Rabu, 26 Oktober 2016

Malang Kembali, Ulang Tahun 2 kali dan Reuni Mimpi

Ini sebenarnya cerita satu bulan yang lalu, tapi masih membekas di dalam kenanganku. Setelah hampir 10 tahun meninggalkan kota yang menjadi Kota Halaman keduaku, akhirnya aku kembali ke sana, ya Kota Malang. 

Bagi banyak orang mengenal Kota Malang sebagai kota tujuan wisata unggulan di Indonesia, tapi kota ini menyimpan banyak cerita dan kenangan buatku, karena perjuangan dan pengalamanku memulai karirku hingga sekarang semua bermula di sini.

Ada ragu bergelayut dalam pikiranku, ketika berencana balik ke Malang, apakah orang-orang disana akan menyambutku dengan ramah seperti dulu, atau hanya perasaanku saja yang menganggap Malang sebagai Kota Halamanku, sedangkan mereka menganggapku sebagai pendatang.

Aku mencari berbagai alasan untuk kembali kesana, mulai dari perayaan ulang tahunku, mengumpulkan memoriku yang hilang sejak sarafku bermasalah, hingga alasan reunian 1 dekade Kakang Mbakyu 2006, aku mencari yang paling masuk akal, sehingga nantinya kalau kejadian terburuk pun, aku masih bisa ngeles dengan alasan, padahal alasan terbesar hanya rindu keras yang kurasa, hehe, MrembesMili.

Sebenarnya ada alasan kenapa aku tidak pernah kembali kota sejuk ini, ada janji yang sempat terucap ke salah seorang juri Kakang Mbakyu Malang, Beliau sempat menawarkanku untuk bergabung di teamnya di Yayasan Inggil yang membuat Festival Malang Kembali. Beliau termasuk salah satu juri yang kutakuti dan sekaligus kukagumi karena kinerjanya. Selama penjurian Kakang Mbakyu Malang 2006, beliau termasuk orang yang paling bersikeras menentangku dengan memberi pertanyaan yang memang menjadi kelemahanku saat itu, beliau memintaku untuk mempromosikan potensi Kota Malang dengan Bahasa Jawa Kromo Inggil, gila! Bahasa Jawa saja saat itu masih terbata-bata, apalagi diminta yang Kromo Inggil, diam seribu bahasa, aku sadar, aku mungkin bukan yang beliau cari. Tapi selepas itu, dan aku terpilih sebagai juara 1 Kakang Malang 2006, beliau malah mendukungku dan team Pakandayu agar terus berkembang dan mengembangkan pariwisata Kota Malang, hingga masa jabatanku selesai. Beliau menawarkan kesempatan itu, tapi aku berjanji tidak akan kembali ke Malang sebelum aku bisa menunjukkan kalau aku bisa membuat sesuatu di Kota Halamanku yang pertama, Kota Sabang. 

Dengan keyakinan sudah membuat progres positif di Sabang dan sekitarnya, membuatku sedikit menambah keberanian untuk bertemu dengan beliau dan teman-teman lainnya di Malang, aku memutuskan balik ke Malang.

24 September sempat tidak tidur...... deg deg an

Tanggal 25 September pagi, masih di Jakarta, enaknya punya bos yang perhatian seperti Bang Muslim dan Istrinya, membuatku jadi berkah tersendiri, selain aku bisa mengatur jadwal kerja bersama, bisa juga membuat jadwal untuk pribadi, sempat dibikinkan kejutan di sela-sela Car Free Day, aaaaah, peluk satu-satu.

Surprise dapat ucapan Ulang Tahun dari Bang Muslim, Kak Jamila dan adek-adek dari Banten yang dipaksa, haha
Siangnya pukul 12.15 aku diantar ke bandara, masih dengan perasaan bimbang, untung saja di pesawat yang duduk sebelahku seorang anak muda mahasiswa Unibraw dari Jakarta yang asyik untuk diajak diskusi lumayan membuat perasaanku tenang, ya setidaknya membuatku ada teman yang senasib, perjalanan kurang lebih 45 menit itu pun seperti hanya 5 menit.

Perasaan takut itu datang lagi ketika aku turun di Bandara Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang. Perasaan terasing itu datang lagi melihat banyak perubahan di bandara, berbeda sekali ketika aku bertugas menyambut piala Adipura untuk Kota Malang tahun 2007. Ditambah lagi pertemuanku dengan suami Mbakyu Vita, Mbakyu pasanganku 2006, yang seperti ketakutan bertemu denganku yang dengan ekspresi senang bertemu dengan tidak sengaja dengannya di bandara, mungkin dikiranya aku seorang sales yang ingin menawarkan produk dengan modus mengenal istrinya, hehe. Tapi perasaan itu hilang ketika aku bertemu dengan supir taksi, Pak Wibowo yang ternyata pernah bekerja cukup lama di Sabang, kebetulan yang tidak kebetulan. Selama perjalanan, kami bertukar cerita, beliau menceritakan perkembangan Malang, gantian aku mengupdate cerita tentang Sabang, mungkin ini yang dinamakan jodoh, #Halah.

Singkat cerita, setelahnya aku sampai di penginapan, yang aku baru tahu ternyata tempat yang kubooking selama di Malang karena rekomendasi teman kuliahku ternyata menjadi tempat karantina Kakang Mbakyu Kota Malang 2016 nantinya. Baru merebahkan badan, tiba-tiba saja masuk inbox di instagram, pesan dari seseorang yang berjasa besar membantuku banyak ketika persiapan mengikuti Kakang Mbakyu 2006, ya Mas Heri, atau biasa akrab dipanggil Cak Diek, aku sempat bingung dengan semua kebetulan ini, tapi memang di dunia ini tidak ada yang kebetulan, semua rahasia Allah. Alhasil malamnya aku bereunian dengan Cak Diek, bercerita banyak hal, mulai dari hal yang kecil, aku merasakan dejavu seperti 10 tahun yang lalu. 
Bersama Cak Diek (Mas Heri) bercerita mengembalikan ingatan masa lalu sambil nyobain Mie Tarik
Pertemuanku dengan Cak Diek ini terjadi, cukup unik, saat itu aku diminta bantuan untuk membantu kegiatan Unitantri, Universitas Brawijaya. Padahal tidak ada dalam sejarahnya aku aktif di UKM yang ada di Universitas Brawijaya, karena aku termasuk orang yang introvert dan hanya fokus di kuliah saja. Tapi ternyata bantuan yang kuberikan saat itu membuat hubungan baik dengan Cak Diek yang akhirnya membantu persiapanku mengikuti Kakang Mbakyu Malang. Beliau membantuku mengajar Tari Topeng yang ternyata susahnya minta ampun, akhirnya dengan berbagai pertimbangan aku belajar nembang. Tapi bantuan dari Cak Diek ini tidak dengan mudah diberikan, beliau termasuk orang yang idealis dengan apa yang dia kerjakan, apalagi terkait budaya dan seni yang ada di Jawa Timur, beliau memastikan dulu apa tujuanku mengikuti Kakang Mbakyu, apa alasannya, banyak pertanyaan yang harus bisa masuk akal beliau, karena ternyata ada juga beberapa kandidat yang meminta bantuan beliau, ditolak, hmmm...

Terkadang kita sering menyepelekan hal baik yang kita kerjakan, padahal bisa jadi hal kecil itu bisa membantu kita di masa depan.

Beliau juga yang menguatkanku ketika aku terpilih sebagai 40 besar semifinalis, ketika itu sudah mau menyerah, karena tidak percaya diri harus bersaing dengan para model dan artis-artis Malang yang harus tampil saat itu juga di Mall paling hits di Malang saat itu, Malang Town Square (MATOS). Aku saat itu tidak pede dengan apa yang aku punya, karena harus berjalan di catwalk dan harus menampilkan talenta yang kita punya. Hampir menyerah, tetapi beliau yang mengingatkanku untuk tetap fokus pada tujuan yang ingin aku capai dan ini hanyalah salah tahapan yang harus dilewati. Setelah aku pikir-pikir, sudah banyak waktu dan pikiran yang sudah beliau berikan, tidak ada salahnya mencoba, walaupun hasilnya ketika aku berjalan disorakin seperti Tukul Arwana, ea....ea...ea....ea...., ditambah lagi nembangku jadi tertawaan semua pengunjung MATOS, ingin rasanya punya jurus menghilang ala Naruto, tapi aku tidak terlalu peduli, nasi sudah menjadi bubur, ada banyak yang harus kukerjakan setelah ini walaupun tidak lolos ke 20 besar, setidaknya aku masih punya muka bila bertemu Cak Diek.

Ternyata Tuhan berkata lain, ngga, ngga, aku ngga mati. 

Alhamdulillah aku terpilih masuk 20 finalis, dan lancar hingga karantina dan Grand Final, memang doa orang-orang yang teraniaya itu benar adanya, hehe.

Waktu cepat sekali berlalu, belum habis bercerita bersama Cak Diek dan teman-temannya, teman-temannya?? iya, ini uniknya Malang, terkadang kita bisa tiba-tiba saja berada di tengah orang-orang yang tidak kita kenal tapi bisa akrab satu sama lain dalam waktu yang singkat, dan ini juga yang dulunya membuatku merancang Konsep Branding Pariwisata Kota Malang, Malang Welcoming City, yang membawaku menang sebagai Kakang Malang 2006. Karena Malang selalu welcome untuk siapa saja yang datang ke sana, smiley, friendly and memory.
Cak Diek dan beberapa teman yang aku baru kenal ':D
Belum habis dengan kejutan itu, besok harinya teman kuliahku yang sekarang jadi dosen di kampusku, memintaku untuk mengisi kuliah tamu di jurusanku. Beuh, sempat gugup juga, karena aku masih status lulusan S1 dan tidak kerja di duniaku yang seharusnya, diminta mengajar adek-adek kelas yang notabenenya ga jauh beda. Belum lagi ada info beberapa dosen mau ikutan kelas tersebut, tambah deg-degan. Tapi ya mau gimana lagi, rezeki tidak boleh ditolak, nanti Allah marah, kenapa aku bilang rezeki, karena dengan adanya permintaan ngisi kuliah tamu, setidaknya ada alasan buatku mengunjungi kampus lagi, horee!!
Curcol berbalut Modus
Deg-degan itu, ketika harus berhadapan dengan dosen-dosen yang dulunya....., hehe, strateginya adalah ambil posisi di tengah biar aman, walaupun ternyata banyak dosen-dosen yang duduk di barisan belakang, hehe
Bareng dosen-dosen terbaik Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Brawijaya
Nyess Momen
Ngisi kuliah umum di jurusan sendiri itu butuh keberanian extra, karena bisa mengungkit masa lalu, apalagi dihadiri banyak dosen yang penasaran dengan apa yang kita kerjakan sehingga tidak berada di jalur yang mereka ajarkan, hehe. Tapi ada kejadian yang bikin nyes saat itu, ketika ada salah satu peserta yang masih kecil, ngomong, "Om, mulai saat ini, Om orang yang pertama jadi favorit saya!", dia mengucapkan dengan wajah yang berbinar. Ah..... mudah-mudahan kamu tidak menyesal ya nak di masa depan, kalaupun kamu menyesal, om punya buktinya, dan kamu ngga bisa ngeles lagi, hahaha #KetawaSetan








Ada banyak kejutan yang tidak terduga selama di Malang, aku bisa bertemu dengan orang-orang yang kukenal selama di Malang. Berkumpul, bercerita, mengumpulkan memory yang sempat hilang.
Reunian tipis bareng temen-temen satu angkatan PWK UB 2002
Ketemu Mas Robby Aditya, Manajer Wilayah EF Malang, salah satu Juri Raka Raki Jawa Timur
Tapi memang yang paling ngangenin dari semuanya ada di Pakandayu (Paguyuban Kakang dan Mbakyu Kota Malang), hehe.
Sharing tipis dengan Finalis Kakang Mbakyu Malang 2016
Suatu kebanggaan bisa bergabung lagi dalam keluarga ini, baju 10 tahun masih muat ya, yey!! hehe
Kunjungan ke Batik Sundari Kota Malang sekalian belajar Mbatik
Kunjungan ke Jatim Park 1, Kota Batu
Malam Keakraban Kakang Mbakyu 2016, Pakandayu semoga jadi keluarga seterusnya
Penjurian Kakang Mbakyu Malang 2016, bersama Mbakyu Wida (Wakil 1 2006) , Babe Tjatur dan Mbakyu Tyscha (Mbakyu Malang 2013)
Juri Malam Grandfinal Kakang Mbakyu 2016
Reuni mimpi Kakang Mbakyu 2006, walaupun belum lengkap, inilah keluarga yang membackup semua kegiatan Kakang Mbakyu 2006, kangen kalian semua!
Kakang Mbakyu Malang 2006 (Kakang Hijrah dan Mbakyu Vita) dan Kakang Mbakyu Malang 2014 (Mbakyu Sarirra dan Kakang Anggun)
Keluarga besar Pakandayu Malang
Perhelatan Kakang Mbakyu Malang 2016 sudah selesai, Kakang Mbakyu utama juga sudah terpilih, tapi ini bukan akhir dari semua kegiatan, selamat bergabung di Keluarga PAKANDAYU Malang adik-adik, saatnya memulai berkontribusi ke masyarakat dan pariwisata di Indonesia, tunjukan sebagai anak muda, kita punya karya dan bermanfaat untuk orang lain.
Teruslah menjadi keluarga, teruslah berkarya, teruslah menginspirasi, walaupun dalam senang dan susah
Tak terasa udah seminggu aja di Malang, masih belum puas rasanya, baru ngeh juga kalau tahun ini, aku berulang tahun baik dalam kalender masehi maupun kalender Hijriyah dalam waktu yang berdekatan, tapi ini jadi hadiah ulang tahun paling berkesan dalam sejarah hidup, ya walaupun tujuan ketemu Mas Dwi Cahyono ngga kesampaian, hehe. Terimakasih buat semua yang menyambut dengan hangat selama di Malang. Semoga Malang selalu menjadi tempat yang welcome untuk semua yang datang, amin!


3 komentar:

  1. Duhh ada yang kangen-kangenan dengann kota tercinta :) penuh memori yaa..

    BalasHapus
  2. udah lama g baca tulisan bang hijrah sepanjang ini :D , asik2 ya kegiatannya.. reuni dapat..jalan2 dapat.. networking apalagi :D

    BalasHapus
  3. Hmmm so sweet banget kang hijrah.. Jadi nyesel kemarin cm ketemu pas malam grandfinal aja

    BalasHapus