Jumat, 06 September 2019

Puluhan Kaum Disabilitas Dilatih Bikin Kantong Boneka Lucu

KEBUMEN (kebumenekspres.com) - Sedikitnya 60 peserta mengikuti workshop pouch character atau pelatihan membuat dompet lucu bagi para penyandang disabilitas Kebumen. Para peserta pun antusias mengikuti kegiatan yang dilakukan di café dan workshop Roufa di Pejagoan Kebumen, Sabtu (31/8/2019) tersebut.

Kepala Dinas Sosial PPKB Kabupaten Kebumen, dr HA Dwi Budi Satrio mengatakan, kegiatan pelatihan pembuatan dompet lucu ini menghadirkan dua pemateri asal Jakarta. Masing-masing Dissa Syakina Ahdinisa, salah satu owner Deaf Cafe Fingertalk, dan Hijrah Saputra sebagai creative director of Plushindo.  Dalam kesempatan itu, para peserta dilatih dari tingkat dasar. Dari mulai membuat pola, menggunting hingga menjahit dan menyusun sebuah dompet lucu berbentuk boneka panda dan kucing.

Budi Satrio mengatakan, kegiatan ini tak lain untuk pengembangan kapasitas dari kaum difable. Harapannya, setelah mengikuti pelatihan, mereka punya kemampuan untuk bekerja secara mandiri.


Budi Satrio kembali menegaskan, pihaknya telah berkomitmen memberdayakan para penyandang disabilitas di Kota Beriman. Sebab, para penyandang disabilitas tak selalu identik dengan ketergantungan, mereka bisa mandiri.

Oleh karena itu, Budi Satrio mendorong masyarakat yang mempunyai anggota keluarga disabilitas agar memotivasinya untuk berkarya. "Mereka mungkin cacat secara fisik namun mereka memiliki segudang keahlian jika untuk dikembangkan seperti masyarakat normal lainnya," ujar Budi Satrio.

Sementara itu, Dissa Syakina Ahdinisa, mengatakan pelatihan ini sangat bermanfaat bagi peserta. Bukan hal yang sulit. Bahkan,  sudah banyak peserta yang mengikuti pelatihan dapat langsung berproduksi.

"Sebenarnya mereka bisa. Bahkan banyak dari peserta yang kami beri pelatihan jika sudah mahir sehari bisa memproduksi, 50 hingga 100 pics pouch," katanya di sela - sela acara.(fur)

Selasa, 27 Agustus 2019

Tim Fingertalk Indonesia Sabet Juara 1 Daigaku SDGs Action Award di Jepang

ACEHTREND.COM, Tokyo – Tim Fingertalk Indonesia yang terdiri atas Dissa Syakina Ahdanisa, Hijrah Saputra, dan Muhammad Rizqi Ariffi menyabet juara 1 Daigaku SDGs Action Award di Tokyo, Jepang. Tim ini terpilih menjadi salah satu dari 12 tim yang mempresentasikan idenya di depan dewan juri di Tokyo pada 20 Februari 2019.
Grand Prix Daigaku SDGs Action Awards 2019 Asahi Shimbun Japan
Dissa Syakina Ahdanisa melalui keterangan tertulis yang diterima aceHTrend mengatakan, Tim Fingertalk merupakan satu-satunya tim yang berasal dari Indonesia.
“Daigaku SDGs Action Award adalah program yang diadakan oleh perusahaan media cetak terbesar di Jepang, Asahi Shimbun, untuk mahasiswa-mahasiswa yang memiliki ide untuk membantu mendukung program-program Sustainable Development Goals (SDGs). 
SDGs adalah kesepakatan pembangunan baru yang mendorong perubahan-perubahan ke arah pembangunan berkelanjutan berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan untuk mendorong pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup.
SDGs diberlakukan dengan prinsip-prinsip universal, integrasi, dan inklusif untuk meyakinkan bahwa tidak akan ada seorang pun yang terlewatkan.  Memiliki 17 tujuan, seperti pemberantasan kemiskinan, tanpa kelaparan, kehidupan yang sehat dan sejahtera, pendidikan yang berkualitas, kesetaraan gender, air bersih dan sanitasi yang layak, energi bersih dan terjangkau, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, industri, inovasi dan infrastruktur, berkurangnya kesenjangan, kota dan permukiman yang berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, aksi untuk perubahan iklim, konservasi ekosistem laut, konservasi ekosistem darat, perdamaian keadilan dan kelembagaan yang tangguh dan kemitraan untuk mencapai tujuan. 
“Tim Fingertalk terpilih dengan membawa pesan dari teman-teman tuli (tunarungi) yang berada di Indonesia. Selama ini Fingertalk fokus untuk pemberdayaan pemuda-pemuda yang memiliki kebutuhan khusus seperti tuli dan disabilitas lainnya,” kata Dissa, Kamis (21/2/2019).
Bersama dengan Tim Fingertalk telah membuka empat buah kafe yang semua pekerjanya merupakan tunarungu dan penyandang disabilitas lainnya. Tidak hanya kafe, Fingertalk juga membuka carwash dan workshop untuk membuat boneka satwa langka Indonesia.
Setelah presentasi di depan 10 juri, Tim Fingertalk berhasil terpilih sebagai pemenang utama, Fingertalk dipilih karena memiliki produk yang unik, tujuan yang jelas, dan membawa pesan inklusi dari dari Indonesia.
Atas pencapaian tersebut, Tim Fingertalk mendapat hadiah uang sebesar 500.000 yen, yang digunakan untuk pengembangan produk boneka satwa langka Indonesia. Hadiah diberikan langsung oleh Ichiro Ishida, Direktur Marketing Strategy The Asahi Shimbun Japan. 
“Tim Fingertalk berharap semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya dan menjalankan hidup,” kata Dissa.[]
Sumber : AcehTrend
Editor : Ihan Nurdin

Plushindo Juarai Kompetisi Wirausaha Sosial di Jepang

Liputan6.com, Jakarta Anak-anak muda asal Indonesia berhasil menjuarai kompetisi wirausaha sosial yang digelar di Jepang. Presentasi tentang upaya pemberdayaan komunitas tuli di Indonesia membuat tiga anak muda asal Indonesia menjuarai Daigaku SDGs Action Award 2019 pada 20 Februari 2019 di Tokyo.

Dissa Syakina Ahdanisa, Hijrah Saputra, dan Muhammad Rizqi Ariffi dari Tim Fingertalk mempresentasikan program Plushindo. Ini adalah program pemberdayaan komunitas tuli atau tuna rungu Indonesia untuk membuat produk boneka yang membantu konservasi hewan langka Indonesia.


Dissa, Hijrah, Rizqi mempresentasikan program tersebut di hadapan juri setelah berhasil melewati tahap seleksi berkas dan wawancara via telepon. Siapa sangka, program Plushindo yang mereka presentasikan di depan 10 juri yang berasal dari The Asahi Shimbun, JAL, Sumitomo Metal Mining dan JICA bisa menang.

Program yang digagas tiga anak muda yang sedang kuliah di Negeri Sakura ini berhasil mengalahkan tim-tim lain dari universitas-universitas ternama Jepang. Termasuk mengalahkan tim yang berasal dari Tokyo University, Kindai University dan Kyushu University.

"Kami tidak menyangka bisa memenangkan lomba ini, kami hanya berharap bisa menyuarakan teman-teman Tuli terutama di Indonesia bisa setara dan mendapat kesempatan yang sama dengan teman-teman yang lain," tutur Hijrah dalam pesan teks dengan Liputan6.com ditulis Rabu (27/7/2019).

Hadiah 500 ribu yen


Berhasil menjadi juara 1, Tim Fingertalk diganjar dengan hadiah sebesar 500.000 yen atau setara dengan Rp631.900.000 (kurs Rp126,38/JPY per Selasa 26 Februari 2019).

Uang ini digunakan untuk pengembangan produk boneka satwa langka Indonesia. 

Daigaku SDGs Action Award adalah program yang diadakan oleh perusahaan media cetak terbesar di Jepang, Asahi Shimbun, untuk mahasiswa yang kuliah di Jepang dengan ide untuk mendukung program-program Sustainable Development Goals (SDGs).

Sebelum ada lomba ini, tiga anak muda ini sudah memiliki langkah nyata membantu memberdayakan orang tuli di Indonesia.

Bersama dengan tim Fingertalk lainnya, telah membuka empat buah cafe yang semua pekerjanya adalah teman-teman tuli dan penyandang disabilitas lainnya.

Tidak hanya berpusat di Tangerang Selatan, Fingertalk juga membantu teman-teman yang lain untuk menjalankan kafe di Poso, Sulawesi Tengah dan Kebumen, Jawa Tengah.

Sumber : Liputan 6

Jumat, 05 Juli 2019

Plushindo Story


I am Hijrah Saputra, first year student of master program in tourism and hospitality at Ritsumeikan Asia Pacific University (APU). I am also a graphic designer and from March 2018, I am taking the role of creative director for the “Plushindo” project. 




Plushindo is a social project of a social enterprise, Fingertalk, to empower the often marginalized and discriminated Deaf youths by training them to produce creative products, such as plush toys of endangered animals, that are used to spread awareness about animal conservation and inclusion. This project tackles issues such as unemployment, discrimination against people with disability and animal conservation in one creative solution, which made it very unique. 

Currently, Indonesia faces challenges of animals’ extinction due to habitat loss or illegal hunting. Many of the animals, such as Javan rhino, anoa and Komodo dragons, are endemic to Indonesia, and are forecasted to be extinct in the next decade. I believe that we must act now, and we must start from younger generation. Plushindo plushies are a way to spread awareness about the importance and urgency of animal conservation to the younger generation using attractive and fun mediums. 

Due to discrimination in the society, more than 74% of Deaf people in Indonesia are unemployed. Thus, through this project, my team and I are trying to break the stigma and create employment. Moreover, I learned to apply my skills and supported the Deaf to upgrade their skills, earn income and provide for their family.


Plushindo Crews
As the creative director, I was in charge of the designing and training process. I designed six different characters of endangered animals in Indonesia, which are orangutan, Sumatran elephants, Javan rhino, anoa, and komodo dragon. Once I completed the designs, I trained 20 Deaf youths to produce the plush toys or “plushies” based on those designs. Together, we made more than 600 plushies and distributed them to school children in six major islands in Indonesia.




The Characters






The Characters and their habitat



In addition to that, I also designed a small book to accompany the plushies, providing information about these endangered animals. I designed the books using language that are simple and easy to understand. I also used Indonesian Sign Language (BISINDO) in the book, so the children can understand more about the Deaf culture. This initiative connected Deaf youths and the children, and raised awareness since early age to hopefully eliminate discrimination against people with disability in the future.

After the production finished, I helped the team distributing the finished products through educational workshop. We visited schools and introduced the Deaf youths to the children, again, to raise awareness since young age. We used sign language to explain why all of us should love the animals. Furthermore, these plushies and books are also given as the token of appreciation to the conservation sites of the endangered animals. 

Plushindo goes to Riau, Pekanbaru

Plushindo team teach Indonesian Sign Language (BISINDO) to the school children

Plushindo goes to Pamulang, Banten
Plushindo goes to Balikpapan, East Kalimantan


Plushindo goes to Poso, Central Sulawesi



Plushindo and WWF Indonesia
Through this program, we have realized that the training can be scaled up as employment opportunities for Deaf youths, which led me to participate in Hult Prize competition. In December 2018, my team and I brought this idea to enter the competition of Hult Prize, the biggest social entrepreneurship competition in the world. We won APU campus round and four months later, we became the only team that represented APU in Tokyo regional summit. Our goal was to win the USD 1 million prize to train more Deaf youths and create 10,000 jobs. We were chosen one of the six finalists and received valuable feedback from the judges to scale up and create more sustainable impact.





Plushindo team and New Zealand Embassador for Indonesia

Plushindo Team with Mr. Deguchi, President of Ritsumeikan APU
Last March 2019, Plushindo also won the Asahi Shinbun SDG Action! Awards 2019, and became the first ever representation from APU to win the competition. Our team received the grand prix prize of JPY 500,000 and will utilize the fund to train more Deaf people in rural areas of Indonesia to give them more opportunities and financial independence.

Plushindo won Grand Prix SDGs Daigaku Action Awards Asahi Shimbun Japan 2019

Plushindo Team with Chief of Asahi Shimbun Japan

Plushindo team at Hult Prize Final Round in Regional Round Tokyo, Japan
Through this project, I can see how our skill can create bigger and more sustainable impact.


Selasa, 12 Maret 2019

Menikmati Musim Gugur di Yufuin


Jepang jadi inceran banyak wisatawan dari berbagai negara selain memiliki kebudayaan yang menarik, Jepang juga memiliki keindahan alam yang indah. Negara yang memiliki empat musim ini menawarkan pemandangan yang berbeda-beda di setiap musimnya.


Salah satu yang menjadi tujuan banyak wisatawan internasional di Perfektur Oita adalah Kota Yufuin. Kota kecil yang berada dekat dengan Kota Beppu ini merupakan area mata air panas yang berasal dari Gunung Api Yufu yang sering juga disebut Gunung Fuji-nya Perfectur Oita. Yufuin tidak memiliki gedung tinggi sehingga kita bisa puas hati memandang pegunungan indah di sini. Inilah usaha masyarakat Yufuin untuk terus menjaga pemandangan alamnya.


Untuk menuju Yufuin, wisatawan bisa menggunakan Bus wisata dari Beppu yang disebut dengan Yufurin, berwarna ungu didesain lucu ala kartun jepang. Perjalanan ditempuh kurang lebih satu jam dari Kota Beppu atau bisa menggunakan bus langsung dari Bandara Fukuoka selama dua jam perjalanan.
Bus Yufurin
Kota Yufuin pernah mengalami gempa pada tahun 1975, namun penduduk Yufuin memiliki cara pandang positif terhadap gempa dan dampaknya. Sepertinya itulah kekuatan dari warga Yufuin yang telah melewati bencana serupa di masa lalu. Bencana gempa tersebut dijadikan awal untuk melahirkan ide-ide kreatif seperti wisata kereta kuda yang jadi khas Yufuin, serta Festival Film Yufuin yang punya sejarah tertua di Jepang.

Udang Goreng cangkang lunak, ini wajib dicobain!
Salah satu jalan yang populer di Yufuin adalah Jalan Yunotsubo Kaido. Di sini kita bisa mampir ke kedai untuk jajan atau membeli oleh-oleh seperti jalan Malioboro yang ada di Jogjakarta. Ada sekitar lebih dari 80 toko memenuhi sepanjang jalan area ini. Ada toko kue yang penuh antrian saat akhir pekan, ada juga rumah makan dengan menu sayuran produksi lokal, serta toko kerajinan tangan setempat. Menariknya banyak toko yang memiliki tema-tema menarik seperti CafĂ© Snoopy, CafĂ© Sanrio, CafĂ© Kumamon, CafĂ© Kucing, CafĂ© Anjing dan masih banyak lagi lainnya. Yang menjadi banyak incaran wisatawan adalah toko Totoro, tokoh terkenal dari Studio Gibli ini menyediakan berbagai pernak-pernik dari film My Neightbor Totoro, mulai dari yang kecil hingga yang besar. 
Toko Totoro
Totoro!!!
Selain itu ada sebuah komplek yang dibuat menjadi sebuah perkampungan bunga yang disebut dengan Floral Village Yufuin, di sana setiap kedai jualannya dibentuk seperti bangunan eropa tempo dulu, juga dilengkapi kebun binatang mini, seperti burung hantu, kelinci, tupai dan kambing yang bisa diberi makan. Perjalanan berakhir di Danau Kinrinko.
Café Snoopy
Toko Kumamon, salah satu mascot dari Kumamoto yang paling terkenal di Jepang
Gantungan lucu terbuat dari kain khas Jepang

Danau Kinrinko merupakan salah satu tempat wisata terkenal di Yufuin. Katanya di bagian bawah danau terdapat sumber air panas dan mata air alami, sehingga membuat temperatur airnya tinggi. Pada musim dingin, perbedaan suhu air danau dengan suhu udara memunculkan kabut di sekitar danau dan menghasilkan pemandangan menakjubkan. Sisik-sisik ikan yang hidup di danau ini akan berkilau bila terkena sinar matahari sore. Kilaunya nampak seperti emas sehingga danau ini diberi nama Kinrinko yang berarti "sisik emas".

Ketika musim gugur danau ini menjadi spot yang paling banyak dikunjungi untuk dijadikan tempat berfoto romantis, karena kita bisa melihat kombinasi warna yang indah dari pohon-pohon yang ada di sekitar danau, hijau, kuning, jingga hingga merah.
Pemandangan Yufuin saat Musim gugur
Menarik ya, kalau kamu berkunjung ke Oita Jepang, jangan lewatkan liburan ke Yufuin!