Tampilkan postingan dengan label Aku Cinta Masakan Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku Cinta Masakan Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 September 2014

Mencicipi Geblek Kari, Kuliner Lezat ala Mahasiswa Universitas Lampung

Aku senang melihat anak-anak muda dengan ide kreatif dan bersemangat untuk melakukan sesuatu yang berbeda dengan yang lain, tentunya dengan cara yang positif. Ada beberapa mahasiswa Universitas Lampung (Unila) yang memulai usaha Geblek. Geblek? nama yang aneh ya? jujur aku juga baru pertama sekali mendengar kata itu, Penasaran? sama... aku juga :D

Karena penasaran, akhirnya aku datang ke Universitas Lampung, dan ini juga jadi kali pertama buatku ke Unila. Ternyata Unila ini termasuk kampus yang nyaman, ada banyak pepohonan di sana, ada juga kolam yang berada di tengah kampus lengkap dengan beberapa hewan di dalamnya, katanya sih ada rusa, tapi saat itu aku tidak melihatnya, mungkin sedang kuliah, #eh?

Tujuanku selanjutnya ke Gedung Teknologi Hasil Pertanian (THP), yang ternyata sudah ditunggu dengan teman-teman Team Geblek Kari.
Team Geblek Kari
Proses Penggorengan Geblek Kari
Yang penasaran dengan Geblek Kari, ini dia, hangat langsung dari dapurnya.
Geblek Kari Bumbu Kacang
Hot from The Kichen, Geblek Kari Blacpepper

Geblek sendiri adalah makanan Khas Indonesia yang terbuat dari ubi atau singkong. Geblek ini lebih enak dimakan selagi hangat, ada sensasi tersendiri ketika memakan Geblek, gurih dan renyah di luar, lembek dan kenyal di dalam. Beruntungnya diriku ketika sampai mereka sedang memasaknya. Yang unik dari Geblek yang mereka buat, mereka membuat Geblek dengan level yang lain, jadi biasanya Geblek dimakan langsung tanpa apa-apa, mereka menambahkan kari khas bikinan Team Geblek Kari. Ada Bumbu Kacang dan Blackpepper, dan katanya mereka akan terus menambahkan jenis kari yang akan dijual, sehingga pelanggan akan terus menanti produk mereka selanjutnya, kreatif ya?

Geblek Kari ini bisa dijadikan oleh-oleh loh, selain dijual selagi hangat, ada yang dijual mentah. Kalau Geblek yang sudah jadi bisa bertahan selama 1 hari, Geblek mentah dapat bertahan sekitar 7 hari, kamu cukup mengeluarkan uang sekitar sepuluh ribu rupiah, jadi siap nyobain kelezatan Geblek Kari ala Mahasiswa Unila?
Bareng Team Geblek Kari Universitas Negeri Lampung

Selasa, 04 Februari 2014

Trip Kuliner bareng Pak William Wongso di Banda Aceh

Suatu kebahagiaan tersendiri diminta oleh Pak William Wongso, legendaris ahli kuliner di Indonesia. Beliau memintaku untuk jadi pemandu kuliner di Banda Aceh dan sekitarnya, kesempatan yang luar biasa.

Siapa yang tidak kenal dengan Pak William Wiriatmaja Wongso atau yang dikenal dengan William Wongsi, Pemandu acara “Cooking Adventure with William Wongso” di Metro TV, owner beberapa rumah makan terkenal di Jakarta, beliau juga penasehat kuliner maskapai Garuda Indonesia.
 
Aku berkenalan dengan Pak William Wongso di komunitas Aku Cinta Masakan Indonesia (ACMI), beliau sebagai salah satu pendiri bersama dengan Mbak Santhi Serad. ACMI sendiri komunitas yang mempunyai visi Melestarikan, mengembangkan, mendokumentasikan serta menyebarluaskan kekayaan budaya kuliner tradisional Indonesia. Aku di situ sebagai Pemandu Kuliner, lumayan keren ya, haha, #Jampokkali, tapi gapapa ini juga salah satu usaha untuk memperkenalkan potensi masakan daerah yang kita punya ke mana aja. Buat yang mau gabung bisa lihat caranya di Website Aku Cinta Masakan Indonesia atau follow twitternya di @AcmiID. Pak Will, begitu panggilanku buat beliau, juga salah satu juri Bidang Boga di Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2013. 
Pertemuan Pertama dengan Pak William Wongso di Penjurian WMM 2013
Beberapa kali konsultasi tempat, akhirnya kami bertemu di tempat yang kurekomendasikan pertama, Rumoh Aceh. Rumoh Aceh sendiri salah satu tempat ngopi asyik di Banda Aceh, selain bisa melihat bentuk Rumah tradisional Aceh, kita bisa menikmati kopi terbaik Aceh di sana, dan masakan khas Aceh yang lezat. 
Rumoh Aceh Kopi
Kukira Pak Will datang bersama team untuk liputan, tapi ternyata pas ketemu di rumoh Aceh, ada kurang lebih 40 orang yang datang, WOW! tenyata kedatangan beliau kali ini bersama rekan bisnisnya, ada dr. Fredy Setyawan dan keluarganya, Pak Edwin,abangnya Pak Fredy, drg. Tantri, istrinya dan Jonatan (Yoyo) anaknya Pak Fredy. dr Fredy ini onwer Natasha Skin Care. Kedatangan mereka ternyata untuk grand openning Natasha Skin Care yang ada di Banda Aceh. Sempat kaget juga kalau Natasha Skin Care mau buka di Aceh, ngobrol dengan Pak Fredy ternyata banyak pelanggan yang berasal dari Aceh dan beliau beserta teamnya juga ingin menunjukkan kepada rekan-rekan beliau di jawa bahwa Aceh aman untuk investasi, luar biasa. Walaupun baru kenal, ternyata keluarga Pak Fredy ini sangat ramah, sikap yang perlu dicontoh untuk menjadi pengusaha besar.

Keasyikan ngobrol tentang Aceh dan kuliner yang ada di Rumoh Aceh, tak terasa udah pukul setengah 11 malam, akhirnya perjalanan kami lanjutkan esok harinya.

Keesokan harinya Kuliner Trip di Banda Aceh dimulai...

Mulai hunting Nasi Gurih, Dendeng Aceh, Sate Matang, Bu Si Itek, Ayam Tangkap dan lain-lain. Jujur aja, baru kali ini kulihat keluarga yang fanatik dengan masakan dan badan mereka tetap slim, luar biasa, jadi dalam sehari ada makan hingga 6 kali, mereka benar-benar mengeksplor kuliner yang ada di Banda Aceh dan sekitarnya, makan di sini, ngopi sebentar di sana, makan lagi, ngopi lagi, makan lagi, beuh... kadang aku sampai mau melambaikan tangan ke kamera karena sudah ga sanggup lagi untuk makan, haha.

Kelebihan kuliner trip kali ini, sekalian memperkenalkan masakan Aceh ke mereka, aku juga bisa belajar hal yang lain dari masakan itu, karena Pak Will selalu bercerita, masakan ini enak, tapi kalau dibuat ini bakal seperti ini, terus beliau menceritakan detail bahan-bahan yang bisa diolah untuk masakan itu, jadi aku bener-bener belajar mengenal masakan langsung dari ahlinya, dan yang tidak ketinggalan, ternyata masing-masing aktif di instagram, jadi sambil nyobain, terus posting, cerita lagi, walau kadang pas aku menjelaskan terkesan dicuekin, haha.
Walau terkesan dicuekin, tapi selesai aku cerita, bakal dapat banyak lagi informasi dari beliau, plus foto yang WOW di instagram beliau
Ngopi di Solong, dan berkesempatan langsung ketemu ownernya untuk nanya KOPI 26 :D
Tak lupa juga mampir di outlet Mister Piyoh di Ulee Kareng.
Pak William, Papa Piyoh, Pak Edwin, Jonatan dan drg. Tantri Onni Bianti, istri dari dr. Fredy
Hari kedua selesai dengan kenyang yang tak terkira.


Hari terakhir hunting kuliner lagi, dan karena Yoyo pengen banget seafood. Yoyo ini walaupun masih kuliah sudah punya usaha restauran di Jogja. Jadi taste buat makanan pun bagus, akhirnya hunting kepiting ini sampe dapat, ada yang tau dimana ini?
Masakan Aceh emang luar biasa


Trip diitutup dengan ini, Kepiting Goreng Kari yang besarnya tak terkira

Trip kali ini jadi pengalaman luar biasa buatku, selain bisa belajar kuliner langsung dengan ahlinya, dan aku bisa banyak belajar bisnis dari Pak Fredy, Bu Tantri dan Pak Edwin, alhamdulillah.

Dan berita baiknya mereka akan promosi Aceh di luar dan akan kembali lagi untuk mencoba masakan yang lain.

Sebelum pulang, dapat Angpao dari Pak Will, ini jadi angpao pertama yang kudapat seumur hidup, alhamdulillah, terimakasih Pak William Wongso, ditunggu kedatangannya lagi di Aceh.
Angpaonya jadi buku, bisa jadi kenang-kenangan yang menarik dan bisa dishare lagi ilmunya untuk orang lain
Buat yang penasaran dengan kuliner-kuliner lain yang dicobain Pak William Wongso, bisa follow Instragram beliau. :)

Kamis, 19 Desember 2013

Lezat dan Bergizi Eungkot Keumamah (Ikan Kayu) Masakan Khas Aceh

Sebagai kesultanan yang sejak dulu terkenal dengan kemaritimannya dan wilayahnya yang dikelilingi laut, tidak mengherankan jika Aceh menjadikan hasil laut merupakan kuliner andalan dan juga ketersediaan rempah-rempah di daerah Aceh yang mewarnai cita rasanya yang asam, pedas serta gurih. Ada banyak juga masakan Aceh yang dipengaruhi oleh perpaduan India, Arab, Turki, Jepang dan masih banyak lagi bangsa yang masuk ke Aceh, membuat masakan di Aceh kaya rasa. Sebut saja salah satunya Eungkot Keumamah atau yang dikenal dengan sebutan Ikan Kayu.

Sejak dulu Eungkot Keumamah dikenal dengan sebutan Masakan Perang dan termasuk masakan favorit para pejuang-pejuang Aceh, dikarenakan masakan ini awet, tahan lama, tidak mudah basi tetapi bisa menambah nafsu makan.  Dan yang menjadi daya tariknya, masakan ini semakin dipanaskan akan semakin enak.

Disebut-sebut ikan kayu karena tekstur ikan ini keras seperti kayu, akibat dari proses perebusan dan pengasapan ataupun dijemur di terik matahari, hingga teksturnya menjadi sekeras kayu, dan berwarna coklat tua kehitaman. Hal ini dimaksudkan agar ikan lebih awet dan bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama. Setelah dijemur dan dipotong sepanjang pergelangan tangan, lalu dilanjuti dengan proses pelumuran tepung dan sedikit kapur yang berguna untuk mencegah penjamuran.

Bahan baku utama dalam pembuatan ikan kayu itu sendiri adalah Eungkot Suree atau juga yang dikenal dengan Ikan Tongkol yang sangat besar potensinya di Aceh karena lokasi geografis yang dikelilingi oleh lautan. Daging ikan tongkol tersebut selain sangat gurih, mudah diolah dan padat Gizi diolah menjadi berbagai menu makanan sehingga ikan ini menjadi pilihan yang tepat untuk menjadi menu makanan sehari-hari. Selain itu, ikan tongkol juga memiliki protein yang tinggi dan sangat cocok dikonsumsi untuk anak-anak dalam masa pertumbuhan, jadi inget semasa kecil nenek sering memasak menu ini.

Kandungan gizi yang terdapat dalam 100gr Ikan Kayu.
  • Kalori : 111
  • Protein (gr) : 24
  • Lemak (gr) : 1
  • Kolesterol (mg) : 46
  • Zat Besi (gr) : 0.7
Selain lezat dan bergizi, ikan kayu juga memiliki khasiat yang cukup baik untuk kesehatan, yaitu merangsang pertumbuhan sel-sel darah merah dan menghambat proses penuaan. Jika dikonsumsi secara rutin, minimal tiga kali dalam seminggu sebagai menu utama, akan menghindarkan kita dari penyakit rheumatic, anemia, Ejakulasi Dini dan Kulit Kusam, jadi termasuk untuk orang yang ingin terlihat awet muda.

Harga ikan kayu yang masih mentah di Aceh relatif murah yakni berkisar Rp 7.000,- per kilogramnya, sehingga menjadikan makanan ini merakyat dan hampir di semua bagian pesisir Aceh.

Cara Membuat Eungkot Keumamah
Cara pengolahan masakan Aceh ini pun tidak begitu rumit asalkan semua bahan-bahan tersedia semua. Jika salah satu bahan yang tidak ada, bisa saja rasanya pun akan berbeda. Buat kamu yang mau mencoba membuat Eungkot Keumamah, ini dia resepnya.

Bahan-Bahan
  • 1 potong ikan kayu yang sudah direbus,lalu diiris tipis-tipis sesuai selera
  • 30 buah Asam Sunti (Belimbing Wuluh yang sudah diawetkan) giling kasar
  • 1 sdm cabe rawit giling
  • 1½ sdm cabe merah giling
  • 10 siung bawang merah
  • Kunyit bubuk  ½ sendok teh
  • 1 tangkai daun Teumurui (Daun Kari)
  • 1 cangkir minyak kelapa
Cara membuat:
Campur semua bahan lalu tumis dengan satu cangkir minyak yang telah dipanaskan, masak hingga berubah warna kekuningan. kalau kamu suka pedas, bisa ditambahkan 3-5 buah cabe hijau pada saat menumis.  Tunggu beberapa menit hingga bumbu meresap, aduk-aduk merata, dan Eungkot Keumamah yang lezat pun siap dihidangkan! Lebih nikmat selagi hangat dan bila disajikan dengan nasi putih hangat, dijamin mangat that! (Enak Banget)
Eungkot Keumamah (Ikan Kayu)
Eungkot Keumamah enaknya dimakan dengan Bu Kulah (Nasi Bungkus)
Tertarik? Biarpun kamu sudah bisa membuat sendiri, jangan lewatkan kesempatan mencicipi makanan khas ini langsung di Aceh ya! Ada banyak lagi masakan lezat lainnya di Aceh. Ayo ke Aceh :)