juga ketemu dengan Bang Muslim, SHI MM, aku panggilnya Bang Muslim, salah satu inspiratorku, beliau banyak membantu program-program untuk pendidikan dan pariwisata, ya karena beliau masuk di Komisi 10 DPR RI. Beliau juga suka ngomporin anak-anak muda potensial di Aceh untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki, termasuk aku. 

Pertama kali bertemu dengan beliau di Program Sail Morotai, beliau selalu mendampingi Kemenpora, dan baru tau saat itu ternyata beliau orang Aceh dan punya semangat besar untuk membuat program-program pendidikan, pemuda dan pariwisata terutama untuk Aceh. Terakhir aku bertemu dengan beliau di Program Merajut Indonesia di Kota Sabang, beliau juga mendampingi Kemenpora, Pak Roy Suryo, selama di Sabang, karena beliau ingin ada program-program berkelanjutan di Sabang, dan beliau juga mengumpulkan anak-anak muda Aceh untuk ngumpul pada saat itu, agar terkoneksi dengan pak menteri dan orang-orang di kemenpora, salut! Mudah-mudahan beliau terpilih lagi di pemilihan selanjutnya ya, amin!

Acara berlanjut seru, banyak pertanyaan dari peserta seminar, jangankan mahasiswa, para keuchik juga ga mau kalah, sampai waktu seminar habis. Tapi ada beberapa yang akhirnya konsultasi secara personal setelah seminar. Semangat anak-anak muda di Langsa luar biasa, tapi semangat orang tuanya juga ga kalah, ada Pak Aswan, memiliki usaha gerabah, beliau melihat kesempatan, akhirnya mengajakku langsung ke tempatnya beliau.
Pak Aswan dan hasil karyanya di Sanggar Asri, Langsa
Walaupun udah pensiunan, Pak Aswan ini memiliki semangat berkarya yang luar biasa, kreativitasnya patut diacungi jempol, aku aja melihat hasil karya-karya beliau, berdecak kagum. Beliau mengakui ada beberapa kekurangan yang dihadapi beliau dan itu yang ingin didiskusikan denganku, dan alhamdulillah akhinnya muncul rencana-rencana baru yang akan dikolaborasikan, tunggu cerita selanjutnya ya.

Setelah dari tempat Pak Aswan, aku bertemu dengan Ifan, salah satu desainer grafis asal Aceh Tamiang yang juga pemenang Lomba Desain Piyoh 2013. Bertemu dengan Ifan kami langsung ke Dinas Pemuda, Olah raga dan Pariwisata Kota Langsa untuk bertemu dengan Pak Syafrizal, karena memang beliau ingin bertemu selepas seminar untuk sharing program-program yang beliau ingin kerjakan di Langsa, dan akhirnya kami semua ngumpul, ya Pak Aswan, Pak Syafrizal, Ifan, dan Bang Reza, Kabid Pariwisata, jadi lucu sebenarnya, tapi seru juga, karena sebenarnya semua bisa berkontribusi untuk pariwisata Langsa.
Bareng Bang Joni dan Pak Syafrizal di Hutan Kota

Selesai dari kantor, aku dan Ifan diajak ke rumahnya Pak Syafrizal untuk istirahat dan setelahnya melanjutkan perjalanan ke tempat-tempat yang menarik di Langsa, salah satunya Hutan Kota Langsa dan Cafe Stroom.

walaupun beliau baru menjabat 3 bulan, tapi aku melihat semangat beliau dan stafnya untuk membuat perubahan pariwisata di Kota Langsa sangat terasa, seperti inilah seharusnya pemimpin, tidak hanya bicara tapi langsung turun ke lapangan untuk apa yang dimau, Semoga semua mimpi-mimpi beliau bisa terwujud, amin. 

Di hutan Kota Langsa aku bertemu dengan Bang Joni, LSM pengurus Hutan Kota Langsa, dari beliau aku belajar banyak hal tentang pohon-pohon yang ada di Hutan Kota termasuk Pohon Damar yang ternyata satu-satunya tumbuh di dataran rendah Indonesia.  Hutan Kota Langsa ini juara 2 untuk pengelolaan hutan di Indonesia loh, kreatif euy!
 

Bareng Ifan, salah seorang desainer grafis terbaik Aceh asal Aceh Tamiang, kuliah di Langsa
Sebelum pulang aku kumpul lagi dengan pemuda-pemudi kreatif di Langsa, ya walaupun udah mulai demam Flue, agenda ini harus dilanjutkan, karena momen-momen seperti ini jarang, apalagi Sabang - Langsa, itu dari ujung ke ujung. Akhirnya aku ketemuan dengan Dhian (Dream and Do), Kak Ririn, Abrar (Duta Wisata Langsa 2009) dan masih ada Ifan di sebuah warung kopi gaul di Langsa. Maksud hati mengumpulkan mereka, membuat rencana dan mensinergikan dengan program-program Pariwisata Langsa nantinya, semoga.
Abrar, Dhian, Ifan, aku dan Kak Ririn
Udah mulai meler.....saatnya pulang balik ke Banda Aceh, Alhamdulillah bisa berbagi dan juga bisa belajar kreativitas di Kota Langsa walau sebentar, sampai ketemu di Langsa untuk program selanjutnya yaa...


Salam Kreatif!
O...Ke!

Minggu, 23 Februari 2014

Perubahan

Banyak yang bilang,"Jrah, kenapa maruk banget sih, ikutan duta wisata di mana-mana?, di Malang lah, di Jatim lah, di Sabang, NAD lah". Hehe, cuma bisa senyum. Tapi sebenarnya aku ngikut kegiatan duta wisata itu lebih bagaimana berkontribusi ilmu yang kupunya, juga mencari pengalaman dan ilmu baru untuk bisa kubagikan lagi. 

Prinsip hidupku, aku ingin bermanfaat buat orang lain terutama untuk sekitarku, karena orang tuaku selalu mendoakan aku, abang-abangku dan adek-adekku, agar terus berguna untuk orang lain dengan ilmu apapun yang kami miliki.

Ada hadist juga yang selalu kuingat dan jadi semangatku sampai sekarang, 

Rasulullah SAW bersabda, "Khairunnas anfa’uhum linnas", yang artinya, "Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim)

Aku yang dulu
Dari semua kegiatan yang kuikuti ada banyak sekali ilmu dan pengalaman yang kudapat, yang membuatku ke perubahan yang lebih baik.

Aku memulai perubahanku ketika mengikuti Kakang Mbakyu Duta Wisata Kota Malang 2006. Aku di kampus termasuk orang yang introvert, mulai mengalami perubahan sedikit lebih sedikit, mulai belajar membuka diri, belajar berbicara di depan umum, belajar sedikit mengubah penampilan, belajar sedikit mengenal karakteristik orang, belajar sedikit menghargai karya orang, belajar sedikit memberi, belajar sedikit mengenal bahasa dan kesenian baru, semuanya serba baru. 

Tapi sebenarnya aku mengikuti pemilihan Kakang Mbakyu Malang untuk mencoba mengaplikasikan ilmu yang kudapat di kampus ke lapangan, alhamdulillah di saat itu juga aku mendapatkan kesempatan terbaik untuk berbuat lebih. Alhamdulillah Konsep Malang Welcoming City dan si Tukoma (Tugu Kota Malang) yang kubuat untuk Kota Malang dipakai dan dilaunching langsung oleh Walikota Malang, Pak Peni Suparto #TerharuDiPojokan, dan ternyata berkat konsep itu juga aku terpilih menjadi Kakang Malang 2006. Di sini aku belajar, untuk membuat orang lain mendengarkan kita, kita harus menjadi "seseorang" dulu, dan untuk menjadi "seseorang" itu butuh proses dan pengorbanan.
 
Selain karya desain yang dipakai, banyak ide dan programku yang bisa diaplikasikan, bahkan sering diajak kepala dinas Parinkom (Pariwisata dan Komunikasi) di hampir setiap kegiatan beliau di balai kota atau bahkan di ruang sidang DPRK, ya walaupun cuma jadi astrot (Asisten sorot) atau bahkan jadi desainer lay outer, itu udah bikin aku bahagia banget, setidaknya bisa ketemu dengan pejabat-pejabat penting di Kota Malang dan sebagai anak kosan, bisa makan enak dan gratis, hehe.

Di Kakang Mbakyu Malang juga aku jadi belajar bagaimana berorganisasi, karena setiap Kakang yang juara diwajibkan jadi Ketua Paguyuban, PAKANDAYU Kota Malang (Paguyuban Kakang dan Mbakyu), mau ga mau harus mengatur teman-teman yang luar biasa ini, tapi sangking luar biasanya kadang suka nyusahin, kalau bikin acara, fashion show atau penampilan apa gitu, suka muncul telat atau ga datang sama sekali, mau ga mau aku harus muncul gantiin, padahal jalan di catwalk aja masih bingung, saknonya (kasihannya). Tapi di sini aku belajar, hidup emang harus dijlani apapun itu tantangannya, and show must go on.
Finalis Kakang Mbakyu Malang 2006
Salah satunya jadi korban untuk menggantikan model cowok yang tak datang dan bajuku kedodoran, malu dengan temen-temen lain yang memang model-model Top di Malang
Dan ternyata cobaan ga sampai di situ saja, masih banyak lagi bermunculan, mulai dari ngajarin Mas-Mas Cat Walk, Terjebak Donor Darah, Gagal Akting di Ketoprak Humor, Berjemur Cantik di Pawai Bunga, Nembang Gagal Kemudian Hening, yang akan kuceritakan di postingan-postingan selanjutnya ya.

Setelah dari Kakang Mbakyu Malang, aku harus mewakili Kota Malang ke pemilihan Raka Raki Jawa Timur, Duta Wisata Jawa Timur. Di sini aku harus bersaing dengan teman-teman 37 Kota/Kabupaten yang ada di Jawa Timur, beuh persaingan berat!

(Bersambung)

Serunya Roadshow Dreammaker Sigli

Setelah Aceh Selatan, Aceh Barat, Bener Meriah dan Kota Banda Aceh, kali ini roadshow Dreammaker ke Sigli, Kabupaten Pidie. Kabupaten Pidie berjarak kurang lebih 112 Km dari Banda Aceh atau kurang lebih 2 jam perjalanan dengan kendaraan, dengan ibukota Sigli

Setelah selesai Talkshow di Oz Radio Aceh, kami berangkat ke Sigli pukul 22.00. Team The Leader yang berangkat kali ini lumayan banyak, ada Fathun, dr. Salwiyadi, Syauqie, aku, dan Roma, ditambah lagi adekku, Agil, dan perjalanan diwarnai dengan cerita seru sepanjang jalan apalagi melewati jalan di Saree yang membuat sejarah berkesan, baca ceritanya di sini.

Acara Roadshow diadakan di STIKES Medika Nurul Islam, kami bekerjasama dengan mahasiswa-mahasiwa STIKES yang luar biasa. Mereka mempersiapkan semua sudah dari satu bulan yang lalu #Terharu.
Kata Sambutan dari Blue Leader, Romadhan
Presenter Acara Black Leader, Asy Syauqie
Sesi River of Life oleh Red Leader, Hijrah Saputra :D

Mendengar cerita mereka bener-bener bikin terkesima, dan ada juga yang bikin terharu sampai meneteskan air mata
Sesi Dream Revolution oleh White Leader, Muhammad Fathun
Silent Game
Sesi Dream Plan dengan Green Leader, dr.Salwiyadi

Roma dan Ketua BEM STIKES Nurul Islam
Semoga silaturrahim ini bisa terus terjaga dan membangun mimpi yang lebih baik untuk Aceh yang Luar Biasa, amin!