Tampilkan postingan dengan label 50 Wisata Domestik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 50 Wisata Domestik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Januari 2015

Danau Aneuk Laot, Tempat Romantis yang Asyik



Walaupun kecil Kota Sabang menawarkan banyak pilihan tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi, terutama wisata alam seperti pantai, gunung berapi, air terjun dan yang ngga boleh ketinggalan danaunya. Salah satu danau romantis yang menarik untuk dikunjungi adalah Danau Aneuk Laot.
Danau Aneuk Laot
Danau ini terletak di Pulau Weh, ngga jauh dari pusat Kota Sabang. Danau ini adalah danau terbesar di Kota Sabang dengan luas mencapai sekitar 37,5 hektar. Nama Aneuk Laot sendiri berarti ‘Anak Laut’, nama diberikan karena lokasi danau ini dekat dengan laut, mungkin karena daripada susah mikirin nama lain, akhirnya diberi nama tersebut, so simple. 

Danau Aneuk Laot memiliki panorama alam yang sangat indah dan mampu memanjakan mata. Di sana, para kita dapat menikmati kesegaran air danau Aneuk Laot dengan berenang atau sekedar bersantai di tepi danau sambil menikmati bekal makanan. Selain itu, udara yang ada di kawasan danau ini masih cukup segar dan bersih karena belum terkena polusi udara. Suasana seperti ini membuat betah untuk berlama-lama berada di tempat wisata danau ini.
Rekreasi keluarga
Salah satu obyek wisata yang sedang dikembangkan di sekitar Danau Aneuk Laot adalah Taman Wisata Putro Ijo. Konsep yang dikembangkan adalah ekowisata dan wisata keluarga, Wisatawan nantinya bisa menikmati keindahan alam di sekitar danau dan bisa belajar bersama dari alam. Ada beberapa kolam ikan yang digunakan untuk penangkaran ikan, jadi kita bisa memancing ikan di kolam dan bisa langsung dimasak nantinya di dapur yang disediakan di Putro Ijo. Selain mancing di kolam yang sudah disediakan, kita juga bisa mancing langsung di danau dengan menyewa alat pancing yang tersedia di sana. Buat yang tidak suka memancing dan hanya ingin memberi makan ikan, di sana juga dijual pelet untuk ikan hanya dengan Rp.2.000/bungkus, dan yang ingin berkeliling kolam, ada bebek dayung dengan desain yang lucu.
Mancing di Dermaga Putro Ijo, pilihan tepat untuk yang jomblo belum berkeluarga
Selain tempat yang indah ada produk-produk kuliner khas Aneuk Laot yang bisa kita bawa pulang, ada Nugget Ikan dan Nugget Lobster hanya dengan Rp.15.000/pack, ini juga yang bikin kangen balik lagi ke Danau Aneuk Laot, haha.
Lobster Aneuk Laot

Untuk menuju Danau Aneuk Laot ini bisa ditempuh selama 30 menit dari Pusat Kota Sabang, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun menggunakan kendaraan umum yang melewati Gampong Aneuk Laot. Untuk kendaraan umum, kita bisa naik taksi, ojek atau becak motor dengan tarif Rp.10.000 – Rp.20.000.

Kalau tertarik untuk mengunjungi danau ini, saat terbaik untuk mengunjungi danau ini adalah pagi hari, kita bisa menikmati kesegaran udara yang ada di danau sambil menunggu matahari terbit dan menyinari danau, syahdu! Tapi bagi yang ingin romantis dengan pasangannya datanglah sore hari, kita dapat menyaksikan indahnya pemandangan matahari terbenam, pemandangan matahari terbenam di pinggir danau bersama dengan orang terkasih tentu menambah suasana romantis dan hmmm, ya gitu deh.
Nugget Ikan dan Lobster Sapeu Pakat


Enaknya sambil makan Nugget Lobster minum W'Dank Bajigur hangat, hmmmm

Selasa, 14 Oktober 2014

Melihat Benteng Terkuat Inggris di Bengkulu

Benteng Marlborough (Fort Marlborough)
Salah satu obyek wisata sejarah yang wajib dikunjungi di Kota Bengkulu adalah Benteng Marlborough (Fort Marlborough. Benteng bukan hanya merupakan benteng pertahanan daerah kekuasaan Inggris di kawasan pantai barat Sumatera tapi juga tempat untuk mempertahankan Bengkulu sebagai daerah monopoli lada dan perdagangan. Benteng ini dibangun oleh East India Company (EIC) tahun 1713-1719 pada masa kepemimpinan Gubernur Joseph Callet. Benteng ini dianggap sebagai benteng terkuat kedua milik Inggris di wilayah timur setelah benteng St. George di Madras, India. Nama Marlborough sendiri diberikan oleh pemerintah Inggris kepada John Churchil yang bergelar Duke of Marlborough I sebagai tanda penghormatan.
Team penjelajah Bengkulu di Bagian depan Benteng Marlborough (Allan, Nita, Oki, Hijrah, Ulie dan Lesti)
 

Salah satu Meriam yang digunakan ketika jadi benteng pertahanan
Pada awalnya benteng digunakan sebagai pertahanan namun kemudian beralih fungsi sebagai tempat perdagangan komoditi lada sekaligus pusat pengawasan jalur Selat Malaka. Dilihat dari arsitektur bangunannya benteng ini lebih mirip seperti hunian di tengah kota daripada benteng atau pusat perdagangan. Menurut catatan British Library yang ada di benteng ini menjelaskan tentang proses pembaptisan, perkawinan, dan kematian dari para penghuninya. Terdapat sekitar 90 pegawai sipil dan militer yang tinggal di dalam benteng ini.

Informasi tentang Benteng Marlborough dan tempat-tempat bersejarah lainnya di Bengkulu
Saat ini, benteng masih berdiri kokoh di tanah seluas 44.100 m² dengan panjang 240,5 m dan lebar 170,5 m, menghadap ke arah selatan dan membelakangi Samudra Hindia. Bentuk arsitektur bangunan ini mirip kura-kura, terdapat jembatan yang menghubungkan bagian kepala dan badan, sebuah jembatan di atas parit yang membentuk ekor dan jembatan yang menghubungkan jalan masuk dengan bagian luar. Dahulu ketiga jembatan ini bisa diangkat dan diturunkan. Sampai saat ini batas dinding terluar masih nampak yaitu berupa parit-parit.

Bagian dalam Benteng dan bentuknya yang seperti Kura-kura
Di dalam bangunan ini terdapat ruang tahanan, gudang persenjataan, kantor, beberapa meriam, ruang perlindungan, terowongan sepanjang 6 m dan lebar 2 m. Sedangkan di bagian depan terdapat tiga makam yaitu makam Thomas Parr, Charles Muray dan satu makam tak dikenal. Terdapat juga prasasti nisan yang bertuliskan nama, tanggal dan tahun kematian tentara Inggris.




Biaya dan cara Menuju Benteng

Untuk masuk ke benteng ini kita hanya perlu membayar Rp. 5.000 saja. Benteng ini berada di Jalan Ahmad Yani, di pusat Kota Bengkulu, dari Bandar Udara Fatmawati Bengkulu, kita dapat menggunakan taksi atau mobil sewaan hingga sampai di tujuan sekitar 1,5 jam. Bila menggunakan bus atau angkutan umum dari terminal jurusan alun-alun kota Bengkulu kita bisa turun tepat di depan Benteng Marlborough.

Jumat, 10 Oktober 2014

Mencoba Bermain Dol, Alat Musik Unik dari Bengkulu

Selama perjalanan menyusuri Pantai Panjang Kota Bengkulu, sayup-sayup terdengar suara musik yang ritmis yang menghentak. Karena penasaran, aku meminta temanku Handri untuk berhenti sebentar untuk mencari asal suara tersebut. Mampirlah kami di sebuah sanggar musik yang ternyata sedang bermain Dol. 
Sanggar yang sedang berlatih bermain Dol
Apakah Dol Itu?
Dol yang merupakan alat musik perkusi khas Bengkulu itu hanya boleh ditabuh saat upacara Tabot. Dol sering dikatakan sebagai perkusi khas dari Bengkulu. Ternyata alat musik pukul ini disebut sebagai satu-satunya perkusi di dunia yang tidak berlubang di bagian dasarnya. Karena itu juga Dol menghasilkan bunyi khas berbeda dari perkusi atau pun beduk. 

Sekilas Dol berbentuk seperti beduk, setengah bulat lonjong dan diberikan cat warna-warni. Dol terbuat dari kayu atau bonggol kelapa yang terkenal ringan namun kuat atau kadang juga terbuat dari kayu pohon nangka. Bonggol Pohon Kelapa dilubangi dan bagian atasnya lalu ditutup kulit sapi atau kulit kambing. Diameter Dol terbesar bisa mencapai 70-125 cm dengan tinggi 80 cm. Selain itu ada juga Dol berukuran kecil yang terbuat dari tempurung kelapa.

Dimainkan dengan cara dipukul, ada 3 teknik dasar memainkan dol, yaitu: disebut suwena, tamatam, dan suwari. Jenis pukulan suwena biasanya untuk suasana berduka cita dengan tempo pukulan lambat; tamatam untuk suasana riang, konstan dan ritmenya cepat; sementara suwari adalah pukulan untuk perjalanan panjang dengan tempo pukulan satu-satu. Dalam pementasan dol, ada intsrumen lain yang ikut mengiringi, seperti tassa (sejenis rebana yang dipukul dengan rotan), dol berukuran kecil, serunai, dan lainnya.

Dulunya Dol hanya dimainkan saat perayaan Tabot, setiap 1-10 Muharram dalam rangka mengenang wafatnya Imam Hasan dan Imam Husen (cucu Nabi Muhammad saw.) dalam sebuah peperangan di Padang Karbala. Ritual ini selalu dilaksanakan setiap tahun karena dipercaya dapat menghindarkan berbagai kesulitan dan wabah penyakit. 

Penabuh Dol pun bukan sembarang orang melainkan keturunan Tabot, yaitu warga Bengkulu keturunan India yang biasa disebut Sipai. Dol memang dikenalkan kali pertama oleh masyarakat Muslim India yang datang ke Indonesia dibawa Pemerintah kolonial Inggris yang saat itu membangun Benteng Malborough. Mereka kemudian menikah dengan orang lokal Bengkulu dan garis keturunannya dikenal sebagai keluarga Tabot. Hingga tahun 1970-an, Dol hanya boleh dimainkan orang-orang yang memiliki hubungan darah dengan keluarga Tabot tersebut. Tapi sekarang Dol bisa dimainkan siapa saja yang tertarik dan dikembangkan di sanggar secara berkelompok. (www.IndonesiaTravel.com)

Diajarin bermain Tasa oleh Imron
Selain Dol ternyata ada lagi alat yang namanya Tasa, mirip seperti Rebana atau Rapai di Aceh, cuma bermainnya pun dipukul dengan menggunakan tongkat atau stik kayu.
Mencoba permainan Dol
Keasyikan main, akhirnya mencoba satu lagu
Karena penasaran, akhirnya aku mencoba bermain Dol, ya yang pastinya meminta izin bergabung untuk mencoba. Untungnya aku mempunyai teman, Imron, teman program Sail Morotai yang juga seorang pemain Dol dan Pelatih, jadi dapat kesempatan bermain dan belajar Dol langsung, hore! Ternyata bermain Dol ini mengasyikan dan seru sekali, jadi tambah penasaran, seperti apa serunya Festival Tabotnya yang katanya bakal ada banyak penampilan permainan Dol dari semua sanggar yang ada di Bengkulu, wow!
Buat yang penasaran dan tertarik mencoba Dol, ayo melincah (jalan-jalan) ke Bengkulu.

Sabtu, 04 Oktober 2014

Mengintip Buku 50 Wisata Domestik (Wisdom) Indonesia



Buku 50 Wisata Domestik Indonesia

Alam Indonesia memiliki keindahan dan keunikan yang sering membuat kita tercengang, takjub bahkan tak jarang membuat kita bangga. Tapi sayangnya masih banyak dari kita yang belum sadar akan potensi Wisata Domestik yang kita miliki, sampai akhirnya diakui oleh orang lain.

Salah satu buku bagus yang kurekomendasikan untuk para pejalan (Piyohlovers) adalah Buku 50 WisDom Indonesia. Buku 50 WidDom (Wisata Domestik) Indonesia ini adalah buku yang menyatukan keindahan alam, obyek wisata, kesenian dan budaya, serta tidak ketinggalan kuliner dan oleh-oleh yang ada di Indonesia. Membaca buku 50 Destinasi ini membuat kita terinspirasi untuk keliling Indonesia. di buku ini detail menjelaskan tentang destinasi wisata dan budaya yang  menarik dan wajib kunjungi di Indonesia dan bahkan menyajikan fakta-fakta menarik yang jarang atau belum kita tahu. 

Buku karya Pak Anton Thedy, owner TX Travel dan Mas Arif Firmansyah, Jurnalis Tempo ini bisa jadi panduan buat kita untuk mengenal 50 Wisata Domestik di 50 tujuan wisata unggulan Indonesia yang berbeda, mulai dari Aceh hingga Papua, setiap daerah diceritakan secara menarik dengan keunikan-keunikan tersendiri dan sudah berkelas dunia.

Tujuan utama buku ini adalah untuk promosi potensi wisata domestik dan juga untuk menyadarkan kita akan potensi yang besar akan Wisata Domestik, sehingga akan menumbuhkan rasa kecintaan kita terhadap negara kita dan juga ikut membantu perkembangan perekonomian daerah.
Bagian dalam 50 WisDom Indonesia tentang Kuliner di Aceh
Buku yang memiliki 272 halaman ini juga menampilkan foto-foto yang luar biasa dan disajikan full color, jalan-jalan dan memotret adalah bagian yang tidak terpisahkan, sebagian besar kita pada saat liburan pasti membawa kamera. Jadi buat kamu yang ingin keliling Indonesia dan suka mencari tempat yang menarik, buku ini wajib dimiliki karena bisa jadi referensi untuk mencari tempat-tempat terbaik untuk stok foto, baik untuk keperluan blog, atau hanya sekedar pamer ke teman-teman di sosial media.

Buku ini akan segera tersedia di Toko Buku Gramedia dan Gunung Agung di seluruh Indonesia. Tapi buat kamu yang ingin dapat buku ini secara gratis dengan follow akun Twitternya Pak @AntonThedy dan @TX_Travel bagi yang beruntung, jadi jangan sampai ketinggalan!