Rabu, 10 Januari 2018

Artists For Humanity, Cara Kreatif para Seniman Boston


Bekerja di Artists for Humanity beberapa bulan lalu menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi saya, karena bisa bekerja di perusahaan yang memiliki konsep kreatif yang menjadi impian saya selama ini. Artists for Humanity adalah perusahaan kreatif yang berada di Boston, Massacussets, Amerika Serikat.

Perusahaan sosial ini bermula pada 1991 ketika Susan Rodgerson sebagai Founder dan Artistic Director bertemu dengan anak-anak muda di sekolah yang memiliki kemampuan di bidang seni terutama melukis. Tetapi mereka belum yakin dengan kemampuan mereka bisa menjadi salah satu karier di masa depan.

Susan mengajak mereka, terutama Rob Gibbs dan Jason Talbot yang berumur 14 dan 15 tahun untuk membuat proyek bersama dan menghasilkan. Pada akhirnya mereka membentuk Artists for Humanity untuk mewadahi, memberi tempat dan kesempatan yang sama bagi anak-anak muda yang memiliki kondisi yang sama dengan mereka.

Hingga sekarang Artists for Humanity mengajak anak-anak muda bekerjasama dengan mentor untuk membuat karya-karya kreatif untuk menyelesaikan masalah yang ada di lingkungan dan juga memenuhi permintaan klien. Menggabung proses kreatif untuk perubahan sosial dan juga membantu perubahan hidup secara finansial untuk anak-anak muda.

25 Tahun sudah, hampir 3.000 anak muda yang sudah pernah berkerja dan menjangkau hingga 12.000 anak muda dalam kegiatan seni dan wirausaha. Semua berasal dari sekolah yang ada di Boston, dari berbagai jenis kulit, jenis kelamin dan berbagai bahasa.

Bareng Rob Gibbs, Mentor Painting
Setiap Selasa hingga Kamis, anak-anak muda terutama anak sekolah, begitu sekolah usai mulai pukul tiga hingga pukul enam sore, mereka bisa magang di Artists for Humanity. Mereka membuat karya seni, seperti lukisan, kolase, 3D, desain grafis, video, dan foto.

Nantinya hasil karya mereka akan dijual atau disewakan ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan karya seni, dan anak-anak muda yang karyanya dibeli atau disewa akan mendapatkan komisi. Selama magang mereka akan didampingi oleh mentor, belajar untuk menghasilkan karya-karya yang memiliki kualitas yang layak jual. Menariknya mentor di sini tidak memberikan instruksi atau perintah, tetapi mengajak anak-anak muda untuk diskusi dan berpikir secara ilmiah, karena yang digunakan adalah teknik STEAM (Science, Technology, Engineering and Mathematics).

Secara proses, Artists for Humanity tidak hanya membantu finansial anak-anak muda di Boston, tetapi juga memotivasi mereka untuk menyelesaikan masalah pendidikan mereka. Banyak yang akhirnya termotivasi untuk menyelesaikan pendidikan mereka dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dengan motivasi yang positif.

Ada kurang lebih 40 pekerja tetap yang ada di Artist for Humanity, mulai dari direktur, mentor, finansial, manajemen dan development, mentor 3D, mentor melukis, mentor desain grafis, mentor fotografi dan mentor animasi. Semuanya terkumpul dengan kekuatan mimpi dari seorang Susan. Dia berkata, "lakukan hal yang positif untuk orang lain dan menyebarkannya, dan keajaiban akan datang."

Selain belajar, saya dapat kesempatan mengajarkan anak-anak muda yang sedang magang di Studio 3D untuk mengenal Aceh dan Indonesia melalui Kelas Kreatif yang biasa saya lakukan dengan teman-teman The Leader. Kami membuat Piyohtoys dengan bahan kokoru paper yang saya bawa dari Indonesia.
Bersama anak-anak muda Boston dan Mentor di 3D Studio AFH
Mereka belajar bagaimana membuat karakter pribadi dengan bahan kertas dan mengenal Indonesia melalui karakter yang saya buat. Dan ternyata hasil karya yang kami buat membuat kami mengenal Indonesia dan Amerika lebih dekat. Dan yang menariknya, Susan, Direktur Artists for Humanity dan Rich Mark, Direktur Marketing tertarik dengan konsepnya dan menunggu untuk penjualan produk tersebut ke jaringan internasional, wow! jadi tambah semangat ini.

Minggu, 07 Januari 2018

Hijrah Saputra, Pemuda Kreatif yang Ingin Berbagi Aceh Dimana Saja

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Buat kamu penyuka gaya kasual, pasti sudah akrab dengan yang namanya kaos. Ya, fashion item sepanjang masa ini, memang cocok dibawa dalam keseharian. 
Bahannya yang nyaman dan modelnya yang sederhana, membuat para pecintanya sulit meninggalkannya. Menegaskan kesan muda bagi si pemakai. Timeless. Kaos memang tak ada matinya.
Daya tarik sepotong kaos juga menarik minat Hijrah Saputra, untuk menumpahkan kreativitasnya. Selain dilirik warga lokal, kaos dengan brand 'piyoh' ini juga banyak diincar wisatawan.

Tak heran, selain nyaman dipakai kaos desain Hijrah juga unik dengan mengusung berbagai tema dan karakter.

"Waktu balik ke Aceh saya dianggap orang aneh, bukan orang Aceh. Jadi saya pikir gimana caranya menganehkan orang Aceh," ujar Alumnus Jurusan Tata Kota Universitas Brawijaya Malang ini, saat dijumpai di distronya kawasan  Ulee Kareng, Banda Aceh itu, Selasa (2/1).
Berdiri sejak 2009, saat ini Piyoh mempunyai tiga outlet yang tersebar di Kota Banda Aceh dan Sabang. Mengandalkan kekhasan desain yang diaplikasikan pada kaos dan lainnya, Piyoh menawarkan produk berselera muda.

hijrah25
instagram.com/hijrah25

Penggunaan bahan baku berkualitas baik setara distro juga menjadi nilai tambah. "Kita membidik kalangan menengah ke atas sebagai segmen pasar. Kaos ini sekaligus sebagai branding wisata Aceh yang intinya bisa berbagi Aceh di mana aja," papar alumnus YSLEI 2017 ini.
Dibanderol mulai Rp 90 ribuan, kaos 'Piyoh' tersedia untuk unisex dengan pilihan lengan panjang, pendek, polo, hingga potongan syar'i. Menawarkan tema berbeda dalam setiap bulannya.
Di tangan Hijrah, kaos ini berceloteh tentang banyak hal, seperti 'Badboy go to hell, goodboy go to Sabang' hingga memuat konten lokal seperti 'bek jampok' dan 'eh malam'.
Selain kaos, di sini kamu juga bisa menemukan rupa-rupa gantungan kunci, magnet, stiker, dompet etnik, hingga parfum yang menebarkan aroma khas Aceh. Dibanderol mulai Rp 5 ribu saja per item. (rul)
Biodata:
Nama: Hijrah Saputra (Hijrah)
Tempat, tanggal lahir: Sabang, 25 September 1984
Pendidikan terakhir: S1 Tata Kota, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur
Instagram : @hijrah25
Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2018/01/06/hijrah-saputra-pemuda-kreatif-yang-ingin-berbagi-aceh-dimana-saja

Kamis, 23 November 2017

Hijrah Saputra, Anak Muda Ikut Bangkitkan Aceh Usai Tsunami

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO
Bencana tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 lalu membawa banyak perubahan pada kawasan ini. Selain mengembalikan struktur kota, juga memberdayakan masyarakat agar bangkit dan kembali membangun Tanah Rencong.

Hal inilah yang jadi perhatian Hijrah Saputra, seorang wirausahawan kreatif asal Sabang. Pada 2012 lalu, ia mendirikan komunitas The Leader yang menjadi wadah anak-anak muda untuk membangun Aceh melalui perubahan sosial.

“Bagaimana caranya anak-anak yang punya kekuatan, semangat dan tenaga untuk berkontribusi di daerahnya masing-masing,” kata Hijrah. “The Leader itu untuk membuat perkembangan diri sendiri, baru kemudian jadi contoh untuk orang lain.”
Hijrah Saputra. (Lentera Indonesia/Anggi Ramadhan)

Melalui komunitas tersebut, Hijrah dan anggota lainnya mengadakan berbagai kegiatan, seperti aksi sosial. Pendekatan juga dilakukan pada anak-anak Aceh yang menjadi generasi penerus Tanah Rencong. Salah satunya dengan mendongeng sebagai trauma healing untuk anak-anak korban tsunami.

“Anak-anak kan generasi selanjutnya. Kalau orangtua kan mungkin perubahannya agak susah. Tapi kalau anak-anak, lebih gampang masuk,” jelas Hijrah pada tim Lentera Indonesia. “Mereka bisa memahami potensi yang ada untuk Aceh ke depannya seperti apa.”
Hijrah Saputra. (Lentera Indonesia/Anggi Ramadhan)

Selain The Leader, Hijrah juga mengembangkan potensi wisata Aceh lewat pusat souvenir Piyoh. Cowok lulusan Teknik Planologi Universitas Brawijaya Malang ini memanfaatkan kemampuan desain grafisnya untuk membuat berbagai kreasi oleh-oleh khas Sabang, seperti kaos, jaket, mug dan stiker.

“Piyoh muncul sebagai media promosi pariwisata. Saya coba cari konten lokal di Aceh. Kemudian saya buat desain, dijadikan produk dan dipasarkan lewat Piyoh,” kata pria 30 tahun ini.
Hijrah Saputra. (Lentera Indonesia/Anggi Ramadhan)

Upayanya mengembangkan wisata Aceh juga dilakukan dengan mengadakan program paket wisata di Kampung Nusa, Kabupaten Aceh Besar. Hijrah mengembangkan konsep ekowisata sambil mengajak warga setempat untuk ikut berperan. Melalui program ini, peluang usaha masyarakat pun jadi lebih terbuka.

“Alhamdulillah, kami bisa bangkit dan mengembangkan desa kami lewat seni,” kata Mauliza Fajriana, salah satu warga Kampung Nusa.

Meski terbilang sukses, berbagai usaha Hijrah tidak langsung disetujui orangtuanya. Sebelumnya mereka berharap pria yang pernah menjadi ‘Agam Aceh’ ini akan bekerja sebagai pegawai negeri sipil.
Hijrah Saputra. (Lentera Indonesia/Anggi Ramadhan)

Tapi Hijrah membuktikan, kalau anak muda bisa berkontribusi bagi negara dan daerahnya dengan cara lain yang mereka sukai. Perubahan kecil yang dimulai dari diri sendiri, dapat membawa perubahan besar yang bermanfaat bagi sekitar.

“Untuk mengembangkan kota tidak harus dengan berada di kantoran. Tapi dengan membuat usaha kreatif, unik itu juga bisa membantu pengembangan kota,” kata Hijrah. 
“Kalau sudah kerja atau punya ide, jalanin aja. Tanpa harus mikir bakal gagal atau bakal jalan enggak, yang penting semangat.”

LENTERA INDONESIA NET | ANNISA PRATIWI

Sumber : https://netz.id/news/2017/09/10/00316/1016070917/hijrah-saputra-anak-muda-ikut-bangkitkan-aceh-usai-tsunami

Belajar Ekonomi Kreatif di Boston

Boston
HIJRAH SAPUTRA, pemilik Piyoh Design dan founder The-Leader.id, terpilih ikut Program The Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Profesional Fellows Economic Empowerment Fall 2017 mewakili Indonesia, melaporkan dari Boston, Amerika Serikat
SAYA berasal dari Sabang, ingin berbagi cerita tentang program yang sedang saya ikuti di Amerika Serikat (AS) sejak 10 Oktober-16 November 2017.

Program YSEALI Fully Funded (bebas biaya) ini merupakan inisiatif dari Presiden Amerika Serikat ke-44, Barack Obama yang ditujukan untuk para calon pemimpin muda di ASEAN. Tujuannya untuk mengasah kepemimpinan para profesional muda yang menekuni bidangnya, terutama di bidang ekonomi. Program ini juga dimaksudkan untuk memperkuat pemahaman antara negara ASEAN dengan Amerika, membuka peluang kerja sama dengan negara-negara lain, karena program ini sudah memiliki jejaring anak muda di seluruh dunia.Kami dipilih mewakili sepuluh negara ASEAN setelah melalui proses seleksi berkas dan wawancara. Setelah melewati seleksi sekitar 300 orang, sebanyak 31 fellows (penerima beasiswa) dari seluruh negara ASEAN terpilih untuk mengikuti program YSEALI Professional Fellow 2017 ini di AS.

Dari Indonesia, terpilih enam peserta, yaitu saya dari Aceh, Annisa Hasanah (Bogor), Muhammad Romdhoni (Bandung), Vidya Spay (Solo), Nazarudin (Makassar), dan Tisha Rumbewas (Jayapura).

Saya dikategorikan sebagai wirausaha muda kreatif dan seorang social entrepreneur dari kota paling barat Indonesia, Kota Sabang. Saya membuat desain dan produk kreatif untuk membantu perkembangan sektor pariwisata di Sabang, Banda Aceh, dan Provinsi Aceh secara umum. Saya juga termasuk ke dalam daftar 32 anak muda Indonesia yang memiliki pengaruh positif versi UNFPA tahun 2015.

Selain itu, saya memiliki organisasi kepemudaan yang bergerak untuk membantu anak-anak muda mengembangkan potensi dirinya dan mewujudkan mimpinya dengan program Dreammaker dan Dreammaker Institute. Saya juga aktif menulis dan membuat komunitas menulis positif tentang Aceh di Gam Inong Blogger.

Selaku fellow yang terpilih untuk menghabiskan waktu enam minggu di AS, kami disebar ke seluruh penjuru AS, mendapatkan satu worksite sebagai tempat belajar selama empat pekan, dan dua pekan lagi di Washington DC untuk orientasi dan kongres dengan seluruh peserta yang berasal dari berbagai belahan dunia.

Artists For Humanity Boston
American Council International Education selaku organizer dari Program YSEALI Professional Fellow menempatkan saya di Artists For Humanity, Boston, Massachusetts, AS. Salah satu perusahaan wirausaha kreatif sosial yang membantu anak-anak muda kreatif, terutama anak-anak sekolah tingkat atas di Boston, untuk terus berkarya dan membantu pendidikan mereka.

Selain itu, seluruh fellow tinggal dengan host family, orang AS, hal ini bertujuan untuk merasakan kehidupan masyarakat Amerika yang sesungguhnya dan juga bertukar kebudayaan antara negara ASEAN dengan Amerika Serikat.

Program ini memiliki konsep experience based learning, sehingga seluruh fellow harus berinisiatif tinggi dan aktif selama proses belajar yang nantinya akan berguna untuk melanjutkan pengembangan program yang sudah mereka jalankan di negara asal.

Selain mempelajari tentang ekonomi kreatif dan bisnis sosial, saya juga merasakan langsung tinggal dengan orang asli Amerika. Saya sangat berharap agar bisa memperkenalkan Sabang, Aceh, dan Indonesia kepada orang Amerika. Saya pikir, inilah kesempatan yang luar biasa bagi saya karena banyak sekali rumor jelek yang beredar tentang Aceh dan Indonesia, jadi ini kesempatan untuk menjelaskan dan memperkenalkan langsung kepada orang di Amerika bahwa kita ada dan punya potensi wisata yang bisa jadi pilihan untuk mereka kunjungi.

Saya juga berharap nantinya akan terbuka banyak kesempatan bagi anak-anak muda Aceh untuk belajar dan bekerja sama dengan Amerika Serikat. Semoga menjadi inspirasi dan motivasi bagi anak-anak muda Aceh dan Indonesia. Khusus bagi yang mau ikutan program ini tahun depan sudah dibuka kesempatannya hingga bulan ini. Silakan dicoba.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2017/11/11/belajar-ekonomi-kreatif-di-boston

Minggu, 05 November 2017

Volunteer Hours at Rosie's Place, Boston

Hi my name is Hijrah Saputra, from Aceh, Indonesia. I work as graphic designer at Piyoh Design and creative leader at The Leader that create creative program for children and youth in Aceh, Indonesia. I am a participant of the Professional Fellows Program, sponsored by the U.S. Department of State and administered by American Councils for International Education.

The Professional Fellows Program brings emerging leaders in the fields of legislative process and governance; civic engagement; NGO management; economic empowerment and entrepreneurship; and journalism from around the world to the United States for intensive fellowships designed to broaden their professional expertise. Participants spend approximately one month in the United States, during which they receive hands-on exposure to national legislative offices, state legislatures, local government offices, businesses, and non-profit organizations through carefully designed full-time fellowships.

I volunteered at  Rosie’s place. Rosie's Place was founded in 1974 as the first women’s shelter in the United States. Their mission is to provide a safe and nurturing environment that helps poor and homeless women maintain their dignity, seek opportunity and find security in their lives.

I worked in a dinning room to serve meals for about a hundred of homeless women around Boston. I worked on Friday November 3rd 2017 with another volunteers from Harvard and Boston University students, They are Cester, Kim, Alexa, and also another YSEALI Fellows, Seng Thong from Laos. It started at 10.30PM till 2.00AM. 
I and Seng prepare for the Bread and soup
I challenged myself into something I never thought that wasn’t for me, Served the homeless women and worked with a new person from another place randomly. Exciting! It’s an unforgettable moment in my life.

I definitely would recommend to youth to do the volunteer work, specially people who likes to helps the other. Life works in mysterious ways, Volunteer work think of as an exchange. The favors people has done for you in life, you are just returning it to a different activities. Everyone needs support or help at least one point of their life, might not be now but someday. So while you have the opportunity to give the help, might as well do it because tomorrow it might be you who is in need of that help.
My Self, Cester and Seng Thong
Thank for YSEALI and Rosie’s place for giving me unforgettable moment in Boston.