Selasa, 30 September 2014

Berburu Bunga Langka Rafflesia Arnoldii di Hutan Bengkulu



 " Bunga Sudah Mekar "

Itu pesan singkat yang dikirimkan Pak Holidin ke hapeku. Walaupun singkat tapi pesan ini membuat perasaanku bahagia setengah mati. Gimana ngga, ke Bengkulu rasanya kurang lengkap kalau tidak melihat langsung bunga langka ini.

Perjalanan kali ini juga istimewa aku ditemani oleh teman-teman Duta Wisata Provinsi Bengkulu, ada Imron, Rifky, Riki, Bang Romel, Mei, Rinda dan Evi, tak ketinggalan teman-teman Kapal Pemuda Nusantara Sail Raja Ampat dan Sail Komodo ada Lesti dan Ulie, rame ya? haha. 

Akhirnya kami menghubungi Pak Holidin untuk mencari tempat mekarnya Bunga Rafflesia, di Hutan Lindung Bukit Daun Kepahiang, yang berjarak 85 Km dari Kota Bengkulu, atau kurang lebih 1,5 jam perjalanan. Pak Holidin sendiri adalah salah satu pencinta dan penjaga Bunga Rafflesia, beliau tergabung di Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL).

Bersama Pak Holidin
Sampai di lokasi dan bertemu dengan Pak Holidin, kami diajak masuk ke dalam hutan, dan karena masih termasuk Kawasan Hutan Lindung, masih banyak pohon-pohon tinggi dan banyak tanaman yang tumbuh dengan rapat, cukup membingungkan dan memusingkan, karena itulah untuk masuk ke wilayah ini kita butuh orang-orang seperti Pak Holidin.

Ternyata perjalanan cukup menguras energi, kami harus membelah hutan, melewati pepohonan dan juga diselingi sungai, cukup mendebarkan juga, karena bisa jadi ada binatang liar yang kita tidak akan tahu kapan munculnya, belum lagi ancaman pacet dan lintah, yeey!
Tapi semua itu terbayar, kurang lebih 15 menit, akhirnya kami menemukan si cantik ini, Rafflesia yang mekar kali ini cukup besar, mungkin sekitar 60 Cm.
Si Cantik Rafflesia Arnoldii
Sekilas Tentang Rafflesia Arnorldi
Padma Raksasa (Rafflesia arnoldii) merupakan tumbuhan parasit obligat yang terkenal karena memiliki bunga berukuran sangat besar, bahkan merupakan bunga terbesar di dunia. Ia tumbuh di jaringan tumbuhan merambat (liana) Tetrastigma dan tidak memiliki daun sehingga tidak mampu berfotosintesis. Penamaan bunga raksasa ini tidak terlepas oleh sejarah penemuannya pertama kali pada tahun 1818 di hutan tropis Bengkulu (Sumatera) di suatu tempat dekat Sungai Manna, Lubuk Tapi, Kabupaten Bengkulu Selatan, sehingga Bengkulu dikenal di dunia sebagai The Land of Rafflesia atau Bumi Rafflesia. Seorang pemandu yang bekerja pada Dr. Joseph Arnold yang menemukan bunga raksasa ini pertama kali. Dr. Joseph Arnold sendiri saat itu tengah mengikuti ekspedisi yang dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles. Jadi penamaan bunga Rafflesia arnoldii didasarkan dari gabungan nama Thomas Stamford Raffles sebagai pemimpin ekspedisi dan Dr. Joseph Arnold sebagai penemu bunga. Tumbuhan ini endemik di Pulau Sumatera, terutama bagian selatan (Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan). Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan daerah konservasi utama spesies ini. Jenis ini, bersama-sama dengan anggota genus Rafflesia yang lainnya, terancam statusnya akibat penggundulan hutan yang dahsyat. Di Pulau Jawa tumbuh hanya satu jenis patma parasit, Rafflesia patma (Wikipedia)
Piyoh sebentar dengan Bunga Rafflesia Arnoldi
Mekarnya bunga merah bertotol-totol putih ini jadi momen istimewa buatku, aku langsung mengabadikannya, Orang Langka, Bunga Langka dan Momen Langka, Perfect Combination! haha. Sayangnya bunga ini tak boleh disentuh saat mekar karena katanya dapat mempercepat pembusukan bunga.

Ternyata di sekitar Bunga Rafflesia yang sedang mekar, ada beberapa bongkol, calon bunga yang akan mekar, dan kata Pak Holidin, itu bakal butuh waktu sekitar 4-5 bulan lagi, hmmm, cukup lama ya.
Rafflesia Morphosis
Cantik ya? pengen lihat Rafflesia Arnoldi langsung di Bengkulu? kalau ke Bengkulu jangan lupa hubungi Pak Holidin di 085273693969.

Berkunjung ke Rammang-Rammang, Karst Kedua Terbesar di Dunia

Perjalananku kali ini ke Rammang-Rammang juga bukan karena disengaja, aku mendapat ajakan untuk mengadakan pengobatan gratis ke desa terpencil yang ada di Kecamatan Bontoa, tempat program homestay-ku. 
Team Pengobatan Gratis, kita siap berlayar masuk ke pedalaman
Ternyata masih banyak yang belum tahu tentang Rammang-Rammang. Rammang-Rammang terletak di Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Katanya Rammang-Rammang termasuk Karst kedua terbesar di dunia, karena hampir semua wilayahnya dikelilingi batu-batu karst yang menjulang tinggi. Ada juga yang bilang kalau Rammang-Rammang adalah versi daratnya Kepulauan Wayag, Raja Ampat.
Ada sensasi ngeri-ngeri sedap juga ketika menyusuri Sungai Puthe ini
Sepanjang perjalanan mata kita akan dimanja dengan Hutan Bakau dan hamparan Pohon Nipah yang masih satu famili dengan Pohon Lontar. Kadang masih kita lihat ikan-ikan berenang mengikuti gerak perahu. Ya satu-satunya transportasi yang ada di sana adalah perahu. Untuk menuju ke Kampung Berua, pusat desanya kita menggunakan perahu yang berada di dermaga perintis yang ada di tepi Sungai Puthe.

Selama perjalanan kita akan menikmati sensasi yang luar biasa, ada jembatan bambu, kita juga bisa melihat di kiri dan kanan walaupun masih sedikit ada rumah-rumah penduduk yang masih tradisional, dan melewati celah-celah batu karst yang unik.
Kadang kita harus melewati celah dari Batu Karst, emeizing!
Kita bisa melihat rumah-rumah penduduk yang masih tradisional terbuat dari bambu dan daun kelapa di pinggiran sungai

Selamat datang di Kampung Berua
Kurang lebih 45 menit, akhirnya kami sampai di Kampung Berua. Terlihat di sana ada beberapa rumah yang masih tradisional yang dikelilingi tambak dan sawah dan gunung.

Berita terakhir yang kami terima, ternyata penduduk di Kampung Berua ternyata tidak banyak, hanya ada kurang lebih 10 kepala keluarga, alhasil kami hanya memiliki pasien sedikit saja, sisanya? kami jalan-jalan, haha, #Modus


Berada di tengah bebatuan Karst ini berasa jadi makhluk yang kecil sekali
Pemandangan di Kampung Berua sungguh indah, rumah tradisional dipadu dengan pepohonan yang berwarna hijau  dan bebatuan Karst yang tinggi menjulang jadi daya tarik tersendiri. Belum lagi kita bisa melihat Ikan Bandeng dan udang-udang cukup besar berenang di dalam tambak, oh oke, sepertinya sawah tapi abis panen dijadikan tambak untuk sementara, luar biasa, rasanya aku betah di sana, haha.

Bunga Pohon Nipah
Sempat juga mencicipi buah dari Pohon Nipah yang tumbuh di sepanjang sungai, kata penduduk di sana biasanya buahnya bisa dibuat tuak, jadi penasaran.
Buah Nipah sendiri bentuknya unik, bulat tapi memiliki banyak biji, setiap bijinya memiliki sabutnya sendiri, jadi kalau kita mau makan, harus mengupas atau memotong sabutnya terlebih dahulu, kalau untuk rasa, rasa buah Nipah sendiri seperti Siwalan, cuma saja sedikit tawar.
Salah satu rumah penduduk di Rammang-Rammang, pemandangan langsung, sawah, tambak dan gunung
Selesai pengobatan dan berjalan-jalan di Kampung Berua, kami memutuskan untuk pulang, yah walaupun masih beberapa tempat yang belum dikunjungi, tapi tugas lain sudah menunggu di Bontoa. Tapi ternyata perjalanan pulang tidak selancar keberangkatan, perahu yang kami naiki, sempat menabrak batu dan baling-balingnya copot, aku kaget, pemilik perahu kaget, semua senyap, jadilah kami luntang-lantung di tengah Sungai Puthe, dan itu perjalanan masih jauh dari dermaga yang kami naiki awalnya, alhasil bakal berjemur untuk waktu yang lama, hore!! haha.

Dermaga yang lain
Dengan bermodalkan 1 buah dayung akhinya kami sampai juga di jembatan bambu yang kedua, yang ada di Sanlerang alhamdulillah, ga terlalu lama berjemur, tapi ternyata memang tujuan pulang bukan kembali ke dermaga awal, jadi wisatawan ataupun pengunjung bisa menikmati rute yang lain, hmmm... apa mungkin copotnya baling-baling perahu itu settingan juga? Iya, Tidak, Bisa Jadi!
Sekretariat Pariwisata Rammang-Rammang yang juga bisa digunakan untuk homestay
Benteng Takeshi, haha
Perjalanan diakhiri dengan pemandangan yang luar biasa yang ada di Sanlerang, walaupun terlihat susunan batu yang simpel, tapi ini sungguh luar biasa buatku, aku malah berpikiran susunan batu-batu itu seperti Benteng Takeshi, haha. Sayangnya sawahnya sudah panen, jadi yang tinggal hanya jerami, seandainya datang di saat padinya masih hijau atau kuning, pasti akan lebih luar biasa pemandangannya.

Buat yang tertarik ke Rammang-Rammang, tapi bingung, bisa menghubungi Pak Haris di 081241029609, bisa dapat informasi untuk homestay dan penyewaan perahu di sana.

Senin, 29 September 2014

Apa Bahasa Cintamu?

Apa Bahasa Cintamu?
Pernah ga selama ini udah berbuat apa saja untuk keluarga, teman, pacar atau sahabat tapi ternyata ngerasa sia-sia? Kira-kira kenapa ya? Bisa jadi Bahasa Cinta yang kita gunakan kurang tepat. Bahasa Cinta? Hasil penelitian seorang Dr. Gary Chapman dengan teorinya Five Love Languages (Lima Bahasa Cinta) mungkin bisa membantu kita memperbaiki hubungan kita dengan orang yang kita sayangi.
Menurut Dr. Gary Chapman, ada 5 Bahasa Cinta cara orang untuk mengekspresikan perasaan cintanya kepada orang lain, apabila sesuai akan membuat orang tersebut merasa dicintai, karena setiap orang mempunyai bahasa cinta masing-masing. Apa saja 5 Bahasa Cinta itu? Ini dia.
  1. Pujian (Words of Affirmation)
Pujian bisa juga berarti kalimat-kalimat yang membangun dan positif, buat yang bahasa utamanya pujian, akan merasa sangat dicintai bila kita memujinya, seperti, “Kamu cantik sekali hari ini,”, “Terimakasih ya untuk semua yang kamu kerjakan hari ini, good job!”, “Kamu keren sekali tadi ketika berpidato di depan, banyak orang tersentuh karena kamu.” 

2.      Momen (Quality Time)

Orang yang bahasa utamanya momen atau quality time akan sangat merasa dicintai kalau kita bisa menyediakan waktu untuknya di saat yang penting ataupun momen yang ada dimanfaatkan secara berkualitas. Momen seperti ulang tahun, wisuda, lulus ujian dengan nilai baik, atau bahkan ketika terkena musibah.

3.      Kado atau Hadiah (Gifts)

Apapun bentuknya, mahal atau murah, besar atau kecil, orang yang memiliki bahasa cinta ini akan menganggap merasa dicintai. Pernah aku punya teman yang seperti ini di momen yang special untuknya aku memberikan kado sebuah boneka yang terbuat dari kertas buku, membuat dia merasa dicintai sekali, hingga bertahun-tahun diingatnya selalu, bahkan sebelum dia nikah, eh? #KemudianCurhat.
Jadi untuk siapa saja yang bahasa cintanya hadiah, kalau dia bersedih berilah hadiah, dan kalau kita yang memiliki bahasa cinta hadiah, berilah selalu hadiah untuk diri sendiri agar terus termotivasi. 

4.      Bantuan atau Layanan (Acts of Service)

Tipe ini tipe yang merasa sangat dicintai jika dibantu atau dilayani seperti dibukakan pintu, dibawakan tas, dibantu menyucikan piring, atau memijat punggung. Biasanya juga dia akan senang menawarkan diri untuk membantu orang lain. 

5.      Sentuhan (Physical Touch)

Sentuhan fisik mencakup belaian, tepukan, bergandengan tangan, kecupan, dan pelukan hangat. Contoh ketika teman kita sedang sedih, apa yang kita lakukan? Untuk orang yang Bahasa Cintanya sentuhan otomatis akan merasa sangat dicintai jika kita memeluknya, menyentuh tangannya, atau menepuk punggungnya.

Tapi pada umumnya setiap orang dapat menerima cinta kelima bahasa di atas, namun biasanya ada satu bahasa yang paling dominan di mana dapat merasakan cinta melebihi bahasa lainnya. Jadi apa Bahasa Cintamu?

Minggu, 28 September 2014

Wah, ternyata Bireuen Pernah Jadi Ibukota RI Ketiga

Kaget? iya sama, jujur sebagai anak muda yang lumayan gaul ternyata aku tidak pernah tahu ternyata Kabupaten Bireuen pernah dijadikan Ibukota Negara Republik Indonesia Ketiga, akhirnya aku memutuskan untuk mencari tahu dan ternyata ada banyak fakta menarik terungkap dari kabupaten yang juga terkenal dengan kulinernya, seperti Sate Matang, Emping Melinjo dan juga Keripik Pisangnya.
 
Posisi Kabupaten Bireuen
Kabupaten Bireuen adalah salah satu kabupaten di Aceh. Kabupaten ini baru menjadi wilayah otonom sejak tanggal 12 Oktober 2000 sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Utara. Kabupaten ini terkenal dengan julukan kota juang, namun sempat menjadi salah satu basis utama Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Semenjak diberlakukannya darurat militer sejak bulan Mei 2003, situasi di kabupaten ini berangsur-angsur mulai kembali normal.

Kabupaten yang saat ini dipimpin oleh H.Ruslan-Mukhtar Abda (Harus Muda) sangat strategis karena berada di lintasan yang menghubungan Aceh dan Sumatera Utara. Berasal dari Bahasa Arab, birrun, yang artinya kebajikan, banyak sekali kita jumpai bangunan bernuansa islami, dan dayah baik yang tradisional maupun modern yang santrinya berasal dari seluruh Aceh dan juga luar Aceh sehingga sering disebut sebagai Kabupaten 1001 Dayah.

Bireuen Sebagai Ibukota RI Ketiga
Kabupaten yang berada di pesisir bagian timur Provinsi Aceh ini memiliki sejarah yang penting untuk kemerdekaan Republik Indonesia, Tahun 1948, Belanda melancarkan agresi keduanya terhadap Yogyakarta. Dalam waktu sekejap Ibukota RI kedua itu jatuh dan dikuasai Belanda. Saat itu, Presiden Pertama Indonesia, Soekarno atau yang dikenal dengan panggilan Bung Karnoe, sedang mengendalikan pemerintahan terpaksa harus memilih jalan untuk menyelamatkan bangsa. Tidak ada pilihan, Presiden Soekarno mengasingkan diri ke tempat yang menurut beliau aman, yaitu Bireuen. Soekarno mengasingkan diri ke Bireuen dengan menggunakan pesawat udara Dakota. Pesawat yang dibawa oleh putra Aceh, Teuku Iskandar, dan mendarat di lapangan terbang sipil Cot Gapu pada Juni 1948.
Kunjungan Presiden Pertama RI, Sumber gambar di sini
Kedatangan rombongan Presiden Pertama Indonesia itu disambut Gubernur Militer Aceh saat itu, Teungku Daud Beureueh, Panglima Divisi X, Kolonel Hussein Joesoef, para perwira militer Divisi X, alim ulama dan para tokoh masyarakat. Tidak ketinggalan anak-anak Sekolah Rakyat (SR) juga ikut menyambut kedatangan presiden sekaligus PanglimaTertinggi Militer itu.

Pada malam harinya di lapangan terbang Cot Gapu diselenggarakan Rapat Akbar (Leising). Presiden Soekarno dengan ciri khasnya, berpidato berapi-api, membakar semangat juang rakyat Aceh di Keresidenan Bireuen yang membludak lapangan terbang Cot Gapu. Masyarakat Bireuen sangat bangga dan berbahagia sekali dapat bertemu dan mendengar langsung pidato presiden Soekarno tentang agresi Belanda 1947-1948 yang telah menguasai kembali Sumatera Timur (Sumatera Utara) sekarang.

Bung Karno hanya berada seminggu di Bireuen dan seluruh aktivitas Republik Indonesia waktu itu dipusatkan di jantung Kota Bireuen. Pada waktu itu Bung Karno menginap dan mengendalikan pusat pemerintahan RI di kediaman Kolonel Hussein Joesoef, Panglima Divisi X Komandemen Sumatera, Langkat dan tanah Karo, di Kantor Divisi X, yang sekarang digunakan sebagai Pendopo Bupati Bireuen atau yang sering dikenal dengan Meuligoe, dan selama seminggu itulah Bireuen ditetapkan menjadi Ibukota RI menggantikan Yogyakarta.
Meuligoe Bireuen dulu dan sekarang, sumber di sini
Bireuen Sebagai Kota Juang
Daerah pecahan Aceh Utara ini juga dikenal sebagai Kota Juang. Beragam kisah heroik terekam dalam catatan sejarah. Benteng pertahanan di Batee Iliek merupakan daerah terakhir yang diserang Belanda yang menyisakan kisah kepahlawanan pejuang Aceh dalam menghadapi Belanda.

Saat itu Bireuen dijadikan sebagai pusat, aktivitas perjuangan dalam menghadapi serangan-serangan musuh dan juga berfungsi sebagai pusat kemiliteran Aceh. Semenjak itulah hingga sekarang, Bireuen mendapat julukan sebagai “Kota Juang”.

Dipilihnya Bireuen sebagai pusat kemiliteran Aceh, dikarenakan letaknya yang sangat strategis  dalam mengatur strategi militer untuk memblokade serangan Belanda di Medan Area yang telah menguasai Sumatera Timur. Pasukan tempur Divisi X Komandemen Sumatera yang bermarkas di Juli Keudee Dua, Bireuen, itu silih berganti dikirim ke Medan Area. Termasuk diantaranya pasukan tank dibawah pimpinan Letnan Yusuf Ahmad, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Letnan Yusuf Tank. 

Pada waktu itu pasukan Divisi X mempunyai puluhan unit mobil tank, peralatan perang itu merupakan hasil rampasan tank tentara Jepang yang bermarkas di Juli Keude Dua. Dengan tank-tank itulah pasukan Divisi X mempertahankan Republik ini di Medan Area pada masa agresi Belanda pertama dan kedua tahun 1947-1948. Juli Keude Dua juga memiliki nilai historis kemiliteran penting dalam mempertahakan Republik. Terutama pada zaman Revolusi 1945. Pendidikan Perwira Militer (Vandrecht), yakni untuk mendidik perwira-perwira yang tangguh dipusatkan di Juli Keude Dua.
 
Kisah heroik lainnya, ada di kubu syahid lapan di Kecamatan Simpang Mamplam. Tidak sedikit orang yang melintasi Banda Aceh - Medan menyinggahi tempat ini untuk ziarah. Di kuburan itu, delapan syuhada dikuburkan. Mereka Syahid pada tahun 1902 saat melawan pasukan Marsose, Belanda. Kala itu delapan syuhada tersebut berhasil menewaskan pasukan Marsose yang berjumlah 24 orang. Namun, ketika mereka mengumpulkan senjata dari tentara Belanda yang tewas itu, mereka diserang oleh pasukan Belanda lainnya yang datang dari arah Jeunieb. Kedelapan pejuang itu pun syahid. Mereka adalah : Tgk Panglima Prang Rayeuk Djurong Bindje, Tgk Muda Lem Mamplam, Tgk Nyak Bale Ishak Blang Mane, Tgk Meureudu Tambue, Tgk Balee Tambue, Apa Sjech Lantjok Mamplam, Muhammad Sabi Blang Mane, serta Nyak Ben Matang Salem Blang Teumeuleuk. Makam delapan syuhada ini terletak di pinggir jalan Medan – Banda Aceh, kawasan Tambue, Kecamatan Simpang Mamplam. Makam itu dikenal sebagai kubu syuhada lapan.

Cikal Bakal Radio Republik Indonesia dan Garuda Indonesia
Yang tidak kalah menarik peranan Radio Rimba Raya milik Divisi X Komandemen Sumatera yang mengudara ke seluruh dunia dalam enam bahasa, Indonesia, Inggris, Urdu, Cina, Belanda dan bahasa Arab, luar biasa sekali ya. Awalnya pimpinan Abu Daud Beureueh, melalui Kolonel Husein Yusuf, maka diperintahkanlah saudara Nif Karim untuk berangkat ke Singapura membeli seperangkat alat radio, yang kemudian diselundupkan melalui selat Malaka menuju perairan Aceh.

Tujuan Radio Rimba Raya mengudara ke seluruh dunia pada tanggal 20 Desember 1948 adalah untuk memblokade siaran propaganda Radio Hervenzent Belanda yang ada di Batavia yang menyiarkan bahwa Indonesia sudah tidak ada lagi. Dalam siaran Radio Belanda tersebut disiarkan berita bahwa, seluruh wilayah nusantara sudah habis dikuasai oleh Belanda, tapi faktanya Aceh masih tetap utuh dan tak pernah berhasil dikuasai Belanda. 
Radio Rimba Raya sekarang, sumber gambar di sini
Walaupun Radio Rimba Raya tersebut ala kadarnya, tetapi bisa mempengaruhi Dewan Keamanan PBB, dan dapat merubah opini dunia internasional, karena berita yang disiarkan berbunyi, “Republik Indonesia masih ada, karena pemimpinnya masih ada, Pemerintahannya masih ada, dan disini adalah Aceh “, yang akhirnya PBB membuat kebijakan agar segera mengirim tim peninjau ke Indonesia, untuk membuktikan pernyataan yang disiarkan oleh Radio Rimba Raya, karena wilayah yang satu-satunya tinggal dan tidak di sentuh Belanda adalah “ ACEH ”, ternyata berita itu benar, maka tergeraklah PBB untuk segera mengadakan perundingan Indonesia – Belanda, hingga terwujudlah Konferensi Meja Bundar (KMB), yang akhirnya menentukan kedaulatan Republik Indonesia.

Karena itu, saat kedatangan Presiden Soekarno ke Bireuen bulan Juni 1948, dalam pidatonya yang berapi-api di lapangan terbang Cot Gapu, Soekarno mengatakan, Aceh yang tidak mampu dikuasai Belanda dijadikan sebagai Daerah Modal Republik Indonesia.

Kurang lebih seminggu keberadaan Presiden Soekarno di Bireuen, kemudian beliau bersama dengan Gubernur Militer Aceh, Abu Daud Beureueh berangkat menuju Kutaradja yang sekarang dikenal dengan Banda Aceh. Di Kutaradja Abu Daud Beureueh mengundang seluruh saudagar Aceh di hotel Aceh yang berada di samping Mesjid Raya Baiturrahman. Abu Daud Beureueh menyampaikan permintaan Presiden Soekarno agar rakyat Aceh menyumbang dua pesawat terbang untuk Republik Indonesia, dan ini yang menjadi cikal bakalnya Garuda Indonesia.


Menuju Ke Bireuen
Kabupaten ini memiliki jarak kurang lebih 218 km dari pusat Kota Banda Aceh yang bisa ditempuh dengan kendaraan umum roda empat atau roda dua sekitar waktu 4 jam perjalanan. Kita juga bisa menggunakan angkutan umum L300 yang ada di Terminal Batoh dan Leung Bata di Banda Aceh dengan biaya Rp.50.000.


Menarik ya? kalau ke Aceh, ayo berwisata ke Kabupaten Bireuen.

Sumber Tulisan : 

  1. Mengutip Jejak Sejarah Aceh 
    http://pdia.acehprov.go.id/berita/mengutip-jejak-sejarah-aceh/
  2. Bireuen, Ibukota Ketiga Republik Indonesia (1948) 
    http://www.lintas.me/news/indonesiaku/habapost.wordpress.com/bireuen-ibukota-ketiga-republik-indonesia-1948
  3. Bireuen Sebuah Benang Merah Sejarah Yang Terputus  
    http://chaerolriezal.blogspot.com/2012/12/bireuen-sebuah-benang-merah-sejarah.html
  4. Radio Rimba Raya Menggugat Republik Indonesia Masih Ada
    http://thesejarahkita.blogspot.com/2010/10/radio-rimba-raya-menggugat-republik.html

http://menulisbireuen.blogspot.com/Tulisan ini diikutkan dalam Bireuen Blog Writing Competition 2014 dan untuk memperingati HUT Kabupaten Bireuen yang ke-15.
Selamat Ulang Tahun Kabupaten Bireuen, Semoga kita Sejarah Bireuen yang luar biasa ini jadi pijakan yang kuat untuk perkembangan pembangunan Bireuen ke depan.