Frozen 2 udah beredar, karakter kedua saudara ini dibikin lebih menarik lagi hubungannya, dan inilah karakter mereka ala Piyoh Design.
Kamis, 19 Maret 2020
Jumat, 06 September 2019
Puluhan Kaum Disabilitas Dilatih Bikin Kantong Boneka Lucu
KEBUMEN (kebumenekspres.com) - Sedikitnya 60 peserta mengikuti workshop pouch character atau pelatihan membuat dompet lucu bagi para penyandang disabilitas Kebumen. Para peserta pun antusias mengikuti kegiatan yang dilakukan di café dan workshop Roufa di Pejagoan Kebumen, Sabtu (31/8/2019) tersebut.
Kepala Dinas Sosial PPKB Kabupaten Kebumen, dr HA Dwi Budi Satrio mengatakan, kegiatan pelatihan pembuatan dompet lucu ini menghadirkan dua pemateri asal Jakarta. Masing-masing Dissa Syakina Ahdinisa, salah satu owner Deaf Cafe Fingertalk, dan Hijrah Saputra sebagai creative director of Plushindo. Dalam kesempatan itu, para peserta dilatih dari tingkat dasar. Dari mulai membuat pola, menggunting hingga menjahit dan menyusun sebuah dompet lucu berbentuk boneka panda dan kucing.
Kepala Dinas Sosial PPKB Kabupaten Kebumen, dr HA Dwi Budi Satrio mengatakan, kegiatan pelatihan pembuatan dompet lucu ini menghadirkan dua pemateri asal Jakarta. Masing-masing Dissa Syakina Ahdinisa, salah satu owner Deaf Cafe Fingertalk, dan Hijrah Saputra sebagai creative director of Plushindo. Dalam kesempatan itu, para peserta dilatih dari tingkat dasar. Dari mulai membuat pola, menggunting hingga menjahit dan menyusun sebuah dompet lucu berbentuk boneka panda dan kucing.
Budi Satrio mengatakan, kegiatan ini tak lain untuk pengembangan kapasitas dari kaum difable. Harapannya, setelah mengikuti pelatihan, mereka punya kemampuan untuk bekerja secara mandiri.
Budi Satrio kembali menegaskan, pihaknya telah berkomitmen memberdayakan para penyandang disabilitas di Kota Beriman. Sebab, para penyandang disabilitas tak selalu identik dengan ketergantungan, mereka bisa mandiri.
Oleh karena itu, Budi Satrio mendorong masyarakat yang mempunyai anggota keluarga disabilitas agar memotivasinya untuk berkarya. "Mereka mungkin cacat secara fisik namun mereka memiliki segudang keahlian jika untuk dikembangkan seperti masyarakat normal lainnya," ujar Budi Satrio.
Sementara itu, Dissa Syakina Ahdinisa, mengatakan pelatihan ini sangat bermanfaat bagi peserta. Bukan hal yang sulit. Bahkan, sudah banyak peserta yang mengikuti pelatihan dapat langsung berproduksi.
"Sebenarnya mereka bisa. Bahkan banyak dari peserta yang kami beri pelatihan jika sudah mahir sehari bisa memproduksi, 50 hingga 100 pics pouch," katanya di sela - sela acara.(fur)
Oleh karena itu, Budi Satrio mendorong masyarakat yang mempunyai anggota keluarga disabilitas agar memotivasinya untuk berkarya. "Mereka mungkin cacat secara fisik namun mereka memiliki segudang keahlian jika untuk dikembangkan seperti masyarakat normal lainnya," ujar Budi Satrio.
Sementara itu, Dissa Syakina Ahdinisa, mengatakan pelatihan ini sangat bermanfaat bagi peserta. Bukan hal yang sulit. Bahkan, sudah banyak peserta yang mengikuti pelatihan dapat langsung berproduksi.
"Sebenarnya mereka bisa. Bahkan banyak dari peserta yang kami beri pelatihan jika sudah mahir sehari bisa memproduksi, 50 hingga 100 pics pouch," katanya di sela - sela acara.(fur)
Selasa, 27 Agustus 2019
Tim Fingertalk Indonesia Sabet Juara 1 Daigaku SDGs Action Award di Jepang
ACEHTREND.COM, Tokyo – Tim Fingertalk Indonesia yang terdiri atas Dissa Syakina Ahdanisa, Hijrah Saputra, dan Muhammad Rizqi Ariffi menyabet juara 1 Daigaku SDGs Action Award di Tokyo, Jepang. Tim ini terpilih menjadi salah satu dari 12 tim yang mempresentasikan idenya di depan dewan juri di Tokyo pada 20 Februari 2019.
![]() |
| Grand Prix Daigaku SDGs Action Awards 2019 Asahi Shimbun Japan |
Dissa Syakina Ahdanisa melalui keterangan tertulis yang diterima aceHTrend mengatakan, Tim Fingertalk merupakan satu-satunya tim yang berasal dari Indonesia.
“Daigaku SDGs Action Award adalah program yang diadakan oleh perusahaan media cetak terbesar di Jepang, Asahi Shimbun, untuk mahasiswa-mahasiswa yang memiliki ide untuk membantu mendukung program-program Sustainable Development Goals (SDGs).
SDGs adalah kesepakatan pembangunan baru yang mendorong perubahan-perubahan ke arah pembangunan berkelanjutan berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan untuk mendorong pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup.
SDGs diberlakukan dengan prinsip-prinsip universal, integrasi, dan inklusif untuk meyakinkan bahwa tidak akan ada seorang pun yang terlewatkan. Memiliki 17 tujuan, seperti pemberantasan kemiskinan, tanpa kelaparan, kehidupan yang sehat dan sejahtera, pendidikan yang berkualitas, kesetaraan gender, air bersih dan sanitasi yang layak, energi bersih dan terjangkau, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, industri, inovasi dan infrastruktur, berkurangnya kesenjangan, kota dan permukiman yang berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, aksi untuk perubahan iklim, konservasi ekosistem laut, konservasi ekosistem darat, perdamaian keadilan dan kelembagaan yang tangguh dan kemitraan untuk mencapai tujuan.
“Tim Fingertalk terpilih dengan membawa pesan dari teman-teman tuli (tunarungi) yang berada di Indonesia. Selama ini Fingertalk fokus untuk pemberdayaan pemuda-pemuda yang memiliki kebutuhan khusus seperti tuli dan disabilitas lainnya,” kata Dissa, Kamis (21/2/2019).
Bersama dengan Tim Fingertalk telah membuka empat buah kafe yang semua pekerjanya merupakan tunarungu dan penyandang disabilitas lainnya. Tidak hanya kafe, Fingertalk juga membuka carwash dan workshop untuk membuat boneka satwa langka Indonesia.
Setelah presentasi di depan 10 juri, Tim Fingertalk berhasil terpilih sebagai pemenang utama, Fingertalk dipilih karena memiliki produk yang unik, tujuan yang jelas, dan membawa pesan inklusi dari dari Indonesia.
Atas pencapaian tersebut, Tim Fingertalk mendapat hadiah uang sebesar 500.000 yen, yang digunakan untuk pengembangan produk boneka satwa langka Indonesia. Hadiah diberikan langsung oleh Ichiro Ishida, Direktur Marketing Strategy The Asahi Shimbun Japan.
“Tim Fingertalk berharap semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya dan menjalankan hidup,” kata Dissa.[]
Sumber : AcehTrend
Editor : Ihan Nurdin
Plushindo Juarai Kompetisi Wirausaha Sosial di Jepang
Liputan6.com, Jakarta Anak-anak muda asal Indonesia berhasil menjuarai kompetisi wirausaha sosial yang digelar di Jepang. Presentasi tentang upaya pemberdayaan komunitas tuli di Indonesia membuat tiga anak muda asal Indonesia menjuarai Daigaku SDGs Action Award 2019 pada 20 Februari 2019 di Tokyo.
Dissa Syakina Ahdanisa, Hijrah Saputra, dan Muhammad Rizqi Ariffi dari Tim Fingertalk mempresentasikan program Plushindo. Ini adalah program pemberdayaan komunitas tuli atau tuna rungu Indonesia untuk membuat produk boneka yang membantu konservasi hewan langka Indonesia.
Dissa, Hijrah, Rizqi mempresentasikan program tersebut di hadapan juri setelah berhasil melewati tahap seleksi berkas dan wawancara via telepon. Siapa sangka, program Plushindo yang mereka presentasikan di depan 10 juri yang berasal dari The Asahi Shimbun, JAL, Sumitomo Metal Mining dan JICA bisa menang.
Program yang digagas tiga anak muda yang sedang kuliah di Negeri Sakura ini berhasil mengalahkan tim-tim lain dari universitas-universitas ternama Jepang. Termasuk mengalahkan tim yang berasal dari Tokyo University, Kindai University dan Kyushu University.
"Kami tidak menyangka bisa memenangkan lomba ini, kami hanya berharap bisa menyuarakan teman-teman Tuli terutama di Indonesia bisa setara dan mendapat kesempatan yang sama dengan teman-teman yang lain," tutur Hijrah dalam pesan teks dengan Liputan6.com ditulis Rabu (27/7/2019).
Hadiah 500 ribu yen
Berhasil menjadi juara 1, Tim Fingertalk diganjar dengan hadiah sebesar 500.000 yen atau setara dengan Rp631.900.000 (kurs Rp126,38/JPY per Selasa 26 Februari 2019).
Uang ini digunakan untuk pengembangan produk boneka satwa langka Indonesia.
Daigaku SDGs Action Award adalah program yang diadakan oleh perusahaan media cetak terbesar di Jepang, Asahi Shimbun, untuk mahasiswa yang kuliah di Jepang dengan ide untuk mendukung program-program Sustainable Development Goals (SDGs).
Sebelum ada lomba ini, tiga anak muda ini sudah memiliki langkah nyata membantu memberdayakan orang tuli di Indonesia.
Bersama dengan tim Fingertalk lainnya, telah membuka empat buah cafe yang semua pekerjanya adalah teman-teman tuli dan penyandang disabilitas lainnya.
Tidak hanya berpusat di Tangerang Selatan, Fingertalk juga membantu teman-teman yang lain untuk menjalankan kafe di Poso, Sulawesi Tengah dan Kebumen, Jawa Tengah.
Sumber : Liputan 6
Sumber : Liputan 6
Jumat, 05 Juli 2019
Plushindo Story
I am Hijrah
Saputra, first year student of master program in tourism and hospitality at Ritsumeikan Asia Pacific University (APU). I am
also a graphic designer and from March 2018, I am taking the role of creative director for
the “Plushindo” project.

Plushindo is a
social project of a social enterprise, Fingertalk, to empower the often
marginalized and discriminated Deaf youths by training them to produce creative
products, such as plush toys of endangered animals, that are used to spread
awareness about animal conservation and inclusion. This project tackles issues
such as unemployment, discrimination against people with disability and animal
conservation in one creative solution, which made it very unique.
Currently, Indonesia faces challenges of animals’ extinction due to habitat loss or illegal hunting. Many of the animals, such as Javan rhino, anoa and Komodo dragons, are endemic to Indonesia, and are forecasted to be extinct in the next decade. I believe that we must act now, and we must start from younger generation. Plushindo plushies are a way to spread awareness about the importance and urgency of animal conservation to the younger generation using attractive and fun mediums.
Due to discrimination in the society, more than 74% of Deaf people in Indonesia are unemployed. Thus, through this project, my team and I are trying to break the stigma and create employment. Moreover, I learned to apply my skills and supported the Deaf to upgrade their skills, earn income and provide for their family.
As the creative
director, I was in charge of the designing and training process. I designed six
different characters of endangered animals in Indonesia, which are orangutan,
Sumatran elephants, Javan rhino, anoa, and komodo dragon. Once I completed the
designs, I trained 20 Deaf youths to produce the plush toys or “plushies” based
on those designs. Together, we made more than 600 plushies and distributed them
to school children in six major islands in Indonesia.
![]() |
| The Characters and their habitat |
In addition to
that, I also designed a small book to accompany the plushies, providing
information about these endangered animals. I designed the books using language
that are simple and easy to understand. I also used Indonesian Sign Language
(BISINDO) in the book, so the children can understand more about the Deaf
culture. This initiative connected Deaf youths and the children, and raised
awareness since early age to hopefully eliminate discrimination against people
with disability in the future.
After the
production finished, I helped the team distributing the finished products
through educational workshop. We visited schools and introduced the Deaf youths
to the children, again, to raise awareness since young age. We used sign
language to explain why all of us should love the animals. Furthermore, these
plushies and books are also given as the token of appreciation to the
conservation sites of the endangered animals.

| Plushindo and WWF Indonesia |
Through this program, we have realized that the
training can be scaled up as employment opportunities for Deaf youths, which
led me to participate in Hult Prize competition. In December 2018, my team
and I brought this idea to enter the competition of Hult Prize, the biggest
social entrepreneurship competition in the world. We won APU campus round and
four months later, we became the only team that represented APU in Tokyo
regional summit. Our goal was to win the USD 1 million prize to train more Deaf
youths and create 10,000 jobs. We were chosen one of the six finalists and
received valuable feedback from the judges to scale up and create more
sustainable impact.
Last March 2019, Plushindo also won the Asahi Shinbun
SDG Action! Awards 2019, and became the first ever representation from APU to
win the competition. Our team received the grand prix prize of JPY 500,000 and
will utilize the fund to train more Deaf people in rural areas of Indonesia to
give them more opportunities and financial independence.
Through this project, I can see how our skill can
create bigger and more sustainable impact.
Langganan:
Postingan (Atom)










