Tampilkan postingan dengan label Mister Piyoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mister Piyoh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Mei 2018

#YSEALI dan 7 TIPS Lolos YSEALI

Buat kamu professional muda Indonesia dan Negara lain di Asean dan ingin sekali mengembangkan kemampuan, belajar langsung dengan professional lain di Amerika, program ini ada buat kamu!


Program The Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) adalah program yang Fully Funded (bebas biaya), yang merupakan inisiatif dari Presiden Amerika Serikat ke-44, Barack Obama. YSEALI ditujukan bagi para calon pemimpin muda di ASEAN untuk mengasah kepemimpinan profesional muda yang menekuni bidangnya, terutama di bidang Economic Empowerment, NGO Development, Legislative Process and Governance, Environmental Sustainability, dan Conflict Resolution. Program ini juga dimaksudkan untuk memperkuat pemahaman antara negara ASEAN dengan Amerika, membuka peluang kerja sama dengan negara-negara lain, karena program ini sudah memiliki jejaring anak muda di seluruh dunia.

Program YSEALI sendiri ada dua program, Academic Fellowship Program dan Profesional Fellowship Program. Buat kamu yang berumur dibawah 18 – 25 tahun yang masih kuliah atau selesai kuliah, cocok dengan program Academic Fellowship Program, sedangkan yang berada di antara 25 – 35 tahun dapat mengikuti YSEALI Professional Fellowship Program.  Setiap tahunnya program ini dibuka dua kali, yaitu Spring dan Fall.
YSEALI Academic dan Professional Fellowship Fall 2017 Indonesia
Pemimpin muda yang dapat mengikuti program ini berasal dari 10 negara Asia Tenggara (ASEAN) yaitu Brunei, Burma, Cambodia, Indonesia, Laos, Malaysia, the Philippines, Singapore, Thailand dan Vietnam. Jadi persaingan untuk mendapatkan kesempatan belajar di Amerika tidak hanya bersaing dengan teman-teman dari Indonesia tetapi juga dengan anak muda dari Negara ASEAN lainnya, seru tapi juga bikin gregetan, hehe.
YSEALI Professional Fellowship Fall 2017

YSEALI PROFESSIONAL FELLOWSHIP PROGRAM (PFP)
YSEALI Professional Fellowship Program (PFP) Merupakan program dari United States Department of State yang menangani hubungan antara Amerika dengan negara lain. PFP ini dipegang oleh Bureau Of Educational and Cultural Affairs (ECA) yang bertujuan untuk meningkatkan mutual understanding antara orang Amerika dan orang yang berasal dari negara lain. Nantinya ketika orientasi di Washington, kita akan bertemu dan berdiskusi dengan orang-orang yang dipercaya dari Bureau Of Educational and Cultural Affairs (ECA), Program Exchange Program oleh Bureu of Educational and Curtural Affair juga dapat dilihat di sini

Delegasi dari Indonesia dalam program YSEALI PFP Fall 2017 berjumlah 19 orang dari 3 bidang yang berbeda.  6 orang Economic Empowerment, 8 orang Legislative Process and Governance, dan 5 orang Environmental Sustainability.  Segala hal tentang YSEALI dapat dilihat di link ini
PFP Fall 2017 Indonesia

YSEALI PROFESSIONAL FELLOWSHIP PROGRAM ECONOMIC EMPOWERMENT
PFP Economic Empowerment merupakan salah satu program dari program yang ada di Professional Fellowship Program yang dipegang oleh American Councils. American Councils merupakan organisasi nirlaba International yang memberikan akses untuk pendidikan atau institusi di seluruh dunia dari jenjang siswa SMA, mahasiswa, dan professional, untuk info lebih lanjut tentang American Councils di sini. 

Untuk para fellowship sendiri kami disebutnya Profellows. Program ini memiliki konsep experience based learning, sehingga seluruh fellow harus aktif selama proses belajar yang nantinya akan berguna untuk melanjutkan pengembangan program yang sudah kita jalankan di tempat asal.

Setelah melewati seleksi sekitar 300 orang, sebanyak 31 Profellows dari seluruh negara ASEAN terpilih untuk mengikuti program YSEALI Professional Fellow 2017 ini. Kami dipilih setelah melalui proses seleksi berkas dan juga wawancara melalui Skype. Dari Indonesia, terpilih enam peserta, yaitu saya dari Aceh, Annisa Hasanah (Bogor), Muhammad Romdhoni (Bandung), Vidya Spay (Solo), Nazarudin (Makassar), dan Tisha Rumbewas (Jayapura).
Vidya, Annisa, Tisha, Nazar, Doni dan Hijrah (YSEALI Professional Fellowship Fall 2017)
Kami berenam dari Indonesia ditempatkan di negara bagian yang berbeda. Saya mendapat worksite di Artist For Humanity di Boston, Massacussets, Annisa Hasanah di Deloitte, Arlington, Virginia, Tisha Rumbewas di Brainfood Washington DC, Nazaruddin di Chicago, Vidya Spay di Sacramento, California dan Romdhoni Little Rock, Arkansas. Walaupun berbeda-beda, bias jadi kemungkinan kita akan berada di tempat yang sama dengan teman-teman yang berasal dari negara lain, semuanya tergantung dari aplikasi dan wawancara kita.

Kita sebagai Profellows akan berada di Amerika selama 4-6 minggu untuk meningkatkan pengalaman professional, ditempatkan di perusahaan, non-profit organization, atau kantor pemerintahan. Kita akan belajar banyak hal langsung, termasuk bagaimana warga America dalam bekerja, networking, leadership dan segala budaya dari kehidupan orang Amerika, dan menariknya semua fellowship akan mendapat Sertifikat dari The US Department of State sebagai tanda kelulusan mengikuti program sebagai seorang yang professional.
Sertifikat Profellows dari Karl Stolz, U.S. State Department Office of Citizen Exchanges

HOST FAMILY
Dengan Host Family di Cambridge (Sophia, Jennifer, David dan saya)
Menariknya karena Program ini memiliki konsep experience based learning, kita nantinya akan tinggal dengan keluarga yang tinggal di Amerika Serikat. Saya berkesempatan tinggal dengan Jeniffer Nahass, seorang ibu yang baik hati dengan dua orang anaknya Sophia dan Lucas di Cambridge, Massachusset. Permukiman yang nyaman juga dikenal sebagai New England dan terkenal dengan Harvard University, jadi kalau ingin main ke Harvard tinggal jalan kaki kurang lebih 10 menit dari rumah. Serunya lagi saya bisa tinggal dengan seorang putri dari Syiria yang juga kuliah di Harvard Medical School, untuk cerita lengkapnya ada di postingan selanjutnya.


PROFESSIONAL FELLOWSHIP PROGRAM CONGRESS
PFP Congress

Pada minggu terakhir dalam program, seluruh peserta PFP dari beragam bidang dikumpulkan dalam Professional Fellows Congress. Dalam PFP ini The US State Department of State bekerja sama dengan 14 Organisasi : American Council for Young Political Leaders, American Councils for International Education ACTR/ACCELS, Inc., Hands Along the Nile, International Center for Journalist, International City/ Country management Association, Institute for Training and Development, Legacy International, National Committee on US-China Relations, Oklahoma State University, Smith College, University of Montana, World Chicago, World Learning, and WSOS Community Action.

Di sini kita akan berkumpul, belajar, bercerita, berdiskusi dan nanti harapannya akan berkolaborasi dengan Profellows dari negara lain walaupun dari program yang berbeda tetapi sebagai sesama alumni US Program. Disini kita juga berkesempatan bertemu dengan ahli-ahli yang diundang oleh Bureau Of Educational and Cultural Affairs dan orang-orang yang kompeten di bidangnya, termasuk dari White House.

Menarik bukan? Untuk kamu yang tertarik, ini ada 7 tips yang bisa membantu untuk lolos Program YSEALI.

7 TIPS LOLOS YSEALI
  1. Pastikan niat mengikuti program untuk belajar dan ingin mengembangkan diri agar program yang sedang kita kerjakan di daerah asal kita lebih baik.
  2. Lihat target yang ingin kita capai melalui program YSEALI, jadi jelas apa yang kita lakukan sekarang dengan bidang yang akan kita pelajari selama program, misalnya bidang ekonomi kreatif, pemberdayaan kepemudaan, atau kepariwisataan.
  3. Minta kesediaan orang yang memberikan reference letter, bias jadi itu bos, manager atau dosen kita. Orang yang tahu betul kita dan kinerja kita. Tidak perlu orang dengan title tinggi tetapi kita tidak dekat dan tahu, kita perlu orang yang dekat dan gampang dihubungi, juga bisa meyakinkan pihak American Councils bahwa track record kita jelas.
  4. Isi aplikasi dengan jelas, tidak perlu cepat, cicil saja, kecuali deadlinenya sudah dekat, jadi pastikan juga tanggal deadline-nya, juga perhatikan jawaban dan waktunya, jika sudah merasa oke, tekan “save”, karena kita bisa menyimpan jawaban dan bisa menggantinya lagi jika ingin membuatnya lebih baik.
  5. Sebaiknya dibuat draft-nya terlebih dahulu di note/words sebelum dipaste ke portal aplikasinya, Ide tulisannya jangan terlalu umum, beri contoh-contoh konkrit dalam essay yang kita buat, terutama terkait dengan pengalaman, kemampuan kita, dan harapan kita tentang program ini.
  6. Untuk Wawancara akan dilakukan melalui Skype, jadi pastikan jaringan internet kita lancar. Silahkan baca kembali semua informasi yang dituliskan di aplikasi, hampir semua pertanyaan yang kita tulis di aplikasi kita, jadi pastikan kita paham dengan apa yang kita tulis, latih juga cara menjawab, sehingga kita bisa tahu poin-poin yang akan menjadi daya Tarik para interviewer dan tunjukan kalau kita antusias dengan apa yang kita kerjakan dan dampak yang akan kita berikan setelah mengikuti program.
  7. Kalau belum berhasil, jangan sedih, coba belajar mengevaluasi diri, dan mencoba lagi di season selanjutnya.



Good Luck!

Kamis, 10 Mei 2018

Peta Wisata Poso

Alhamdulillah akhirnya bisa selesai juga desain untuk Peta Wisata Kabupaten Poso. Siapa yang sangka ternyata daerah yang terkenal dengan konfliknya ini memiliki potensi wisata yang luar biasa, da banyak sekali tempat-tempat eksotik yang bisa kamu kunjungi.

Jangan takut, daerah ini sudah aman, sekarang masyarakatnya sedang berbenah untuk menyambut wisatawan yang akan datang ke san, saya saja yang baru pertama sekali datang langsung jatuh cinta dengan Poso dan berharap makin banyak orang akan datang ke sana.

Sekilas tentang Kabupaten Poso
Kabupaten Poso adalah sebuah kabupaten di provinsi Sulawesi TengahIndonesia. Kabupaten ini mempunyai luas sebesar 8.712,25 km² dan berpenduduk sebanyak 229.223 jiwa (2015). Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Poso.
Pada mulanya penduduk yang mendiami daerah Poso berada di bawah kekuasaan Pemerintah Raja-Raja yang terdiri dari Raja PosoRaja NapuRaja MoriRaja TojoRaja Una Una dan Raja Bungku yang satu sama lain tidak ada hubungannya.
Keenam wilayah kerajaan tersebut di bawah pengaruh tiga kerajaan, yakni: Wilayah Bagian Selatan tunduk kepada Kerajaan Luwu yang berkedudukan di Palopo, sedangkan Wilayah Bagian Utara tunduk di bawah pengaruh Raja Sigi yang berkedudukan di Sigi (Daerah Kabupaten Donggala) dan khusus wilayah bagian Timur, yakni daerah Bungku termasuk daerah kepulauan tunduk kepada Raja Ternate.
Sejak tahun 1880 Pemerintah Hindia Belanda di Sulawesi Bagian Utara mulai menguasai Sulawesi Tengah dan secara berangsur-angsur berusaha untuk melepaskan pengaruh Raja Luwu dan Raja Sigi di daerah Poso.
Pada 1918 seluruh wilayah Sulawesi Tengah dalam lingkungan Kabupaten Poso yang sekarang telah dikuasai oleh Hindia Belanda dan mulailah disusun pemerintah sipil. Kemudian oleh Pemerintah Belanda wilayah Poso dalam tahun 1905-1918 terbagi dalam dua kekuasaan pemerintah, sebagian masuk wilayah Keresidenan Manado, yakni Onderafdeeling (kewedanan) Kolonodale dan Bungku, sedangkan kedudukan raja-raja dan wilayah kekuasaanya tetap dipertahankan dengan sebutan Self Bestuure-Gabieden (wilayah kerajaan) berpegang pada peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Belanda yang disebut Self Bestuure atau Peraturan Adat Kerajaan (hukum adat).
Pada 1919 seluruh wilayah Poso digabungkan dialihkan dalam wilayah Keresidenan Manado di mana Sulawesi tengah terbagi dalam dua wilayah yang disebut Afdeeling, yaitu: Afdeeling Donggala dengan ibu kotanya Donggala dan Afdeeling Poso dengan ibu kotanya kota Poso yang dipimpin oleh masing-masing Asisten Residen.
Sejak 2 Desember 1948, Daerah Otonom Sulawesi Tengah terbentuk yang meliputi Afdeeling Donggala dan Afdeeling Poso dengan ibukotanya Poso yang terdiri dari tiga wilayah Onder Afdeeling Chef atau lazimnya disebut pada waktu itu Kontroleur atau Hoofd Van Poltselyk Bestuure (HPB).
(Sumber : Wikipedia)

Exotic Poso
Tapi ingat, traveling boleh ke mana aja, sampahnya tetap dibuang di tong sampah ya :)

Minggu, 07 Januari 2018

Hijrah Saputra, Pemuda Kreatif yang Ingin Berbagi Aceh Dimana Saja

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Buat kamu penyuka gaya kasual, pasti sudah akrab dengan yang namanya kaos. Ya, fashion item sepanjang masa ini, memang cocok dibawa dalam keseharian. 
Bahannya yang nyaman dan modelnya yang sederhana, membuat para pecintanya sulit meninggalkannya. Menegaskan kesan muda bagi si pemakai. Timeless. Kaos memang tak ada matinya.
Daya tarik sepotong kaos juga menarik minat Hijrah Saputra, untuk menumpahkan kreativitasnya. Selain dilirik warga lokal, kaos dengan brand 'piyoh' ini juga banyak diincar wisatawan.

Tak heran, selain nyaman dipakai kaos desain Hijrah juga unik dengan mengusung berbagai tema dan karakter.

"Waktu balik ke Aceh saya dianggap orang aneh, bukan orang Aceh. Jadi saya pikir gimana caranya menganehkan orang Aceh," ujar Alumnus Jurusan Tata Kota Universitas Brawijaya Malang ini, saat dijumpai di distronya kawasan  Ulee Kareng, Banda Aceh itu, Selasa (2/1).
Berdiri sejak 2009, saat ini Piyoh mempunyai tiga outlet yang tersebar di Kota Banda Aceh dan Sabang. Mengandalkan kekhasan desain yang diaplikasikan pada kaos dan lainnya, Piyoh menawarkan produk berselera muda.

hijrah25
instagram.com/hijrah25

Penggunaan bahan baku berkualitas baik setara distro juga menjadi nilai tambah. "Kita membidik kalangan menengah ke atas sebagai segmen pasar. Kaos ini sekaligus sebagai branding wisata Aceh yang intinya bisa berbagi Aceh di mana aja," papar alumnus YSLEI 2017 ini.
Dibanderol mulai Rp 90 ribuan, kaos 'Piyoh' tersedia untuk unisex dengan pilihan lengan panjang, pendek, polo, hingga potongan syar'i. Menawarkan tema berbeda dalam setiap bulannya.
Di tangan Hijrah, kaos ini berceloteh tentang banyak hal, seperti 'Badboy go to hell, goodboy go to Sabang' hingga memuat konten lokal seperti 'bek jampok' dan 'eh malam'.
Selain kaos, di sini kamu juga bisa menemukan rupa-rupa gantungan kunci, magnet, stiker, dompet etnik, hingga parfum yang menebarkan aroma khas Aceh. Dibanderol mulai Rp 5 ribu saja per item. (rul)
Biodata:
Nama: Hijrah Saputra (Hijrah)
Tempat, tanggal lahir: Sabang, 25 September 1984
Pendidikan terakhir: S1 Tata Kota, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur
Instagram : @hijrah25
Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2018/01/06/hijrah-saputra-pemuda-kreatif-yang-ingin-berbagi-aceh-dimana-saja

Kamis, 23 November 2017

Hijrah Saputra, Anak Muda Ikut Bangkitkan Aceh Usai Tsunami

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO
Bencana tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 lalu membawa banyak perubahan pada kawasan ini. Selain mengembalikan struktur kota, juga memberdayakan masyarakat agar bangkit dan kembali membangun Tanah Rencong.

Hal inilah yang jadi perhatian Hijrah Saputra, seorang wirausahawan kreatif asal Sabang. Pada 2012 lalu, ia mendirikan komunitas The Leader yang menjadi wadah anak-anak muda untuk membangun Aceh melalui perubahan sosial.

“Bagaimana caranya anak-anak yang punya kekuatan, semangat dan tenaga untuk berkontribusi di daerahnya masing-masing,” kata Hijrah. “The Leader itu untuk membuat perkembangan diri sendiri, baru kemudian jadi contoh untuk orang lain.”
Hijrah Saputra. (Lentera Indonesia/Anggi Ramadhan)

Melalui komunitas tersebut, Hijrah dan anggota lainnya mengadakan berbagai kegiatan, seperti aksi sosial. Pendekatan juga dilakukan pada anak-anak Aceh yang menjadi generasi penerus Tanah Rencong. Salah satunya dengan mendongeng sebagai trauma healing untuk anak-anak korban tsunami.

“Anak-anak kan generasi selanjutnya. Kalau orangtua kan mungkin perubahannya agak susah. Tapi kalau anak-anak, lebih gampang masuk,” jelas Hijrah pada tim Lentera Indonesia. “Mereka bisa memahami potensi yang ada untuk Aceh ke depannya seperti apa.”
Hijrah Saputra. (Lentera Indonesia/Anggi Ramadhan)

Selain The Leader, Hijrah juga mengembangkan potensi wisata Aceh lewat pusat souvenir Piyoh. Cowok lulusan Teknik Planologi Universitas Brawijaya Malang ini memanfaatkan kemampuan desain grafisnya untuk membuat berbagai kreasi oleh-oleh khas Sabang, seperti kaos, jaket, mug dan stiker.

“Piyoh muncul sebagai media promosi pariwisata. Saya coba cari konten lokal di Aceh. Kemudian saya buat desain, dijadikan produk dan dipasarkan lewat Piyoh,” kata pria 30 tahun ini.
Hijrah Saputra. (Lentera Indonesia/Anggi Ramadhan)

Upayanya mengembangkan wisata Aceh juga dilakukan dengan mengadakan program paket wisata di Kampung Nusa, Kabupaten Aceh Besar. Hijrah mengembangkan konsep ekowisata sambil mengajak warga setempat untuk ikut berperan. Melalui program ini, peluang usaha masyarakat pun jadi lebih terbuka.

“Alhamdulillah, kami bisa bangkit dan mengembangkan desa kami lewat seni,” kata Mauliza Fajriana, salah satu warga Kampung Nusa.

Meski terbilang sukses, berbagai usaha Hijrah tidak langsung disetujui orangtuanya. Sebelumnya mereka berharap pria yang pernah menjadi ‘Agam Aceh’ ini akan bekerja sebagai pegawai negeri sipil.
Hijrah Saputra. (Lentera Indonesia/Anggi Ramadhan)

Tapi Hijrah membuktikan, kalau anak muda bisa berkontribusi bagi negara dan daerahnya dengan cara lain yang mereka sukai. Perubahan kecil yang dimulai dari diri sendiri, dapat membawa perubahan besar yang bermanfaat bagi sekitar.

“Untuk mengembangkan kota tidak harus dengan berada di kantoran. Tapi dengan membuat usaha kreatif, unik itu juga bisa membantu pengembangan kota,” kata Hijrah. 
“Kalau sudah kerja atau punya ide, jalanin aja. Tanpa harus mikir bakal gagal atau bakal jalan enggak, yang penting semangat.”

LENTERA INDONESIA NET | ANNISA PRATIWI

Sumber : https://netz.id/news/2017/09/10/00316/1016070917/hijrah-saputra-anak-muda-ikut-bangkitkan-aceh-usai-tsunami

Belajar Ekonomi Kreatif di Boston

Boston
HIJRAH SAPUTRA, pemilik Piyoh Design dan founder The-Leader.id, terpilih ikut Program The Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Profesional Fellows Economic Empowerment Fall 2017 mewakili Indonesia, melaporkan dari Boston, Amerika Serikat
SAYA berasal dari Sabang, ingin berbagi cerita tentang program yang sedang saya ikuti di Amerika Serikat (AS) sejak 10 Oktober-16 November 2017.

Program YSEALI Fully Funded (bebas biaya) ini merupakan inisiatif dari Presiden Amerika Serikat ke-44, Barack Obama yang ditujukan untuk para calon pemimpin muda di ASEAN. Tujuannya untuk mengasah kepemimpinan para profesional muda yang menekuni bidangnya, terutama di bidang ekonomi. Program ini juga dimaksudkan untuk memperkuat pemahaman antara negara ASEAN dengan Amerika, membuka peluang kerja sama dengan negara-negara lain, karena program ini sudah memiliki jejaring anak muda di seluruh dunia.Kami dipilih mewakili sepuluh negara ASEAN setelah melalui proses seleksi berkas dan wawancara. Setelah melewati seleksi sekitar 300 orang, sebanyak 31 fellows (penerima beasiswa) dari seluruh negara ASEAN terpilih untuk mengikuti program YSEALI Professional Fellow 2017 ini di AS.

Dari Indonesia, terpilih enam peserta, yaitu saya dari Aceh, Annisa Hasanah (Bogor), Muhammad Romdhoni (Bandung), Vidya Spay (Solo), Nazarudin (Makassar), dan Tisha Rumbewas (Jayapura).

Saya dikategorikan sebagai wirausaha muda kreatif dan seorang social entrepreneur dari kota paling barat Indonesia, Kota Sabang. Saya membuat desain dan produk kreatif untuk membantu perkembangan sektor pariwisata di Sabang, Banda Aceh, dan Provinsi Aceh secara umum. Saya juga termasuk ke dalam daftar 32 anak muda Indonesia yang memiliki pengaruh positif versi UNFPA tahun 2015.

Selain itu, saya memiliki organisasi kepemudaan yang bergerak untuk membantu anak-anak muda mengembangkan potensi dirinya dan mewujudkan mimpinya dengan program Dreammaker dan Dreammaker Institute. Saya juga aktif menulis dan membuat komunitas menulis positif tentang Aceh di Gam Inong Blogger.

Selaku fellow yang terpilih untuk menghabiskan waktu enam minggu di AS, kami disebar ke seluruh penjuru AS, mendapatkan satu worksite sebagai tempat belajar selama empat pekan, dan dua pekan lagi di Washington DC untuk orientasi dan kongres dengan seluruh peserta yang berasal dari berbagai belahan dunia.

Artists For Humanity Boston
American Council International Education selaku organizer dari Program YSEALI Professional Fellow menempatkan saya di Artists For Humanity, Boston, Massachusetts, AS. Salah satu perusahaan wirausaha kreatif sosial yang membantu anak-anak muda kreatif, terutama anak-anak sekolah tingkat atas di Boston, untuk terus berkarya dan membantu pendidikan mereka.

Selain itu, seluruh fellow tinggal dengan host family, orang AS, hal ini bertujuan untuk merasakan kehidupan masyarakat Amerika yang sesungguhnya dan juga bertukar kebudayaan antara negara ASEAN dengan Amerika Serikat.

Program ini memiliki konsep experience based learning, sehingga seluruh fellow harus berinisiatif tinggi dan aktif selama proses belajar yang nantinya akan berguna untuk melanjutkan pengembangan program yang sudah mereka jalankan di negara asal.

Selain mempelajari tentang ekonomi kreatif dan bisnis sosial, saya juga merasakan langsung tinggal dengan orang asli Amerika. Saya sangat berharap agar bisa memperkenalkan Sabang, Aceh, dan Indonesia kepada orang Amerika. Saya pikir, inilah kesempatan yang luar biasa bagi saya karena banyak sekali rumor jelek yang beredar tentang Aceh dan Indonesia, jadi ini kesempatan untuk menjelaskan dan memperkenalkan langsung kepada orang di Amerika bahwa kita ada dan punya potensi wisata yang bisa jadi pilihan untuk mereka kunjungi.

Saya juga berharap nantinya akan terbuka banyak kesempatan bagi anak-anak muda Aceh untuk belajar dan bekerja sama dengan Amerika Serikat. Semoga menjadi inspirasi dan motivasi bagi anak-anak muda Aceh dan Indonesia. Khusus bagi yang mau ikutan program ini tahun depan sudah dibuka kesempatannya hingga bulan ini. Silakan dicoba.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2017/11/11/belajar-ekonomi-kreatif-di-boston

Minggu, 05 November 2017

Volunteer Hours at Rosie's Place, Boston

Hi my name is Hijrah Saputra, from Aceh, Indonesia. I work as graphic designer at Piyoh Design and creative leader at The Leader that create creative program for children and youth in Aceh, Indonesia. I am a participant of the Professional Fellows Program, sponsored by the U.S. Department of State and administered by American Councils for International Education.

The Professional Fellows Program brings emerging leaders in the fields of legislative process and governance; civic engagement; NGO management; economic empowerment and entrepreneurship; and journalism from around the world to the United States for intensive fellowships designed to broaden their professional expertise. Participants spend approximately one month in the United States, during which they receive hands-on exposure to national legislative offices, state legislatures, local government offices, businesses, and non-profit organizations through carefully designed full-time fellowships.

I volunteered at  Rosie’s place. Rosie's Place was founded in 1974 as the first women’s shelter in the United States. Their mission is to provide a safe and nurturing environment that helps poor and homeless women maintain their dignity, seek opportunity and find security in their lives.

I worked in a dinning room to serve meals for about a hundred of homeless women around Boston. I worked on Friday November 3rd 2017 with another volunteers from Harvard and Boston University students, They are Cester, Kim, Alexa, and also another YSEALI Fellows, Seng Thong from Laos. It started at 10.30PM till 2.00AM. 
I and Seng prepare for the Bread and soup
I challenged myself into something I never thought that wasn’t for me, Served the homeless women and worked with a new person from another place randomly. Exciting! It’s an unforgettable moment in my life.

I definitely would recommend to youth to do the volunteer work, specially people who likes to helps the other. Life works in mysterious ways, Volunteer work think of as an exchange. The favors people has done for you in life, you are just returning it to a different activities. Everyone needs support or help at least one point of their life, might not be now but someday. So while you have the opportunity to give the help, might as well do it because tomorrow it might be you who is in need of that help.
My Self, Cester and Seng Thong
Thank for YSEALI and Rosie’s place for giving me unforgettable moment in Boston.

Rabu, 01 November 2017

IMPACT Hub, Creative Coworking Space in Boston


With Lorraine (Supervisor Artists For Humanity) and Geoff Mamlet (Coordinator IMPACT Hub Boston)
The trend of the emergence of online workers, freelancers , warganet and many more, cultivate many places that support, one of which emerged coworking space . Coworking space is a workplace used to be shared, without having a place of its own, usually used by independent organizations or individuals.

This time I visited one of Boston coworking space , IMPACT Hub and met with Geoff Mamlet, IMPACT Hub Boston Coordinator. The Boston Impact Hub community consists of social businesses that address challenges both locally and globally.

IMPACT Hub location is just a few minutes' walk from Downtown Crossing. Members enjoy social platforms that connect with the social entrepreneurs around the Boston area, as well as hot meeting and work areas, flexible exhibition and event space, and thought-driven programming events. Their network is also part of a global network, there are approximately 50 networks in the world, so communities can connect that allow collaboration.

Impact Hubs brings together people from every profession, background, and culture with the imagination and drive to pursue an enterprising idea for the world. These are the people who see and do things differently and have an entrepreneurial spirit to create a sustainable impact.

IMPACT Hub Boston members have approximately 150 people comprising entrepreneurs, intrapreneurs, activists, creative, investors, freelancers, and value-based mentors, working together, sharing ideas and resources. Members work at Impact Hub Boston, attend and produce events, conduct their own workshops, access guidance, find colleagues and partners, participate in social networking, build campaigns, launch companies, prototypes and test products, all from members, Impact Hub- host environment dedicated to speeding up all the ideas and ideas of its members.

Facilities at IMPACT Hub are complete, all to support the activities of its members, ranging from desks, shelves, printers, bathrooms, and even a kitchen for cooking. In addition there are several zones with different facilities, such as Creative Town for designers and creative workers, there is Branchfood for the innovation in the field of food and there is also room for space and call to Skype.
Members pay only 350 dollars per month or 40 dollars per day to get all the facilities and also get a variety of interesting offers from merchand who joined the IMPACT Hub network Boston and also Global.

Interesting huh? So curious too, he said IMPACT Hub was just opened in Jakarta, if Aceh made like this, it seems to be many creative ideas will develop, how do you think?

Every Tuesday there is a meal together that is held by the IMPACT Hub management, so can familiarize the members and can also discuss.


Minggu, 29 Oktober 2017

Artists For Humanity, Creative Solusion for Boston Teens

With The Teens at 3D Studio AFH
Working in Artists for Humanity became an unforgettable experience for me, being able to work in a company that has a concept that has been my dream all along. Artists for Humanity is a creative company located in Boston, Massacussets, United States.
This social company started in 1991 when Susan Rodgerson as Founder and Artistic Director met with youngsters in schools who have skills in the arts, especially painting. But they are not yet convinced of their ability to become one of the future careers.
Susan invites them, especially Rob Gibbs and Jason Talbot who are 14 and 15 years old to make the project together and produce. In the end they form the Artists for Humanity to accommodate, give the same place and opportunity for young people who have the same conditions with them.
Until now Artists for Humanity invites young people to work with mentors to create creative works to solve problems that exist in the environment and also meet client demand. Combining creative processes for social change and also helping to change lives financially for young people.
25 Years already, nearly 3,000 young people have already worked and reach up to 12,000 young people in arts and entrepreneurship activities. All come from schools in Boston, from different skin types, sex and various languages.
Every Tuesday through Thursday, young people, especially school children, once school starts from three to six o'clock, they can intern at Artists for Humanity. They make artwork, such as painting, collage, 3D, graphic design, video, and photos.
Later their work will be sold or rented to companies in need of art, and young people whose work is bought or rent will earn commissions. During the apprenticeship they will be accompanied by mentors, learning to produce works that have a decent quality to sell. Interestingly, the mentor here does not give instructions or orders, but invites young people to discuss and think scientifically, because the technique used STEAM (Science, Technology, Engineering and Mathematics).
In the process, Artists for Humanity not only helps financially young people in Boston, but also motivates them to solve their educational problems. Many are ultimately motivated to complete their education and move on to a higher level with positive motivation.
There are approximately 40 full-time workers in Artist for Humanity, from director, mentor, finance, management and development, 3D mentor, painting mentor, graphic design mentor, photography mentor and animation mentor. Everything is gathered with the power of dreams of a Susan. She said, "do something positive for others and pass it on, and magic will come."
In addition to studying, I have the opportunity to teach young people who are apprenticing in 3D Studio to get to know Aceh and Indonesia through Creative Class that I usually do with The Leader friends. We make Piyohtoys with kokoru paper material that I brought from Indonesia.
Susan see the Piyohtoys
They learned how to create personal characters with paper materials and get to know Indonesia through the characters that we created. And it turns out the work we make makes us know Indonesia and America closer. And interestingly, Susan, Director of Artists for Humanity and Rich Mark, Marketing Director is interested in the concept and is waiting for the sale of the product to the international network.
And this becomes our next homework, can we accept this challenge?
* Program Participants The Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Professional Fellows Economic Empowerment Fall 2017 represents Indonesia.

Jumat, 29 September 2017

Stiker Agam Inong Piyoh

Kali ini tidak hanya dalam bentuk soft copy, stiker Agam Inong ala Piyoh Design bisa didapat dalam bentuk Hard copy yang lucu, kamu bisa ditempel di mana aja. Stiker ini juga dalam proses pendaftaran di aplikasi Line, mohon doanya ya :)

Stiker Agam Inong Aceh

Minggu, 05 Maret 2017

Hijrah Saputra, Introducing an Empowering Hospitality



Hijrah Saputra and Mister Piyoh

Born and raised in sabang, the city at the western end of indonesia, Hijrah Saputra (32) was intrigued by the untapped tourism potentials in his hometown. the combination of the things he is interested in; graphic designing, marketing, and his academic background in urban planning, encourage him to promote positive change among local youth. Hijrah, or Heiji to his friends, began his mission in 2008 by building piyoh design, his graphic design start-up focusing on creating merchandises to promote tourism in sabang.

Among his products are mugs, key chains, stickers, flannel figurines wearing aceh traditional dresses, and t-shirts. The name “Piyoh” is inspired by a word in Acehnese that means ‘stopping by’, representing the local tradition to honor guests called peumulia jamee. not only a fitting choice of word for tourists coming over, piyoh has also become a
household name. chances are, if one has a t-shirt that says “i love aceh” or “i love sabang”, it might be made by Piyoh Design. for the alumnus of Urban and Regional Planning Department in Brawijaya University, Malang, East Java, the numerous issues in his hometown were his drive to make the most of what he is made of.

“I see that people, with their own abilities, can change their surroundings for better or worse. I call it the power of supercitizen. As the power is combined, we can complete each other and collaborate as a driving force for a better Indonesia,” says Heiji, who believes that every single person has their own purpose in the world, and for him, it is to foster the improvements in his hometown.

as his initial drive to make changes started from tourism, the son of Suradji Junus and Erwani Meutia stays true to the cause. since last october, he is serving at Laskar Nusantara as the coordinator for indonesia tourism ambassadors for western part of the country, which comprises the region from aceh to west java. he also has been contributing and illustrating for travelwan magazine since 2009, and previously designed the promotional tools for visit banda aceh campaign in 2011 by the city of Banda Aceh’s department of tourism and culture.

Furthermore, along with his fellow youth in aceh, in 2012 Heiji co-founded a youth organization called The Leader, to encourage positive changes in local youth. its activities include Dreammaker, to inspire them to make their dreams come true; Kelas Kreatif and Rumah Kreatif to promote creative thinking and actions; Ngobrol Inspiratif to serve as a hub for local youth and inspirational people; Sobat Buku to recommend must-read books for youth; and Aceh Luar Biasa to introduce inspirational young people who had made a difference.

On the other hand, he admits, the fact that plenty of young people in Aceh choose to complain about their surrounding without actually make any moves, made his ideas did not gain that much of support from even his friends. However, he is glad that, one of these days, some of his peers, who used to consider his thoughts to be pretty obscure, now wonder why they are not invited to contribute.

“I consider this as a positive change of mindset, because if they ask that, it shows that they care and are willing to make change. Many of them are also inspired to do social projects and offer their own version of solution for problems in the society,” explains Heiji, who earlier 2015 won the first prize for the Creative Economy sector of Marketeers of the Year by Markplus.

Over the years, Heiji has been leaving his mark as a changemaker in his hometown, and he intends to keep on doing so and not to stop learning new things. In ten years’ time, he hopes to be an entrepreneur who is not only successful in building his business empire, but also to be a man of value to inspire young people across the sea to be their own version of change-makers.

Finally, he highlights, that “It is not the time to make a change on our own, but to do so together.”