Senin, 02 April 2018

Ketika Bang Andy F Noya Menjadi Penasehat Pernikahan

Alhamdulillah ada banyak sekali hal yang saya syukuri ketika menikah, salah satunya tulisan yang dibuat oleh Mas Gapey, salah satu orang yang secara tidak sengaja mempertemukan saya dengan Dissa.
Tulisannya yang lengkap dan menarik ini, sengaja saya posting ulang di blog saya untuk menjadi dokumentasi pribadi, terimakasih Mas Gapey, untuk teman-teman yang ingin melihat tulisan aslinya bisa dilihat di sini, selamat membaca :)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Andy Noya memang punya ciri yang serius tapi santai ketika menjadi host "Kick Andy" di MetroTV. Dalam setiap talkshow-nya, empunya nama lengkap Andy Flores Noya ini sukses menginspirasi banyak orang karena narasumber penuh talenta yang dihadirkan. Talkshow-nya pun dinilai banyak orang menggairahkan semangat berkarya, memberikan edukasi sambil memaparkan fakta.
Selain itu, pria kelahiran Surabaya, 6 November 1960 ini terbilang cerdas dan seru dalam mengajukan pertanyaan, serta memandu acara secara rileks. Kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku tetap menjadi formal karena ada dasi yang tak pernah ketinggalan. Si plontos yang pernah menjadi wartawan TempoBisnis IndonesiaMatraMedia IndonesiaRCTI dan MetroTV ini "TOP - BGT" sebagai host.
Kepiawaian memandu talkshow yang didasari pengalaman banyak mewawancarai orang jugalah yang membuatnya berhasil memboyong Panasonic Gobel Awards untuk kategori individu sebagai Presenter Talkshow selama dua tahun berturut-turut, 2010 dan 2011.
Hijrah dan Dissa, menempuh hidup baru. (Foto: Gapey Sandy)
Hijrah dan Dissa, menempuh hidup baru. (Foto: Gapey Sandy)
Masalahnya sekarang, bisakah Anda bayangkan, bagaimana kalau Andy F Noya menjadi "penasihat" pernikahan?
Apakah masih dengan gayanya yang serius tapi santai?
Materi apa yang disampaikan suami dari Retno Palupi Noya ini kepada pasangan pengantin?
Hahahaaaa ... ternyata gaya Bang Andy, begitu ia saya sapa, masih saja sama. Melucu tapi sambil serius.
Para pengiring mempelai pengantin adalah kawan-kawan Hijrah dan Dissa dari berbagai negara. (Foto: Gapey Sandy)
Para pengiring mempelai pengantin adalah kawan-kawan Hijrah dan Dissa dari berbagai negara. (Foto: Gapey Sandy)
Adalah pernikahan sakral antara Hijrah Saputra dan Dissa Syakina Ahdanisa yang saya hadiri sebagai undangan. Resepsinya digelar pada Minggu, 18 Februari 2018 kemarin di Auditorium Manggala Wanabakti, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta.
Dissa adalah sahabat saya. Beberapa kali Dissa juga jadi narasumber tulisan saya. Untuk lebih mengenal Dissa, silakan klik tulisan berikut ini:
Kedua tulisan ini sempat nangkring jadi HEADLINE.
Pernikahan Hijrah dan Dissa. (Foto: Gapey Sandy)
Pernikahan Hijrah dan Dissa. (Foto: Gapey Sandy)
Pada acara resepsi pernikahan Hijrah dan Dissa ini, acara dimulai tepat waktu, jam 7 malam. Tamu undangan yang sudah hadir di dalam auditorium mulai berkerumun sepanjang karpet merah yang digelar untuk lintasan iring-iringan mempelai pengantin, kedua orang tua masing-masing beserta keluarga besarnya. Busana adat Melayu yang mereka kenakan seirama dengan dekorasi pelaminannya.
Mempelai pengantin beserta rombongan mulai bergerak dari lobby memasuki ruang auditorium. Pengiring paling depan adalah barisan "pagar ayu dan pagar bagus" yang tak lain adalah rekan-rekan Hijrah juga Dissa. Selain dari Indonesia, mereka juga ada yang datang dari Selandia Baru, Jepang, dan lainnya. Tampak pula tamu kehormatan dari Kedubes Selandia Baru di Indonesia. Tak aneh, acara dibawakan dengan dwibahasa, Bahasa Indonesia dan Inggris. 
Saya mengenali wajah Nuraishah Binte Rashid ada di barisan pengiring mempelai itu. Nama panggilannya Aishah. Profesinya adalah desainer, dan ia berasal dari Malaysia. Aishah adalah sahabat karib Dissa ketika sama-sama bersekolah dulu. Nah, Aishah inilah yang menciptakan logo cafe tunarungu atau Deaf CafeFingertalk.
Sesudah barisan pengiring mempelai melintas dan mengambil posisi sebagai "pagar" di sisi kiri dan kanan karpet merah, giliran sejumlah penari adat bergerak lincah dan dinamis. Mereka menarikan Tari Sekapur Sirih secara rancak. Tarian ini melambangkan persatuan kedua mempelai dalam adat Melayu. Posisi para penari, persis di depan kedua mempelai, sambil terus membimbing mempelai dan rombongan menuju ke arah panggung pelaminan yang gemerlap, paduan harmonis antara warna emas, perak dan sinar lampu ungu yang berpendar cantik.
o o o o o
Pernikahan Hijrah dan Dissa, 18 Februari 2018. (Foto: Gapey Sandy)
Pernikahan Hijrah dan Dissa, 18 Februari 2018. (Foto: Gapey Sandy)
Setelah kedua mempelai pengantin duduk di kursi pelaminan, begitu pun kedua orang tua masing-masing, para tamu hadirin disuguhkan persembahan satu tarian daerah. Dilanjutkan dengan sambutan sekaligus penyampaian "nasihat" pernikahan oleh Andy F Noya. Penutup rangkaian acara, sebelum para tamu VIP dan hadirin satu per satu naik ke panggung pelaminan untuk memberikan salam dan ucapan selamat, adalah pembacaan doa.
Saya sendiri cukup terkejut ketika pembawa acara memanggil nama Andy F Noya ke atas panggung, untuk memberikan sambutan secara formal demi mewakili kedua pihak keluarga. Ternyata, acara memang disusun ringkas. Tak ada sambutan yang berpanjang-panjang dari perwakilan keluarga pengantin pria maupun wanita. Cukup Andy F Noya yang menjadi penguasa panggung dalam menyampaikan petatah-petitih.
Andy F Noya menuju panggung dengan gaya jalannya yang sudah sama-sama kita kenal di layar kaca. Perlahan tapi mantap. Pria yang akrab dengan dunia teknik karena pernah sekolah di Sekolah Teknik Jayapura dan melanjutkan ke STM Jayapura ini mengenakan jas safari formal warna biru tua yang membalut kemeja biru tua dengan selipan dasi. Sepatunya hitam licin mengilat.
Andy F Noya melucu ketika menyampaikan nasehat pernikahan. (Foto: Gapey Sandy)
Andy F Noya melucu ketika menyampaikan nasehat pernikahan. (Foto: Gapey Sandy)
Berdiri di sisi kanan panggung pelaminan atau pada posisi tempat duduk kedua orang tua Dissa (Dwipa Oktafoma dan Lisma D Oktafoma), Andy F Noya memulai sambutan sekaligus "nasehat" pernikahan teruntuk Hijrah & Dissa.
"Selamat malam. Selamat datang di acara Kick Andy," ujar Andy F Noya yang kontan saja membuat kedua mempelai dan seluruh yang hadir tergelak tawa.
Andy melanjutkan, dirinya merasa senang sekali dan merasa terhormat dapat menjadi bagian dari keluarga besar kedua mempelai pengantin. "Kita semua yang hadir di sini, pada hari yang berbahagia ini, melihat sekaligus menjadi saksi terpautnya dua hati yang kemudian diikrarkan menjadi satu dalam mahligai perkawinan yang sakral ini," tuturnya.
Selain itu, ujar Andy, ada hal yang paling penting di mana seluruh hadirin melihat sendiri bahwa ada dua individu yang unik, dua individu yang kelihatannya berbeda, tetapi memiliki satu kepribadian yang sama.
"Karena saya mengenal Dissa sebagai pribadi yang periang, ceria, enggak pernah sedih, kayaknya sih. Dan, bermurah hati, ringan tangan, selalu mau membantu orang, juga kaya dengan gagasan-gagasan kemanusiaan. Untuk itu, kalau ada pria yang bisa meluluhkan hati Dissa, berarti pria itu istimewa sekali. Kita yakin, siapa pun pria itu pasti dia orang yang hebat dan spesial. Saya sendiri baru pertama kali bertemu dengan Hijrah, tapi saya sudah 'jatuh hati' sama dia. Kepribadian Hijrah ini baik," urai Andy yang kembali disambut tepuk tangan hadirin.
Jadi ini adalah dua anak muda yang saya pikir akan membawa perubahan besar kepada bangsa Indonesia, ujar Andy, bukan sekadar untuk keluarga mereka semata. "Tapi Hijrah dan Dissa adalah dua pribadi yang selalu berpikir bagaimana melakukan hal besar untuk kemajuan bangsa Indonesia. Terima kasih untuk Hijrah dan Dissa. Luar biasa!" tegas Andy.
Andy F Noya menyampaikan sambutan dan nasehat pernikahan. (Foto: Gapey Sandy)
Andy F Noya menyampaikan sambutan dan nasehat pernikahan. (Foto: Gapey Sandy)
Setiap melihat ada dua hati yang terpaut, kata Andy, selalu saja dirinya ingin mengingatkan bahwa bukan hal yang baik-baik saja yang harus diterima dari masing-masing pasangan. Tetapi kekurangan masing-masing juga harus diterima secara ikhlas.
"Jangan sampai ada cerita, mendekati usia perkawinan yang hampir mencapai 30 tahun, ketika istrinya hendak meminta izin untuk berenang. Suaminya bertanya, untuk apa berenang? Sang istri menjawab, ya mau berenang karena badan ini terlihat semakin bertambah gemuk, dan ingin jadi langsing lagi. Tetapi, sang suami malah menjawab, sudahlah enggak usah berenang, lihat saja itu Ikan Paus berenang setiap hari tetapi badannya juga tidak langsing-langsing," urai Andy yang langsung disambut gelak tawa hadirin.
Ya, ketika menyampaikan sambutan sekaligus "nasihat" pernikahan, Andy F Noya malah bergaya stand up comedy, melucu sudah menjadi bagian dari gaya khasnya.
Andy melanjutkan "nasihat" pernikahannya lagi.
ANdy F Noya ketika sampaikan nasehat pernikahan. (Foto: Gapey Sandy)
ANdy F Noya ketika sampaikan nasehat pernikahan. (Foto: Gapey Sandy)
Kalau tadi ada cerita tentang istri yang pamit ingin berenang supaya langsing, tutur Andy, sebaliknya ada juga kisah tentang suami yang meminta kepada istrinya untuk dibelikan buah-buahan. Ketika sang suami minta dibelikan buah-buahan itulah, istrinya justru malah sedikit terkejut dan bertanya, untuk apa beli buah-buahan? Sang suami pun menjawab, buah-buahan itu kata orang bagus untuk wajah, sehat untuk kulit, bisa bikin sehat dan juga ceria. Sehingga, pasti bikin tambah ngganteng.
Mendengar alasan sang suami terkait permintaannya yang ingin dibelikan buah-buahan seperti itu, ujar Andy, kemudian sang istri malah berkata, sudahlah suamiki, enggak usah beli dan makan buah-buahan. 'Karena itu kera, setiap hari juga makan buah, dan tidak ada perubahan pada wajah, kulit dan semuanya'," ujar Andy disambut senyum hadirin.
Menutup "nasihat" pernikahannya, Andy menyampaikan doa agar kedua mempelai pengantin menjalani pernikahan yang langgeng. "Kita berdoa, semoga apa yang kita saksikan hari ini, antara Hijrah dan Dissa pernikahannya langgeng, sampai anak cucu juga cicit. Selamat berbahagia, doa kami untuk kalian berdua," ujar Andy.
Hahahaaa ... Hijrah dan Dissa pasti tidak akan pernah melupakan "nasihat" pernikahan model begini. 
Oh ya, lima hari sesudah pernikahannya, Dissa kembali memperoleh prestasi yang semakin melengkapi kebahagiaan hatinya. Apa itu? Ya, pada tayangan edisi spesial "Kick Andy", Jumat 23 Februari 2018 kemarin, saya menyaksikan sendiri bagaimana Dissa terpilih menjadi satu dari lima peraih Anugerah Gantari (Gantari Award).
Ini adalah penghargaan yang diberikan kepada para disabilitas inspiratif dan orang yang peduli kepada kaum disabilitas. Anugerah Gantari 2018 ini merupakan kali kedua ajang penghargaan yang digagas bersama antara Kick Andy Foundation bersama PT Telkom Indonesia Tbk.
Dissa terpilih sebagai orang yang peduli kepada kaum disabilitas, dengan mendirikan Deaf Cafe Fingertalk lalu Deaf Car Wash. [Tayangannya, tonton di sini]
Selain menerima trophy Gantari Award, Dissa juga berhak atas uang tunai senilai Rp 50 juta dari PT Telkom Indonesia Tbk.
Dissa ketika menerima satu dari lima Gantari Award 2018. (Foto: metrotvnews.com)
Dissa ketika menerima satu dari lima Gantari Award 2018. (Foto: metrotvnews.com)
Dissa menyampaikan sambutan dengan lisan dan gerakan isyarat untuk kaum tunarungu. (Foto: metrotvnews.com)
Dissa menyampaikan sambutan dengan lisan dan gerakan isyarat untuk kaum tunarungu. (Foto: metrotvnews.com)
Akhirnya, dobel-dobel nih ucapan selamatnya untuk Dissa.
"Selamat menempuh hidup baru dan selamat berhasil meraih Anugerah Gantari 2018."
Seperti juga yang disampaikan Andy F Noya ketika saya mintakan pendapatnya terkait pernikahan Hijrah dan Dissa, diharapkan dua orang hebat yang bersatu dalam ikatan janji agung pernikahan ini bisa melahirkan hasil-hasil yang lebih hebat lagi. "Teruslah berbuat baik," begitu pesan Andy F Noya untuk Hijrah dan Dissa. (*)

Minggu, 01 April 2018

Banua Momberata, Rumah Pertemuan Inklusi Pertama di Indonesia Timur

Peserta Workshop Iklusi di Banua Momberata
Banua Momberata Poso bersama dengan pemerintah daerah kini tengah membantu kaum tuli atau tuna rungu yang ada di wilayah Sulawesi Tengah yang dimulai dari Kabupaten Poso.

Banua Momberata sendiri dalam Bahasa Daerah Poso, berarti "Rumah/Ruang bertemu", jadi Banua Momberata adalah sebuah rumah pertemuan inklusif pertama di Poso yang diinisiasi oleh Fingertalk dengan mengolaborasikan konsep cafe dan community workspace yang menjadi ruang belajar dan tempat bertemunya masyarakat lintas komunitas untuk membangun jembatan interaksi bagi kaum hearing dan deaf yang mendorong pembangunan berkeadilan di Kabupaten Poso.

Untuk mengoptimalkan wadah pengembangan bagi kalangan penyandang disabilitas, khususnya penyandang tuna rungu, para penggiat yang tergabung dalam Banua Momberata menggelar workshop dengan mengangkat tema "Pembangunan Inklusi Mewujudkan Poso sebagai Kota Cerdas."

Workshop yang digelar sehari penuh pada Rabu (28/3/2018) itu, menghadirkan sejumlah aktivis yang berpengalaman dalam memperjuangkan hak-hak para penyadang tuna rungu, tampak juga hadir selaku peserta worshop dari kalangan Pemerintah Daerah Poso, seperti Dinas Sosial, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Koperindag dan UKM, camat, Ikatan Duta Wisata Ongga Bale Poso serta sejumlah kalangan pemerhati sosial dan lingkungan.

Dalam kegiatan ini menghadirkan fasilitator ternama seperti, Dissa Ahdanisa, Owner sekaligus Founder Fingertalk Deaf café Pamulang yang juga sosok muda inspiratif penerima Gantari Award dari Kick Andy Show, Alumni program YSEALI di Amerika Serikat, salah satu pemuda yang mendapat apresiasi khusus dari Barack Obama, Presiden Amerika Serikat yang ke-44, karena inisiasi cerdasnya membangun kewirausahaan sosial untuk pemberdayaan kaum tuli/tuna rungu di Indonesia.

Sementara fasilitator lain yang hadir dalam kegiatan tersebut antara lain, Hijrah Saputra, seorang Pengusaha Muda Kreatif dari Provinsi Aceh, owner Piyoh Design, Kaos Piyoh dan Mister Piyoh yang juga sebagai pendiri organisasi pemuda bernama The Leader. Gunawan, tokoh muda social dari Sikola Mombini dan juga owner Mie Kuncrut. Ali Wafa,  Manajer Finger Talk Café, Deaf Café & Car Wash Pamulang dan Depok yang juga aktif sebagai pengajar kelas Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Arman, teman tuli yang merupakan salah satu Barista Deaf Indonesia, dan Anwar Sutarman, selaku manajer Banua Momberata.
 


Banua Momberata menyatakan kalau tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mensosialisasikan program Banua Momberata kepada para pemangku kebijakan dan meminta masukan untuk pelaksanaan program ini kedepan, juga membangun ruang kolaborasi antar pemangku kebijakan untuk membangun Poso yang lebih inklusi, serta menjadikan Banua Momberata sebagai contoh ruang pertemuan inklusi pertama di Poso dan di Indonesia Timur.
Lokasi Banua Momberata
Sumber tulisan : https://sultengraya.com/56492/bm-poso-dan-pemda-bantu-penyandang-tuna-rungu/

Rabu, 10 Januari 2018

Artists For Humanity, Cara Kreatif para Seniman Boston


Bekerja di Artists for Humanity beberapa bulan lalu menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi saya, karena bisa bekerja di perusahaan yang memiliki konsep kreatif yang menjadi impian saya selama ini. Artists for Humanity adalah perusahaan kreatif yang berada di Boston, Massacussets, Amerika Serikat.

Perusahaan sosial ini bermula pada 1991 ketika Susan Rodgerson sebagai Founder dan Artistic Director bertemu dengan anak-anak muda di sekolah yang memiliki kemampuan di bidang seni terutama melukis. Tetapi mereka belum yakin dengan kemampuan mereka bisa menjadi salah satu karier di masa depan.

Susan mengajak mereka, terutama Rob Gibbs dan Jason Talbot yang berumur 14 dan 15 tahun untuk membuat proyek bersama dan menghasilkan. Pada akhirnya mereka membentuk Artists for Humanity untuk mewadahi, memberi tempat dan kesempatan yang sama bagi anak-anak muda yang memiliki kondisi yang sama dengan mereka.

Hingga sekarang Artists for Humanity mengajak anak-anak muda bekerjasama dengan mentor untuk membuat karya-karya kreatif untuk menyelesaikan masalah yang ada di lingkungan dan juga memenuhi permintaan klien. Menggabung proses kreatif untuk perubahan sosial dan juga membantu perubahan hidup secara finansial untuk anak-anak muda.

25 Tahun sudah, hampir 3.000 anak muda yang sudah pernah berkerja dan menjangkau hingga 12.000 anak muda dalam kegiatan seni dan wirausaha. Semua berasal dari sekolah yang ada di Boston, dari berbagai jenis kulit, jenis kelamin dan berbagai bahasa.

Bareng Rob Gibbs, Mentor Painting
Setiap Selasa hingga Kamis, anak-anak muda terutama anak sekolah, begitu sekolah usai mulai pukul tiga hingga pukul enam sore, mereka bisa magang di Artists for Humanity. Mereka membuat karya seni, seperti lukisan, kolase, 3D, desain grafis, video, dan foto.

Nantinya hasil karya mereka akan dijual atau disewakan ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan karya seni, dan anak-anak muda yang karyanya dibeli atau disewa akan mendapatkan komisi. Selama magang mereka akan didampingi oleh mentor, belajar untuk menghasilkan karya-karya yang memiliki kualitas yang layak jual. Menariknya mentor di sini tidak memberikan instruksi atau perintah, tetapi mengajak anak-anak muda untuk diskusi dan berpikir secara ilmiah, karena yang digunakan adalah teknik STEAM (Science, Technology, Engineering and Mathematics).

Secara proses, Artists for Humanity tidak hanya membantu finansial anak-anak muda di Boston, tetapi juga memotivasi mereka untuk menyelesaikan masalah pendidikan mereka. Banyak yang akhirnya termotivasi untuk menyelesaikan pendidikan mereka dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dengan motivasi yang positif.

Ada kurang lebih 40 pekerja tetap yang ada di Artist for Humanity, mulai dari direktur, mentor, finansial, manajemen dan development, mentor 3D, mentor melukis, mentor desain grafis, mentor fotografi dan mentor animasi. Semuanya terkumpul dengan kekuatan mimpi dari seorang Susan. Dia berkata, "lakukan hal yang positif untuk orang lain dan menyebarkannya, dan keajaiban akan datang."

Selain belajar, saya dapat kesempatan mengajarkan anak-anak muda yang sedang magang di Studio 3D untuk mengenal Aceh dan Indonesia melalui Kelas Kreatif yang biasa saya lakukan dengan teman-teman The Leader. Kami membuat Piyohtoys dengan bahan kokoru paper yang saya bawa dari Indonesia.
Bersama anak-anak muda Boston dan Mentor di 3D Studio AFH
Mereka belajar bagaimana membuat karakter pribadi dengan bahan kertas dan mengenal Indonesia melalui karakter yang saya buat. Dan ternyata hasil karya yang kami buat membuat kami mengenal Indonesia dan Amerika lebih dekat. Dan yang menariknya, Susan, Direktur Artists for Humanity dan Rich Mark, Direktur Marketing tertarik dengan konsepnya dan menunggu untuk penjualan produk tersebut ke jaringan internasional, wow! jadi tambah semangat ini.

Minggu, 07 Januari 2018

Hijrah Saputra, Pemuda Kreatif yang Ingin Berbagi Aceh Dimana Saja

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Buat kamu penyuka gaya kasual, pasti sudah akrab dengan yang namanya kaos. Ya, fashion item sepanjang masa ini, memang cocok dibawa dalam keseharian. 
Bahannya yang nyaman dan modelnya yang sederhana, membuat para pecintanya sulit meninggalkannya. Menegaskan kesan muda bagi si pemakai. Timeless. Kaos memang tak ada matinya.
Daya tarik sepotong kaos juga menarik minat Hijrah Saputra, untuk menumpahkan kreativitasnya. Selain dilirik warga lokal, kaos dengan brand 'piyoh' ini juga banyak diincar wisatawan.

Tak heran, selain nyaman dipakai kaos desain Hijrah juga unik dengan mengusung berbagai tema dan karakter.

"Waktu balik ke Aceh saya dianggap orang aneh, bukan orang Aceh. Jadi saya pikir gimana caranya menganehkan orang Aceh," ujar Alumnus Jurusan Tata Kota Universitas Brawijaya Malang ini, saat dijumpai di distronya kawasan  Ulee Kareng, Banda Aceh itu, Selasa (2/1).
Berdiri sejak 2009, saat ini Piyoh mempunyai tiga outlet yang tersebar di Kota Banda Aceh dan Sabang. Mengandalkan kekhasan desain yang diaplikasikan pada kaos dan lainnya, Piyoh menawarkan produk berselera muda.

hijrah25
instagram.com/hijrah25

Penggunaan bahan baku berkualitas baik setara distro juga menjadi nilai tambah. "Kita membidik kalangan menengah ke atas sebagai segmen pasar. Kaos ini sekaligus sebagai branding wisata Aceh yang intinya bisa berbagi Aceh di mana aja," papar alumnus YSLEI 2017 ini.
Dibanderol mulai Rp 90 ribuan, kaos 'Piyoh' tersedia untuk unisex dengan pilihan lengan panjang, pendek, polo, hingga potongan syar'i. Menawarkan tema berbeda dalam setiap bulannya.
Di tangan Hijrah, kaos ini berceloteh tentang banyak hal, seperti 'Badboy go to hell, goodboy go to Sabang' hingga memuat konten lokal seperti 'bek jampok' dan 'eh malam'.
Selain kaos, di sini kamu juga bisa menemukan rupa-rupa gantungan kunci, magnet, stiker, dompet etnik, hingga parfum yang menebarkan aroma khas Aceh. Dibanderol mulai Rp 5 ribu saja per item. (rul)
Biodata:
Nama: Hijrah Saputra (Hijrah)
Tempat, tanggal lahir: Sabang, 25 September 1984
Pendidikan terakhir: S1 Tata Kota, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur
Instagram : @hijrah25
Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2018/01/06/hijrah-saputra-pemuda-kreatif-yang-ingin-berbagi-aceh-dimana-saja

Kamis, 23 November 2017

Hijrah Saputra, Anak Muda Ikut Bangkitkan Aceh Usai Tsunami

EDITOR : YAYAN SUPRIYANTO
Bencana tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 lalu membawa banyak perubahan pada kawasan ini. Selain mengembalikan struktur kota, juga memberdayakan masyarakat agar bangkit dan kembali membangun Tanah Rencong.

Hal inilah yang jadi perhatian Hijrah Saputra, seorang wirausahawan kreatif asal Sabang. Pada 2012 lalu, ia mendirikan komunitas The Leader yang menjadi wadah anak-anak muda untuk membangun Aceh melalui perubahan sosial.

“Bagaimana caranya anak-anak yang punya kekuatan, semangat dan tenaga untuk berkontribusi di daerahnya masing-masing,” kata Hijrah. “The Leader itu untuk membuat perkembangan diri sendiri, baru kemudian jadi contoh untuk orang lain.”
Hijrah Saputra. (Lentera Indonesia/Anggi Ramadhan)

Melalui komunitas tersebut, Hijrah dan anggota lainnya mengadakan berbagai kegiatan, seperti aksi sosial. Pendekatan juga dilakukan pada anak-anak Aceh yang menjadi generasi penerus Tanah Rencong. Salah satunya dengan mendongeng sebagai trauma healing untuk anak-anak korban tsunami.

“Anak-anak kan generasi selanjutnya. Kalau orangtua kan mungkin perubahannya agak susah. Tapi kalau anak-anak, lebih gampang masuk,” jelas Hijrah pada tim Lentera Indonesia. “Mereka bisa memahami potensi yang ada untuk Aceh ke depannya seperti apa.”
Hijrah Saputra. (Lentera Indonesia/Anggi Ramadhan)

Selain The Leader, Hijrah juga mengembangkan potensi wisata Aceh lewat pusat souvenir Piyoh. Cowok lulusan Teknik Planologi Universitas Brawijaya Malang ini memanfaatkan kemampuan desain grafisnya untuk membuat berbagai kreasi oleh-oleh khas Sabang, seperti kaos, jaket, mug dan stiker.

“Piyoh muncul sebagai media promosi pariwisata. Saya coba cari konten lokal di Aceh. Kemudian saya buat desain, dijadikan produk dan dipasarkan lewat Piyoh,” kata pria 30 tahun ini.
Hijrah Saputra. (Lentera Indonesia/Anggi Ramadhan)

Upayanya mengembangkan wisata Aceh juga dilakukan dengan mengadakan program paket wisata di Kampung Nusa, Kabupaten Aceh Besar. Hijrah mengembangkan konsep ekowisata sambil mengajak warga setempat untuk ikut berperan. Melalui program ini, peluang usaha masyarakat pun jadi lebih terbuka.

“Alhamdulillah, kami bisa bangkit dan mengembangkan desa kami lewat seni,” kata Mauliza Fajriana, salah satu warga Kampung Nusa.

Meski terbilang sukses, berbagai usaha Hijrah tidak langsung disetujui orangtuanya. Sebelumnya mereka berharap pria yang pernah menjadi ‘Agam Aceh’ ini akan bekerja sebagai pegawai negeri sipil.
Hijrah Saputra. (Lentera Indonesia/Anggi Ramadhan)

Tapi Hijrah membuktikan, kalau anak muda bisa berkontribusi bagi negara dan daerahnya dengan cara lain yang mereka sukai. Perubahan kecil yang dimulai dari diri sendiri, dapat membawa perubahan besar yang bermanfaat bagi sekitar.

“Untuk mengembangkan kota tidak harus dengan berada di kantoran. Tapi dengan membuat usaha kreatif, unik itu juga bisa membantu pengembangan kota,” kata Hijrah. 
“Kalau sudah kerja atau punya ide, jalanin aja. Tanpa harus mikir bakal gagal atau bakal jalan enggak, yang penting semangat.”

LENTERA INDONESIA NET | ANNISA PRATIWI

Sumber : https://netz.id/news/2017/09/10/00316/1016070917/hijrah-saputra-anak-muda-ikut-bangkitkan-aceh-usai-tsunami