Tampilkan postingan dengan label DPR RI Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DPR RI Aceh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Maret 2016

Bang Muslim, SHI, MM, Anak Nelayan yang Menuju Senayan

Perkenalan

Bang Muslim SHI, MM, Tokoh Pendidikan Aceh
MUSLIM SHI, MM, begitu nama lengkapnya, aku biasa memanggil beliau dengan sebutan Bang Muslim. Pertama sekali bertemu dengan beliau ketika aku mengikuti program Kapal Pemuda Nusantara dan Sail Morotai pada Tahun 2012. Ketika selesai acara penutupan di Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) di Tanjung Priok, aku dikenalkan oleh temanku, kata temanku, Amin yang juga peserta Kapal Pemuda Nusantara, ada seorang tokoh Aceh yang menjabat sebagai anggota DPR RI yang hadir di sana menemati pak Menteri Pemuda Olah Raga, yang saat itu dijabat oleh Pak Andi Malaranggeng. Karena penasaran, selesai tampil tarian dengan teman-teman  dari Jawa Tengah, aku bertemu dengan beliau, ternyata pertemuan itu membuatku mengenal dunia lain dan mengubah pandanganku tentang dunia politik.


Bareng Bang Muslim
Setelah pertemuan itu, aku diberikan nomor kontak beliau dan menerima pesan untuk menghubungi beliau apabila ada masalah yang berhubungan dengan bidang beliau, saat itu beliau berada di Komisi X, yang menangani bidang pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif, kepemudaan dan olah raga.


Awalnya aku memang tidak terlalu tertarik dengan dunia politik dan yang berhubungan dengannya, selain dikarenakan trauma dengan masa lalu, juga banyaknya contoh tokoh politik yang sering melakukan tindakan yang seringkali membuat kita krisis kepercayaan terhadap mereka.


Tetapi lain halnya dengan Bang Muslim, beliau selalu intens menanyakan kegiatan-kegiatan yang sedang aku dan teman-teman The Leader lakukan, apalagi yang terkait dengan daerah pilihan (dapil) beliau, beliau bisa kepo tingkat tinggi, hehe. Dapil beliau dari Kabupaten Bireuen hingga Aceh Tamiang.


Semakin kesininya beliau sering menanyakan bagaimana dengan kondisi Aceh saat ini dan bagaimana progres program-program yang sedang kami jalani selama di Aceh. Beliau juga tidak segan-segan untuk memberikan jaringan yang beliau miliki untuk mendukung program kami dan selalu mendorong kami untuk lebih berkembang, karena prinsipnya beliau ingin anak-anak muda di Aceh bisa berkembang lebih baik lagi terutama di bidang pendidikan. Pernah suatu hari dikenalkan dengan menteri pemuda dan olah raga, Pak Roy Suryo, alhasil aku berkesempatan dengan beliau walaupun hanya sebentar, dan yang paling-paling berkesan, aku bisa berkesempatan langsung bertemu dan berbincang langsung dengan salah satu tokoh yang aku kagumi, Bapak Anies Baswedan! Dengan alibi, “ini adek saya tokoh pemuda kreatif yang aktif mengembangkan pendidikan dan ekonomi kreatif di Aceh, tolong dibantu,” aaaah, terimakasih Bang Muslim!

Tapi ternyata tidak hanya aku saja, Bang Muslim memperlakukan semua orang sama, semangat beliau membantu orang-orang yang ada di sekitar beliau perlu diakui dan diacungi jempol. Bahkan untuk orang yang baru dikenal dengan beliau sekalipun, ya selama itu kegiatan positif, akan dibantu. Tapi beliau lebih banyak membantu dengan jaringan atau link yang beliau miliki, beliau jarang memberi uang, dengan alasan,”lebih baik memberi kail daripada memberi ikan langsung, karena akan membuat mereka manja dan akan terus berulang lagi dan lagi di masa depan”.

Kalau melihat Bang Muslim sekarang bisa dikatakan sukses, tetapi ternyata ada banyak cerita perjuangan yang panjang dilalui oleh beliau.


Anak Nelayan menuju Senayan

Bang Muslim kelahiran 1 Maret 1971, ini merupakan pemuda asli Gampong Alue Kumba, Aceh Timur. Beliau  anak dari seorang nelayan desa setempat bernama (almarhum) Teungku Muhammad Saleh.

Bang Muslim memiliki kisah yang unik, hidupnya selalu penuh semangat. Semenjak kecil, beliau sudah belajar bertanggung jawab dan membantu orang tuanya. Setiap pagi usai menunaikan ibadah subuh, beliau mengantarkan pulot (ketan bakar) dari kedai ke kedai yang lain. Selain itu, beliau juga menjualnya kepada nelayan yang ingin berangkat melaut.


Bang Muslim kecil sekolah di SD Alue Kumba Aceh Timur, sebuah sekolah yang saat itu berada di desa tertinggal.Untuk menuju kesekolah ia hanya berjalan kaki ayam tanpa sepatu. Ketika musim hujan maka kakinya dipenuhi lumpur becek, sedangkan pada musim kemarau kaki tersengat panas matahari. Namun itu tak membuatnya malas kesekolah. Kondisi itulah yang membuat beliau semakin yakin untuk sekolah agar kelak menjadi pintar dan bisa membantu kampungnya, tapi ternyata Bang Muslim kecil bercita cita menjadi seorang guru.


Sepulang sekolah beliau melanjutkan kegiatannya dengan membantu sebuah dapur  batu bata, di dapur itu beliau mendapat upah  Rp 10 untuk setiap bata. Biasanya beliau mampu menyelesaikan 50 bata dan menghasilkan uang Rp 500.  Ketika air pasang di laut beliau bersama temannya pergi memancing kepiting dan hasil tangkapannya akan dijual ke pasar, ada kesenangan tersendiri ketika memancing kepiting, apalagi ketika beliau mendapatkan kepiting yang besar.


Ketika matahari mulai tenggelam beliau pulang dan membersihkan badannya. Kemudian beliau pergi ke sebuah Balai Pengajian. Balai pengajian itu milik Alm. Razali Arfa. Di Balai Pengajian itu biasanya beliau bersama teman-temannya shalat berjamaah dan mengaji. Namun pengajiannya sempat terhenti karna guru mengajinya ditangkap oleh tentara. Guru pengajiannya difitnah terlibat dalam organisasi pemberontakan.


Ketika tamat dari sekolah dasar beliau melanjutkan sekolahnya di SMP Bayeun Ranto. Bang Muslim remaja menjadi sosok yang cerdas. Beliau menjadi kebanggaan teman-teman dan sekolahnya. Sederet prestasi pernah ditoreh beliau, mulai dari juara mengaji, pidato dan baca puisi. Namun beliau hanya berada di sekolah itu selama 2 tahun. beliau pindah sekolah ke Kota Langsa. Muslim dijadikan anak angkat oleh pamannya. Selama kurang lebih tiga tahun beliau pindah ke Jakarta mengikuti pamannya.


Di Jakarta Bang Muslim melanjutkan sekolah di SMA negeri 29 Jakarta Selatan, di sekolah itu banyak tantangan yang beliau hadapi, sebagai seorang anak dari sebuah daerah paling ujung indonesia tentunya, beliau belum terlalu lancar berbahasa indonesia, ini karena kesehariannya selalu menggunakan Bahasa Aceh, karenanya beliau sering ditertawakan teman-temanya, karna dialek bahasa indonesianya masih kental nuansa acehnya. Apalagi saat itu beliau termasuk siswa yang bertubuh kecil. Namun itu tertawaan itu bukannya membuatnya patah semangat, itu merupakan pemantik semangatnya untuk berkembang. Hingga pada suatu hari sekolahnya lagi ada kegiatan mengaji. Teman-temannya tertegun mendengar alunannya yang merdu. Mereka pun meminta Bang Muslim untuk menjadi seorang guru ngaji. Bang Muslim pun bergabung menjadi anggota Rohis dan mengajari ngaji murid-murid kelas satu dan kelas dua di sekolah tersebut.


Tantangan mulai lagi, selesai SMA kehidupan pahit mendatanginya lagi, beliau tidak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. Akhirnya beliau hanya mengikuti kursus komputer selama satu tahun.  Usai mengikuti kursus beliau bekerja serabutan, beliau pernah menjadi sales alat alat rumah tangga dan juga marketing di Asuransi Bumi Putra.


Karena keuletannya, pada tahun 1993 Bang Muslim diajak saudaranya  kerja di Pemuda Pancasila,  waktu itu masih dipimpin oleh pak Yoris dan Pak Yapto, beliau diberi tugas menjadi operator. Sejak saat itu ia sangat aktif di organisasi Pemuda Pancasila, kemudian dipercayakan menjadi sekretaris jendral SATMA Pemuda Pancasila. Tugasnya adalah membentuk satuan Mahasiswa Pemuda Pancasila di kampus-kampus di seluruh Indonesia.


Namun di saat karirnya mulai mengkilap ia tak lupa untuk melanjutkan sekolahnya yang sempat tertunda. Sekitar Tahun 1998 beliau pun mulai kuliah lagi, awalnya di Universitas Muhammadiyah D3 akademi keuangan, kemudian pindah ke Fakultas Hukum UKI ,namun itupun tak terlalu lama.Akhirnya beliau pindah lagi ke Fakultas Hukum Islam di Universitas STAIN Al Aqidah, disana beliau mendapatkan titel SHI. Usai sarjana beliau  melanjutkan lagi ke jenjang S2  di UNKRIS dan mendapatkan titel MM. Akhirnya lengkaplah sudah namanya menjadi Muslim SHI.MM


Tahun 2001 Bang Muslim SHI.MM melebarkan sayapnya di KNPI, dan pada tahun 2003 beliau dipercayakan menjadi sebagai wakil bendahara umum KNPI. Setelah itu beliau dipercayakan sebagai Ketua PP KNPI. Pada tahun 2005 Hadi Utomo mengajaknya untuk mengikuti kongres Partai Demokrat di Bali . Beliau diusulkan menjadi ketua departemen seni budaya di Pengurus Pusat Partai Demokrat. Dan ketika Rakornas Semarang 2007 Partai Demokrat, Beliau menjadi  Korwil Partai Demokrat Aceh.


Menjelang Pemilu 2009, beliau diusulkan Pak Hadi Utomo untuk maju kandidat Caleg DPR-RI.  Tawaran itu membuatnya bimbang, di satu sisi beliau merasa ini adalah kesempatan beliau untuk membangun daerah kelahirannya namun di satu sisi beliau tidak memiliki biaya kampanye. Namun karna pak hadi Utomo mengatakan jangan khawatir dengan biaya kampanye, beliau pun akhirnya memutuskan untuk menjadi Calon legislatif DPR RI dari wilayah Aceh. Dengan satu tekat memajukan kampung halamannya Aceh, karna beliau sadar perubahan hanya dapat dilakukan dari dalam sistem.


Bermodalkan ketulusan dan kebulatan tekad akhirnya beliau menjadi Anggota DPR RI periode 2009-2014, dan dilanjutkan lagi hingga periode kedua, 2014-2019. Siapa sangka ya, anak seorang nelayan, bisa menuju ke senayan. Bang Muslim adalah caleg DPR RI nomor urut 1 Dapil 2 yang meliputi wilayah Aceh Tamiang, Kota Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Bireun, Aceh Tengah dan Bener Meriah.


Tapi mimpi beliau untuk menjadi seorang guru tidak pernah hilang, ya walaupun tidak jadi guru secara profesi, beliau banyak membantu di bidang keguruan. Pada tahun pertama menjabat, banyak membuat program, salah satunya membuat program menggratiskan pembuatan sertifikat tanah untuk 30.000 orang. Kemudian tahun-tahun berikutnya adalah Bantuan Siswa Miskin (BSM) untuk 40.000 siswa di Aceh, ikut serta me-negeri-kan beberapa universitas atau perguruan tinggi, seperti Universitas Samudra Langsa, Sekolah Tinggi Agama Islam Gajah Putih Takengon, Universitas Teuku Umar Meulaboh dan beberapa Akademi Komunitas di beberapa kota/kabupaten di Aceh.


Bang Muslim berharap sekali, keberadaan kampus-kampus negeri ini bisa berdampak positif pada masyarakat khususnya adik-adik mahasiswa, sehingga mendapatkan pendidikan yang standar dengan daerah-daerah lain. Karena fokus di dunia pendidikan, beliau bisa disebut sebagai tokoh pendidikan Aceh masa kini.

Kunjungan ke The Nanny Children Center, Banda Aceh
Perjuangan Bang Muslim belum usai, masih banyak target lagi yang belum tercapai.Yang penasaran dengan apa saja yang dikerjakan Bang Muslim S.HI, M.M


Dan Follow Instagramnya : @BangMuslimmm


Mumpung beliau Ulang Tahun hari ini, sekalian aku mau mengucapkan selamat ulang Tahun Bang Muslim, barakallah umurnya, semoga bisa lebih banyak menjangkau orang dengan kebaikan, Amin!

Selasa, 09 Februari 2016

Pengusaha Muda Aceh Ini Digandeng Anggota DPR RI Jadi Staf Ahli

Hijrah di Aceh Jaya
BANDA ACEH - Pengusaha muda Aceh Hijrah Saputra dikenal suka bagi-bagi ilmu. Ia sama sekali tidak khawatir akan muncul 'saingan' baru karena banyak memberikan informasi khususnya tentang wirausaha pada orang lain. Prinsipnya sederhana saja, semakin banyak memberi maka semakin banyak pula yang diterima. Kini ia sedang disibukkan dengan berbagai kegiatan untuk menyemangati anak-anak muda Aceh di dunia entrepreneur dan social enterprise.
“Sekarang lebih banyak dipercayai untuk memotivasi masyarakat terutama anak muda untuk berpikir kreatif dan menjadikan masalah sebagai peluang,” kata owner Piyoh Design dan pendiri organisasi The Leader ini kepada portalsatu.com melalui saluran BBM, Jumat, 15 Januari 2015.
Berasal dari Sabang, Hijrah lebih sering bergiat di Banda Aceh. Namun ia juga sering mendapat undangan ke berbagai daerah seperti Bireuen, Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Barat. Selain itu juga dipercaya untuk beberapa lembaga dan universitas seperti BPJS Kesehatan, Univesitas Syiah Kuala, Universitas Samudra Passai, Universitas Malikussaleh dan Universitas Teuku Umar. Menjadi pembicara di berbagai kesempatan merupakan caranya menyalurkan semangat dan menularkan virus positif pada anak-anak muda.
Berkat sikap proaktifnya mempromosikan wirausaha, pariwisata dan kepemudaan, alumnus Teknis Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Brawijaya ini pun dilirik anggota DPR RI untuk menjadi staf ahlinya.
“Sekarang juga sudah menjadi staf ahli Bapak Muslim, SHI, MM. Anggota DPR RI Komisi X Fraksi Demokrat untuk membantu program beliau di bidang pendidikan, kepemudaan, olahraga, pariwisata dan ekonomi kreatif,” kata pria kelahiran Sabang, 25 September 1984 ini.
Anggota DPR RI yang dimaksud berasal dari Langsa, Aceh, yang juga banyak membantu anak-anak muda Aceh yang potensial untuk berkembang.
“Semangat beliau untuk pendidikan di Aceh yang membuat saya bersemangat berkolaborasi dengannya. Karena saya melihat beliau termasuk orang yang idealis dan memiliki semangat positif untuk membangun Aceh dan kebetulan sekali bergerak di bidang kepemudaan, pariwisata, olahraga, ekonomi kreatif dan pendidikan. Jadi ini kesempatan berharga bisa bersinergi dan berkolaborasi dengannya,” ujar Hijrah.[] (ihn)
Sumber : Portalsatu 

Kamis, 27 Februari 2014

Piyoh, Berbagi dan Belajar Kreativitas di Langsa

Alhamdulillah hari rabu tanggal 26 Februari 2014 kemaren aku dapat kesempatan mengisi acara Seminar Nasional di Kota Langsa. Seminar Nasional Meningkatkan Kreativitas untuk Pembangunan Aceh. Sebenarnya posisiku menggantikan guruku Dr. Iskandarsyah Madjid, SE MM. Karena permintaan beliau dan sebagai anak muda yang (merasa) kreatif, akhirnya aku mengiyakan tawaran tersebut.

Ini jadi pengalaman ke dua buatku untuk jalan ke Kota Langsa. Kota Langsa adalah salah satu kota di Provinsi Aceh, yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Timur. Dulunya Kota Langsa menjadi Ibu Kota Kabupaten Aceh Timur, tapi pada Tahun 2001 terjadi pemekaran hingga menjadi 3 bagian, Aceh Timur, Kota Langsa dan Aceh Tamiang. Informasi detail tentang Kota Langsa bisa dibaca di sini

Menurut informasi, Kota Langsa berjarak sekitar 413 km dari Banda Aceh dan memakan kurang lebih 10 jam perjalanan dengan kendaraan umum, mau bus atau L300, lumayan bikin badan pegel linu-linu, tapi katanya Langsa bisa ditempuh kurang lebih 4 jam dari Kota Medan, wah. Kepikiran ingin naek pesawat ke Medan baru ke Langsa dengan taksi, tapi ternyata pemindahan Bandara Polonia ke Kuala Namu bikin perjalanan ke Langsa makin lama dan yang pasti bikin muter-muter ga jelas, akhirnya aku memutuskan untuk naik bus malam, dari Banda Aceh, kira-kira kalau bunyi bus malam apa ya?

Sudah lama tidak pernah naik bus lagi di Aceh, aku baru sadar, ternyata Bus antar kota antar provinsi di Aceh sudah bagus-bagus, kali ini aku mencoba naik Sempati Star yang katanya terbagus di kelasnya, iyalah perjalanan lumayan jauh kita harus nyari yang nyaman, jangan sampe gara-gara mau hemat, pas acara ga bisa sharing dengan optimal, sayang momennya, lagian dibayarin ini, ambil yang paling bagus sekalian, #ngikik. Daaaan ternyata saudara-saudara...drum roll pliss...., ternyata memang bus Sempati Star-nya keren luar biasa!
Penampakan Bus Sempati Star, foto by Fadhil Putra Perdana
Dari penampilan luarnya aja udah oke, dan ternyata dalamnya lebih oke lagi. Aku ngambil yang kelas VIP 2-2, artinya kursinya berdua-dua. Ada lagi yang Nonstop 2-1 yang kursinya berdua dan satuan, mungkin khusus buat penumpang yang jomblo #eh.

Tempat duduknya nyaman, ada selimut tebal dan harum, bantal yang empuk dan hebatnya lagi bantalan kursinya bisa diturunkan lebih dari 45 derajat, jadi ya bisa jadi tempat tidur berjalan, belum lagi dapat snack kotak, yang isinya Cokelat Bembeng dan Cokelat Superstar, suuooper!! haha.

Untuk semua fasilitas di atas, kita cuma membayar Rp. 170.000, tapi kemarin ntah kenapa, pihak loketnya hanya meminta Rp.160.000 saja, jadi uangku dikembalikan Rp.10.000, alhamdulillah ya.

Aku berangkat dari Terminal Batoh pukul 20.00 WIB. Waktu berangkat aku duduk sendirian, sampai di Bireuen ada seorang pemuda, sebut saja namanya Alfian (nama sebenarnya), beruntungnya dia termasuk asyik, jadilah selama perjalanan kami ngobrol, mulai dari usaha sampai mimpi membangun Aceh, berrrraaat saang! haha.

Tak terasa pukul 03.00 pagi, aku sudah sampai di Langsa, lebih cepat 3 jam dari perkiraan. Atau mungkin si abang supir ga rela melihat aku dan temanku ngobrol terlalu asyik, dia buru-buru menancapkan gasnya, bisa jadi... Aku turun di Simpang Komodor, karena menurut Kernet Bus, di Terminal sepi ga ada aktivitas, apalagi jam-jam segitu. Oh ya nama Simpang Komodor itu unik, karena dulunya ada Plang Rokok Komodor di situ, lucu ya.

Dari Simpang Komodor aku naik becak menuju Hotel Harmoni, tempat acara seminarnya. Pagi itu Langsa dingin banget, aku berulangkali ngerapatin jaket, tapi udara dinginnya menusuk sampai ke kulit, sampai-sampai si abang becak ngomong, "jarang-jarang Langsa sedingin ini, saya aja udah pakai baju 5 lapis", beuh.... jangan-jangan??

Sampai di Hotel Harmoni, ketemu dengan panitia, ambil kunci kamar dan tepar...

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Mulai jam 09.00 WIB, para peserta sudah mulai kumpul di ruangan seminar, ada kurang lebih 100 peserta yang datang. Kukira yang datang hanya pemuda saja, tetapi ternyata ada banyak Keuchik (Pak Lurah) juga yang datang. Karena ternyata pembicaranya memang bagus-bagus, ada Drs. Syafrizal, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kota Langsa, Drs. Mumus Muslim,MM, Dirjen Ekonomi Kreatif Kemenparenkraf dan Bang Muslim, SHI, MM, Anggota DPR RI Komisi 10, wah! jadi satu kebanggaan juga bisa satu acara dengan beliau-beliau ini.

Ngga nyangka juga ketemu dengan Bang Muslim, SHI MM, aku panggilnya Bang Muslim, salah satu inspiratorku, beliau banyak membantu program-program untuk pendidikan dan pariwisata, ya karena beliau masuk di Komisi 10 DPR RI. Beliau juga suka ngomporin anak-anak muda potensial di Aceh untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki, termasuk aku. 

Pertama kali bertemu dengan beliau di Program Sail Morotai, beliau selalu mendampingi Kemenpora, dan baru tau saat itu ternyata beliau orang Aceh dan punya semangat besar untuk membuat program-program pendidikan, pemuda dan pariwisata terutama untuk Aceh. Terakhir aku bertemu dengan beliau di Program Merajut Indonesia di Kota Sabang, beliau juga mendampingi Kemenpora, Pak Roy Suryo, selama di Sabang, karena beliau ingin ada program-program berkelanjutan di Sabang, dan beliau juga mengumpulkan anak-anak muda Aceh untuk ngumpul pada saat itu, agar terkoneksi dengan pak menteri dan orang-orang di kemenpora, salut! Mudah-mudahan beliau terpilih lagi di pemilihan selanjutnya ya, amin!

Acara berlanjut seru, banyak pertanyaan dari peserta seminar, jangankan mahasiswa, para keuchik juga ga mau kalah, sampai waktu seminar habis. Tapi ada beberapa yang akhirnya konsultasi secara personal setelah seminar. Semangat anak-anak muda di Langsa luar biasa, tapi semangat orang tuanya juga ga kalah, ada Pak Aswan, memiliki usaha gerabah, beliau melihat kesempatan, akhirnya mengajakku langsung ke tempatnya beliau.
Pak Aswan dan hasil karyanya di Sanggar Asri, Langsa
Walaupun udah pensiunan, Pak Aswan ini memiliki semangat berkarya yang luar biasa, kreativitasnya patut diacungi jempol, aku aja melihat hasil karya-karya beliau, berdecak kagum. Beliau mengakui ada beberapa kekurangan yang dihadapi beliau dan itu yang ingin didiskusikan denganku, dan alhamdulillah akhinnya muncul rencana-rencana baru yang akan dikolaborasikan, tunggu cerita selanjutnya ya.

Setelah dari tempat Pak Aswan, aku bertemu dengan Ifan, salah satu desainer grafis asal Aceh Tamiang yang juga pemenang Lomba Desain Piyoh 2013. Bertemu dengan Ifan kami langsung ke Dinas Pemuda, Olah raga dan Pariwisata Kota Langsa untuk bertemu dengan Pak Syafrizal, karena memang beliau ingin bertemu selepas seminar untuk sharing program-program yang beliau ingin kerjakan di Langsa, dan akhirnya kami semua ngumpul, ya Pak Aswan, Pak Syafrizal, Ifan, dan Bang Reza, Kabid Pariwisata, jadi lucu sebenarnya, tapi seru juga, karena sebenarnya semua bisa berkontribusi untuk pariwisata Langsa.
Bareng Bang Joni dan Pak Syafrizal di Hutan Kota

Selesai dari kantor, aku dan Ifan diajak ke rumahnya Pak Syafrizal untuk istirahat dan setelahnya melanjutkan perjalanan ke tempat-tempat yang menarik di Langsa, salah satunya Hutan Kota Langsa dan Cafe Stroom.

walaupun beliau baru menjabat 3 bulan, tapi aku melihat semangat beliau dan stafnya untuk membuat perubahan pariwisata di Kota Langsa sangat terasa, seperti inilah seharusnya pemimpin, tidak hanya bicara tapi langsung turun ke lapangan untuk apa yang dimau, Semoga semua mimpi-mimpi beliau bisa terwujud, amin. 

Di hutan Kota Langsa aku bertemu dengan Bang Joni, LSM pengurus Hutan Kota Langsa, dari beliau aku belajar banyak hal tentang pohon-pohon yang ada di Hutan Kota termasuk Pohon Damar yang ternyata satu-satunya tumbuh di dataran rendah Indonesia.  Hutan Kota Langsa ini juara 2 untuk pengelolaan hutan di Indonesia loh, kreatif euy!
 

Bareng Ifan, salah seorang desainer grafis terbaik Aceh asal Aceh Tamiang, kuliah di Langsa
Sebelum pulang aku kumpul lagi dengan pemuda-pemudi kreatif di Langsa, ya walaupun udah mulai demam Flue, agenda ini harus dilanjutkan, karena momen-momen seperti ini jarang, apalagi Sabang - Langsa, itu dari ujung ke ujung. Akhirnya aku ketemuan dengan Dhian (Dream and Do), Kak Ririn, Abrar (Duta Wisata Langsa 2009) dan masih ada Ifan di sebuah warung kopi gaul di Langsa. Maksud hati mengumpulkan mereka, membuat rencana dan mensinergikan dengan program-program Pariwisata Langsa nantinya, semoga.
Abrar, Dhian, Ifan, aku dan Kak Ririn
Udah mulai meler.....saatnya pulang balik ke Banda Aceh, Alhamdulillah bisa berbagi dan juga bisa belajar kreativitas di Kota Langsa walau sebentar, sampai ketemu di Langsa untuk program selanjutnya yaa...


Salam Kreatif!
O...Ke!