Tampilkan postingan dengan label Aceh Tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aceh Tengah. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Juli 2016

@100Tenda se-nusantara, Berkemah di alam terbuka yang Menggoda

Walaupun sudah lewat beberapa hari, kegiatan berkemah @100Tenda masih berkesan hingga sekarang. 100 Tenda adalah kegiatan berkemah di dataran tinggi Gayo yang diprakarsai oleh anak-anak muda kreatif Gayo.
Setiap peserta mendapat gelang dengan tulisan 100 Tenda
Ada kurang lebih 450 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sabang, Medan Jakarta, Bekasi, hingga Bandung juga ada, bahkan ada yang dari Malaysia dan Jerman. Menurut Bira Panyang ketua panitia, peserta tahun ini membludak.

Ada banyak kegiatan seru yang disajikan oleh team 100 Tenda, mulai dari konvoi di Takengon, mengunjungi situs bersejarah manusia purbakala di Mendale, mencoba makanan khas Gayo, mengenal kesenian khas Gayo, bermain permainan tradisional dan masih banyak lagi, yang semuanya digelar di pinggiran Danau Lut Tawar yang memang memiliki keindahan luar biasa, ditambah lagi udara yang sejuk.

Pemandangan Pantai Gadhink, Takengon
Suasana area 100 Tenda
100 Tenda jadi ajang kumpul dan silaturrahmi anak-anak muda kreatif Aceh
Ada banyak permainan seru yang menguji konsetrasi dan kekompakan
Ada juga permainan yang menguji nyali dan ketangkasan :D

Kunjungan dari teman-teman Jalan-jalan seru yang datang ke Takengon


Bersama Rahmy yang peserta Dreammaker Camp 2014 yang juga duta Ayo Ke Gayo
Kunjungan ke Mendale, situs manusia purbakala

Jadi kapan ikutan 100 Tenda bareng kami?

Rabu, 23 April 2014

Kerawang Gayo, Wastra Aceh yang Bercerita

Kain ini sering jadi inceran para kolektor kain daerah (Wastra), Kerawang Gayo namanya. Kerawang Gayo sendiri adalah ragam hias kain bordiran yang menjadi ciri khas Masyarakat Gayo, terutama di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah dan merupakan kerajinan turun temurun. Untuk menuju Aceh Tengah, kurang lebih 8 Jam perjalanan dari Kota Banda Aceh.

Kerawang Gayo
Biasanya kain yang diberi sulaman Kerawang Gayo digunakan pada pakaian adat perkawinan, upacara adat dan kesenian.

Ciri khas Kerawang Gayo terletak pada bahan, warna dan motif. Motif dan warna yang dipakai sesuai kaidah-kaidah yang berlaku.

Untuk bahan dasar Kerawang Gayo, seperti pakaian masyarakat yang tinggal di pedalaman umumnya dipakai kain yang berwarna hitam atau yang berwarna gelap, karena warna gelap dianggap bisa memberikan kehangatan dan tidak tampak cepat kotor.

Untuk warna yang digunakan memiliki filosofi tersendiri, seperti Warna Kuning : diartikan dengan kebesaran dan keagungan yang dipakai oleh raja, Warna Merah : diartikan dengan keberanian, Warna Hijau : diartikan dengan kesuburan dan Warna Putih : diartikan dengan kesucian.
Motif Kerawang Gayo biasanya terinspirasi dari alam sekitar serta pengaruh alam yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, seperti Sara Kopat (orang yang dituakan) : berarti Raja, Imam, Petuah, dan Rakyat, apabila keempatnya berjalan dengan baik maka tercapailah kesempurnaan hidup, Peger (Pagar) : berarti sesuatu telah dijaga, apabila diluar pagar bukan kepunyaannya lagi, Emun Berangkat (Awan Beriring) : berarti seiya sekata, Duduk sama rendah tegak sama tinggi, Pucuk Rebung (Pucuk Bambu Muda) : anak muda yang akan menggantikan orang tuanya kelak maka harus diberikan pembinaan, Puter Tali (putar tali) : sebuah ikatan kekeluargaan dan kebersamaan dalam menyelesaikan masalah bersama-sama, Mata Pune (Mata Burung Punai) : waspada terhadap sesuatu keadaan yang membahayakan, Subang Kertan (Anting-anting dari Bahan Tanaman) : keindahan yang harus dimiliki, meskipun tidak ada anting-anting yang sebenarnya namun dapat dimanfaatkan tumbuhan di sekitarnya, Tapak Seleman (daun tumbuhan tapak seleman) : hidup bergantung pada alam tumbuhan sekitarnya, Jejepas (Tepas) : gabungan dari motif pucuk rebung, sara kopat, puter tali yang berarti antara muda-mudi dan orang tua terjalin satu ikatan yang kuat seperti jalinan tepas, Rumet Muriti (Rapat Berbaris) : gabungan motif sara kopat dan peger diiringi oleh motif mata pune, yang berarti sama-sama berbaris rapat bergabung untuk menjaga keamanan antara Raja dan orang yang bertugas menjaga keamanan. 

Harga Kain Kerawang Gayo ini mulai Rp. 700.000, selain kain sekarang Motif Kerawang Gayo bisa didapat dalam bentuk Tas, Peci, Sajadah, gelang tangan dan masih banyak lagi, harga mulai Rp. 10.000 hingga Rp.300.000. 
Varian motif kain Kerawang Gayo
Menarik ya, yang penasaran, boleh jalan-jalan ke Aceh Tengah :)

Postingan ini dibuat untuk ikutan Turnamen Foto Perjalanan ke 41 oleh Mbak Indah N. Nuria. Yang mau ikutan, boleh buka linknya di sini

Senin, 14 April 2014

Joki Kuda Muda yang berani dari Tanah Gayo


Pemandangan di Takengon
Melihat anak-anak kecil main robot-robotan udah biasa, main mobil-mobilan juga udah biasa. Anak-anak di Takengon memiliki keunikkan tersendiri, dibalik wajah mereka yang polos, mereka memiliki keberanian yang patut diacungi jempol. 

Hijrahheiji
Aku berkesempatan melihat latihan pacuan kuda di Lapangan Pacuan Kuda Blang Bebangka, Takengon, Aceh Tengah. 

Anak-anak disana mulai umur 11 tahun jadi joki kuda. Membayangkan aja aku susah, dulu waktu aku seumur itu sedang sibuk dengan sekolah, kalaupun bermain hanya permainan Kasti atau Kartu. Ya mungkin di luar sana juga banyak anak yang sedari kecil menjadi joki kuda, tapi yang menarik disini, kuda yang mereka tunggangi pun tidak memakai alat keselamatan seperti pelana dan lain-lain. Luar biasa!

Selain menguji nyali ada kebanggaan tersendiri bagi mereka untuk menunggangi kuda dan membawa kudanya menjuarai perlombaan.

Ada seorang anak yang menjadi perhatianku saat itu, kalau dilihat-lihat berumur 11 atau 12 tahun, dia berbaju biru, berlengan kuning dan memakai celana jeans pancung. Kita sebut saja dia si Wen (Wen sebutan untuk anak cowok di Gayo). Dia tekun sekali memegang kudanya, seperti ada obrolan batin antara keduanya. Dia terlihat begitu menyayangi kuda yang nantinya akan diikuti perlombaan.

Begitu perlombaan dimulai, si Wen maju melesat dengan kencang, posisinya berada di depan mengalahkan joki-joki muda yang lain. Menang dengan sukses. Salut!

Mungkin kita bisa belajar dari semangat si Wen, kesuksesan bisa diraih apabila kita serius dan mencintai apa yang ada di hadapan kita, berjuang bersama-sama mencapai satu tujuan.

Nama : Hijrah, Obsesi : Jadi Joki Cilik, Cilik??
Oh iya, buat yang ingin menikmati kehebatan Joki-Joki muda asal Tanah Gayo ini beraksi, bisa datang ke Takengon ataupun Kabupaten Bener Meriah, biasanya sering diadakan acara tahunan setiap Bulan Maret (HUT Kota Takengon) dan Bulan Agustus (HUT RI).

Berpetualang di Negeri Kopi


“Bukan Lautan hanya Kolam Susu, Kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai dan topan kutemui, ikan dan udang menghampiri dirimu, orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman” ( Kusplus - Kolam Susu)

Kota Takengon
Lagu dari Kusplus ini sangat cocok sekali untuk menggambarkan keindahan dan potensi alam di Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.

Perjalanan kali ini aku mengunjungi Negeri di atas Awan, sebutan untuk Kota Takengon, dikarenakan daerahnya yang berada di dataran tinggi dan seringkali ditutup dengan kabut yang menyerupai awan. Butuh kurang lebih 8 Jam perjalanan menuju Takengon dari Banda Aceh dengan kendaraan L300, hanya dengan Rp.90.000.

Sepanjang perjalanan menuju Kota Takengon, mata kita dimanja dengan pemandangan yang hijau. Tapi siapa sangka, pemandangan hijau nan indah itu merupakan pemandangan yang bernilai jutaan rupiah. Ya, tanaman itu kebun Kopi. Tapi bukan sembarangan kopi, kopi yang ada di Takengon ini sudah terkenal ke seluruh penjuru dunia, siapa yang tak kenal dengan Kopi Gayo? Ya, selain Negeri di Atas Awan, Kota ini juga sering disebut dataran tinggi Gayo, karena masyarakat asli disini merupakan Suku Gayo. Kopi yang berasal dari Gayo ini sudah mendapat sertifikat Indikasi Geografi (IG) terutama Kopi Arabika-nya. Sertifikat Indikasi Geografi ini merupakan suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang karena faktor lingkungan geografis, alam, manusia ataupun kombinasinya, sehingga menghasilkan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan (Pasal 1 PP RI No 51 Tahun 2007), berarti Kopi Arabika Gayo ini cuma dan hanya bisa dihasilkan di daerah Takengon dan sekitarnya. Hebatnya lagi kenikmatan Kopi Arabika Gayo ini sudah diakui oleh Internasional, sebagai orang Indonesia, aku bangga kita memiliki potensi seperti ini.
Aku berkesempatan bertemu langsung dengan salah satu pengusaha kopi asal Bener Meriah, Haji Yusrin. Beliau mengelola Cafe Bergendaal Koffie, di daerah Teritit, Bener Meriah. Sebelumnya Bener Meriah ini merupakan bahagian dari Aceh Tengah, namun mengalami pemekaran wilayah menjadi Kabupaten Bener Meriah. Pertemuanku dengan Haji Yusrin ini bisa dibilang keberuntungan tersendiri, pertemuan yang tak diduga. aku berkenalan dengan seorang teman di salah satu jejaring sosial, dengan akun @Syukritakengon, aku memanggil beliau Pak Syukri, dari beliau aku belajar banyak hal tentang Kopi, karena sebagai pencinta kopi beliau tahu cita rasa kopi yang terbaik, sampai akhirnya aku diajak bertemu dengan Pak Haji Yusrin di Bergendaal Koffie. 

Sebelumnya aku diberikan ujian untuk merasakan perbedaan antara kopi yang selama kunikmati di Banda Aceh dengan kopi yang ada di Bergendaal Koffie, aku diminta minum Black Coffee-nya tanpa gula! Aku yang selama ini bukan penggemar kopi, harus mencoba kopi hitam yang disajikan tanpa gula (---__---!). Tapi jujur setelah menikmati Kopi Arabika yang berasal dari Gayo ini, benar-benar bisa merasakan kenikmatan berkopi. 
Setelahnya aku diajak berkeliling oleh Haji Yusrin, mengenal kopi lebih jauh, beliau dengan senang hati memberikan penjelasan tentang kopi, beliau memiliki kebun kopi sendiri dan mengelola kopi hingga menjadi kopi Bergendaal yang nikmat itu. Nama Bergendaal Koffie itu juga memiliki sejarah tersendiri. Bergendaal berasal dari bahasa Belanda yang artinya Bukit dan Lembah, Jadi Bergendaal Koffie ini bisa diartikan sebagai Kopi yang berasal dari Bukit dan Lembah Tanah Gayo. Menurut beliau, sebenarnya nama itu dulu pernah dipakai oleh perusahaan belanda yang pernah ada disana, dan sudah didaftarkan sebagai merk dagang begitu juga Kopi Gayo. Begitulah kita ya, sering sekali potensi yang kita miliki diklaim menjadi hak paten orang lain, tapi untungnya kita sudah memiliki Indikasi Geografi yang artinya tidak bisa diproduksi di tempat lain, selain di tempat tersebut.

Dari haji yusrin aku belajar jenis-jenis biji kopi, ternyata tak sesimpel yang aku bayangkan, ada banyak jenis biji kopi disini, mulai hijau, kuning, hitam, arabika, robusta dan yang paling jadi primadona saat ini Kopi Luwak. Kopi Luwak pun ternyata ada jenisnya, Luwak alami dan Luwak ternak. Kata beliau rasa kopi Luwak yang alami lebih mantap dibandingkan yang ternak, selain yang alami itu yang dimakan adalah Kopi Arabika pilihan dan mengalami proses yang alami tidak seperti Luwak yang diternak. Luwak pun juga tidak sembarang Luwak yang bisa menghasilkan Kopi Luwak, hanya yang memiliki moncong hitam dan moncong putih. Pantas ya kenapa Kopi Luwak itu mahal.

Sempat kubertanya dengan Haji Yusrin mengapa beliau tertarik dengan usaha Kopi? Beliau berkata, “ini potensi besar yang kita miliki, sudah sepantasnya kita memanfaatkan secara optimal, kita menghargai apa yang kita punya sehingga nantinya orang lain bisa menghargai kita”.

Senang sekali bisa bertemu dengan orang seperti Pak Syukri dan Haji Yusrin ini, beliau-beliau ini termasuk orang yang sadar dengan potensi yang dimiliki, menurutku dengan mengoptimalkan potensi yang kita miliki juga termasuk cara kita mensyukuri nikmat yang diberikan.

Semoga Kopi Gayo ini bisa menjadi kebanggaan kita Bangsa Indonesia.
Perjalananku pun berlanjut, ikuti terus ya (^-^)

Rabu, 09 April 2014

Danau Laut Tawar, Danau Cantik di Tengah Aceh

Danau Laut Tawar

Danau Laut ini merupakan danau Air Tawar terbesar yang ada di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, dan termasuk danau terbesar di Provinsi Aceh. Luasnya kira-kira 5.472 hektar dengan panjang 17 km dan lebar 3,219 km. Volume airnya kira-kira 2.537.483.884 m³ (2,5 triliun liter). Orang Gayo, sebutan untuk masyarakat di Aceh Tengah menyebutnya dengan Danau Lut Tawar, yang artinya Danau Laut Tawar. Sempat terpikir kenapa danau ini diberi nama Danau Laut Tawar, tenyata bagi Masyarakat Gayo, danau ini sudah layaknya seperti laut bagi mereka, karena itu juga bagian danau yang berbatasan langsung dengan darat disebut pantai atau pante, unik ya?

Senin, 17 Februari 2014

Taman Rumah Impian

Perjalanan ke Kota Takengon, Aceh Tengah, beberapa bulan lalu, mempertemukan aku dengan rumah yang sederhana ini. Udara yang sejuk dengan pemandangan belakang rumah pegunungan, di depan rumah, danau Lut Tawar. Rumahnya kecil tapi tamannya lumayan luas dipenuhi dengan tanaman kopi Arabika yang beranjak memerah.
Rumah bertaman kopi di Takengon

Jadi ngebayangin punya rumah seperti ini, kecil saja, di halamannya ada kursi santai untuk sekedar bersantai atau berkumpul dengan teman-teman, sekedar untuk menghabiskan waktu dengan membaca buku, ngopi dan berbagi cerita, sambil melihat buah-buah kopi yang berwarna-warni, kopinya yang diminum pun hasil dari taman sendiri, beuh....ga bakalan kemana-mana lagi deh, di rumah aja, haha.

Postingan ini buat ikutan Turnamen Foto Perjalanan ke 36 oleh Ari Murdiyanto. Yang mau ikutan, boleh buka linknya di sini