Kamis, 19 Maret 2020

Hijrah Saputra Terima Penghargaan dari Kampus di Jepang


BANDA ACEH - Desainer grafis asal Sabang, Aceh, yang juga pemilik Piyoh Design, Hijrah Saputra, mendapat penghargaan dari Kampus Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Jepang, Rabu, 8 Januari 2020. Ia mendapat penghargaan sebagai salah satu mahasiswa yang berkontribusi di kegiatan sosial. 
Penghargaan ini diadakan kampus dan diberikan kepada mahasiswa dan organisasi yang berkontribusi positif terhadap sosial, lingkungan, kebudayaan, olahraga, kesenian, pariwisata dan pendidikan.
Anak ke-3 dari pasangan Suradji Junus dan Erwani Meutia ini mendapatkan penghargaan karena kontribusinya mendesain produk di program Plushindo yang dilakukan kolaborasi bersama Tim Fingertalk, wirausaha sosial yang melakukan pemberdayaan teman-teman Tuli untuk menghasilkan produk kreatif yang juga membantu konservasi hewan-hewan langka di Indonesia.
Penghargaan ini menjadi kebanggaan bagi Hijrah. Dia tidak pernah menyangka, hasil karyanya mendapat perhatian dari pihak kampus. Harapannya ke depan bisa terus berkarya dan bisa membantu lebih banyak orang dengan desain-desain yang dibuatnya dan dana yang diberikan oleh pihak kampus.
Selain itu, Tim Fingertalk juga mendapat penghargaan khusus, Ritsumeikan Trust Award for Excellence in Extracurricular Activities. Penghargaan ini diberikan karena Tim Fingertalk yang digerakkan Dissa Syakina Ahdanisa, Hijrah Saputra dan Muhammad Rizqi Ariffi, terus aktif mengampanyekan semangat inklusi di Jepang dalam berbagai kegiatan.
Bersamaan dengan mereka ada mahasiswa lain yang juga mendapat penghargaan, Paykar Attaulah dari Afghanistan, Vincent dari Vietnam, Yasuda Kana dari Jepang dan Peter Ryan dari Indonesia.[](rilis)
Editor: portalsatu.com

Frozen 2 ala Piyoh

Frozen 2 udah beredar, karakter kedua saudara ini dibikin lebih menarik lagi hubungannya, dan inilah karakter mereka ala Piyoh Design.



Jumat, 06 September 2019

Puluhan Kaum Disabilitas Dilatih Bikin Kantong Boneka Lucu

KEBUMEN (kebumenekspres.com) - Sedikitnya 60 peserta mengikuti workshop pouch character atau pelatihan membuat dompet lucu bagi para penyandang disabilitas Kebumen. Para peserta pun antusias mengikuti kegiatan yang dilakukan di café dan workshop Roufa di Pejagoan Kebumen, Sabtu (31/8/2019) tersebut.

Kepala Dinas Sosial PPKB Kabupaten Kebumen, dr HA Dwi Budi Satrio mengatakan, kegiatan pelatihan pembuatan dompet lucu ini menghadirkan dua pemateri asal Jakarta. Masing-masing Dissa Syakina Ahdinisa, salah satu owner Deaf Cafe Fingertalk, dan Hijrah Saputra sebagai creative director of Plushindo.  Dalam kesempatan itu, para peserta dilatih dari tingkat dasar. Dari mulai membuat pola, menggunting hingga menjahit dan menyusun sebuah dompet lucu berbentuk boneka panda dan kucing.

Budi Satrio mengatakan, kegiatan ini tak lain untuk pengembangan kapasitas dari kaum difable. Harapannya, setelah mengikuti pelatihan, mereka punya kemampuan untuk bekerja secara mandiri.


Budi Satrio kembali menegaskan, pihaknya telah berkomitmen memberdayakan para penyandang disabilitas di Kota Beriman. Sebab, para penyandang disabilitas tak selalu identik dengan ketergantungan, mereka bisa mandiri.

Oleh karena itu, Budi Satrio mendorong masyarakat yang mempunyai anggota keluarga disabilitas agar memotivasinya untuk berkarya. "Mereka mungkin cacat secara fisik namun mereka memiliki segudang keahlian jika untuk dikembangkan seperti masyarakat normal lainnya," ujar Budi Satrio.

Sementara itu, Dissa Syakina Ahdinisa, mengatakan pelatihan ini sangat bermanfaat bagi peserta. Bukan hal yang sulit. Bahkan,  sudah banyak peserta yang mengikuti pelatihan dapat langsung berproduksi.

"Sebenarnya mereka bisa. Bahkan banyak dari peserta yang kami beri pelatihan jika sudah mahir sehari bisa memproduksi, 50 hingga 100 pics pouch," katanya di sela - sela acara.(fur)

Selasa, 27 Agustus 2019

Tim Fingertalk Indonesia Sabet Juara 1 Daigaku SDGs Action Award di Jepang

ACEHTREND.COM, Tokyo – Tim Fingertalk Indonesia yang terdiri atas Dissa Syakina Ahdanisa, Hijrah Saputra, dan Muhammad Rizqi Ariffi menyabet juara 1 Daigaku SDGs Action Award di Tokyo, Jepang. Tim ini terpilih menjadi salah satu dari 12 tim yang mempresentasikan idenya di depan dewan juri di Tokyo pada 20 Februari 2019.
Grand Prix Daigaku SDGs Action Awards 2019 Asahi Shimbun Japan
Dissa Syakina Ahdanisa melalui keterangan tertulis yang diterima aceHTrend mengatakan, Tim Fingertalk merupakan satu-satunya tim yang berasal dari Indonesia.
“Daigaku SDGs Action Award adalah program yang diadakan oleh perusahaan media cetak terbesar di Jepang, Asahi Shimbun, untuk mahasiswa-mahasiswa yang memiliki ide untuk membantu mendukung program-program Sustainable Development Goals (SDGs). 
SDGs adalah kesepakatan pembangunan baru yang mendorong perubahan-perubahan ke arah pembangunan berkelanjutan berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan untuk mendorong pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup.
SDGs diberlakukan dengan prinsip-prinsip universal, integrasi, dan inklusif untuk meyakinkan bahwa tidak akan ada seorang pun yang terlewatkan.  Memiliki 17 tujuan, seperti pemberantasan kemiskinan, tanpa kelaparan, kehidupan yang sehat dan sejahtera, pendidikan yang berkualitas, kesetaraan gender, air bersih dan sanitasi yang layak, energi bersih dan terjangkau, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, industri, inovasi dan infrastruktur, berkurangnya kesenjangan, kota dan permukiman yang berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, aksi untuk perubahan iklim, konservasi ekosistem laut, konservasi ekosistem darat, perdamaian keadilan dan kelembagaan yang tangguh dan kemitraan untuk mencapai tujuan. 
“Tim Fingertalk terpilih dengan membawa pesan dari teman-teman tuli (tunarungi) yang berada di Indonesia. Selama ini Fingertalk fokus untuk pemberdayaan pemuda-pemuda yang memiliki kebutuhan khusus seperti tuli dan disabilitas lainnya,” kata Dissa, Kamis (21/2/2019).
Bersama dengan Tim Fingertalk telah membuka empat buah kafe yang semua pekerjanya merupakan tunarungu dan penyandang disabilitas lainnya. Tidak hanya kafe, Fingertalk juga membuka carwash dan workshop untuk membuat boneka satwa langka Indonesia.
Setelah presentasi di depan 10 juri, Tim Fingertalk berhasil terpilih sebagai pemenang utama, Fingertalk dipilih karena memiliki produk yang unik, tujuan yang jelas, dan membawa pesan inklusi dari dari Indonesia.
Atas pencapaian tersebut, Tim Fingertalk mendapat hadiah uang sebesar 500.000 yen, yang digunakan untuk pengembangan produk boneka satwa langka Indonesia. Hadiah diberikan langsung oleh Ichiro Ishida, Direktur Marketing Strategy The Asahi Shimbun Japan. 
“Tim Fingertalk berharap semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya dan menjalankan hidup,” kata Dissa.[]
Sumber : AcehTrend
Editor : Ihan Nurdin

Plushindo Juarai Kompetisi Wirausaha Sosial di Jepang

Liputan6.com, Jakarta Anak-anak muda asal Indonesia berhasil menjuarai kompetisi wirausaha sosial yang digelar di Jepang. Presentasi tentang upaya pemberdayaan komunitas tuli di Indonesia membuat tiga anak muda asal Indonesia menjuarai Daigaku SDGs Action Award 2019 pada 20 Februari 2019 di Tokyo.

Dissa Syakina Ahdanisa, Hijrah Saputra, dan Muhammad Rizqi Ariffi dari Tim Fingertalk mempresentasikan program Plushindo. Ini adalah program pemberdayaan komunitas tuli atau tuna rungu Indonesia untuk membuat produk boneka yang membantu konservasi hewan langka Indonesia.


Dissa, Hijrah, Rizqi mempresentasikan program tersebut di hadapan juri setelah berhasil melewati tahap seleksi berkas dan wawancara via telepon. Siapa sangka, program Plushindo yang mereka presentasikan di depan 10 juri yang berasal dari The Asahi Shimbun, JAL, Sumitomo Metal Mining dan JICA bisa menang.

Program yang digagas tiga anak muda yang sedang kuliah di Negeri Sakura ini berhasil mengalahkan tim-tim lain dari universitas-universitas ternama Jepang. Termasuk mengalahkan tim yang berasal dari Tokyo University, Kindai University dan Kyushu University.

"Kami tidak menyangka bisa memenangkan lomba ini, kami hanya berharap bisa menyuarakan teman-teman Tuli terutama di Indonesia bisa setara dan mendapat kesempatan yang sama dengan teman-teman yang lain," tutur Hijrah dalam pesan teks dengan Liputan6.com ditulis Rabu (27/7/2019).

Hadiah 500 ribu yen


Berhasil menjadi juara 1, Tim Fingertalk diganjar dengan hadiah sebesar 500.000 yen atau setara dengan Rp631.900.000 (kurs Rp126,38/JPY per Selasa 26 Februari 2019).

Uang ini digunakan untuk pengembangan produk boneka satwa langka Indonesia. 

Daigaku SDGs Action Award adalah program yang diadakan oleh perusahaan media cetak terbesar di Jepang, Asahi Shimbun, untuk mahasiswa yang kuliah di Jepang dengan ide untuk mendukung program-program Sustainable Development Goals (SDGs).

Sebelum ada lomba ini, tiga anak muda ini sudah memiliki langkah nyata membantu memberdayakan orang tuli di Indonesia.

Bersama dengan tim Fingertalk lainnya, telah membuka empat buah cafe yang semua pekerjanya adalah teman-teman tuli dan penyandang disabilitas lainnya.

Tidak hanya berpusat di Tangerang Selatan, Fingertalk juga membantu teman-teman yang lain untuk menjalankan kafe di Poso, Sulawesi Tengah dan Kebumen, Jawa Tengah.

Sumber : Liputan 6