Tampilkan postingan dengan label Yseali Fall. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yseali Fall. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juni 2018

#YSEALI Serunya Illuminus Boston 2017

Boston termasuk kota yang kreatif, karena banyak kampus dan anak muda yang aktif, jadi wajar kalau banyak  menemukan tempat-tempat yang instagramable dan kegiatan-kegiatan menarik hampir setiap harinya. Salah satunya acara Illuminus Boston. Illuminus Boston ini merupakan agenda tahunan untuk para seniman untuk tampil di jalanan-jalanan Kota Boston tapi ditampilkan secara terkonsep dan marathon. 

Habis penampilan artis satunya akan dilanjutkan oleh artis yang lain lagi, yang serunya setiap penampilan tidak sama dan di tempat yang berbeda, jadinya kita diwajibkan untuk aktif bergerak untuk melihat pertunjukan.

Sepulang dari kantor di Artists For Humanity Boston, saya buru-buru mengambil subway menuju ke pusat Kota Boston, karena pertunjukan pertama akan dimulai pada jam 7 malam, itu artinya saya punya waktu sekitar 30 menit untuk mencari lokasi pementasannya. 
Peta Pementasan, nama artis dan pertunjukannya

Pertunjukan pertama yang saya tonton adalah Bicycle Orchestra, ada beberapa anak muda menggunakan baju tikus dan menggunakan sepedanya mereka menjadi alat musik, lucu!
Bicycle Orchestra
Kubus bersinar yang disusun
Yang kedua saya melihat pertunjukan Gridlock, jadi mereka menyatukan musik, kubus, dinding bangunan dan orang untuk menjadi elemennya, setiap gerakan dan susunan kubus yang dibuat akan menghasilkan musik dan gambar yang berbeda di dinding bangunan, unik.
Dinding pertokoan jadi media mereka untuk pertunjukan
Yang selanjutnya saya menikmati pertunjukan Lantern Story, ada banyak lentera warna-warni yang dipajang di sepanjang jalan di taman yang punya cerita masing-masing. Rata-rata ceritanya tentang mimpi para mahasiswa dan anak muda yang datang ke Boston, ya bisa dibilang Dream Lamp, bagus!
Lantern Story
Selanjutnya saya menikmati pertunjukan tari masal, seru! saya sampai lupa keasyikan mengambil video, batere hape saya habis. jadi saya menikmati semua pertunjukan sampai selesai tanpa bisa mengabadikannya lagi. Tapi tenang, untuk foto yang lengkapnya kalian bisa lihat langsung di websitenya di sini!

Bagus ya, berharap nanti bisa ikutan nampil di Iluminus Boston di tahun-tahun selanjutnya 

( ^ 3 ^ ) amin!

Minggu, 03 Juni 2018

#YSEALI Mengunjungi KBRI di Washington DC


Alhamdulillah ketika di Washington DC kami YSEALI Indonesia dapat kesempatan berkunjung ke Gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), dari dulu penasaran seperti apa isinya kedutaan besar Indonesia di luar, hehe, norak ya.

Gedung KBRI Washington DC berlokasi di kawasan Dupont Circle, tepatnya di 2020 Massachusetts Avenue. Berjarak hanya 1,5 km dari Gedung Putih, area di sekitar Dupont Circle merupakan salah satu lingkungan tersibuk di ibu kota, dikelilingi oleh bar, restoran, toko, dan perkantoran. Daerah di sekitar KBRI dikenal sebagai Embassy Row karena di situ terdapat banyak bangunan kedutaan besar.

Ternyata gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington DC tidak terlalu jauh dari hotel tempat kami menginap, hanya beberapa blok. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki ke sana. Walaupun Cuma beberapa blok, sempat bingung, untungnya kami punya peta berjalan, ada Teh Annisa Potter, tinggal bilang aja alamatnya, kalian akan sampai dengan selamat Terimakasih Student Traveler. *PesanSponsor

KBRI di Washington DC
Sampai di depan sebuah gedung besar dan setinggi 5 lantai, lengkap dengan bendera Indonesia di tiangnya, siapapun akan terpesona dangan arsitekturnya yang antik dan megah.

Sekilas Tentang Bangunan KBRI Washington DC
Gedung megah yang terletak di 2020 Massachusetts Ave NW menjadi salah satu rumah paling mahal di masanya. Biaya konstruksinya saja mencapai   853.000 ribu dollar.  Pemerintah Indonesia melalui Ali Sastromidjojo, duta besar Indonesia membelinya pada 19 Desember  1951 seharga  335. 000 ribu dollar, kurang dari setengah biaya Thomas Walsh untuk membangunnya pada tahun 1907.

Interior di dalam gedung
Sebelum menjadi kantor KBRI, gedung tersebut merupakan kediaman pribadi milik Evalyn Walsh McLean. Evalyn adalah putri Thomas F. Walsh, seorang imigran dari Irlandia yang merantau ke AS pada tahun 1869 dan menjadi kaya raya setelah menemukan tambang emas di Colorado tahun 1896. Setelah menjual tambangnya, Thomas Walsh membangun rumah di DC pada awal 1900-an.

Pada masanya, gedung tersebut merupakan rumah pribadi paling mahal di Washington DC yang bahkan Presiden Amerika Serikat pun tak mampu memilikinya. Dengan 5 lantai dan 60 kamar, keluarga Walsh mempekerjakan 23 pegawai untuk mengurus rumah mereka. Istri Thomas Walsh sampai harus berkeliling ke berbagai negara untuk membeli perabotan dari Persia, Prancis, Belgia, Swiss.

Bersama team Yseali Indonesia Fall 2017 dan orang KBRI
Sampai di Gedung, kami disambut hangat oleh orang kedutaan dan diajak keliling melihat ruangan dan koleksi-koleksi yang ada di sana, sebagian besar masih terasa peninggalan Keluarga Walsh, walaupun sebagian juga sudah ditambahi dengan koleksi dari Indonesia. Dan kebetulan saat itu lagi persiapan acara kebudayaan Indonesia, jadi ada banyak mahasiswa dan orang Indonesia yang ada di Washington DC, dan ada masakan Indonesia, hehe. Kalau lagi di luar, ini yang jadi kangen, hehe.
Makan ala Indonesia, hehe
Sang Dewi dan krucil-krucilnya
Di bagian depan Gedung ada sebuah patung Dewi Saraswati putih yang dibangun setinggi lebih dari lima meter dan ada tiga orang anak di depannya. Patung ini adalah karya lima pematung Bali, Nyoman Sudarwa, dibuat dari bahan-bahan yang sebagian besar diperoleh di Amerika. Sosok Dewi Saraswati dipilih karena melambangkan kebijaksanaan, keindahan pengetahuan dan seni budaya serta kebersamaan dalam menempuh pengetahuan melintasi bangsa dan ras merupakan dipandang sebagai diplomasi yang tepat antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Kamis, 24 Mei 2018

#YSEALI Mengunjungi MIT, Pusatnya Para Peneliti Terbaik di Dunia


Massachusetts yang berpopulasi sekitar 560.000 jiwa dan terletak pada ketinggian 6 meter di atas permukaan laut, terkenal sebagai daerah Pendidikan. Ada paling tidak 32 perguruan tinggi di wilayah dalam Kota Boston dan sekitar 65 perguruan tinggi jika dihitung hingga batas pinggiran luar kotanya. Karena itu setiap tahun, biasanya di bulan September, populasinya membengkak dengan sekitar 130.000 mahasiswa yang datang dari penjuru dunia, termasuk saya, hehe ngarep.

Dari sensus tahun 1990 tercatat bahwa separuh dari penduduk Boston, yang disebut Bostonian, adalah mahasiswa. Fakta selanjutnya menunjukkan bahwa Boston mempunyai angkatan kerja yang berpendidikan terbaik di seluruh Amerika, hebat ya.

Massachusetts Institute of Technology
Salah satu universitas terbaik yang akan saya ceritakan saat ini adalah MIT, bagi yang suka baca Komik Q.E.D karya Motohirou Katou pasti tidak asing lagi dengan kampus ini. Kampus-nya So Toma, Massachusetts Institute of Technology atau MIT adalah institusi riset swasta dan universitas yang terletak di kota Cambridge, Massachusetts, tepatnya di seberang Sungai Charles dari distrik Back Bay, kurang lebih tiga kilometer dari Universitas Harvard. Kita bisa menggunakan subway atau pun bus dari Harvard atau pun sebaliknya.
A Campus Built For Innovation
Sekolah ini didirikan tahun 1861 oleh William Barton Rogers. dan baru pada tahun 1916 pindah ke kompleks yang sekarang ini. Bidang-bidang studi yang dipelajari di MIT di antaranya Architechtur and Planning, Engineering, Humanities, Social Science, Health Science and Technology juga Management.   Dalam kurun waktu 60 tahun belakangan ini, MIT telah mengembangkan cabang lain seperti manajemen, ekonomi, ilmu politik, dan biologi.

MIT hingga kini menjadi andalan Amerika di bidang riset dan pengembangan khususnya yang berkaitan dengan industri elektronika dan komunikasi. Pada tahun 1929, komputer yang pertama kali dikembangkan di MIT, yang kemudian memantapkan posisinya sebagai yang terdepan di bidang teknologi tinggi (hi-tech). Ditunjang oleh semakin banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang hi-tech di wilayah ini, maka tidak heran kalau MIT bangga dengan mengidentikkan dirinya sebagai A Campus Built For Innovation.
MIT Dome, makes everyone can fly ^ 3 ^
Departemen dan sekolah yang paling terkenal adalah Lincoln Laboratory, Computer Science and Artificial Intelligence Laboratory, Media Lab, Whitehead Institute dan Sloan School of Management. 59 dari anggota dari komunitas MIT telah memenangkan Penghargaan Nobel.

Kampus MIT Terbagi menjadi 2 bagian oleh Massachusetts Avenue, dengan asrama mahasiswa dan fasilitas untuk mahasiswa terdapat di sebelah barat dan sekolahnya di sebelah timur. Juga terdapat jaringan kereta api dekat Kendall Square yang terletak di sebelah timur laut kampus ini. Di sekeliling bangunan kampusnya terdapat banyak sekali perusahaan teknologi.

Berbeda dengan Harvard, mahasiswa di sini terlalu serius, hehe. Tapi wajar dengan prestasi dan hasil yang mereka dapatkan. Yang menarik dari kampus ini, ada banyak scuplture unik dan futuristik. Selain itu, jadi tempat favorite saya dan teman-teman Bostonian YSEALI Profellows lainnya untuk nongkrong menikmati pemandangan Kota Boston dari seberang.
Pemandangan Kota Boston dari MIT

 

Rabu, 23 Mei 2018

#YSEALI Menikmati Kehidupan Abad 17 New England


Mengunjungi Plymouth Plantation, salah satu desa wisata yang ada di Boston menjadi kenangan tersendiri. Ada sebuah desa yang terbentuk sejak abad ke-17, penduduknya berasal dari Inggris dan menetap di Amerika. Pada mulanya mereka pindah dari Inggris untuk mencari tempat yang menetap yang baru, karena peristiwa ini juga, Boston sering disebut sebagai Inggris yang baru atau yang dikenal dengan New England.
Plymouth Plantation
Di Plymouth Plantation juga kita bisa melihat dan merasakan langsung bagaimana kehidupan masyarakat di sana saat itu. Cara mereka berpakaian dan beraktivitas persis seperti saat itu, dan menariknya mereka akan menceritakan peran yang mereka mainkan dan apa cerita di baliknya.
Bersama tukang kayu Plymouth

Misalnya seorang petani, apa yang dia lakukan, tinggal di rumah yang mana, tanaman apa saja yang mereka tanam, hingga permainan apa saja yang mereka main. Nantinya pengunjung akan melihat setiap rumah dan isinya, serta kegiatan apa saja yang dilakukan di rumah. Bahkan kegiatan mengumpulkan orang-orang untuk rapat warga dengan genderang pun ditampilkan, jadi kita benar-benar seperti berada di zaman itu.

Penduduk Asli Wampanoag yang diperankan oleh mahasiswa
Selain itu kita juga bisa bertemu dengan penduduk asli Wampanoag yang tinggal di rumah mereka yang terbuat dari daun atau kulit kayu, cara mereka memasak, membuat perahu kayu dan cerita menarik lainnya. Menariknya yang berperan sebagai penduduk di sana adalah ilmuwan ataupun lulusan perguruan tinggi yang menggeluti sejarah atau sosiologi. Jadi mereka bisa sekaligus mempraktekkan ilmu yang mereka punya dan juga bisa menyelesaikan riset mereka. Dan pekerjaan yang mereka lakukan di sana sebagai volunter.
Penduduk Asli Wampanoag yang diperankan oleh mahasiswa
Menikmati Pie ala abad 17
Selain bisa menikmati kampung sejarah, kita bisa melihat aktivitas menarik lainnya di pondok souvenir, seperti membuat gerabah, membuat roti, dan membuat lilin dari sarang lebah hingga menganyam.

Plymouth Plantation sendiri terletak di Plymouth yang memakan waktu sekitar satu jam 30 menit perjalanan dari Boston dengan menggunakan bus. Buka setiap hari mulai dari pukul 09:00 hingga 17:00 waktu setempat. Harga tiket mulai $28 hingga $36.


Masak ala penduduk Plymouth
Sebenarnya konsep ini bisa dikembangkan dan akan menjadi hal yang menarik di Aceh, apalagi Aceh memiliki banyak sekali cerita sejarah yang akan menarik banyak wisatawan dan akan menjadi media pembelajaran untuk masyarakat agar mencintai sejarah dengan cara yang benar dan menarik.

*Peserta Program  The Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Profesional Fellows Economic Empowerment Fall 2017 mewakili Indonesia.

Pernah dimuat di portalsatu.com 

Selasa, 22 Mei 2018

#YSEALI Finding Islam di Boston


Setelah beberapa hari tinggal di Cambridge dan kerja di Boston, shalat lebih sering dilakukan di rumah atau di kantor, ada rasa kangen ingin shalat di mesjid seperti di Indonesia. Apalagi ketika berada di tempat yang jauh dan muslim menjadi kaum yang minoritas. Sebagai seorang muslim senang sekali rasanya bisa bertemu dengan sesama muslim. Setelah mencari informasi melalui aplikasi google map, akhirnya saya menemukan beberapa tempat yang menjadi tempat berkumpul dan beribadah untuk umat muslim. Ya walaupun saya sempat beberapa kali nyasar, karena sinyal di hape suka hilang timbul, alhasil posisi lokasi tempatnya suka pindah-pindah, duh!

Ada 3 lokasi sebenarnya yang menjadi pusat peribadatan umat muslim di Massachusetts. Tapi Kali ini saya berkesempatan melaksanakan salat Jumat di mesjid terbesar yang ada di Massachusetts, Lokasinya sendiri berada di Roxburry, cukup jauh dari rumah, tetapi lebih dekat dengan kantor, namanya Mesjid Islamic Society of Boston Cultural Center (ISBCC), untuk mesjid yang dua lagi akan saya ceritakan di postingan selanjutnya.

Alhamdulillah, syukurnya di kantor Artists for Humanity, toleransi untuk beragama dan menjalankan ibadah sangat baik. Saya diizinkan untuk bisa melaksanakan salat lima waktu dan juga mendapatkan izin untuk melaksanakan salat Jumat di mesjid, ini pun saya pakai strategi yang diajarkan rasul, yaitu memakai pakaian terbaik yang kita miliki, jadi ketika orang-orang di kantor heran melihat saya berpenampilan lebih rapi dari biasanya, saya tinggal bilang, "setiap jumat orang muslim yang laki-laki wajib rapi dan pergi ke mesjid," jadilah saya diizinkan dengan suka cita oleh orang kantor, hehe.

Setelah melalui beberapa stasiun kereta api bawah tanah dengan perjalanan sekitar 20 menit, akhirnya saya tiba di Mesjid ISBCC. Baru terlihat banyak wanita berjilbab berlalu-lalang di sekitar stasiun, sepertinya daerah ini banyak dihuni ataupun dikunjungi umat muslim yang ada di Boston dan sekitarnya.

Ketika saya sampai di Mesjid ISBCC, saya melihat pemandangan yang luar biasa, mulai dari bentuk bangunan yang kontras dengan bangunan-bangunan yang ada di sekitarnya. Ditambah lagi lantunan ayat suci dan azan yang dikumandangkan dengan merdu oleh bilalnya, menjadi daya tarik tersendiri, menimbulkan kerinduan suasana di Aceh dan juga Indonesia. Ya kalau di Indonesia rasanya gampang sekali mencari mesjid, di sini butuh perjuangan lebih untuk mencapainya.
Mesjid Islamic Society of Boston Cultural Center (ISBCC)
Selesai berwudhu dan masuk ke ruangan, saya melihat ada banyak sekali jamaah yang hadir saat itu, semuanya berbeda-beda, ada yang berasal dari India, Cina, Amerika, Arab bahkan dari Afrika. Dan saya melihat ada banyak juga jamaah wanita yang ikut salat Jumat, tidak hanya di lantai satu tetapi juga di lantai dua.

Bersama Syakh Yasir Fahmy
Selesai salat saya bertemu dan bertanya dengan Syakh Yasir Fahmy, yang menjadi khatib dan imam pada Jumat itu. Orangnya ramah dan bacaan Alqurannya merdu bikin tenang. Beliau berkata, di sana selalu ada orang yang datang untuk bertanya atau berdiskusi. Mesjid juga bisa memuat hingga 1400 orang dan selalu terbuka untuk siapa saja yang datang untuk mengenal Islam dan belajar tentang Islam.

Mesjid ISBCC ini tidak hanya menjadi pusat ibadah tetapi juga semua jenis kegiatan yang terkait dengan agama Islam dan cara hidup orang Islam. Ada beberapa tempat yang diwadahi dan juga kegiatan yang bisa ditemui di sini, seperti sekolah, kafe, toko souvenir dan menyediakan tempat untuk kegiatan lainnya seperti, akikah juga lainnya.

Ada juga tur yang bisa dihadiri baik secara personal atau pun berkelompok, setiap harinya mulai dari pukul 10:00 hingga 18:00 waktu setempat, tetapi untuk hadir, kita harus membuat janji terlebih dahulu. Saat itu saya melihat ada satu kelompok yang duduk membuat lingkaran untuk melakukan tur dan tanya jawab dengan pihak ISBCC.
 
Suasana tour dan diskusi tentang Islam
Selain itu ada banyak program yang dibuat khusus untuk siapa saja, untuk ibu-ibu, untuk mualaf dan untuk pemuda, yang semuanya dibuat untuk menghidupkan mesjid, menjaga hubungannya dengan jamaahnya dan juga untuk meningkatkan iman.

Menarik ya, kalau teman-teman mesjid mana yang paling berkesan yang pernah dikunjungi?

#YSEALI Tempat-tempat yang Wajib Kamu Kunjungi di Universitas Harvard

Mengunjungi Universitas Harvard menjadi salah satu agenda yang tidak boleh dilewatkan kalau kita datang ke Massachussetts apalagi kalau tinggaldi Cambridge dan sekitarnya. Terkenal sebagai salah satu kampus terbaik di Amerika Serikat bahkan di dunia. Siapa yang tidak mengenal Universitas Harvard, perguruan tinggi ini telah mencetak sarjana yang berkelas.

Harvard Student Wannabe ^ 3 ^ 
Harvard hampir selalu bertengger di puncak peringkat universitas ternama di dunia dan termasuk kampus yang tertua di Amerika. Lokasinya sendiri sebenarnya berada di Cambridge, tetapi karena berdekatan dengan pusat Kota Boston, jadi lebih sering diketahui sebagai salah satu kampus di Boston.

Kampus ini dirintis pada tahun 1636 oleh sembilan mahasiswa dan seorang dosen bernama Jhon Harvard of Charleston. Seorang pastor yang menyumbangkan perpustakaan dan tanahnya. Awalnya bernama College at Newtowne, namun pada tahun 1638 diganti menjadi Harvard College dan pada 1780 diubah menjadi Harvard University.

Sekarang sudah kurang lebih 21.225 pekerja dan luas wilayahnya mencapai 85 ha, semuanya banyak didapat dari sumbangan dari mahasiswa yang dulunya pernah belajar atau hibah dari keluarganya. Hal ini menunjukan betapa mereka mendukung penuh perkembangan pendidikan di sini.

Kampus ini pun didukung dengan peralatan praktek perkuliahan yang canggih dan modern, mahasiswanya pun diberikan kebebasan untuk melakukan penelitian. Harvard juga menerima mahasiswa berasal dari keluarga tidak mampu dan menggratiskan biaya kuliah. Harvard terkenal dengan warna merah bata atau Crimson dengan mottonya Veritas, berasal dari Bahasa Latin yang berarti kebenaran. Karena penuh dengan bangunan tua dan sejarah yang menarik, selalu ada penawaran paket wisata untuk berkeliling kampus, kita cukup membayar $12 untuk mengikuti paketnya. Jadwalnya sendiri setiap setengah jam, mulai dari pukul 10:00 hingga 16:30 waktu setempat.

Universitas Harvard memilki sembilan fakultas ternama, yaitu Harvard Faculty of Arts and Sciences, Harvard Medical School, Harvard Divinity School, Harvard Law School, Harvard Bussiness School, Harvard Graduate School of Design, Harvard Graduate School of Education, Harvard School of Public Health dan Kennedy School of Government. Dan semua fakultas ini didirikan sejak abad ke-19.

Saya tinggal di Cambridge, jaraknya hanya 15-20 menit berjalan kaki menuju Harvard University dan hampir setiap hari melewatinya, karena termasuk dalam rute perjalanan ke kantor. Tapi kali ini saya dapat kesempatan berharga berkeliling Harvard ditemani oleh mahasiswa Harvard yang berasal dari Indonesia. Menariknya karena saya bisa masuk ke beberapa tempat yang hanya khusus bisa dimasuki oleh mahasiswa dan saya mendapat tour lengkap dengan gratis, hehe.

Ada beberapa tempat menarik yang saya kunjungi di Universitas Harvard melalui paket tour di Harvard yaitu:
Patung John Harvard

1. Patung John Harvard
Patung John Harvard menjadi lokasi favorit untuk foto, dan ada mitos yang beredar jika bisa foto dan memegang ujung sepatunya yang berwarna emas itu, maka anak kita akan bisa kuliah di sana.

2. Gerbang Johnston
Harvard memiliki 26 gerbang besar dan kecil yang mengelilinginya. Gerbang Johnston ini berada di tengah, menurut mitos hanya boleh dilewati dua kali, jika lebih dari itu maka akan membuat mahasiswa di DO. Namanya sendiri diambil dari nama seorang mahasiswa Samuel Johnston yang menyumbangkan 10.000 dolar untuk pembangunan gerbang tersebut.

3. Perpustakaan Harry Elkin Widener
Perpustakaan Widener, perpustakaan ini termasuk nomor dua terbesar di dunia setelah perpustakaan Kongres AS. Nama perpustakaan ini diambil dari nama mahasiswa yang lulus dari Harvard dan menyumbang dananya untuk pembangunan perpustakaan. Dananya diberikan oleh keluarganya karena Harry sendiri meninggal sebagai salah satu korban Kapal Titanic pada tahun 1912.

Perpustakaan ini terdiri dari lima lantai di atas tanah dan empat lantai di bawah tanah. Memiliki koleksi buku cetak mencapai 15 juta judul, buku digital mencapai 18 juta judul dan jumlah foto ada 8 juta buah. Super lengkap! Menariknya mahasiswa bisa mengajukan judul atau jenis buku yang ingin dibaca tetapi tidak ada di perpustakaan dan akan dicari.
Perpustakaan Harry Elkin Widener
4. Harvard Art Museum
Museum yang berisi karya-karya seni yang dibuat oleh manusia dari jaman dahulu dari 4.000 tahun sebelum masehi hingga modern dari beberapa negara. Mulai dari Asia, Timur Tengah, Romawi, Yunani dan masih banyak lagi, sehingga kita tahu perkembangan karya seni di dunia.
Harvard Law School
5. Harvard Law School
Salah satu fakultas yang diincar banyak orang hebat dan menghasilkan banyak orang-orang hebat di dunia, salah satunya Presiden Obama. Wajar jika fakultas ini dijadikan salah satu fakultas terbaik. Dan ketika saya mengunjungi perpustakaanya di akhir pekan masih banyak mahasiswa yang belajar dengan serius di sana.

6. The Coop
Nah yang ini wajib buat yang ingin punya merchandise Harvard, ada banyak koleksi lengkap dengan desain Harvard, mulai dengan kaos, hoodie, sweater yang berwarna merah bata khas Harvard atau hanya sekedar huruf H besar di semua produknya, dan saya suka, karena H for Hijrah, hahaha. Sebenarnya ada banyak lagi outlet yang menjual merchandise Harvard di sekitaran kampus, tapi di The Coop koleksinya lengkap dan kualitas terjamin.
Tour Harvard dimulai dari sini
Menarik ya, paket tour berkeliling kampus Harvard University termasuk banyak peminatnya, termasuk peringkat pertama sebagai atraksi wisata versi Tripadvisor. Untuk sebagian mahasiswa Harvard yang membuka tour keliling Harvard, yaitu membuka kesempatan untuk mahasiswa yang tertarik dengan sejarah.

Mereka juga bisa mendapatkan tambahan uang untuk kebutuhan kuliah, melatih mereka untuk bercerita, dan meningkatkan kecintaan terhadap kampusnya, saya melihat beberapa mahasiswa yang menjadi pemandu terlihat sangat antusias bercerita tentang kampusnya ini.

Senin, 21 Mei 2018

#YSEALI Tenangnya Homestay di Cambridge, New England


Salah satu yang menarik dari Program YSEALI adalah kita akan tinggal di keluarga asli yang ada di Amerika Serikat, jadi kita akan mengalami langsung pengalaman menjadi orang Amerika, hehe. Ketika saya bercerita kalau saya ditempatkan di Boston, banyak sekali tanggapan positif dari orang-orang yang saya ajak bicara, mulai dari orang-orang Kedutaan Besar Amerika, Kedutaan Besar Indonesia di Amerika, bahkan sampai orang-orang di jalan, iya, agak sedikit mengherankan memang kenapa saya ajak ngobrol orang di jalan, hehe.

Jujur saja ini pengalaman pertama saya menginjakan kaki ke negeri Paman Sam, sangking saya senangnya jadi norak, haha. Apalagi semua biaya perjalanan ditanggung semua oleh Pemerintah Amerika dan semuanya diurusin, aahhh, kalau dulu cuma bisa bilang, Bahagia sampai Papua, sekarang sudah bisa bilang, bahagia sampai Amerika, hehe. Terimakasih YSEALI!

Selain mengikuti program magang kerja di perusahaan yang saya minta, saya dan teman-teman perwakilan ASEAN lainnya, bisa merasakan langsung kehidupan masyarakat Amerika dengan cara homestay dengan keluarga yang sudah dipilihkan. Saya sendiri walaupun kerja di Boston, saya tinggal dengan keluarga yang tinggal di Cambridge.

Cambridge sendiri merupakan bagian dari Kota Metropolitan Boston yang berada di bagian barat Sungai Charles. Ada tiga universitas tua di Amerika di sana seperti, Universitas Harvard, MIT dan RadCliffe. Karena adanya universitas-universitas itulah, kawasan itu diberi julukan kota pendidikan dan diberinama Cambridge untuk menghormati kota pelajar yang ada di Inggris. Jadi karena saya terpelajar makanya saya ditempatkan di sana, hehe. *Cocokology

Perumahan yang ada di Cambridge sendiri termasuk perumahan yang elit, tertata rapi dan sangat mudah sekali dijangkau dengan transportasi. Saya tinggal dengan keluarga Jennifer Nahas, seorang Ibu dengan dua orang anak, Shopia dan Lucas yang sudah kuliah, ditambah lagi seorang anak kosan, Lena, yang kuliah di Kedokteran Harvard. Untuk Lena ada cerita tersendiri, ya selain dia pintar karena kuliah di Kedokteran Harvard, ada banyak rahasia yang menyeliputi si Putri keturunan Raja dari Syria ini, nah loh kebongkar sedikit, hehe, sabar ya!

Rumah yang saya tinggali selama sebulan di Program YSEALI, cantik ya
Inilah penampakan rumah yang saya tinggali selama satu bulan, nyaman ya? rumah kayu tiga lantai, lengkap dengan basemen dan perapian, ditambah lagi taman di belakang rumah yang berisi tanaman bunga dan sayuran. Saya ketika sampai di rumah ini langsung jatuh cinta, dan satu lagi, warna rumahnya sesuai dengan warna partai pilihan, hehe, apasih.

Tapi memang rumah-rumah di Cambridge rata-rata seperti ini terbuat dari kayu yang disusun bertingkat-tingkat, hanya saja warna yang berbeda-beda dan hampir semua rumah tanpa pagar karena sudah dilengkapi kamera pengaman, dan ditambah lagi tetangga yang baik, lingkungan yang sangat ramah, jadi wajar kalau perumahan di sini termasuk yang punya nilai tinggi.

Suasana perumahan di Cambridge 
Bingkisan dari Globalimmersions.inc
Program homestay ternyata sudah jadi program hampir semua masyarakat di sini, jadi ketika saya dan teman-teman lainnya sampai di rumah, kami sudah disambut dengan surat dan bingkisan lucu dari koordinator homestay Boston, Global Immersion.inc. Surat-surat lengkap untuk hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan di rumah, transportasi dan jalur yang boleh digunakan, hingga jenis simcard HP yang bisa kita gunakan, lengkap. Jadi saya yang sangat awam dengan kota Boston dan sekitarnya, sangat terbantu.

Malah ada lombanya juga untuk mendapatkan bingkisan menarik lainnya dari mereka.


Dengan Jennifer Nahas, Hostmom
Beruntung sekali saya ditempatkan di Keluarga Nahas. Jennifer sendiri sebagai seorang single parent sangat baik ke anak-anaknya, termasuk saya dan Lena yang termasuk pendatang di rumahnya. Saya dan Lena juga termasuk dengan mereka karena beragama Islam. Tapi yang bikin terharu Ibu angkat saya ini bela-belain belajar untuk menyiapkan makanan halal, jadi saya sangat-sangat terjamin makan, walaupun ternyata si ibu lagi program diet, jadilah rasa masakannya gitu deh, tapi pilihannya, saya makan masakannya atau pilih makan Salad yang isinya daun-daun saja, makaaaaa, saya pilih...... masakan ibu, hehehe.

Ini foto ibu angkat saya, Jennifer Nahass, kalau ketemu di jalan boleh disapa.

Bubbles
Selain orang ada lagi penghuni rumah, kucing lucu bernama Bubbles, tapi sering muncul kalau sedang lapar saja, persis, ya persis saya, haha.


Ada banyak cerita seru di rumah, nantinya saya akan ceritakan di postingan-postingan selanjutnya.

Welcome to Nahass Home, Have a good day!

Minggu, 05 November 2017

Volunteer Hours at Rosie's Place, Boston

Hi my name is Hijrah Saputra, from Aceh, Indonesia. I work as graphic designer at Piyoh Design and creative leader at The Leader that create creative program for children and youth in Aceh, Indonesia. I am a participant of the Professional Fellows Program, sponsored by the U.S. Department of State and administered by American Councils for International Education.

The Professional Fellows Program brings emerging leaders in the fields of legislative process and governance; civic engagement; NGO management; economic empowerment and entrepreneurship; and journalism from around the world to the United States for intensive fellowships designed to broaden their professional expertise. Participants spend approximately one month in the United States, during which they receive hands-on exposure to national legislative offices, state legislatures, local government offices, businesses, and non-profit organizations through carefully designed full-time fellowships.

I volunteered at  Rosie’s place. Rosie's Place was founded in 1974 as the first women’s shelter in the United States. Their mission is to provide a safe and nurturing environment that helps poor and homeless women maintain their dignity, seek opportunity and find security in their lives.

I worked in a dinning room to serve meals for about a hundred of homeless women around Boston. I worked on Friday November 3rd 2017 with another volunteers from Harvard and Boston University students, They are Cester, Kim, Alexa, and also another YSEALI Fellows, Seng Thong from Laos. It started at 10.30PM till 2.00AM. 
I and Seng prepare for the Bread and soup
I challenged myself into something I never thought that wasn’t for me, Served the homeless women and worked with a new person from another place randomly. Exciting! It’s an unforgettable moment in my life.

I definitely would recommend to youth to do the volunteer work, specially people who likes to helps the other. Life works in mysterious ways, Volunteer work think of as an exchange. The favors people has done for you in life, you are just returning it to a different activities. Everyone needs support or help at least one point of their life, might not be now but someday. So while you have the opportunity to give the help, might as well do it because tomorrow it might be you who is in need of that help.
My Self, Cester and Seng Thong
Thank for YSEALI and Rosie’s place for giving me unforgettable moment in Boston.

Sabtu, 04 November 2017

Campus Trip at Harvard University


Inside Widener Library Harvard
Visiting Harvard University is one of the things that should not be missed if we come to Massachussetts. Famous as one of the best campuses in the United States even in the world. Who does not know Harvard University, this college has scored a fine scholar.

Harvard almost always perched on top of the world's top university rankings and included the oldest campus in America. The location itself is actually located in Cambridge, but because it is adjacent to downtown Boston, so more often known as one campus in Boston.
The campus was pioneered in 1636 by nine students and a lecturer named Jhon Harvard of Charleston. A priest who donated his library and land. Originally named College at Newtowne, but in 1638 it was changed to Harvard College and in 1780 was changed to Harvard University.

There are now approximately 21,225 workers and an area of ​​85 hectares, much of it derived from donations from students who used to study or grant from their families. This shows how they fully support the development of education here.

The campus is also supported by sophisticated and modern lecture practice tools, students are also given the freedom to do research. Harvard also accepts students from disadvantaged families and waives fees. Harvard is famous for its red brick or Crimson with its motto Veritas, derived from Latin meaning truth. Because it is full of old buildings and interesting history, there is always a tour package offer to get around the campus, we just pay $ 12 to follow the package. His own schedule every half hour, from 10:00 to 16:30 local time.

Harvard University has nine renowned faculty, Harvard Faculty of Arts and Sciences, Harvard Medical School, Harvard Divinity School, Harvard Law School, Harvard Bussiness School, Harvard Graduate School of Design, Harvard Graduate School of Education, Harvard School of Public Health and Kennedy School of Government. And all these faculties were established since the 19th century.

I live in Cambridge, just 15-20 minutes walk to Harvard University and almost every day through it, because it is included in the route to the office. But this time I got a valuable opportunity to tour Harvard accompanied by Harvard students from Indonesia. Interesting because I can go to some places that are only special can be entered by students and I got a tour complete for free, hehe.
There are some interesting places that I visited at Harvard University through a tour package at Harvard namely:

Statue of John Harvard
John Harvard's statue becomes a favorite location for photos, and there are myths that circulate if you can photograph and hold the tip of his gold-colored shoes, then our children will be able to study there.

Johnston Gate 
Harvard has 26 large and small gates that surround it. Johnston Gate is in the middle, according to the myth should only be passed twice, if more than that it will make students in DO. The name itself is taken from the name of a student Samuel Johnston who donated 10,000 dollars for the construction of the gate.

Harry Elkin Widener Library
Widener Library, this library is the world's second largest after the US Congress library. The name of this library is taken from the name of a graduate student from Harvard and donated funds for library development. His funding was given by his family because Harry himself died as one of the victims of the Titanic Ship in 1912.

The library consists of five floors above the ground and four floors underground. Having a collection of print books reaching 15 million titles, digital books reach 18 million titles and the number of photos there are 8 million pieces. Super complete! Interestingly students can apply for a title or type of book they want to read but it is not in the library and will be searched.

Harvard Art Museum
The museum contains works of art created by humans from ancient times from 4000 years BC to modern from several countries. Starting from Asia, Middle East, Rome, Greece and many more, so we know the development of artwork in the world.

Harvard Law School
One of the faculty that many great people target and produce many great people in the world, one of them is President Obama. Naturally if this faculty became one of the best faculty. And when I visit the library on weekends there are still many students who study seriously there.

Interestingly yes, the tour packages around the campus of Harvard University including many devotees, including the first rank as a tourist attraction version of Tripadvisor. For some Harvard students who opened a tour around Harvard, which is opening opportunities for students interested in history.

They can also earn extra money for college needs, train them to tell stories, and increase their love for campus, I see some students who become guides look very enthusiastic about telling about this campus.

Concepts like this are interesting also if developed on campuses in Aceh.

* Program Participants The Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Professional Fellows Economic Empowerment Fall 2017 represents Indonesia.