Tampilkan postingan dengan label Suprisingly Bengkulu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suprisingly Bengkulu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Oktober 2014

Melihat Benteng Terkuat Inggris di Bengkulu

Benteng Marlborough (Fort Marlborough)
Salah satu obyek wisata sejarah yang wajib dikunjungi di Kota Bengkulu adalah Benteng Marlborough (Fort Marlborough. Benteng bukan hanya merupakan benteng pertahanan daerah kekuasaan Inggris di kawasan pantai barat Sumatera tapi juga tempat untuk mempertahankan Bengkulu sebagai daerah monopoli lada dan perdagangan. Benteng ini dibangun oleh East India Company (EIC) tahun 1713-1719 pada masa kepemimpinan Gubernur Joseph Callet. Benteng ini dianggap sebagai benteng terkuat kedua milik Inggris di wilayah timur setelah benteng St. George di Madras, India. Nama Marlborough sendiri diberikan oleh pemerintah Inggris kepada John Churchil yang bergelar Duke of Marlborough I sebagai tanda penghormatan.
Team penjelajah Bengkulu di Bagian depan Benteng Marlborough (Allan, Nita, Oki, Hijrah, Ulie dan Lesti)
 

Salah satu Meriam yang digunakan ketika jadi benteng pertahanan
Pada awalnya benteng digunakan sebagai pertahanan namun kemudian beralih fungsi sebagai tempat perdagangan komoditi lada sekaligus pusat pengawasan jalur Selat Malaka. Dilihat dari arsitektur bangunannya benteng ini lebih mirip seperti hunian di tengah kota daripada benteng atau pusat perdagangan. Menurut catatan British Library yang ada di benteng ini menjelaskan tentang proses pembaptisan, perkawinan, dan kematian dari para penghuninya. Terdapat sekitar 90 pegawai sipil dan militer yang tinggal di dalam benteng ini.

Informasi tentang Benteng Marlborough dan tempat-tempat bersejarah lainnya di Bengkulu
Saat ini, benteng masih berdiri kokoh di tanah seluas 44.100 m² dengan panjang 240,5 m dan lebar 170,5 m, menghadap ke arah selatan dan membelakangi Samudra Hindia. Bentuk arsitektur bangunan ini mirip kura-kura, terdapat jembatan yang menghubungkan bagian kepala dan badan, sebuah jembatan di atas parit yang membentuk ekor dan jembatan yang menghubungkan jalan masuk dengan bagian luar. Dahulu ketiga jembatan ini bisa diangkat dan diturunkan. Sampai saat ini batas dinding terluar masih nampak yaitu berupa parit-parit.

Bagian dalam Benteng dan bentuknya yang seperti Kura-kura
Di dalam bangunan ini terdapat ruang tahanan, gudang persenjataan, kantor, beberapa meriam, ruang perlindungan, terowongan sepanjang 6 m dan lebar 2 m. Sedangkan di bagian depan terdapat tiga makam yaitu makam Thomas Parr, Charles Muray dan satu makam tak dikenal. Terdapat juga prasasti nisan yang bertuliskan nama, tanggal dan tahun kematian tentara Inggris.




Biaya dan cara Menuju Benteng

Untuk masuk ke benteng ini kita hanya perlu membayar Rp. 5.000 saja. Benteng ini berada di Jalan Ahmad Yani, di pusat Kota Bengkulu, dari Bandar Udara Fatmawati Bengkulu, kita dapat menggunakan taksi atau mobil sewaan hingga sampai di tujuan sekitar 1,5 jam. Bila menggunakan bus atau angkutan umum dari terminal jurusan alun-alun kota Bengkulu kita bisa turun tepat di depan Benteng Marlborough.

Jumat, 10 Oktober 2014

Mencoba Bermain Dol, Alat Musik Unik dari Bengkulu

Selama perjalanan menyusuri Pantai Panjang Kota Bengkulu, sayup-sayup terdengar suara musik yang ritmis yang menghentak. Karena penasaran, aku meminta temanku Handri untuk berhenti sebentar untuk mencari asal suara tersebut. Mampirlah kami di sebuah sanggar musik yang ternyata sedang bermain Dol. 
Sanggar yang sedang berlatih bermain Dol
Apakah Dol Itu?
Dol yang merupakan alat musik perkusi khas Bengkulu itu hanya boleh ditabuh saat upacara Tabot. Dol sering dikatakan sebagai perkusi khas dari Bengkulu. Ternyata alat musik pukul ini disebut sebagai satu-satunya perkusi di dunia yang tidak berlubang di bagian dasarnya. Karena itu juga Dol menghasilkan bunyi khas berbeda dari perkusi atau pun beduk. 

Sekilas Dol berbentuk seperti beduk, setengah bulat lonjong dan diberikan cat warna-warni. Dol terbuat dari kayu atau bonggol kelapa yang terkenal ringan namun kuat atau kadang juga terbuat dari kayu pohon nangka. Bonggol Pohon Kelapa dilubangi dan bagian atasnya lalu ditutup kulit sapi atau kulit kambing. Diameter Dol terbesar bisa mencapai 70-125 cm dengan tinggi 80 cm. Selain itu ada juga Dol berukuran kecil yang terbuat dari tempurung kelapa.

Dimainkan dengan cara dipukul, ada 3 teknik dasar memainkan dol, yaitu: disebut suwena, tamatam, dan suwari. Jenis pukulan suwena biasanya untuk suasana berduka cita dengan tempo pukulan lambat; tamatam untuk suasana riang, konstan dan ritmenya cepat; sementara suwari adalah pukulan untuk perjalanan panjang dengan tempo pukulan satu-satu. Dalam pementasan dol, ada intsrumen lain yang ikut mengiringi, seperti tassa (sejenis rebana yang dipukul dengan rotan), dol berukuran kecil, serunai, dan lainnya.

Dulunya Dol hanya dimainkan saat perayaan Tabot, setiap 1-10 Muharram dalam rangka mengenang wafatnya Imam Hasan dan Imam Husen (cucu Nabi Muhammad saw.) dalam sebuah peperangan di Padang Karbala. Ritual ini selalu dilaksanakan setiap tahun karena dipercaya dapat menghindarkan berbagai kesulitan dan wabah penyakit. 

Penabuh Dol pun bukan sembarang orang melainkan keturunan Tabot, yaitu warga Bengkulu keturunan India yang biasa disebut Sipai. Dol memang dikenalkan kali pertama oleh masyarakat Muslim India yang datang ke Indonesia dibawa Pemerintah kolonial Inggris yang saat itu membangun Benteng Malborough. Mereka kemudian menikah dengan orang lokal Bengkulu dan garis keturunannya dikenal sebagai keluarga Tabot. Hingga tahun 1970-an, Dol hanya boleh dimainkan orang-orang yang memiliki hubungan darah dengan keluarga Tabot tersebut. Tapi sekarang Dol bisa dimainkan siapa saja yang tertarik dan dikembangkan di sanggar secara berkelompok. (www.IndonesiaTravel.com)

Diajarin bermain Tasa oleh Imron
Selain Dol ternyata ada lagi alat yang namanya Tasa, mirip seperti Rebana atau Rapai di Aceh, cuma bermainnya pun dipukul dengan menggunakan tongkat atau stik kayu.
Mencoba permainan Dol
Keasyikan main, akhirnya mencoba satu lagu
Karena penasaran, akhirnya aku mencoba bermain Dol, ya yang pastinya meminta izin bergabung untuk mencoba. Untungnya aku mempunyai teman, Imron, teman program Sail Morotai yang juga seorang pemain Dol dan Pelatih, jadi dapat kesempatan bermain dan belajar Dol langsung, hore! Ternyata bermain Dol ini mengasyikan dan seru sekali, jadi tambah penasaran, seperti apa serunya Festival Tabotnya yang katanya bakal ada banyak penampilan permainan Dol dari semua sanggar yang ada di Bengkulu, wow!
Buat yang penasaran dan tertarik mencoba Dol, ayo melincah (jalan-jalan) ke Bengkulu.

Kamis, 09 Oktober 2014

Piyoh Sebentar di Rumah Pengasingan Presiden Soekarno Bengkulu



Mejeng dulu di depan Rumah Kediaman Bung Karno
Rumah pengasingan Presiden Indonesia yang ini memang cukup terkenal di kalangan masyarakat. Selain tempatnya berada tepat di tengah Kota Bengkulu dan mudah ditemukan, rumah ini dekat dengan Rumah Ibu Fatmawati. Kita bisa datang langsung untuk berkunjung di Jl Soekarno Hatta, Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu. Di rumah inilah, Bung Karno diasingkan selama 4 tahun, dari tahun 1938 hingga 1942. Saat itu Bung Karno diasingkan oleh pemerintah Belanda, karena perjuangannya yang dianggap berbahaya. Di rumah inilah ia memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, dan bertemu dengan sang pujaan hati, Ibu Fatmawati.
Rumah Pengasingan Presiden Soekarno

Jika datang langsung, kita bisa melihat bangunan rumah utuh yang masih terawat. Pintu dan jendelanya pun rumah masih asli dengan aksen khas Tionghoa, karena sebelum Bung Karno, rumah ini ditempati oleh orang Tiongoa. Di dalam rumah, kita juga masih melihat beberapa koleksi buku Bung Karno yang masih tersimpan dengan baik, karena memang beliau suka sekali membaca.
Koleksinya lengkap termasuk sepeda ontel yang dipakai beliau

Ada satu koleksi yang unik dan menarik di rumah ini, yaitu surat-surat cintanya Presiden Soekarno kepada Ibu Fatmawati. Memang semenjak di Bengkulu, Bung Karno jatuh cinta kepada Fatmawati. Fatmawati pun jatuh cinta kepada Bung Karno yang penuh kewibawaan. Melalui rumah pengasingan inilah, Bung Karno mendapatkan istri yang cantik dan membantunya dalam mengusir penjajah.


Satu hal yang menjadi fenomena di rumah ini adalah air yang ada di sumur belakang rumah, yang katanya dipercaya membawa berkah. Katanya nggak jarang sejumlah petinggi lokal maupun pusat ke Bengkulu menyempatkan diri datang ke rumah ini untuk membasuh muka ataupun mencuci kaki dan tangan dari sumur itu. Bahkan, tidak sedikit yang membawa air dengan menggunakan botol. Ada yang mempercayai bahwa air sumur tersebut bisa membuka aura pemimpin, dan ada juga yang percaya jika air tersebut akan mempermudah segala sesuatu urusan, hehe ada-ada aja ya. Penasaran? ayo melincah (jalan-jalan) ke Bengkulu!

Rabu, 08 Oktober 2014

Piyoh Sebentar di Rumah Ibu Fatmawati Soekarno



Walaupun termasuk kota kecil, Kota Bengkulu  ternyata mempunyai banyak cerita sejarah dan peninggalannya. Salah satu bukti sejarah yang ada di Kota Bengkulu yaitu Rumah Ibu Fatmawati Soekarno. Aku diajak teman-teman di Bengkulu, Handri, Oki dan Allan, katanya ini salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi di Bengkulu.
Rumah Ibu Fatmawati Soekarno
Rumah mungil dan asri ini berada di Jalan Fatmawati No.10, di pusat Kota Bengkulu. Rumah ini dibangun pada tahun 1920 terdiri dari 2 kamar tidur dan 1 ruang tamu, kata Pak Marwan Amanudin, penjaga kediaman fatmawati. Rumah ini sudah direhab sehingga kesannya sekarang sedikit modern.
Lukisan Ibu Fatmawati dan salah satu pakaian yang digunakan semasa beliau masih hidup
Lukisan Pak Soekarno dan beberapa foto kegiatan beliau dan Ibu Fatmawati semasa hidup
Bareng Oki, Handri dan Allan, diapit dengan lukisan Pak Soekarno dan Ibu Fatmawati
Siapakah Ibu Fatmawati?
Ibu Fatmawati adalah istri dari Presiden Pertama Indonesia, Soekarno. Mereka menikah pada tahun 1943. Sebagai Ibu Negara Indonesia beliau juga dikenal karena jasanya menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih, Bendera yang dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945.
Bantuin Ibu Fatmawati Menjahit Bendera Merah Putih
Ibu Fatmawati ini juga orang tua dari Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.

Sebagai bentuk penghargaan untuk mengenang Ibu Fatmawati dan apresiasi, jalan tempat lokasi rumah tersebut diberi nama Jalan Fatmawati dan pada 14 Nopember 2001, Bandar Udara Padang Kemiling, Bengkulu diubah menjadi Bandar Udara Fatmawati. 

Menarik ya? Ayo wisata ke Bengkulu.

Selasa, 30 September 2014

Berburu Bunga Langka Rafflesia Arnoldii di Hutan Bengkulu



 " Bunga Sudah Mekar "

Itu pesan singkat yang dikirimkan Pak Holidin ke hapeku. Walaupun singkat tapi pesan ini membuat perasaanku bahagia setengah mati. Gimana ngga, ke Bengkulu rasanya kurang lengkap kalau tidak melihat langsung bunga langka ini.

Perjalanan kali ini juga istimewa aku ditemani oleh teman-teman Duta Wisata Provinsi Bengkulu, ada Imron, Rifky, Riki, Bang Romel, Mei, Rinda dan Evi, tak ketinggalan teman-teman Kapal Pemuda Nusantara Sail Raja Ampat dan Sail Komodo ada Lesti dan Ulie, rame ya? haha. 

Akhirnya kami menghubungi Pak Holidin untuk mencari tempat mekarnya Bunga Rafflesia, di Hutan Lindung Bukit Daun Kepahiang, yang berjarak 85 Km dari Kota Bengkulu, atau kurang lebih 1,5 jam perjalanan. Pak Holidin sendiri adalah salah satu pencinta dan penjaga Bunga Rafflesia, beliau tergabung di Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL).

Bersama Pak Holidin
Sampai di lokasi dan bertemu dengan Pak Holidin, kami diajak masuk ke dalam hutan, dan karena masih termasuk Kawasan Hutan Lindung, masih banyak pohon-pohon tinggi dan banyak tanaman yang tumbuh dengan rapat, cukup membingungkan dan memusingkan, karena itulah untuk masuk ke wilayah ini kita butuh orang-orang seperti Pak Holidin.

Ternyata perjalanan cukup menguras energi, kami harus membelah hutan, melewati pepohonan dan juga diselingi sungai, cukup mendebarkan juga, karena bisa jadi ada binatang liar yang kita tidak akan tahu kapan munculnya, belum lagi ancaman pacet dan lintah, yeey!
Tapi semua itu terbayar, kurang lebih 15 menit, akhirnya kami menemukan si cantik ini, Rafflesia yang mekar kali ini cukup besar, mungkin sekitar 60 Cm.
Si Cantik Rafflesia Arnoldii
Sekilas Tentang Rafflesia Arnorldi
Padma Raksasa (Rafflesia arnoldii) merupakan tumbuhan parasit obligat yang terkenal karena memiliki bunga berukuran sangat besar, bahkan merupakan bunga terbesar di dunia. Ia tumbuh di jaringan tumbuhan merambat (liana) Tetrastigma dan tidak memiliki daun sehingga tidak mampu berfotosintesis. Penamaan bunga raksasa ini tidak terlepas oleh sejarah penemuannya pertama kali pada tahun 1818 di hutan tropis Bengkulu (Sumatera) di suatu tempat dekat Sungai Manna, Lubuk Tapi, Kabupaten Bengkulu Selatan, sehingga Bengkulu dikenal di dunia sebagai The Land of Rafflesia atau Bumi Rafflesia. Seorang pemandu yang bekerja pada Dr. Joseph Arnold yang menemukan bunga raksasa ini pertama kali. Dr. Joseph Arnold sendiri saat itu tengah mengikuti ekspedisi yang dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles. Jadi penamaan bunga Rafflesia arnoldii didasarkan dari gabungan nama Thomas Stamford Raffles sebagai pemimpin ekspedisi dan Dr. Joseph Arnold sebagai penemu bunga. Tumbuhan ini endemik di Pulau Sumatera, terutama bagian selatan (Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan). Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan daerah konservasi utama spesies ini. Jenis ini, bersama-sama dengan anggota genus Rafflesia yang lainnya, terancam statusnya akibat penggundulan hutan yang dahsyat. Di Pulau Jawa tumbuh hanya satu jenis patma parasit, Rafflesia patma (Wikipedia)
Piyoh sebentar dengan Bunga Rafflesia Arnoldi
Mekarnya bunga merah bertotol-totol putih ini jadi momen istimewa buatku, aku langsung mengabadikannya, Orang Langka, Bunga Langka dan Momen Langka, Perfect Combination! haha. Sayangnya bunga ini tak boleh disentuh saat mekar karena katanya dapat mempercepat pembusukan bunga.

Ternyata di sekitar Bunga Rafflesia yang sedang mekar, ada beberapa bongkol, calon bunga yang akan mekar, dan kata Pak Holidin, itu bakal butuh waktu sekitar 4-5 bulan lagi, hmmm, cukup lama ya.
Rafflesia Morphosis
Cantik ya? pengen lihat Rafflesia Arnoldi langsung di Bengkulu? kalau ke Bengkulu jangan lupa hubungi Pak Holidin di 085273693969.

Selasa, 23 September 2014

The Suprisingly Bengkulu

Jujur pertama kali datang ke Bengkulu aku kebingungan, karena mencari informasi tentang Bengkulu cukup sedikit, untuk mencari referensi penginapan saja cukup sulit. Tapi siapa yang sangka, walaupun bukan destinasi favorit wisatawan, Bengkulu ternyata menyimpan banyak hal yang mengejutkan.

Selasa pagi hari aku sudah tiba di Bengkulu, perjalanan cukup melelahkan 12 jam menggunakan travel dari Kota Bandar Lampung, aku disambut dengan ramah oleh teman seperjalananku ketika Sail Morotai tahun 2012, Handry. Baru saja menghempaskan tubuh di tempat tinggal temennya Handry, suara adzan subuh sudah terdengar, aku langsung saja diajak untuk shalat berjamaah di Mesjid Jamik Bengkulu. Ternyata udara pagi di Bengkulu cukup dingin merasuk ke jaket.
Mesjid Jamik Kota Bengkulu (Sumber Foto : kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Walaupun masih gelap, aku bisa melihat keunikan dari Mesjid Jamik Bengkulu ini, yang ternyata mesjid ini dirancang langsung oleh Presiden Indonesia pertama, Bung Karno semasa pengasingan di Bengkulu pada Tahun 1938-1942. Tujuan pendirian mesjid yang memiliki luas 1860 m² ini sebagai tempat bersosialisasi dengan masyarakat Bengkulu khususnya umat Islam. Perubahan terlihat nyata setelah upaya Bung Karno mengubah kebiasaan  menjadikan masyarakat Bengkulu sangat kuat dalam pembauran antara ulama dan rakyat. Mesjid cantik ini berada di pusat kota lebih tepatnya Jalan Jenderal Suprapto, Kelurahan Penggantungan.

Selesai shalat subuh, aku dan Handry berkeliling menikmati Bengkulu pagi hari, oke, subuh hari, memang belum terlihat apa-apa, tapi kata Handry, "ini namanya Suprisingly Bengkulu, Agam, nanti kamu akan terkejut melihatnya ketika pagi hari, ketika langit terang." Matahari sudah muncul, ternyata memang Kota Bengkulu termasuk kota yang sejuk udaranya, dan aku benar-benar terkejut, kotanya bersih dan banyak bangunan tua bersejarah di sana. Akhirnya kami memutuskan untuk berwisata bangunan-bangunan bersejarah di Kota Bengkulu.

1. Berkunjung ke Rumah Bu Fatmawati
Rumah panggung ini memiliki koleksi pribadi milik Ibu Fatmawati di antaranya mebel, pakaian, foto-foto dan lain-lain. Yang paling menarik adalah mesin jahit yang digunakan Ibu Fatmawati untuk menjahit bendera pusaka yang dikibarkan pada tanggal 17 agustus 1945.
Lagi bantuin Bu Fatmawati
2. Rumah Pengasingan Bung Karno
Tidak jauh dari Rumah Bu Fatmawati ada Rumah Pengasingan Bung Karno. Rumah pengasingan presiden Indonesia yang pertama ini masih terjaga dengan baik, rumahnya berarsitektur Tionghoa menyimpan banyak foto-foto bersejarah Bung Karno selama di Bengkulu. Ada juga buku-buku yang dibaca Bung Karno, mebel, sepeda ontel dan tidak ketinggalan surat-surat cinta presiden. Di bagian belakang rumah ada sumur yang katanya airnya bisa membuat kita awet muda dan dikabulkan permintaannya.
Rumah Pengasingan Bung Karno, Presiden RI Pertama
3. Benteng Marlborough
Benteng Marlborough ini memiliki luas sekitar 44.100 meter persegi dan bangunan ini menghadap ke arah selatan. Benteng ini menyerupai kura-kura dan bentuk bangunan abad ke-18 ini pada sekeliling pintu utamanya dikelilingi parit yang luas yang dulunya katanya berisi buaya, tapi tenang sekarang buayanya sudah tidak ada lagi dan kita bisa melewatinya menggunakan jembatan.
Benteng Marlborough
4. Monumen Thomas Parr
Monumen ini berada di pusat Kota Bengkulu. Thomas Parr sendiri adalah seorang residen yang bertindak sangat kejam kepada rakyat Bengkulu. Tokoh ini pulalah yang menjalankan sistem tanam paksa di tanah Bengkulu. Menurut catatan sejarah, bangunan ini didirikan pada tahun 1808. Dilihat dari bentuknya, Tugu Thomas Parr ini memperlihatkan desain khas bangunan ala barat. Di bagian terluarnya berdiri beberapa tiang berukuran besar dengan dua buah pintu pada sisi kiri dan kanannya. Di bagian atas, bangunan ini memiliki atap berupa sebuah kubah mirip bangunan masjid. Sering kali monumen ini disebut dengan nama Kuburan Bulek oleh masyarakat setempat. Monumen ini menunjukan penghargaan para pejuang yang telah melakukan perjuangan dalam melawan Inggris.

Monumen Thomas Parr
5. Titik Nol Km Kota Bengkulu
Monumen ini ada di dekat Benteng Marlborough dan dekat dengan Pantai Panjang, jadi sayang juga kalau dilewatkan, setelah dari sini semua perjalanan di Bengkulu dimulai, hehe.
Monumen Nol Kilometer Bengkulu